Terlalu Banyak Manusia di Langit – Bab 3

3 Seperti Kekayaan, Kiamat Tidak Terdistribusi Secara Merata

Ada keindahan yang keliru dalam cara peti mati itu bergerak.

Tidak ada lantunan doa atau rombongan penggotong jenazah. Ia hanya mengapung dalam sepi yang sempurna. Momentum awal dari tangan yang mendorongnya membuat peti itu berputar amat perlahan. Sebuah putaran yang akan terus berlanjut selamanya, atau setidaknya hingga gravitasi yang cukup besar menariknya.

Di dalam peti, terbaring Kos Koswara.

Ia mengenakan pakaian terbaik. Jas hitam membalut kemeja putih dengan renda yang rumit di bagian kerah. Wajahnya tenang, seperti orang yang tertidur dengan mimpi yang tidak buruk-buruk amat. Rambutnya tersisir rapi, dan pada sisi-sisi tubuhnya tersebar bunga melati artifisial. Tangannya dilipat di atas dada membentuk formasi seperti burung yang merentangkan sayap, dan pada celah telapak tangan terselip setangkai mawar merah.

Dari kamera di kapal, Matahari tampak seperti cakram DVD yang berkilat dan tajam. Tak ada bintang-gemintang. Ribuan, jutaan, bahkan miliaran bintang di luar sana tak tertangkap lensa sehingga peti mati itu tampak seperti berangsur-angsur menuju kehampaan.

Lain meminta operator mengganti feed ke kamera drone yang lebih luas dan eksposur yang diset. Kini peti mati Kos terlihat berusaha menyempil di antara bintang-bintang hingga nyaris sulit dibedakan. Lain terlihat sedang memikirkan sesuatu, lalu meminta operator untuk menangkap tampilan layar dan mengirimkannya kepadanya. Ia kemudian meninggalkan ruang operator pemakaman sambil bergumam sambil tersenyum kecil, “Kalau aku balik ke Bumi nanti, aku akan cetak fotomu ini dan kusebar di Cirebon.”

Ingatan manusia bergerak seperti gugusan lampu kota saat pemadaman bergilir: menyala di satu wilayah, padam di wilayah lain, tanpa pernah benar-benar menetap. Mereka tidak disimpan di satu tempat. Mereka berceceran. Mereka menunggu sesuatu yang cukup mirip untuk memantik, atau sekadar cukup mirip untuk menipu.

Di sudut kapal yang lain, jauh di dasar lambung, Olin menatap jendela. Pada tangannya terdapat buku harian yang cukup tebal dengan jumlah kertas yang terus ditambah, mungkin sudah melampaui kemampuan punggung buku menampungnya. Di dalamnya berisi beragam tulisan tangan yang buruk sekali dan gambar-gambar tidak jelas.

Ada kenangan yang terasa utuh seolah seluruh tubuh ikut mengingat, padahal mungkin hanya segelintir sel yang sedang bersekongkol memaksa masa lalu terulang. Dan yang paling mengganggu, pikir Olin, adalah bagaimana satu ingatan diam-diam menyeret yang lain, yang bahkan bukan miliknya, tapi tetap menaut. Mereka menjalin simpul-simpul hingga seolah-olah mereka saling memiliki, hanya karena berbagi tubuh yang sama. Olin membuka ke halaman yang sudah ia tandai. Entri itu dimulai dengan nama tempat dan jam.

Kedai Markus. Pukul 14.37

3.1 Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia?1

Kos Koswara datang ke kedai kopi Markus seperti ritual Sisifus. Ia tahu hasilnya akan sama, tetapi tetap datang. Bukan karena kopi, dan tidak pernah karena kopi.

“Hari ini aku pakai campuran robusta sintetis generasi ketiga, dengan ekstrak jagung-jagungan,” kata Markus sambil menyodorkan cangkir. Uap yang mengepul berwarna sedikit keunguan. “Ada sedikit umami dari rumput laut jadi-jadian.”

Kos menutup laptopnya, lalu meneguk kopi.

“Rasanya seperti menjilat lantai yang baru saja disterilkan,” katanya. Wajahnya datar saja. “Tapi acceptable..”

Markus tertawa, “Kau selalu bilang begitu.”

“Ya, anggap saja aku punya standar yang cukup demokratis terhadap rasa ngga enak,” seloroh Kos, “Lagipula di kondisi begini, masih bisa minum kopi saja sudah nasib baik.”

Di luar jendela, langit Jakarta tampak oranye keabuan, menggantung rendah seperti sesuatu yang sedang dalam proses pembusukan. Udara berbau logam basah dan asap berbau menusuk, yang sudah meresap ke dalam dinding, ke dalam pakaian, ke dalam lapisan terdalam paru-paru sehingga setiap tarikan napas terasa seperti menelan sisa pembakaran mesin. Partikel PM 2.5 menempel di kulit, meninggalkan rasa gatal halus yang tak pernah benar-benar hilang, memaksa siapapun untuk terbiasa dan itu yang paling mengkhawatirkan. Tubuh sudah lupa beda antara dirinya sendiri dan pencemar yang menggerogotinya. Orang-orang lewat dengan masker generasi kelima, materialnya licin dan dingin. Masker itu dirancang untuk menyaring hampir segala yang beracun, kecuali rasa putus asa.

Markus mengusap meja dengan kain yang sudah dicuci ulang ratusan kali, lalu dengan nada yang sedikit terlalu antusias berkata, “Semalam aku selesai nonton episode 19 dan 20.”

Kos menoleh. Ia kelihatan semringah membicarakan Space Battleship Yamato.

“Akhirnya.”

“Ya, walaupun agak mengantuk.” Markus condong ke depan, tangannya bergerak-gerak menjelaskan meskipun dia sendiri belum sepenuhnya yakin apa yang dia jelaskan. “Aku nggak menyangka Aihara akan diceritakan seperti itu. Dari awal, dia cuma petugas komunikasi. Nggak ada yang peduli sama dia selama delapan belas episode. Tiba-tiba episode ini semua tentang dia.”

“Oh, kali ini kau ingat nama mereka,” seru Kos, tersenyum lebar. “Ya, aku rasa itu yang bikin episode itu berhasil.”

“Aku mencatat nama-namanya.” Markus tertawa canggung seraya menunjukan kertas catatan. “Soalnya banyak banget karakter, bagaimana penulisnya bisa ingat nama mereka, ya?”

“Kau catat manual?” ujar Kos dengan nada heran sambil melihat catatan itu. Tulisan tangan. Rapi. Ada garis bawah di beberapa nama.

“Aku kan nggak seperti kamu yang apa-apa mesti pakai komputer,” ledek Markus, menggaruk belakang kepalanya. “Tapi serius, episode itu bagus sekali. Aihara telepon ibunya diam-diam dari luar galaksi. Lewat satelit relay Gamilas yang dia temukan tanpa sengaja. Dan ternyata ayahnya sudah meninggal. Ikut kerusuhan di kota bawah tanah karena rebutan bahan makanan. Ibunya menutupkan kain di wajah suaminya sambil masih ngobrol sama anaknya di layar.”

Kos membiarkan Markus mengoceh.

“Dan kita nggak lihat prosesnya,” lanjut Markus. “Kita nggak lihat dia nangis, nggak ada musik yang terlalu dramatis. Cuma wajah ibunya dan kain putih itu.”

“Waktu pertama kali nonton, aku menganggap episode itu membosankan,” kata Kos.

“Ah, kamu selalu sok kuat.” Markus tertawa.

“Tapi setelah menontonnya lagi saat dewasa,” ujar Kos lalu diam, jarinya memutar-mutar cangkir kopi. “Aku pikir menarik ketika kau menyadari ada sesuatu yang berubah dari dirimu selama 10 tahunan ini.”

“Dan kau menyadarinya dari film kartun,” seloroh Markus. “Loser.

Kos tertawa kering.

“Aku juga suka scene hologram di awal,” ujar Markus, tangannya sibuk merapikan beberapa barang di dalam ransel. “Aihara minta diputarkan gambar kampung halamannya. Salju. Pegunungan. Dermaga. Lalu ada hologram perempuan tua yang mirip ibunya, tapi itu cukup buat bikin kakinya nggak kuat menahan beban di dalam dirinya.”

Kos melihat ke jendela. Di trotoar seberang, seorang perempuan tua berdiri memegang kantong belanja dengan kedua tangan. Ia tidak bergerak. Cahaya sore memantul dari kabut partikel di antara mereka, dan sebentar saja udara itu tampak punya warna. Perempuan itu tidak memakai masker. Ia berdiri saja di sana. Kos tidak tahu ia sedang menunggu apa, mungkin bus atau malaikat maut. Tetapi yang jelas bukan salju. Tidak pernah ada salju lagi di Jakarta.

“Sepertinya itu salah satu pengalaman paling menyakitkan yang hampir semua orang pernah alami,” kata Kos. Pelan. “Ketika kita terpisah dari sesama manusia yang sebelumnya terasa punya pemahaman unik terhadap kita, seakan belum pernah ada yang sedekat itu. Dia pasti kangen sekali sama ibunya.”

Kos memperhatikan catatan tangan Markus di atas meja. Nama-nama karakter, digarisbawahi. Di sudut kertas ada gambar kecil, kapal, sepertinya, atau mungkin gunung, tidak jelas. Ia tidak pernah tahu Markus menggambar. Empat bulan, dan ada hal yang baru ia tahu hari ini.

“Iya, tapi terus di episode 20. Itu levelnya lain lagi, sih.”

Kos tertawa keras. “Kayaknya kita sepakat episode itu membasmi semua yang kita rasakan di episode sebelumnya.”

“Domel sinting.” Markus ikut tertawa. “Gila, ya. Dia pakai matahari buatan sebagai senjata. Dorong matahari ke arah Yamato supaya kapalnya terbakar. Dia tahu pangkalan Gamilas di Balan akan ikut hancur. Dia bilang ‘paling cuma rugi sedikit’ sambil ketawa.”

“Geru yang bawahan itu lari keluar sambil teriak ‘gila, benar-benar gila,’” seru Kos, seolah sedang mereka-ulang adegan yang dimaksud. Sudut bibirnya naik sedikit. “Satu-satunya orang paling waras di episode itu, sepertinya.”

