Bertahan dengan Cara Lain

Wawancara dengan Dr Ferdiansyah Thajib.

Pada bulan Maret 2026, Ferdiansyah Thajib menerbitkan buku berjudul Enduring Otherwise: Muslim Queer and Trans Worldmaking in Indonesia, melalui penerbit New York University Press.

Secara singkat, sinopsis buku ini adalah sebagai berikut:

Mengacu pada penelitian etnografi di berbagai lokasi di Indonesia, Enduring Otherwise meneliti bagaimana individu dan komunitas Muslim bergulat dengan tantangan dan kemungkinan dalam menjalani religiusitas queer dan trans. Beberapa menjauhkan diri dari ajaran agama karena bahaya yang ditimbulkannya, sementara yang lain membenamkan diri dalam praktik keagamaan dan nilai-nilai spiritual, berusaha untuk membayangkan ulang. Ada juga mereka yang tetap terjebak dalam ketegangan, harus menjalani kehidupan yang penuh dengan ambivalensi. Namun di tengah berbagai keterlibatan ini, mereka terus menemukan cara untuk terus maju.

Lebih jauh, editor Marginalia, Eric Sasono, mewawancarai Ferdiansyah Thajib mengenai buku ini. Percapakan mereka bisa didengarkan di bawah ini



Transkrip wawancara dengan Ferdiansyah Thajib

Eric Sasono: Terima kasih Ferdi sudah bersedia untuk wawancara pada kesempatan kali ini. Ini untuk buku Ferdi yang baru terbit, judulnya Enduring Otherwise, Muslim, Queer, and Trans Worldmaking in Indonesia, diterbitkan oleh New York University Press bulan Maret 2026. Sebelum membahas buku ini mungkin bisa diperkenalkan dulu, Ferdi kegiatannya apa, dimana, dan sebagainya.

Ferdiansyah Thajib: Sebelumnya makasih atas kesempatan Eric dan teman-teman di Marginalia. Sudah hampir 13 tahun ini aku sebenarnya berdomisili di Jerman. Awalnya dulu mengambil PhD, lalu selepas PhD dapat pekerjaan di sini. Sekarang aku jadi pengajar di Universitas Erlangen, lokasinya di selatan Jerman, sekitar 2 jam dari kota Berlin. Kota Berlin itu tempat aku tinggal sekarang.

Aku mengajar di program S2, dan fokusku mengajar ke soal antropologi psikologi atau psikologi antropologi, dan gender and sexuality di Southeast Asia. Terus sampai sekarang aku juga masih aktif di Kunci Study Forum, kolektif yang berbasis di Yogyakarta. Tapi lebih banyak secara online karena emang secara fisik aku udah jarang ke Indonesia.

ES: Sinopsis buku ini menyatakan bahwa ini asalnya dari penelitian etnografi di beberapa lokasi di Indonesia. Buku ini tentang bagaimana individu dan komunitas Muslim bergulat dengan tantangan dan kemungkinan dalam menjalani religiusitas queer dan trans. Ini topik yang sangat menarik dan jadi sangat relevan juga belakangan ini di Indonesia.

Bisa diceritakan dulu asal usulnya mengenai bagaimana topik penelitian ini dipilih, lalu kemudian menjadi buku. 

FT: Sebenarnya buku ini terkait dengan proyek PhD-ku. Awalnya tema penelitian S3 ku itu melihat aspek emosi dan afektif dari kehidupan queer dan trans Muslim di Indonesia. Kenapa aku tertarik tema itu? Panjang ceritanya, tapi basisnya mungkin begini. Awalnya aku kuliah S2 di Yogyakarta di kampus Sanatta Dharma di kajian religi dan budaya, lalu dapat kesempatan ke Singapura untuk menyelesaikan tesis.

Saat akan menyelesaikan tesis, aku menemukan fakta referensi soal kajian gender dan seksualitas, waktu itu tahun 2005-an gitu, masih belum banyak di Indonesia. Sampai sempat berpikir waktu di Singapura untuk banting setir ke topik itu. Karena waktu itu tema S2 ku lain sama sekali, soal filsafat waktu di konteks Jawa. Aku coba ajukan ke pembimbingku waktu itu, ditolak. Dia merasa tema itu bukan kapasitas dia, bukan bagian dari expertise dia. Terus dia menyarankan, bagimana kalau itu buat tema S3 aja.