Exactly!” Markus menunjuk ke arah Kos. “Dan Desslok yang akhirnya menghentikan Domel. Bukan karena peduli sama korban, tapi karena rencana itu terlalu nekat dan Desslok nggak mau ada jenderal yang terlalu bersinar.”

“Kekuasaan menjaga kekuasaan,” kata Kos.

Markus mengangguk. Tangannya meraih cangkir padahal kopinya sudah habis. Hening cukup lama. Di luar, sirine ambulans lewat. Tidak ada satu pun dari mereka yang kelihatan terkejut atau setidaknya melihat, seolah sudah jadi musik latar yang diputar terus-menerus dan tidak ada yang ingat kapan mulainya.

“Aku penasaran, kamu bisa hidup cukup lama sampai bisa lihat kapal luar angkasa betulan, tapi kenapa kamu malah menolak kesempatan buat bergabung di dalamnya?” tanya Markus, dengan nada menggoda seraya menunjukkan layar ponselnya kepada Kos. Kos menunggu cukup lama hingga koneksi cukup stabil dan terpampang sebuah tajuk:

berita manusialangit

Kos membaca tajuknya. Bahtera Akhir Zaman. Lalu foto galangan kapal yang seperti kota mengapung di orbit. Ia mendorong ponsel itu kembali ke sisi Markus. “Aku lebih penasaran kapan orang-orang berhenti berpura-pura bahwa ini tentang eksplorasi,” kata Kos, “Kapal penyelamat, tapi tiketnya cuma satu kelas.”

Markus terpingkal. “Kan, ini mimpimu? Pergi ke luar angkasa, mengeksplor batu-batu nggak berguna di planet lain?”

“Aku cukup tahu diri,” jawab Kos singkat. “Nggak akan terjadi. Bukan di lini waktu ini.”

“Tapi, mereka betul-betul membangunnya dan sekarang sudah mengapung di orbit sana,” kata Markus. “Empat kapal raksasa. Aku penasaran kenapa kamu menolak tawaran jadi awaknya.”

“Kamu ngga curiga, kenapa selama puluhan tahun mereka merahasiakan proyek ini dari kita? Karena mereka bangsat. Mereka bisa pakai uangnya buat memperbaiki masalah ekologi di bumi, tapi nggak, mereka pilih habiskan uangnya buat investasi jangka panjang dalam bentuk empat peti mati yang mengapung di luar angkasa.”

Markus memperhatikan foto kapal-kapal raksasa di layar, “Dilihat berkali-kali, nggak kelihatan seperti peti mati, tuh. Kalau aku jadi kamu, apapun aku lakukan selama mereka sediakan tempat tinggal gratis. Disuruh gosok-gosok besi karatan juga aku mau.”

“Kapal generasi seperti itu cuma kelihatan keren di pikiran kita sendiri. Tapi, begitu kamu perbesar skalanya, ya, lebih mirip peti mati.”

“Ah, kau terlalu berlebihan. Mereka kan hidup di dalamnya.”

“Oke, kalau begitu, penjara.”

Markus mengangkat alis. “Penjara dengan jendela penuh bintang-bintang. Lumayan upgrade dari tempat busuk ini.”

Kos tersenyum tipis, “Bayangkan, penjara itu kamu wariskan ke anak-anakmu. Orang-orang yang lahir di sana nggak pernah memilih buat hidup di sana. Mereka cuma melanjutkan kontrak yang ditandatangani orang tua mereka.”

Hening lagi. Kali ini lebih berat.

“Ya, kalau begitu, apa bedanya dengan di sini?” Markus menyandarkan punggungnya. “Kita juga nggak pernah pilih buat lahir di mana dan orang tuanya siapa.”

“Bedanya,” Kos menunjuk ke luar jendela, ke langit yang pucat oleh polusi, “di sini masih ada ilusi pilihan. Kalau di sana, semua sudah diperhitungkan. Kamu lahir untuk jadi teknisi yang mengumpulkan air kencing orang, ya, air kencing. Kamu fobia ruang sempit? Terlambat. Kamu lahir di dalamnya.”

Markus menghela napas kecil. “Anggap saja seperti tinggal di pesantren?”

Kos terkekeh pelan, “Pesantren yang nggak ada lulusnya.”

“Lagipula,” lanjut Kos, “Keputusan seperti ini masih terlalu terburu-buru.”

“Dua puluh tahun lho mereka bikin, merahasiakan, dan memastikan biayanya lancar. Aku pikir ini bukan proyek yang terburu-buru.”

“Dalam skala yang lebih panjang, dua puluh tahun itu singkat sekali. Kita selalu begitu, di satu sisi membayangkan diri kita peradaban yang bijak dan welas asih, di sisi lain tetap mau perjalanan luar angkasa yang cepat dan mulus seperti di film-film. Perjalanan mencari planet baru itu mengada-ada.”

Markus menatap layar ponselnya lagi. Ia lanjut membaca berita. “Mereka ngga berniat membawa kita ke planet baru,” katanya, “mereka cuma ingin kita tinggal di sana sementara, sampai orang-orang pintar berhasil memperbaiki kondisi Bumi.”

“Itu malah lebih buruk lagi,” oceh Kos, sengit, “Sementara itu seberapa lama? 30-50 tahun buat Bumi itu waktu yang lebih cepat dari kedipan mata. Degradasi atmosfer, problem tanah, dan tetek bengek masalah yang kita bikin nggak mungkin pulih dalam 50 tahun bahkan dengan teknologi terbaik. Terus, mau parkir di mana? Di antara orbit Venus dan Mars, atau di titik Lagrange? Siapa yang bisa jamin kapalnya bisa terus-menerus suplai kebutuhan kita? Atau salah-salah nanti terseret sampai Jupiter dan masuk radiation belt.”

“Horor amat.”

“Betul. Orang sering lupa saat membayangkan luar angkasa cuma dari foto-foto cantik sampai lupa, objek-objek di foto itu benar-benar ada di luar sana, dan ukurannya nggak bisa dijelaskan dengan angka yang otakmu sanggup pikirkan. Kita bisa hafal angkanya, tapi kita mungkin nggak akan pernah benar-benar memahami seberapa besar itu.”

Ia terdiam sebentar.

“Pilar-pilar jagat raya itu terbentuk, runtuh, dan terbentuk lagi jauh sebelum nenek moyang kita turun dari pohon. Mungkin kita bisa bikin alat buat jalan-jalan di kegelapan atau tahan dingin yang ekstrem. Tapi coba pikirkan, apa kita bisa tahan kalau memikirkan semua objek di luar angkasa itu bisa ada tanpa perlu kita ada?”

“Kalau kamu yang ngomong, semuanya tampak jadi selalu buruk,” tanggap Markus, “Berangkat dari ocehan kamu tadi, proyek ini malah bikin umat manusia cepat punah dong, ya?

Kos mengangguk, “Kadang aku berpikir mungkin alam semesta ini memang nggak pernah dirancang untuk ditinggali siapapun. Kita ini bukan apa-apa. Kita ini cuma kecelakaan kecil yang diberkahi bakat buat banyak omong.”

“Tapi, bagaimana kalau semua berjalan lancar?” tanya Markus.

Kos mengangkat bahu. “Ada alasan kenapa kebanyakan cerita fiksi yang melibatkan generation ship selalu bertema distopia.”

Ia meregangkan badan dan melihat ke arah Markus, “Kalau semuanya berjalan lancar, bakal jadi cerita paling membosankan yang pernah ada. Dan manusia bukan spesies yang jago bikin semuanya berjalan lancar.”

Markus tertawa kecil. “Jadi kamu nolak karena kamu pesimis?”

“Bukan,” kata Kos. “Aku nolak karena aku cukup realistis untuk tahu bahwa yang mereka butuhkan bukan penjelajah. Mereka butuh orang yang mau jadi fondasi. Jadi sekrup, baut dan kunci inggris. Jadi yang pertama dikubur supaya bangunan di atasnya bisa berdiri.”

“Terus,” akhirnya Markus merespons, “kamu mau ngapain di sini? Nunggu semuanya amblas?”

Kos mengambil cangkir kosong itu lagi, seolah berharap ada sisa yang tertinggal.

“Setidaknya di sini,” katanya pelan, “kalau semuanya runtuh, itu aku runtuh dan mati sendiri. Aku nggak memberi warisan yang kupaksakan ke orang lain.”

“Aku tahu kau sering keras pada dirimu sendiri, Kos,” kata Markus, tapi kali ini nada suaranya berbeda. Tidak ringan. “Tapi kalau itu alasanmu, rasanya kurang fair.”

“Jangan salah sangka,” Kos bersandar. “Aku nggak membenci manusia, cuma mungkin kita sebagai spesies, dalam kondisi tubuh kita sekarang, memang nggak cocok untuk ruang angkasa. Kita terlalu panas, terlalu basah, terlalu cepat menua, terlalu gampang mati kena radiasi. Dan terlalu nggak sabaran. Mungkin ruang angkasa justru menuntut kita berubah lebih dulu sebelum bisa ke sana.”

“Maksudmu, kita perlu jadi mutan?” seloroh Markus dengan ketus.

“Bisa jadi. Kalau ada makhluk yang benar-benar sanggup menyeberangi keluasan itu, kemungkinan besar mereka sudah nggak lagi seperti kita. Tubuh dan pikirannya dibentuk oleh perjalanan, oleh waktu, oleh tekanan yang nggak terbayangkan. Mungkin tubuhnya secara fisik sudah nggak kita kenali lagi. Dan mungkin mereka punya pemahaman yang berbeda soal waktu atau diri.”

“Kamu nggak perlu menjelaskan pun, aku tahu kamu nggak membenci siapa-siapa,” potong Markus. Pelan, tapi cukup tegas untuk membuat Kos berhenti. “Sebaliknya, aku nggak pernah bertemu orang yang segitunya memikirkan manusia sepertimu. Aku cuma bingung. Empat bulan kita ngobrol, dan setiap kali pula kamu mengarahkan obrolan jadi soal sistem, soal skala, soal politik, soal hal-hal besar lain. Nggak pernah soal kamu sendiri.”

Kos tidak langsung menjawab. “Mungkin memang nggak ada yang perlu diceritakan,” katanya akhirnya.

Markus mengangkat bahu. “Mungkin,” tangannya kembali merapikan barang. “Atau mungkin kamu sudah terlalu terbiasa punya alasan yang kedengarannya lebih besar dari alasan yang sebenarnya.”

Kos menatapnya. Markus tidak balik menatap. Tangannya sibuk melipat kain.

Tidak ada yang melanjutkan. Itu jenis diam yang tidak baru, mereka sering mengalaminya. Namun kali ini terasa berbeda, mungkin karena keduanya tahu kata-kata berikutnya akan terlalu besar untuk ruangan yang kecil dan waktu yang tak seberapa.

Markus meraih ponselnya. Ia mengisi kesunyian dengan membaca berita sampai tuntas, lalu mengangkat kepala.

“Bisa aku simpulkan,” katanya, “orang-orang kaya ini naik kapal mewah, meninggalkan orang miskin di sini, terus nunggu sampai buminya beres sendiri. Atau sampai ada yang mau bereskan buat mereka?”

“Atau sampai nggak ada yang tersisa,” kata Kos. “Dan orang-orang kaya itu akan mati dalam kaleng, seperti sarden kedaluarsa.”

Markus menghela napas. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tidak tertawa. “Itu lebih buruk dari yang kubayangkan. Kukira mereka setidaknya punya tujuan.”

“Oh, mereka punya,” jawab Kos, “dan tujuannya mereka jelas. Bertahan. Yang nggak jelas cuma satu: siapa yang boleh ikut.”

Markus memasukan ponsel ke saku, lalu berkelakar, “Tapi, ya, berita begini bikin senang penganut Teori Konspirasi.”

“Mungkin mereka sedang party,” jawab Kos. Kemudian Markus berpura-pura sedang mabuk sambil bergumam, “aku bilang juga apa, hah!

“Ada banyak proposal buat meninggalkan Bumi. Hidup di Bulan, di Mars, di dalam kapal. Tapi semuanya, kukira, cuma misi bunuh diri yang dikemas iklan real estate.”

“Yang lucu,” kata markus, setelah menghentikan olok-oloknya, “Mereka menyebutnya ‘warisan peradaban manusia’. Peradaban manusia yang mana? Yang bisa beli tiket miliaran rupiah per kepala?”

“Domel itu bangsat sekali, tapi dia tahu pangkalannya akan hancur. Dia bilang itu secara terang-terangan. Sementara yang di sini,” dia mengangguk ke arah televisi, “bahkan tidak mau mengakui siapa yang tidak akan kebagian tempat.”

“Sejauh ini, yang aku suka dari Yamato sebetulnya karena mereka nggak fokus dengan ide salvation,” kata Markus pelan. “Awalnya memang begitu, tapi sampai episode 20, aku merasa mereka cuma sekumpulan orang yang ingin survive, cuma buat hidup sehari lagi.”

“Ya, aku sepakat,” tanggap Kos. “Lihat kita, dua orang kalah di planet yang sudah lewat masa tenggangnya. Masih ngobrol. Masih minum kopi yang nggak enak ini.”

Markus tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser ponselnya di atas meja, mencari sesuatu sebentar, lalu menekan satu tombol. Suara musik pelan mengalir dari speaker yang sudah agak sember. Suara piano mengalun lembut, disusul motif melodi yang mencolok tetapi gelisah, sebelum suara perempuan mengisi udara yang penuh partikel yang bikin bengek.

Markus tersenyum kecil. “Kau pasti nggak tahu lagu ini,” katanya.

Kos menggeleng dan mengakui betapa payah ia soal musik.

“Ini favorit nenekku,” kata Markus. “Judulnya ‘Cinta’, yang nyanyi Melly Goeslaw bareng Krisdayanti.”

Kos mendengus. “Tua banget. Jadi, wajar dong kalau aku nggak tahu?”

“Kata orang yang nonton anime tahun 80-an.”

Kos tertawa.

Markus berhenti sebentar, seolah memutar ulang adegan di kepalanya. “Dulu lagu ini katanya sempat hype di Cirebon, soundtrack film apa gitu. Nenek selalu putar lagu ini tiap warung mau tutup, buat secara halus mengusir pengunjung. Ibuku yang bantu dia jadi ikut mendengarkan, sambil ngelap meja, beresin kursi. Dan ibuku jadi kecantol.”

“Dan kamu ketularan.”

“Iya,” Markus mengangkat bahu. “Tapi, kalau kamu pikir-pikir, cocok sekali buat awal-awal krisis. Waktu orang mulai sadar mereka sebenarnya nggak butuh AI. Sedih, melankolis, tapi agak sedikit kasih harapan.”

Kos menatapnya, “Ya, kalau saja sadar lebih cepat.”

Markus memiringkan kepala. “Menurutmu, kalau lebih cepat sadar, kita bisa hindari semua ini?”

“Kalau kamu tanya aku, jawabannya pasti nggak enak didengar,” katanya, berdecak. “AI itu cuma satu gejala. Kita dari awal memang manajer Bumi yang buruk.”

Markus diam. Di luar terdengar suara iring-iringan orang, entah marah atau bergembira, tidak terlalu jelas.

Kos menyandarkan punggung, menatap langit-langit. “Waktu lagu ini rilis,” lanjutnya pelan, “mungkin kata ‘iklim’ itu masih netral. Setingkat kayak kita dengar kata udara, musim, kacang goreng, hal-hal yang nggak perlu dipikirkan tiap hari.”

Markus mendongak, “Kita nggak memikirkan bahaya sampai bahaya itu sampai ke meja makan kita.”

Kos mengembuskan napas keras. “Setiap kali aku pikir ‘oke, ini sudah paling buruk,’ selalu ada yang lebih buruk lagi. Kita selalu mengira kita bisa lebih adaptif dari yang kita kira.”

Lagu memasuki bagian akhir, Markus ikut bernyanyi sambil tangannya sibuk merapi-rapikan barang, “Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia?”

Kemudian dia berhenti, “Aku pikir lagu favorit nenekku ini sudah tragis.”

Mata Kos mengikuti kesibukan Markus, lalu ikut tersenyum tipis.

“Yah,” katanya. “Setidaknya, lagu itu tahu kapan harus selesai.”

“Terus lagu favoritmu yang seperti apa?” tanya Markus.

“Aku suka musik yang nggak cuma jadi latar, tapi terasa seperti jeda yang sengaja didesain. Misalnya, di beberapa RPG, waktu kita istirahat di penginapan dan tiba-tiba dunia ikut melambat. Musiknya masuk pelan, transisinya halus, seolah-olah game-nya sendiri ngerti kalau kita butuh napas sebentar.”

Markus tertawa keras sekali, “Kapan, sih, kamu mau kembali ke kenyataan?”

“Oh, oh, lebih enak lagi kalau di momen musik itu muncul ada percakapan kecil yang nggak penting-penting amat. Obrolan singkat dengan anggota party, yang cuma ada di sela-sela istirahat, seolah mereka juga butuh berhenti sejenak sebelum lanjut menghadapi apa pun yang menunggu di luar.”

“Jadi kamu menganggap aku anggota party-mu?”

“Mungkin,” jawab Kos singkat.

“Kurang ajar!” seru Markus, melempar alas gelas ke wajah Kos, “Aku satu-satunya orang yang mau ngobrol dengan kamu.”

Kos tertawa getir.

“Omong-omong, kau belum menghabiskan kopimu,” ujar Markus. “Apa rasanya seenggak enak itu?”

“Kalau aku habiskan, kau akan selesaikan packing-mu.”

Markus tidak menimpali, alih-alih dia melipat kain yang sudah buluk itu dan memasukannya ke dalam ransel. Lalu, dia menutup resleting ranselnya lalu menempatkan ransel itu di atas dua kardus yang sudah tersegel.

“Kau benar-benar harus pergi, ya?” tanya Kos.

Markus mengangkat bahu, “Kalau harus mati, sepertinya aku lebih memilih mati miskin di kota lain daripada dicekik induk semang. Aku sudah kehabisan uang buat bayar sewa, lagipula Ibu dan Bapak sudah terlalu tua buat menjalankan warung mereka di rumah.”

Kos lekas-lekas mengambil cangkir dan meneguknya.

“Nggak usah buru-buru,” kata Markus, “cangkirnya buat kamu saja. Anggap kenang-kenangan dari satu-satunya anggota party-mu. Suatu hari kamu akan ingat. Dunia ini memang buruk sekali, tapi ada orang yang selama empat bulan menonton film kartun cuma biar bisa ngobrol sama kamu.”

Kos memaksa menelan seluruh cairan di mulutnya. Matanya terpejam dan wajahnya mengernyit, dan disudahi dengan lenguhan panjang.

Markus cekikikan melihat semua kejadian itu, “Pertama kali bertemu kamu, aku merasa sungkan. Atau takut, sih, lebih tepatnya. Kau seperti orang yang nggak suka ditemani. Mungkin ada banyak orang yang ingin berteman denganmu, tapi juga berpikir yang sama denganku.”

“Jangan rusak perpisahan ini dengan ceramah,” ujar Kos. Ia mengambil jaket dan menyelipkan cangkir yang masih basah di sakunya. Lalu ia mengambil masker sebelum bangun. “Kau bawa semua barang ini ke Cirebon dengan motor bututmu?”

Tangan Markus meraih tas, jaket, dan masker. Ia melirik Kos, dan menjawab, “Memang dengan apa lagi? Tank?”

“Pastikan saja chassis-nya nggak patah di jalan.”

Markus dan Kos membawa kardus. Tidak terlalu besar, dan tidak sepenuhnya tersegel rapat. Dua buah buku menyembul, buku tentang gastronomi molekuler dan catatan tangan. Kos menggeleng-gelengkan kepala sambil membenarkan posisi buku dan selotip.

Keduanya berjalan lambat menuju pintu. Tanpa obrolan, bahkan saat mereka berdiri berhadapan dan memakai masker. Markus meraih gagang pintu, bel tanda pengunjung keluar masuk berdenting. Kos mengikuti dari belakang.

Sebelum memakai helm, dengan suara teredam filter masker, Markus mengulurkan tangan. “Jangan mati di depan komputer, ya.”

“Aku usahakan.”

Kos mengikuti Markus sampai motor, menumpuk dan mengikat dua kardus di jok belakang, lalu menepuk-nepuknya sehingga debu berterbangan. “Suatu hari kau harus main ke Cirebon,” kata Markus.

“Ya,” jawab Kos, “Aku suka Cirebon.”