Dari situ aku bertekad ngembangin proposal dari segala aspek, mulai dari aspek hukum, aspek politik dan sebagainya. Jadi akhirnya sampailah aku ke tema itu, yang jadi fokusku. 

Bagian apa sih yang mendorong aku tertarik sama tema itu, lebih karena itu isu yang paling dekat dengan aku sebagai seorang muslim dan queer gitu.

interview ferdi

ES: Kita akan ke sana lagi nanti. Sebelum itu, bisakah Ferdi bantu sedikit menjelaskan isi buku ini, buat para pembaca Marginalia.

Ya, judulnya Enduring Otherwise Muslim, Queer, and Transworld Making in Indonesia. Sebenarnya aku agak kesulitan menerjemahkan istilah “Enduring Otherwise” ini. Kalau di bahasa Indonesia mungkin “bertahan dengan cara lain” ya. 

Tapi sebenarnya yang aku telusuri di proyek penelitianku ini lebih ke berbagai bentuk cara teman-teman queer dan trans menjalani hidup sehari-hari sebagai Muslim. Tantangan terbesarnya, dan itu kembali ke motivasi awalku, sesederhana ke pertanyaan yang sering aku jumpai ketika ketemu orang entah itu orang asing atau orang Indonesia: mereka sering bertanya, kamu Muslim tapi kamu juga gay? Iya, aku bilang gitu. Itu yang jadi pertanyaan pertama. Apakah kamu nggak mengalami konflik batin ketika menjalani itu? 

Nah pertanyaan itu yang jadi guidance utamaku. Kenapa sih orang berasumsi bahwa seorang muslim yang punya orientasi seksual atau identitas gender yang berbeda lalu diasumsikan mengalami konflik batin. Karena setahuku istilah konflik batin itu nggak spesifik ke pengalaman beragama dan seksualitas atau gender yang berbeda saja. Konflik batin dialami hampir semua orang, bahkan non-muslim sekalipun.

Dari pertanyaan soal itu aku kemudian masuk ke pengalaman hidup sehari-hari teman-teman. Dari segi lokasi geografis, fokusku pertama di Yogyakarta, di Aceh, kemudian yang ketiga di Jakarta. Lokasi-lokasi itu terkait sama biografiku juga sebenarnya. Kebetulan ayahku orang Aceh, lalu aku lama tinggal di Jogja, dan sebelum itu dari kecil aku tinggal di Jakarta. 

Bagian dari approach-ku atau bagian dari metodeku itu memang mencoba menelusuri isu ini bukan dari pengamatan yang berjarak, tapi justru aku mau masuk ke lingkaran teman-temanku, ke lingkaran komunitas yang berdekatan dengan isu ini. Walaupun mungkin di Aceh agak kesulitan ketika itu. Karena selain ayahku orang Aceh, sebenarnya aku nggak punya ikatan apapun dengan Aceh itu sendiri. Kecuali namaku yang khas Aceh, dan ya sesekali berkumpul dengan keluarga besar di Jakarta saat lebaran.

Dari menelusuri pengalaman teman-teman itu: apakah mereka mengalami konflik batin? Itu jelas iya. Dari sana aku belajar, mendengar cerita-cerita di fieldwork, di lapangan, hal itu bukan berarti ketika kita mengalami konflik batin, asumsinya orang memang sedih atau tertekan. Momen-momen itu justru diwarnai oleh adanya praktik-praktik perawatan di sana, praktik-praktik  solidaritas. Dan teman-teman queer yang aku jumpai, mereka cukup kritis sebenarnya, dan cukup berpengetahuan soal agama.

Jadi selama ini kita membayangkan posisi teman-teman queer di Indonesia, mereka dalam posisi marginal, itu jelas. Dan mereka dimarginalisasi. Tapi, pertama, bukan berarti mereka tidak berdaya. Lalu, yang kedua, bukan berarti mereka menerima begitu saja. 

Walaupun acapkali kita terjebak, ketika kita bilang tidak menerima begitu saja. Apakah itu berarti melawan atau memberontak? Belum tentu juga. Karena sebenarnya apa yang dilakukan oleh teman-teman di tempat hidup mereka masing-masing adalah menjalani, dan bertahan, dan berbagai hal-hal yang minor lainnya.