Markus berdecak, “Kamu belum pernah ke Cirebon.”

“Tapi, kau ada di sana.”

“Terima kasih,” kata Markus dengan suara yang semakin tidak jelas karena kini dia melapisi maskernya dengan helm dan filter tambahan, “Untuk kopi. Untuk Yamato. Untuk—”

Sisa kalimatnya tergerus suara mesin motor. Kos memandangi punggung Markus hingga menghilang di tengah debu jalanan. Perutnya keroncongan. Ia meninggalkan kedai sambil bergumam sendiri tentang kalimat yang tidak sempat ia dengar, tetapi mungkin tidak ada cara untuk menyelesaikan kalimat itu tanpa membuat semuanya jadi lebih buruk.

3.2 Hukum Kekekalan Bakmi

Olin Wardhani tahu persis ruangan kantor berubah temperatur saat dia memasukinya. Bukan soal suhu ruangan, dan tidak pernah soal suhu ruangan.

AC di kantor memang sudah rusak sejak bulan lalu, dan tidak ada yang repot memperbaikinya sebab filter pengganti butuh tiga kali antrean impor. Tapi, itu bukan alasan perubahan temperatur. Ini soal cara orang-orang melihat ke arahnya, lalu segera berpaling. Cara percakapan yang mengalir deras mendadak jadi terhenti saat ia lewat seperti ada yang keliru menekan tombol mute. Ada hal-hal yang tidak perlu diucapkan untuk tetap terdengar, dan Olin mendengarnya dengan baik.

Olin sudah menikah lima tahun. Namun, tidak kunjung ingin hamil.

Di kota di mana pasir dari ladang-ladang yang mati di selatan terus mengisi celah-celah retakan di aspal lebih cepat dari kerja Dinas Pekerjaan Umum dan rak-rak supermarket yang sepertiga kosong dan tidak pernah penuh lagi sejak rantai distribusi mulai putus satu per satu, keputusan Olin untuk tidak ingin memiliki anak terasa seperti penghinaan terhadap semua orang yang sangat mengimani bahwa Bumi akan sembuh kalau ada cukup bayi baru yang lahir ke dalamnya.

“Anak itu rezeki,” kata seniornya pagi itu, saat mereka sama-sama berada di dalam lift yang mesinnya kadang-kadang memutuskan untuk bekerja lebih santai. “Zaman begini, kita perlu harapan baru.”

Olin mengangguk. Ia sudah hafal nada suara orang ketika mereka tidak benar-benar mengajak bicara. Saat lift tiba di lantai dua, Olin keluar duluan. Ia merasakan pintu terbuka seperti anugerah kecil pagi itu.

Olin bekerja sebagai analis data di sebuah perusahaan konsultan lingkungan hidup untuk korporasi dan pertambangan. Pekerjaannya adalah membaca angka-angka dan membuat laporan tentang kadar CO₂, suhu rata-rata, persentase lahan yang sudah tidak bisa ditanami, prediksi banjir rob yang tampak lebih mirip lirik lagu-lirik lagu muram ketimbang data untuk laporan. Setiap hari ia membaca tentang kehancuran dalam satuan yang dingin, dan setiap hari ia pulang ke sebuah apartemen di lantai empat belas yang jendelanya tidak boleh dibuka.

Suaminya, Reza, bekerja di bidang yang lebih menyenangkan. Guru pertanian. Mereka menikah bukan saja karena saling jatuh cinta, ya, tapi juga karena ketika mereka berdua duduk di suatu jembatan, Reza berkata, “Aku tidak yakin mau punya anak di dunia seperti ini.”

Olin merasakan sesuatu di dadanya yang tidak bisa ia namai dengan tepat. Semacam pintu yang selama ini tertutup rapat, tiba-tiba dibuka dari luar oleh orang yang tidak ia sangka memiliki kuncinya.

“Aku juga,” katanya.

Dan saat itu, segala sesuatu tampak sangat sederhana.

Tahun pertama pernikahan, mereka berdua terlalu sibuk untuk diganggu siapa pun. Tahun kedua, ibunya Reza mulai bertanya tentang cucu dengan pelan dan konsisten seperti bunyi keran yang menetes—mengganggu, tapi mudah diabaikan. Tahun ketiga, pertanyaan itu mulai berbentuk kalimat lengkap. Tahun keempat, kalimat-kalimat itu mulai datang bersama tangisan.

“Bapakmu sakit, Reza. Dia cuma minta satu hal.”

Olin tidak ada di ruangan saat percakapan itu terjadi, tapi ia mendengar semuanya dari balik pintu kamar yang tipis. Ia duduk di tepi kasur dengan lutut dirapatkan, jari-jarinya dingin meski suhu di luar sedang tiga puluh delapan derajat. Ia mendengar pula saat mertuanya pulang dengan membanting pintu.

Reza masuk dengan mata merah.

“Aku minta kamu mengerti,” katanya.

Olin ingin bertanya: mengerti apa? Bahwa kesepakatan yang dibuat berdua bisa diubah oleh pihak ketiga yang bahkan tidak ada di ruangan ketika kesepakatan itu dibuat? Tetapi, ia tidak menanyakan hal itu.

Yang paling melelahkan bukanlah pertengkaran. Pertengkaran, meski menyakitkan, setidaknya jujur. Yang paling melelahkan adalah ketika Reza mulai menggunakan kata “kita” untuk hal-hal yang sebenarnya hanya ia inginkan sendiri.

“Kita mungkin perlu mempertimbangkan ulang.”

“Kita tidak bisa egois selamanya.”

“Kita tidak tahu, mungkin justru anak yang akan membuat kita lebih kuat.”

Olin mencatat setiap kalimat itu dalam kepalanya seperti data. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa mendokumentasikan semua kerusakan sebelum kerusakan itu benar-benar menenggelamkannya.

Suatu malam, setelah makan malam yang mereka habiskan dalam sunyi yang sangat kompeten—keduanya saling melewatkan garam dan saling menghindari tatap mata—Reza berkata, “Orang bilang aku mandul.”

Olin meletakkan sendoknya.

“Bagus, bukan? Artinya kamu jadi nggak perlu beralasan panjang lebar mengapa kita belum punya anak.”

“Kamu nggak mengerti.”

“Bagian mana?”

Reza tidak menjawab. Dan Olin duduk di sana, memandangi meja makan mereka yang sudah lima tahun menjadi saksi ribuan percakapan tentang film, tentang pekerjaan, tentang mimpi-mimpi kecil, tentang kepunahan, tentang belut listrik dan kelinci, tentang hal-hal yang berada di puncak gunung es bernama kesederhanaan dan kebahagiaan. Pada malam itu ia merasakan sesuatu yang sudah lama ia tahu ada, tetapi akhirnya mencapai permukaan: bahwa cinta bisa setajam kebencian dan tak pernah ada yang tahu kapan ia menikam dirinya sendiri. Ia harus berhenti sebelum itu terjadi.

Ada hal-hal yang lebih besar dari cinta, dan kesanggupan untuk hidup sesuai kehendak sendiri adalah salah satunya.

Proses perceraian itu cepat dan rapi.

Terlalu cepat, mungkin, untuk dua orang yang pernah sangat tahu cara membuat yang lain tertawa. Pengacara. Dokumen. Tanda tangan. Dua kali sidang mediasi yang keduanya berakhir dengan cara yang sama: Olin keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terukur, masuk ke dalam taksi, dan melihat keluar jendela pada jalanan Jakarta yang tampak seperti bak pasir raksasa berisi tahi kucing.

Olin pindah ke sebuah kos di daerah Tebet. Kamar yang lebih kecil, lebih bising, tapi jendelanya menghadap ke barat dan kalau sore tiba dan debu sedang tidak terlalu parah, warna langitnya kadang-kadang bisa terlihat seperti sesuatu yang hampir indah. Ia membawa dua koper, satu tumpukan buku, dan sebuah tanaman sukulen.

Rekan-rekan kantornya tahu, tentu saja. Di kantor seperti itu, di kota seperti ini, dan dalam kondisi begini kabar buruk tentang orang lain bergerak lebih cepat dari udara. Di pantry, seorang kolega berkata panjang lebar tentang hidup dan sebagainya. Olin menuangkan kopi ke dalam cangkir dan kembali ke mejanya sebelum ada yang sempat merasa perlu menyelamatkannya.

Dari semua itu, yang lebih sulit adalah telepon dari ibunya.

“Reza itu anak baik…”

“Ya, Bu. Dia memang anak baik.”

“Lalu kenapa—”

“Karena anak baik pun bisa minta hal yang tidak bisa aku berikan, Bu. Dan aku tidak mau berbohong seumur hidup hanya supaya terlihat baik.”

Hening panjang.

“Ibu nggak ngerti,” kata ibunya akhirnya. “Kenapa kamu nggak bisa sedikit berkompromi?”

“Ya, Bu,” jawab Olin.

Olin tidak marah karena ibunya tidak mengerti. Ia hanya lelah menjelaskan hal yang tidak punya penjelasan yang cukup sederhana untuk diucapkan dalam satu percakapan telepon. Ia hanya ingin segera mengakhiri percakapan sebelum ia memuntahi telepon genggamnya.

Olin berjalan dengan lapar.

Olin berjalan dengan sangat lapar.

Olin berjalan tanpa tujuan yang jelas dengan sangat lapar.

Sambil berjalan, ia sadar maskernya sudah mulai melemah. Ia bisa merasakannya dari cara udara masuk sedikit lebih berat dan hangat dari biasa, rasanya seperti menghirup napas dari mulut orang lain.

Butuh waktu sangat lama bagi penduduk Bumi untuk menyadari bahwa yang mereka alami bukanlah polusi biasa, dan bahkan sampai saat ini penduduk Bumi secara umum masih menganggap segalanya akan kembali seperti semula. Sementara para ilmuwan sudah lama menjelaskan apa yang mereka hirup bukan sekadar udara kotor dan bagaimana kita secara aktif selama bertahun-tahun mengubah komposisi atmosfer secara lambat dan menyeluruh, kita bersama-sama membalikkan miliaran tahun kerja keras bakteri purba yang dulu, dalam keheningan samudra primordial, pertama kali belajar memecah molekul air dan melepaskan oksigen ke udara. Yang dibutuhkan evolusi dua miliar tahun untuk dibangun, kita urai dalam hitungan dekade.

Di kanan dan kiri, deretan toko berbaris. Setengahnya sudah tutup permanen, mereka memasang papan-papan di pintu tanpa perlu repot-repot menurunkannya lagi. Pot-pot trotoar penuh batang kering berwarna pucat seperti tulang ayam. Tidak ada lagi mobil yang secara rutin menyiram mereka, mungkin karena kegiatan itu kini terasa seperti lelucon yang tidak lucu.

Meski masker Olin membuat kegiatan berjalan sambil bernapas jadi seperti mendekatkan diri pada maut, ada untungnya juga filternya rusak. Hidung Olin menangkap sesuatu. Wangi kaldu. Wangi yang cukup untuk membuat kakinya berbelok sendiri ke gang sempit yang mengarahkannya pada jalan keluar di suatu pertigaan di jalan raya. Ia melihat rumah dua tingkat dengan papan kuning besar bertulisan cat merah, seseorang baru saja melangkah keluar dari tempat itu:

Kedai Mie Oden Punya Yasmi

Kedainya kecil dan kedap. Empat meja, masing-masing dengan tiga kursi kayu yang kelihatan rajin dibersihkan. Neon di ujung berkedip pelan seperti orang yang mengantuk. Di dinding ada kalender dua tahun lalu dengan ilustrasi pegunungan. Uap dari dapur mengisi ruangan dengan kelembapan yang terasa asing bagi paru-paru yang sudah terbiasa menghirup partikel kering. Olin melepas maskernya dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia bernapas tanpa harus memikirkan bahwa ia sedang bernapas.

“Mau makan, Neng?”

Seorang perempuan dengan apron cokelat yang sudah belasan kali dicuci berdiri di balik kompor. Wajahnya tirus dan tenang.

“Bakmi ada?”

“Ada. Kuah atau goreng?”

“Kuah.”

“Tapi daging habis. Cuma tinggal oncom, mau?”

“Boleh.”

Dari balik pintu dapur keluar laki-laki paruh baya yang menggendong bayi sambil membawa nampan berisi segelas air, dan ia melakukan keduanya seakan dua kegiatan itu adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan lagi. Bayi itu mengenakan topi rajut hijau muda, matanya bulat dan penuh perhatian terhadap segala sesuatu—ke arah lampu, ke arah uap yang mengepul dari mangkuk di meja sebelah, ke arah Olin yang sedang memandanginya.

“Gemas banget,” kata Olin.

“Alaini Yasmika,” kata laki-laki itu, memperkenalkan anaknya dengan senyum lebar sekali. “Panggilannya Lain. Baru bisa bilang ‘dadah’.”

“Lain,” ulang Olin.

Bayi itu menatapnya. Melihat bagaimana makhluk kecil itu ada di sana, digenggam dengan aman, dirawat, tidak dalam keadaan kelaparan atau takut membuatnya tertegun sejenak.

Bakmi datang. Kuahnya bening, mengepul pelan. Bawang goreng bertebaran di atasnya seperti konfeti. Oncom yang dipotong dadu terselip di antara helai-helai mie yang masih bergerak oleh panas. Ketika Olin menyuap, pada kunyahan pertama ia merasa dunia sedikit bergeser. Ada sesuatu yang ia kira sudah ia pahami tentang rasa, tentang mie, tentang hidup bahkan, yang bergoyang-goyang akibat geseran. Rasa di dalam mulutnya datang seperti seseorang yang duduk di sampingmu tanpa bicara, lalu tiba-tiba kamu sadar kehadirannya cukup bikin hangat juga. 

Olin makan dengan amat sabar seolah dengan begitu mie di mangkuknya bisa beranak-pinak. Perempuan dengan apron cokelat itu datang membawa air dan memperkenalkan diri. Namanya Yasmi. Ia mengelap meja di sebelah sambil bersenandung pelan. Lagu yang tidak Olin kenali, tapi melodinya berputar-putar di ruangan kecil itu dan menempel di dinding bersama uap kuah mie.

“Kalau rasanya kurang, harap maklum,” kata Yasmi, “Bahannya semakin susah dan mahal.”

“Iwni suwdwah ewnawk bwanwget, Bwu.”

Yasmi geleng-geleng, meminta Olin untuk tidak bicara sambil mengunyah, “Nanti tersedak.”

“Ini sudah enak banget, Bu,” ulang Olin setelah menelan makanannya. “Kok bisa, ya, aku baru tahu ada kedai ini.”

“Syukurlah,” jawab Yasmi. “Ya, mungkin baru tahu karena jarang keluar rumah.”

Olin mengingat lagi rutinitasnya, bahkan sebelum bercerai rute jalannya setiap hari selalu sama: rumah, kantor, rumah lagi. Ia berusaha mengingat kapan terakhir kali ia berjalan-jalan tanpa tujuan seperti yang ia lakukan hari ini, dan sejauh yang mampu ia ingat ini memang pertama kalinya.

“Nama kedainya panjang sekali, Bu,” kata Olin, “Kenapa nggak Kedai Bakmi Yasmi saja?”

“Karena resep mienya bukan punya saya, tapi resep keluarga Pak Oden.”

“Oh, Ibu punya kedainya saja berarti?”

“Resep mienya punya Pak Oden,” jawab Yasmi sambil menggeleng dan terkikik. “Pak Odennya punya saya.”

Tawa Olin meledak saat itu juga.

Sementara di luar kedai, langit menggantung pucat. Segelintir orang lewat tanpa bicara. Langkah kaki terdengar pelan. Deretan muka toko tertutup debu. Beberapa bekas sidik tangan tertinggal samar di permukaan logam, tercetak oleh orang-orang yang mencoba membuka hari lebih cepat dari yang lain, lalu menyerah. Dunia luar seperti masih dalam proses memutuskan cara terbaik untuk mengakhiri dirinya sendiri.

Tapi di dalam kedai ini, air mendidih. Mie direbus. Bayi tertawa tanpa alasan. Dan Olin menghabiskan mie sampai mangkuk kesat. Ia tidak ingat kapan terakhir kali dia menghabiskan makanan sampai benar-benar bersih. Terlalu banyak yang tidak dia ingat.

***

Olin kembali ke Kedai Mie Oden Punya Yasmi pada hari Minggu.

Ia jadi semakin sering berkunjung sebab di sana, tidak ada yang memperlakukannya seperti penyakit masyarakat yang perlu disembuhkan. Ia datang lagi Minggu berikutnya. Dan Minggu setelahnya.

Pada setiap kunjungan, ia selalu melihat ada orang lain di meja sudut. Orang itu, ia sadari belakangan, adalah orang pertama yang ia lihat saat menemukan kedai ini. Seorang laki-laki dengan rambut yang terlalu panjang untuk disebut rapi tapi terlalu pendek untuk disebut gondrong. Ia selalu menatap laptop tua yang selalu ia bersihkan dengan kuas setiap beberapa menit sekali. Jari-jarinya bergerak cepat di keyboard, sesekali berhenti, dan ia akan menatap layar dengan ekspresi seperti sedang berdebat dengan sesuatu.

“Bang Kos!” Mang Oden muncul dari dapur dengan semangkuk bakmi. “Bawang putihnya sudah saya tambahin, ya.”

Laki-laki itu menerima mangkuk dengan kedua tangan, dan berkata sesuatu yang membuat Mang Oden tertawa lepas.

Kali ini Olin memesan bakmi kuah dan duduk di seberang orang itu, hanya terpaut satu meja kosong. Ia terpaksa duduk di sana karena kedai sedang direnovasi, meja kasirnya sedang dibeton permanen dan dibuat menyatu dengan meja dapur dan washtafel. Mereka tidak bicara. Olin makan. Kos mengetik. Mang Oden mondar-mandir membawa kotak peralatan dan kayu-kayu bekas. Kak Yasmi mengayun-ayun Lain sambil menonton berita. Suara dari ponsel Kak Yasmi tidak terlalu kencang, tetapi cukup terdengar. Seorang reporter menyiarkan berita tentang krisis pangan di Makassar, Sofifi dan Cirebon.

Kos bereaksi sebentar, mendongak dari laptopnya dan mencari arah suara berita. Seolah tahu tidak ada yang bisa ia lakukan, ia menyapu pandangan ke arah lain. Ia melihat Olin di seberang meja, ia mengangguk sambil tersenyum kecil, lalu kembali lagi ke laptop. Olin mengangguk balik meski ia tahu Kos tidak melihatnya.

Mang Oden melihat kejadian itu. Ia mendekati meja Kos dan menaruh gergaji karatan di atasnya.

“Mbak Olin, ini Bang Kos, pelanggan tetap juga. Bang Kos, Mbak Olin.” Mang Oden berkata seolah-olah ia sedang menyelesaikan teka-teki yang sudah lama mengganggunya. “Kalian berdua suka duduk sendirian, jadi saya pikir mungkin kalian cocok kalau duduk sendirian bareng.”

Kalimat itu tidak masuk akal, tapi cukup membuat Olin dan Kos tertawa.

“Saya Kos,” kata laki-laki itu. 

“Olin.”

Mereka kembali ke meja masing-masing.

***

Percakapan panjang pertama mereka sesungguhnya terjadi bukan karena salah satu dari mereka memulai, tapi karena Mang Oden kehabisan mie.

“Stok dari Tangerang telat tiga hari,” kata Mang Oden dengan nada menyesal yang berlebihan, seolah ia baru mengumumkan kematian seseorang. “Beras pun sudah nggak ada. Hari ini cuma ada singkong dan sedikit sisa sorgum, bisa aku buat mirip-mirip nasi goreng. Tapi, jujur saja mungkin rasanya nggak keruan. Bisa dimakan, tapi nggak ada yang pernah minta tambah.”

“Saya mau coba deh,” kata Kos.

“Saya juga,” kata Olin, “Tapi saya mau lihat masaknya seperti apa.”

Mang Oden tertawa setuju.

Awalnya, Kos tidak ikutan. Namun, setelah Mang Oden mengeluarkan lelucon tentang kecoa sebagai pengganti udang, dia jadi khawatir dan ikut menyaksikan Mang Oden memasak. Memastikan Mang Oden tidak menggunakan kecoa. 