Mereka tidak terang-terangan turun ke jalan atau protes. Tapi melakukannya dengan membentuk komunitas, dengan ngobrol-ngobrol secara informal. Mereka ngobrolin soal penerimaan, soal ajaran praktik beribadah yang seringkali kan sangat tergender ketika sholat. Misalnya, yang perempuan menggunakan mukena, yang laki-laki menggunakan peci dan sarung, tapi lalu teman-teman trans gimana? Nah obrolan-obrolan seperti ini penting buatku untuk memahami kehidupan teman-teman queer Muslim.

ES: Di buku ini Ferdi menggunakan konsep enduring, bertahan. Dan ada dua konsep lain yang Ferdi sebut juga di situ, yaitu konsep survival, atau menyintas, bertahan hidup, dan resilience, atau ketangguhan, daya lenting.

Ini menarik. Kenapa konsepnya enduring, bukan survival, juga bukan resilience yang selama ini mungkin sering kita dengar jadi sebuah bentuk untuk keluar dari situasi yang mengekang. Gimana nih, Ferdi? 

FT: Itu sebenarnya tawaran alternatifku dalam membayangkan agency, kehendak bebas. Di Barat itu agency selalu dipandang positif, ketika dia dipahami sebagai perlawanan atau resistensi. Nah di luar itu, sebenarnya masih banyak bentuk agency yang lain, termasuk tadi yang Eric sebut soal menyintas atau surviving dan resiliensi.  Kalau surviving kayaknya teman-teman sudah cukup paham ya: soal bagaimana sebenarnya kita memenuhi kebutuhan yang paling dasar dulu untuk bisa menjalani hidup.

Namun kadang-kadang, menyintas ini seringkali dipahami sebagai sesuatu yang pasif, sebagai sesuatu yang menerima, pasrah. Tapi sebenarnya nggak begitu. Makanya aku mengenalkan konsep enduring ini sebagai tawaran untuk melihat bentuk-bentuk survival yang punya potensi politis juga, punya potensi untuk mendorong perubahan sosial. 

Di sisi lain ada konsep resiliensi. Konsep ini sudah sering banget dipakai belakangan ini. Aku merasa istilah ini sangat berkembang saat jaman-jaman pandemi COVID. Tadinya istilah itu seringkali dipakai untuk mengembarkan komunitas terutama di Selatan Global ya. Terutama ketika membicarakan, misalnya, respon terhadap bencana alam, respon mereka terhadap represi kekuasaan dan hal-hal semacam itu.

Biasanya resiliensi dilihat sebagai bentuk agency yang tidak langsung melawan, tapi menunjukkan kekuatan, potensi kekuatan individu. Ini terutama untuk mengatasi atau keluar dari persoalan. Belakang, ini yang aku khawatir, adalah bagaimana istilah resiliensi itu justru diadopsi oleh lembaga, oleh institusi untuk mengatakan bahwa: ya sudah nggak apa-apa. Kan komunitas sudah resiliensi, berarti mereka sudah nggak butuh bantuan kita lagi. Atau bahkan mungkin mereka diinjek-injek pun nggak akan apa-apa. Semakin diinjek pun mungkin akan semakin kuat. Menurutku ada potensi ini dimanfaatkan dalam konteks neoliberalisasi. Jadi kayak berbahaya untuk merayakan resiliensi, sedangkan realitasnya sebenarnya anggota komunitas itu ditekan dan berjuang dan menderita di bawah itu, semacam itu.

Enduring itu jadi semacam jalan tengah buatku antara survival dan resiliensi, di mana kita melihat bentuk bertahan dan mengakui bahwa upaya bertahan itu nggak mudah. Ada biaya yang besar di situ, terutama dari segi emosi, tapi juga dari segi fisik. Itu sangat melelahkan, juga membosankan. Kadang-kadang hanya itu yang bisa dilakukan dalam konteks LGBT, terutama di Indonesia. Ketika sekarang begitu marak serangan anti-LGBT, teman-teman queer mau berbuat apa lagi kecuali bertahan.

Nah, aku mau melihat bagaimana bertahan itu membawa potensi perubahan, tapi di saat yang sama juga mau melihat biayanya. Kehilangan apa, kerugian apa sebenarnya yang terjadi di anggota komunitas ketika mereka terus-menerus berada dalam kondisi dimarginalisasi. 