Wajan yang digunakan sudah penyok-penyok, tapi Mang Oden memperlakukannya seolah itu adalah bagian dari tangannya sendiri. Ia menuang sedikit sekali minyak kelapa lalu melempar bawang yang sudah dicincang kasar. Aroma tajamnya naik dengan cepat seakan mengingatkan bahwa dapur ini dulu pernah lebih dari sekadar tempat bertahan. Di sudut meja, ada potongan fermentasi oncom yang ia hancurkan sedikit. Mang Oden menjelaskan bahwa itu adalah bumbu rahasia yang membuat masakannya jadi gurih. Tangan kirinya dengan lihai mengayun wajan dan tangan kanannya memainkan spatula sampai api memercik naik ke wajan. Singkong masuk lebih dulu, diayun dalam wajan hingga mulai kecokelatan. Sorgum menyusul kemudian. Ia aduk semuanya dengan ritme yang konsiten, mengikuti suara gesek antara logam dan dasar wajan. Lalu, ia mengistirahatkan wajan dan membiarkan bagian bawahnya diam lebih lama. Hawa panas segera menerjang wajah mereka saat Mang Oden menabur bumbu-bumbu.

Setelah yakin tidak ada kecoa yang ikut serta dalam masakan, Kos mengajak Olin kembali ke meja. Ajakan itu terjadi begitu saja. Dan begitulah mereka berakhir duduk di meja yang sama, minum dan menunggu makanan disajikan.

“Kau takut kecoa?”

“Bukan takut,” jawab Kos, “Jijik.”

“Apa bedanya?” goda Olin.

Kos mendengus, “Besar sekali.”

Olin terkekeh, lalu hening sebentar sebelum akhirnya ia bertanya, “Kerjanya apa?”

“Banyak hal. Tapi yang paling sering seputar mengubek-ngubek reruntuhan.”

“Contohnya?” tanya Olin, mengerutkan kening.

Kos tampak memikirkan jawabannya cukup lama. “Kau tahu gedung-gedung perkantoran yang sudah ditinggalkan sejak banjir rob tiga tahun lalu?” Kos mengangkat teh botolnya, memutar-mutar seolah sedang memeriksa endapan di dasarnya. “Aku kerja di situ. Semacam periset tambang, tapi bukan tambang yang di gunung. Aku menambang di tengah kota, menganalisis material dari puing-puing yang sudah nggak terpakai. Beton, kabel, pipa, sirkuit. Hitung apa yang masih bisa dipakai lagi.”

“Ada, ya, pekerjaan seperti itu?”

“Aku juga heran. Tapi, memang, ada lebih banyak nikel dan tembaga di Jakarta daripada di sebagian besar tambang konvensional yang masih beroperasi hari ini. Tinggal pintar-pintar cari cara mengambilnya tanpa membunuh diri sendiri dalam prosesnya.”

“Oke,” tanggap Olin, “Tapi aku lihat kau malah lebih sering di depan laptop ketimbang di lapangan?”

Mata Kos berbinar. “Kamu mau lihat?”

“Aku nggak bilang begitu, sih. Tapi boleh juga.”

Kos mengeluarkan laptopnya dengan cepat tanpa mengindahkan jawaban Olin.

Dilihat dari dekat, laptop itu jauh lebih mengenaskan secara fisik daripada yang Olin kira—layarnya dipenuhi dead pixel, dan huruf-huruf pada keyboard sudah banyak yang luntur, atau luntur lebih cepat karena terlalu sering dibersihkan.

“Aku sedang membuat pemetaan siklus material tertutup,” terangnya sambil membuka sebuah file yang tampak seperti labirin angka dan diagram. “Semacam simulasi. Kalau kau punya sejumlah terbatas logam, mineral, polimer, dan kau nggak bisa tambah dari luar, bagaimana caranya supaya semua itu terus berputar tanpa ada yang hilang. Ekstrak, olah, pakai, pulihkan, ulang. Tanpa limbah. Atau setidaknya, limbahnya mendekati nol.”

“Kedengarannya sangat berguna.”

“Ya, dan sangat seru.” Kos menunjuk diagram di layar, jari-jarinya bergerak dengan antusiasme orang yang sudah terlalu lama bicara pada dirinya sendiri tentang hal ini. “Jadi, ini semacam digital twin. Replika matematis dari sistem tertutup. Kita masukkan semua variabel—misal, berapa ton besi, berapa kilogram lithium, berapa gram kobalt—lalu kita jalankan simulasinya selama puluhan tahun. Lihat di iterasi ke berapa logam mulai kehilangan integritas struktural. Di titik mana polimer nggak bisa diolah ulang lagi. Seberapa cepat unsur langka terserap ke dalam proses yang nggak bisa dipulihkan.”

Olin memperhatikan data yang tersaji di layar. Beberapa variabel terasa familier, jenis-jenis angka yang biasa ia temui dalam konteks yang berbeda, tapi bahasanya sama. “Ini proyek pemerintah atau swasta?”

Kos menggaruk hidungnya. “Ini bukan proyek siapa-siapa, sih. Aku cuma penasaran… apakah secara teoritis bisa dilakukan,” ujar Kos, berhenti sebentar, “maksudku, sistem yang benar-benar nggak butuh input dari luar.”

“Kenapa?”

Kos diam sebentar, lalu mengangkat bahu. “Sejujurnya aku nggak tahu. Buatku, ini—yah, setidaknya ini cukup membuatku anteng.”

“Tapi ini keren sekali,” puji Olin, “Karena kalau Bumi ini memang sedang menghabisi dirinya sendiri, dengan simulasimu ini kan bisa cukup membuktikan bahwa kita bisa hidup dari apa yang sudah ada. Tanpa harus terus menggali lubang baru, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan?”

Kos diam lagi, dan lagi-lagi cuma mengangkat bahu.

“Aku lihat kamu sering ke sini,” tanya Olin.

“Hampir setiap hari. Terutama sejak temanku yang punya kedai kopi tidak jauh dari sini pulang kampung ke Cirebon.”

Olin memperhatikan cara Kos bicara. Ada jeda-jeda yang sengaja, seperti ia menimbang setiap kata sebelum melepaskannya.

“Kamu?” tanya Kos.

“Beberapa minggu. Sejak—” Olin berhenti. Ia melihat gelasnya, “—sejak beberapa hal berubah. Di kehidupan pribadi.”

Kos mengangguk.

Olin merasakan kedua bahunya turun lebih dalam dari biasanya setelah dia bilang seperti itu. Ia merasa cukup aneh karena ia tidak menyadari sejak kapan bahunya naik.

Mang Oden membawa dua piring sorgum-singkong-goreng dengan wajah penuh kemenangan. Ia meletakkan dua mangkuk di meja mereka. “Ini, spesial buat pelanggan yang sabar. Porsi lebih besar.”

Mereka makan. Tidak banyak bicara. Sesekali Lain, yang sedang duduk di pangkuan Kak Yasmi di dekat kasir, menunjuk-nunjuk ke arah mereka dan mengoceh dalam bahasa yang hanya ia sendiri pahami.

“Dia suka sama kalian berdua,” kata Kak Yasmi. “Biasanya dia cuma nunjuk-nunjuk kalau lihat kucing.”

“Mungkin dia memang mengira kita kucing,” kata Kos.

Olin tertawa sampai tersedak bulir sorgum.

Rutinitas itu terbentuk seperti endapan sedimen. Begitu lambat sehingga tidak ada satu pun momen yang bisa ditunjuk sebagai awalnya.

Olin datang sepulang kerja, biasanya sekitar pukul enam. Kos sudah di sana sejak siang, laptopnya terbuka, sisa dua mangkuk bertumpuk di tepi meja. Keduanya secara rutin bertukar cerita tentang pekerjaan, kegiatan sehari-hari, dan hal-hal remeh yang terjadi sepanjang waktu. Olin mulai bercerita betapa resek orang-orang di kantor, dan Kos mulai terbuka tentang proyek-proyek kerja lepasan yang dia lakukan, termasuk tawaran kerja di Mandala Horizon. Mang Oden masih konsisten dengan gerak-geriknya yang serba mencurigakan. Yasmi selalu menjadi orang yang pertama menyambut siapapun pelanggan yang datang, dan rutin berbincang dengan Olin. Sementara Lain bertingkah sebagaimana wajarnya balita. Kadang ada saja interupsi ringan yang terjadi dalam rutinitas itu, misalnya suatu hari Kak Yasmi menyajikan satu pisang goreng yang kemudian mereka bagi lima atau tengah bulan lalu saat tiba-tiba Mang Oden membawa seekor lobster dari pasar gelap.

Mereka bicara tentang banyak hal, dan tentang tidak ada hal. Tentang distribusi bioma di ekosistem laut dalam yang menurut Olin masih menyimpan lebih banyak misteri dari semua planet yang sudah berhasil difoto. Tentang film-film klasik koleksi Kos, yang cenderung membosankan tapi cukup seru untuk ditonton sambil makan.

Suatu malam, setelah kedai tutup dan Mang Oden sudah naik ke lantai dua bersama Kak Yasmi dan Lain, Olin dan Kos duduk di trotoar depan kedai. Langit malam Jakarta tidak pernah benar-benar gelap. Selalu ada lapisan permanen antara cahaya kota dan debu yang membuat semuanya tampak seperti foto yang diambil dari balik kaca yang kotor.

“Saat kita pertama bertemu, aku baru cerai,” kata Olin dari balik masker. Begitu saja, seakan sedang menjatuhkan batu ke kolam.

Kos tidak langsung menjawab, ia melihat orang di sebelahnya lalu merespons, “Maaf, aku baru tahu.”

“Ya, memang. Karena aku baru cerita,” Olin menarik lutut ke dada. “Jadi, nggak perlu meminta maaf.”

“Aku nggak tahu banyak tentang pernikahan,” ujar Kos, “Kelihatannya rumit.”

“Nggak juga. Justru seru kalau pasanganmu cocok denganmu. Dalam kasusku, ada banyak hal yang kami memang sangat cocok, sayangnya untuk hal yang prinsipil nggak secocok itu.”

“Amat disayangkan,” komentar Kos. Lalu, hening.

“Aku nggak mau punya anak, dan itu prinsip yang aku pegang,” Olin mendengar dirinya sendiri mengatakannya dan merasa aneh, betapa ringan rasanya bisa mengutarakan hal itu lagi.

Kos memungut kerikil kecil dari trotoar dan membolak-baliknya di antara jari-jari. Setelah cukup lama, ia berkata, “Ada orang yang minta aku merasakan sesuatu yang tidak ada di dalam diriku. Ketika aku bilang aku tidak bisa, dia menganggap itu pilihan. Bukan fakta.”

Olin menoleh, “Hubungan romantis?”

“Definisikan romantis.”

“Cinta. Ketertarikan. Hal-hal seputar itu.”

“Ya, mungkin. Aku nggak pernah benar-benar yakin apa yang orang maksud ketika mereka bilang jatuh cinta, dan saat aku pikir aku tahu, sudah terlambat.”

“Jadi kau menenggelamkan diri dengan laptopmu itu?”

Kos tertawa, “Mungkin aku pada dasarnya memang culun saja.”

“Mungkin,” ujar Olin, ikut tertawa kecil, “Mungkin aku juga.”

Tak jauh dari mereka seekor anjing mongrel berusaha masuk ke dalam bangkai bus lewat pintu supir yang sudah tidak ada daun pintunya. Anjing itu melirik sedikit, mendengus, lari menjauh, lalu kembali masuk dan tak keluar lagi.

“Orang selalu menganggap hal yang di luar pemahaman mereka sebagai pilihan,” kata Olin pelan. “Karena kalau itu pilihan, mereka bisa menyalahkan kita. Kalau itu fakta, mereka harus menerima bahwa dunia lebih rumit dari yang mereka mau.”

Kos menatap Olin. Tatapan pertama yang benar-benar fokus sejak mereka saling mengenal, sementara Olin terus berbicara, “Kau orang pertama yang tidak bilang ‘nanti juga berubah pikiran’ ketika aku cerita tentang ini.”

“Karena aku sendiri muak mendengar ‘nanti juga berubah pikiran’ tentang keputusan-keputusanku sendiri,” kata Kos. “Kau pulang ke mana?”

“Dekat sini,” jawab Olin.

“Besok kamu ke sini lagi?” tanya Kos.

“Kalau Mang Oden masih jualan.”

Besoknya mereka kembali lagi, dan besok berganti lusa, dan lusa berganti minggu, dan empat bulan berlalu begitu saja. Lain kini mulai bisa berjalan dengan langkah-langkah seperti orang mabuk, dan ia mulai mengenali Olin dan Kos. Ia menjerit kecil setiap kali mereka masuk, mengangkat tangan mungilnya dengan gerakan “dadah” yang berlebihan untuk seseorang yang menyambut orang yang baru ia temui beberapa jam lalu.

“Lain sepertinya sayang sekali sama Mbak Olin dan Bang Kos,” kata Kak Yasmi suatu sore, sambil menyendokkan bubur ke mulut Lain yang setengah terbuka, setengah tertutup, seolah bayi itu sedang mempertimbangkan apakah bubur layak dikonsumsi. “Padahal sama om-om tetangga aja nggak mau digendong.”

“Mungkin dia masih menganggap kami kucing,” kata Kos.

“Atau mungkin dia tahu kalian butuh teman,” kata Mang Oden, nyengir dari balik kompor.

            Mereka duduk di meja dekat pintu masuk. Dua orang pelanggan lain baru datang. Salah satunya, yang paling tua, mengenali Kos. Ia mendekati meja Kos dan Alin, berjabat tangan dan berbincang tentang suatu hal. Orang itu mengenakan kaos merah dengan tulisan ORPA (Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa) besar di punggungnya. Selepas berbincang, orang itu menepuk pundak Kos dan pamit menuju mejanya lagi.

            “Tentang Mandala Horizon?” tanya Olin, yang ditanya cuma menggaruk-garuk kepala dan nyengir. Olin melanjutkan, “Kau baru cerita sedikit tentang tawaran itu.”

“Nggak banyak yang bisa diceritakan, sebenarnya,” jawab Kos, “ingat pekerjaanku yang kutunjukan dulu?”

Olin mengingat sebentar, “Oh, simulator pemulung itu.”

Kos tertawa mendengarnya, “Ya, betul yang itu. Aku punya blog untuk meng-update secara rutin apa yang sedang kukerjakan. Salah satunya ide ‘simulator pemulung’ itu. Seseorang membaginya kepada orang lain, dan seterusnya, sampai tiba di seseorang yang menjalankan Ark Relocation Council (A.R.C). Itu yayasan yang menaungi seluruh proyek generation spaceship, termasuk Mandala Horizon.”

“Tapi keren juga, ya, mereka. Bisa menyembunyikan proyek megastructure seperti itu selama puluhan tahun.”

“Ya, begitulah,” jawab Kos, “Nah, orang A.R.C ini meminta subkontraktor di Indonesia buat mencariku. Itu dia orangnya.”

Olin melirik sedikit ke arah dua orang yang dimaksud, “Kayak PNS biasa.”

“Ya, memang.” Kos tertawa lagi, lalu lanjut bercerita, “Dia datang dengan menekankan bahwa semua yang aku bayangkan ini bisa jadi kenyataan, mulai dari dana hingga tim-tim yang dibutuhkan. Tapi, syaratnya cuma satu. Aku mau tinggal di kapal itu.”

“Dan kau menolak?”

Kos mengangguk. Ia meracau tentang pandangannya mengenai proyek ambisius itu, dan Olin menimpali dengan sama antusiasnya. Mereka memiliki pandangan yang kurang lebih mirip, dan itu membuat waktu terasa berjalan lebih cepat. Dua pelanggan itu sudah pergi beberapa jam lalu, kedai sudah tutup, dan mereka pindah ke trotoar. Keduanya tidak peduli apa yang terjadi di dunia luar, masih asyik membicarakan hal-hal lucu tentang lembaga riset di bawah pemerintahan.

Di luar lelucon-lelucon itu, keduanya sadar bahwa mereka merasakan sesuatu yang familier satu sama lain, mereka mengenali pola-pola di balik cara pikir dan pilihan-pilihan mereka. Mereka serupa dalam hal itu.

“Kamu pernah berpikir,” kata Olin pelan, “bahwa mungkin kita berdua sebetulnya cuma takut?”

“Setiap hari,” kata Kos. “Tapi aku juga belum menemukan cara membedakan antara ketakutan dan kehati-hatian yang wajar. Dan sampai aku bisa bedakan, aku memilih untuk tidak bergerak.”

“Bahkan kalau tidak bergerak artinya tenggelam?”

“Terutama kalau tidak bergerak artinya tenggelam.”

“Kalau begitu, apa bedanya kita dengan pecundang?”

“Nggak ada.”

Lalu mereka tertawa. Menertawakan diri sendiri. Sementara lampu kedai di belakang mereka padam.

3.3 Resep Keluarga Sisa-Sisa

Suatu malam Sabtu, mereka berjalan bersama ke Kedai Mie Oden Punya Yasmi. Tapi malam itu, ada kerumunan.

Mulanya Olin melihat lampu ambulans lebih dulu. Cahaya merah-biru itu membiaskan warna pada kerumunan kecil yang berdiri menonton, juga mengenai sudut tempat yang ia kenali. Olin berlari meninggalkan Kos. Ia menyeruak di antara orang-orang dan berdiri, berusaha menstabilkan napasnya, sambil melihat benda di depannya.

Yang pertama menampakkan diri adalah bokong Truk Angkatan Darat. Kendaraan besar itu berjongkok di antara puing-puing kedai bagai gargoyle bongkok yang bertengger di atas reruntuhan katedral. Kulitnya, hijau tua pekat, memikul warna air rawa yang tak bergerak. Kendaraan itu telah menghunjamkan tubuhnya ke dalam kedai kecil. Ia menelan ambang pintu bulat-bulat. Ia merangsek masuk, menggiling dan melahap segala yang merintanginya dengan momentum kutukan yang sekali terucap tak bisa ditarik kembali. Setiap meja, setiap kursi, setiap perkakas rendah hati remuk di bawah gerak majunya yang mengerikan, seolah-olah truk itu menyantap arsitektur rapuh dengan nafsu makan orang yang tak makan tiga hari. Ia berhenti hanya ketika kepalanya menghantam sesuatu yang tak mau kalah di dalam jeroan bangunan, meja kasir.

Apa yang tersisa dari fasad bangunan itu adalah gerowong yang mirip borok. Sebuah lubang menuju kegelapan yang mengantar pada mayat penjaga kedai.

Olin tidak ingat kakinya bergerak. Ia hanya tahu bahwa satu detik ia berdiri dan detik berikutnya ia sudah di depan garis polisi.

“Mang Oden!” Suara Olin keluar lebih keras dari yang ia duga. “Kak Yasmi! Mang Oden!”

Petugas menahan mereka. “Maaf, Bu. Jangan terlalu dekat. Masih evakuasi.”

“Mang Oden, Kak Yasmi—mereka—”

Wajah petugas menjawab sebelum mulutnya sempat bicara. Ada cara tertentu otot-otot wajah manusia menyusun diri ketika berita yang akan disampaikan lebih berat dari kata-kata yang tersedia untuk menyampaikannya.

“Kami turut berdukacita.”

Olin tidak merasakan apa-apa. Ia pernah mati rasa dan ini bukan itu. Ini lebih seperti ketika kamu membaca angka di laporan yang terlalu besar untuk dipahami. Kamu tahu angka itu nyata. Kamu tahu angka itu berarti sesuatu yang mengerikan. Tapi otakmu menolak untuk memprosesnya karena memproses angka itu akan mengubah kenyataan yang kamu pahami, dan kamu belum siap.

“Ada yang selamat?” tanya Kos.

“Bayi. Di lantai dua. Lantai dua tidak kena. Kami sudah bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan.”

Olin dan Kos sudah berlari sebelum petugas selesai bicara.

Rumah sakit penuh sesak. Koridor putih yang terang, bau sesuatu yang berusaha meniru aroma organik hutan pinus, suara mesin-mesin yang konstan berdenyut seolah mengingatkan bahwa hidup hanya rangkaian fungsi biologis yang bisa berhenti kapan saja. Mereka menemukan Lain di ruang anak. Ia tidak menangis keras—hanya rewel, suara-suara kecil yang keluar dari mulutnya seperti pertanyaan yang tidak tahu harus ditujukan ke siapa. Topi rajutan hijau mudanya masih ada.

“Anda keluarga?” tanya perawat.