Jadi selama ini kita membayangkan posisi teman-teman queer di Indonesia, mereka dalam posisi marginal, itu jelas. Dan mereka dimarginalisasi. Tapi, pertama, bukan berarti mereka tidak berdaya. Lalu, yang kedua, bukan berarti mereka menerima begitu saja. 

ES: Kembali ke enduring tadi, Ferdi menyebutnya itu sebagai sebuah sikap politik juga, dan ada sebentuk perlawanan di balik usaha bertahan itu. Artinya ada agency atau kehendak bebas, agar tidak hanya menjadi korban, pasif, tapi juga melakukan, mengupayakan sesuatu agar bisa sedikit menekan balik, kalau bisa dibilang begitu. 

Aku ingin contoh-contoh dari apa yang Ferdi tulis di buku ini. Apa saja 1-2 contoh kecil bagaimana teman-teman ini yang Ferdi teliti melakukan hal tersebut? 

FT: Aku menyebut teman-teman queer di bukuku itu protagonis. Setiap riset berbeda-beda. Ada yang menyebutnya sebagai informan, atau interlokutor, tapi buatku mereka itu sebenarnya tokoh utamanya. Aku cuma narator saja di buku ini sebenarnya.

Dari teman-teman protagonis yang ada di buku ini, salah satu yang paling menonjol, yang selalu muncul di setiap bab itu, ada sosok Maya. Maya itu seorang transpuan tinggal di Aceh. Dia sejak usia dini sebenarnya sudah diterpa pengalaman kekerasan, mulai dari sekolah, mulai dari keluarga; bahkan sebelum dia berada dalam fase mengidentifikasikan diri sebagai transpuan, dalam masa-masa eksplorasi. Kemudian sampai satu titik dia akhirnya nggak tahan, kemudian keluar dari Aceh. Tapi juga realitasnya di luar Aceh sebenarnya sama sulitnya juga hidup sebagai transpuan secara umum di Indonesia.

Pada masa itu, tapi juga masih relevan sekarang, sangat sedikit lapangan kerja yang tersedia buat transpuan. Pilihannya antara bekerja di jalan sebagai pekerja seks, atau sebagai musisi jalanan atau pengamen, atau jadi pekerja di salon kecantikan atau salon rambut. Nah pengalaman Maya merantau di banyak tempat di Indonesia termasuk juga sempat ke Malaysia segala, dia belajar bahwa kekerasan terus mengikuti dia kemanapun dia pergi.

Aku melihat itu bagian dari struktur kekuasaan yang memang transphobic dan homophobic, semacam itu. Hingga akhirnya Maya memutuskan pulang ke Aceh. Ketika dia merantau itu, pekerjaannya kebanyakan jadi pekerja seks.Saat itu pun dia sudah jadi bulan-bulanan dari mucikarinya, dari polisi, dari kliennya juga. 

Kembali ke Aceh, dia bekerja di salon. Di salon, walaupun dikelola oleh anggota komunitas gay atau transpuan, dia dilarang, misalnya, mengenakan pakaian yang sesuai dengan identitas gendernya. Jadi dia diharuskan berpakaian laki-laki. Rambutnya harus dipangkas pendek, dan tidak boleh pakai make up, segala macam. Belajar dari semua pengalaman buruk itu dia kemudian memutuskan untuk membuka salon. Di situ sebenarnya aku kenal dia.

Aku datang ke salonnya, bahkan aku sempat tinggal di sana selama penelitian. Lalu mengamati interaksi teman-teman di salon itu dari rutinitas mereka saja setiap hari. Bangun pagi, pertama bikin kopi dulu, terus mulai bersih-bersih. Terus teman-teman yang kerja di situ mulai berdatangan, masih tanpa make up. Bersih-bersih, kemudian yang bagian kasir mulai menata keuangan, mulai ada yang mandi, ada yang masak buat makan siang, ada yang dandan, siap-siap. Terus mulailah klien-klien berdatangan. Teman-teman ada yang datang membawa kue, ada yang membawa macam-macam lah. Atau sekedar ngobrol, sekedar mampir. 

Itu rutinitas mereka. Tapi terus aku perhatikan, kami itu baru keluar selalu malam, di atas jam 10 malam. Awalnya aku kira, oh mungkin karena mereka selesai kerja jam segitu kali ya. Tapi ternyata nggak. Mereka tinggal di Aceh. Walaupun mereka asli sana, tetap mengundang cibiran, mengundang pandangan sinis, kadang-kadang diteriakin di jalan, dan itu membuat mereka nggak nyaman. Sehingga akhirnya mereka keluar baru malam, ketika jalanan udah sepi. Itu pun kadang-kadang masih ada yang neriakin. Kami kan rame-rame naik motor, ada yang ngikutin di belakang, kayak gitu-gitu ada.

Yang aku mau bilang dari cerita ini sebenarnya, bagaimana buat mereka itu, salon yang mungkin buat sebagian besar orang jadi tempat kerja, bagi mereka adalah tempat berkomunitas, tempat ngumpul, tempat saling menguatkan sama lain. 

Di sisi lain, salon ini juga sering didatangi oleh wilayatul hisbah. Di Aceh itu sejak 2005 ada penerapan syariah Islam, jadi ada wilayatul hisbah, atau istilahnya polisi moral kali ya. Biasanya mereka yang bikin razia, misalnya mencegat mobil di jalan, lalu memeriksa kalau ada perempuan nggak pakai jilbab, lantas didenda, gitu kan. Nah itu sama, mereka ke salon mengecek seperti itu. Sebenarnya sama lah seperti tempat-tempat lain di Indonesia, korupsi masih banyak, jadi terkadang mereka minta uang sogokan biar salon nggak diganggu, gitu kan ya.

Jadi di sisi lain, teman-teman queer ini udah ketahuan tempat ngumpulnya di situ. Itu membuat mereka rentan sebenarnya. Sempat kejadian di tahun 2018. Ada teman-teman pekerja salon perempuan di Aceh Utara, ditangkap, kemudian mereka dibotakin, disuruh lari dan sebagainya. Itu polisi pelakunya. 

Jadi di satu sisi, salon seperti itu ruang aman buat mereka. Tapi di sisi lain itu tempat yang sangat rentan karena jadi target, jadi sasaran. Kalau ada apa dikit, itu mereka yang didatengin.

Lalu kembali lagi, di mana enduringnya? Ya di situ. 

Oh ya, satu hal lagi. Aku sering banget nanya mereka: kamu serius masih pada mau bertahan di sini? Sementara kalau kamu pindah ke Medan misalnya, mungkin situasinya akan lebih baik. Tapi mereka jawabnya: ya gimana ya, ini tempat kita lahir, di sini keluarga kita, di sini teman-teman kita, di sini tempat kita nyari uang. Sayang untuk meninggalkan Aceh buat mereka.

ES: Ini jadi pertanyaan saya juga sebetulnya, ketika membaca buku ini. Tokoh Maya ini bertahan, bahkan ketika keadaan memburuk. Sesudah penelitian Ferdi, lima tahun kemudian, beberapa orang yang ikut dia kemudian kecanduan narkoba, lalu pergi begitu saja tanpa kabar. Sementara ketika Ferdi tanya Maya akan bertahan, dia menyatakan malah justru akan bertahan. Ini kan kontraintuitif. Kenapa enggak pergi saja. Dari penelitian ini, apa yang Ferdi dapatkan: kenapa mereka mau, kenapa teman-teman ini mau bertahan. 

FT: Itu tadi soal mau dan bisa dan mampu. Buatku itu. Belakangan ada gerakan, ayo kabur dulu, atau apa Namanya, kabur aja dulu. Karena melihat bagaimana rezim sekarang, banyak teman-teman merasa harus pergi ke luar. Itu kan pilihan ya. Itu bisa dilakukan karena ada faktor kemampuan, karena mampu maka mereka bisa kabur. Dan ketika situasi membaik, mereka akan baik lagi. Buatku itu bukan sesuatu yang negatif. 

Tapi di sisi lain, ada orang-orang yang tidak mampu, atau tidak punya pilihan lain selain bertahan. Apakah kemudian kita mau menyebut mereka sebagai korban? Itu yang aku Kritik lewat buku ini. Mereka bukan korban. Mereka bertahan karena mereka percaya.

Mereka percaya bahwa dengan kehadiran mereka di situ, itu akan membawa perubahan. Walaupun mungkin tidak akan cepat, atau mungkin baru akan terjadi beberapa generasi, beberapa puluh tahun kemudian. 

Dengan bertahan di situ, mereka mau menunjukkan bahwa mereka tidak meninggalkan teman-teman lain yang mungkin lebih sengsara daripada mereka. Bahkan mungkin untuk berorganisasi, berkumpul, bertemu teman-teman komunitas saja tidak bisa karena dilarang atau mungkin ditekan oleh keluarganya. Kalau misalnya teman-teman yang berani beraktivitas di publik ini pergi, siapa yang bisa jadi support system buat teman-teman lain yang lebih unprivileged dari mereka. 

ES: Lalu ini sepenting apa menurut Ferdi buku ini untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia? 

FT: Sepenting apa? Ini pertanyaan besar buatku. Aku menyelesaikan S3-ku tahun 2020. Jadi ada waktu jeda enam tahun dari aku submit tesisku ke penerbitan buku ini. Pertimbanganku waktu itu adalah kekhawatiran bahwa buku ini akan membawa mudarat ke komunitas. Ketika tema seperti ini muncul di media, terutama pada tahun 2016 ke atas itu, ada kepanikan moral dan sentimen kampanye anti-LGBT. Menurutku ini masih berlanjut sampai sekarang dalam bentuk-bentuk lain. Meski mungkin tidak se-spektakuler tahun 2016. Atau waktu itu kita nggak terbiasa aja dengan sikap anti yang sebesar itu. Sekarang kita malah sudah terbiasa berhadapan dengan kekerasan yang sangat vulgar. 

Anyway, pertimbanganku menerbitkan buku ke Bahasa Inggris sebenarnya memakan waktu lama. Aku tahan karena aku pengen lihat situasi dulu sebenarnya. Juga mementingkan keamanan teman-teman di Indonesia. 

Tapi kemudian setelah menerbitkan buku ini dalam Bahasa Inggris, kok banyak respon meaningful yang aku dapat. Bukan soal penghargaan akademis (itu juga ada), tapi respon orang-orang yang mengirim DM ke aku. Mereka terinspirasi oleh cerita-cerita di buku ini, yang kemudian jadi merasa terwakili, juga jadi punya bahan ngobrol dengan teman-teman dan anggota komunitas lainnya. 

Jadi aku merasa buku ini perlu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, justru sebagai bentuk dukungan buat teman-teman yang masih bertahan di komunitas ini. Untuk menunjukkan mereka nggak sendirian, dan pentingnya untuk berkomunitas dan berkolektif ketika mengatasi isu-isu yang memang sangat berat, terlalu berat untuk dihadapi sendiri.

ES: Jadi ini salah satu bentuk dukungan untuk teman-teman yang harus bertahan di tengah situasi sulit ini.Yang menambahkan “harus” tadi kan jawaban Ferdi bahwa sebetulnya tidak ada pilihan juga buat teman-teman. Jadi mau tidak mau ya bertahan pilihannya sebetulnya. 

Oke, terakhir, berkaitan dengan identitas sebagai seorang Aceh dan seorang Muslim. Ini penasaran kami aja sih sebetulnya. Bagaimana pengalaman Ferdi sendiri dengan Islam? 

Aku sebetulnya Islam KTP ya. Jadi buatku Islam itu lebih ke kajian sih. Aku tertarik soal Islam itu sebagai bahan kajian, karena dia sangat kaya. Tapi dari segi praktik masih bolong-bolong banget, ibadahnya, gitu. Tapi bukan berarti aku sekuler, aku bukan Muslim. Aku juga bagian dari komunitas Muslim.

Untuk persoalan ke-Acehan, aku melihatnya bukan sesuatu yang dominan di identitasku karena ayahku saja udah ngga lahir di Aceh. Dia lahirnya di luar Aceh, jadi identitas ini warisan etnisitas aja. 

Tapi dulu sebelum S2, aku kerja sebagai wartawan. Itu masa selepas Orde Baru, masih ada operasi militer di Aceh, waktu itu konteksnya untuk melawan Gerakan Aceh Merdeka. Lalu ada tsunami Aceh. Itu semua justru yang mendorong aku untuk tahu lebih banyak, belajar tentang masyarakat Aceh dan budaya mereka. Itu sih yang membuat aku kemudian mengangkat Aceh sebagai salah satu topik penelitian atau lokasi