Olin dan Kos saling memandang. Pertanyaan itu seharusnya sederhana. Ya atau tidak. Tapi keduanya tahu bahwa jawaban yang benar secara faktual adalah jawaban yang salah secara moral.

“Ya,” kata Olin. “Kami keluarga.”

Kos mengangguk.

Perawat memberikan akses masuk. Bayi itu menangis lebih pelan saat mengenali bau dan suara yang ia kenali.

Olin menggendong Lain dan merasakan berat yang tidak sebanding dengan ukuran tubuh kecil itu. Berat yang datang dari tulang dan daging dan semua hal yang kini melekat pada dirinya berupa masa depan makhluk di tangannya, keputusan yang harus diambil cepat, serta tanggung jawab yang tidak pernah ia tandatangani tapi tidak bisa ia kembalikan.

Kos berdiri di sampingnya. Tangannya terangkat perlahan dan ragu, ia menyentuh dan mengusap-usap kepala Lain. Jari-jarinya menyusuri topi rajutan hijau muda itu, dan Lain menoleh ke arahnya dengan mata yang sebesar bola pingpong.

“Kita akan merawatnya,” kata Kos. Sebuah pernyataan yang muncul karena tidak ada cara lain yang masuk akal.

Mereka memutuskan tinggal bersama di minggu yang sama dengan pemakaman. 

Apartemen kecil di lantai tiga sebuah bangunan yang perutnya dipenuhi pipa-pipa yang mengerang setiap malam. Dua kamar. Satu untuk Kos, satu untuk Olin. Mereka sepakat Lain akan berpindah-pindah kamar, setidaknya selama beberapa waktu. Jendela kamar itu menghadap ke barat, saat Kos membuka jendelanya, ia melihat semburat merah muda di garis horizontal yang menandakan bahwa matahari masih ada di balik semua itu.

Malam pertama, setelah Lain akhirnya tertidur di antara dua bantal yang dibentuk menjadi pagar darurat, Olin duduk di lantai ruang tengah yang masih kosong. Kos duduk di hadapannya, punggungnya bersandar di dinding.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” kata Olin, suaranya pelan, seperti orang yang baru menyadari ia sedang berdiri di tepi jurang

Mereka menatap satu sama lain. Dan kemudian, secara bersamaan, mereka tertawa. Tawa yang barangkali keluar dari tempat yang sama dengan tempat keluarnya erangan—tempat di mana tubuh tidak tahu lagi bagaimana merespons absurditas yang terlalu nyata untuk disangkal.

“Ironis, ya?” kata Olin.

“Ironi itu lucu. Kalau ini—” ia mengusap wajahnya, “—ini mengerikan.”

Hening. Di kamar sebelah, Lain mengigau dalam tidurnya.

“Kos.”

“Ya.”

“Bagaimana pun caranya, kita harus masuk Mandala Horizon.”

Kalimat itu menggantung di udara. Olin bisa melihat cara kalimat itu mengenai Kos. Namun, ia memilih untuk menunggu Kos berbicara. Sementara orang yang ditunggu cuma menatap kapang yang menghitam langit-langit. Ia mengambil sapu, naik kursi, dan berusaha membersihkan jamur bandel itu. Ia berusaha keras sekali menggosok-gosok, tetapi tentu percuma. Ia ke toilet, mengambil kain pel dan sedikit air, lalu kembali naik kursi dan menggosok-gosok kapang itu. Ia baru berhenti ketika nyaris jatuh dan melihat hasil kerjanya yang sia-sia dengan bertolak pinggang.

“Di sini kita bakal mati,” ujarnya pelan sekali, “di kapal itu kita juga bakal mati. Kalau hasilnya akan sama saja, kenapa kita harus pindah?”

“Oksigen menurun setiap tahun. Distribusi pangan semakin kacau. Kau sendiri yang bilang—kita cuma menunggu di stasiun mana kita turun. Dia nggak punya pilihan stasiun. Satu-satunya pilihan yang bisa kita berikan kepadanya adalah waktu. Lebih banyak waktu. Kapal itu mungkin memang peti mati, tapi peti mati yang setidaknya punya kemungkinan lain yang lebih baik. Sekecil apapun.”

“Kau tahu aku akan selalu punya jawaban buat nggak mau, kan?”

Olin mengangguk, “Dan aku selalu punya pilihan buat berangkat tanpamu.”

“Aku akan menulis proposal baru malam ini,” kata Kos. Suaranya kering. “Sistemnya sudah hampir selesai, tapi orang ORPA itu mungkin bahkan nggak terlalu peduli. Buat ini cuma proyek lain.”

“Mungkin aku akan bisa ajukan paper tentang desain ekosistem tertutup atau ketahanan genetik?” kata Olin, “Atau apapun, deh, yang bisa memperbesar peluang kita.”

            Mereka menghabiskan malam itu dan malam-malam berikutnya dengan bekerja keras mengubah rasa sakit akibat melukai prinsip dan rasa panik menjadi bahan bakar. Kos menyelesaikan proposal dan mematangkan sistemnya beberapa bulan kemudian. Olin berkali-kali berkonsultasi dengan orang pemerintahan kenalan Kos dan beradaptasi dengan mengurangi kata-kata negatif seperti “bunuh diri” menjadi kata-kata yang ingin mereka dengar—seperti “transisi ekologis yang dipercepat,” “realokasi habitat,” “adaptasi spesies dalam kondisi tekanan atmosferik”—dan merasakan sedikit dari dirinya mati setiap kali ia pulang dari pertemuan-pertemuan. Tapi, itu celah yang bisa mereka kerjakan.

Selama lima tahun berikutnya, mereka mendorong celah itu lebih lebar, meski dengan pendapatan yang tidak ikut melebar. Kos naik dari sub-kontraktor ke kontraktor utama divisi daur-ulang. Olin bergerak dari konsultan ke analis senior ekosistem. Sementara Lain tumbuh cepat seperti anak kucing. Tahu-tahu dia sudah belajar berdiri, berjalan, berlari, jatuh, menangis, bangkit, dan yang membedakan dia dengan kucing adalah suatu hari dalam rangkaian waktu yang terus berlangsung, ia bisa bicara. Satu kata, jadi satu kalimat, jadi rentetan pertanyaan dengan intensitas yang membuat Olin dan Kos bergantian kelelahan dan terpesona.

Meski tumbuh menjadi anak yang cerewet, Lain tampak mengerti kapan ia harus diam. Misalnya, saat ia melihat Olin melakukan rutinitasnya yang aneh—setidaknya bagi Lain—yaitu berdiri diam di tengah rumah, bertolak pinggang, menatap satu titik entah di mana, sambil berkomat-kamit menyebutkan angka-angka. Saat ibunya melakukan itu, Lain tidak akan menganggu.

Surat penerimaan datang saat Lain berusia enam tahun.

Sebuah surat yang menerangkan bahwa Kos Koswara. Olin Wardhani. Alaini Yasmika. Diterima sebagai penghuni Kapal Mandala Horizon, Divisi Teknis dan Riset, dengan penempatan permanen. Permanen. Kata itu menggantung di antara batu nisan Mang Oden dan Kak Yasmi saat mereka melakukan ziarah tahunan. Lain selalu diajarkan bahwa kedua orang di bawah nisan itu adalah orang tua yang melahirkannya, sementara Kos dan Olin adalah orang tua yang membesarkannya. Lain tentu belum mengerti, dan sepertinya kurang peduli dengan penjelasan itu. Baginya, saat mendengar kata permanen, yang terbayang adalah permen. Ia lekas-lekas menyelesaikan pekerjaan membersihkan makam karena ia berpikir setelah itu mereka akan membeli permen.

“Kamu senang?” tanya Olin.

“Aku lega,” jawab Kos.

“Ya. Aku juga lega.”

Tidak ada perayaan, sebab tidak ada alasan yang cukup kuat untuk merayakan kepergian dari tempat yang sedang sekarat ke tempat yang akan membuat mereka sekarat. Tiba di apartemen, mereka bergegas mengepak, menyeleksi, memutuskan apa yang layak dibawa ke dalam ruang yang terbatas untuk sisa hidup mereka. Selama proses itu, sebuah surat dari pengacara yang disewakan orang ORPA untuk mereka tiba. Olin membawa dokumen yang tidak terlalu tebal itu dengan berat hati. Ia meletakannya di meja tanpa memeriksa isinya. Ia tidak mengerti mengapa, setelah semua kerja keras yang ia lalui, ia masih harus memalsukan status pernikahan hanya agar Lain bisa diajak ikut berangkat. Ia tidak mengerti mengapa, setelah bertahun-tahun berusaha berlari sekuat tenaga, ia tetap dianggap masalah sosial yang harus diselesaikan.

Malam sebelum keberangkatan, Olin dan Kos sepakat untuk menulis di buku catatan yang sama. Idenya sederhana, keduanya akan mengisi secara bergiliran apa saja yang mereka lalui di Bumi. Perjalanan dari mereka kecil sampai dewasa, pengetahuan yang mereka dapatkan tentang Bumi dari perspektif mereka, ingatan-ingatan yang mereka lalui bersama Lain sejak ia lahir, dan yang paling utama adalah tentang Mang Oden dan Kak Yasmi. Buku itu dimaksudkan untuk dibaca oleh Lain, sehingga sejauh apapun dia pergi, dia akan tetap memiliki sejarah dan identitas yang cukup untuk Lain mengenal siapa dirinya, dari mana dia berasal, dan orang-orang yang selalu menyayanginya. Mungkin tidak terlalu lengkap, tetapi mereka berharap itu cukup.

Olin menutup buku itu sambil memandangi sahabat terbaiknya pergi melintasi jagat raya. Peti mati itu menyimpan ketidakkekalan manusia dan membawanya ke dalam gerak yang nyaris kekal. Olin selamanya tidak akan tahu kalimat terakhir apa yang sempat Markus ucapkan sebelum motornya pergi. Kos tidak pernah menuliskannya. Ia juga tidak pernah tahu kalimat terakhir apa yang tertulis di entri terakhir Kos. Halaman itu robek. Tetapi, yang Olin tahu, Kos tidak pernah merobek halaman di buku itu.

  1.  Judul diambil dari lirik lagu “Cinta” ciptaan komposer Melly Goeslaw, yang merupakan lagu tema film Tentang Dia (2005). Melly merekam lagu ini bersama Krisdayanti. ↩︎

About The Author

Filed under: Fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *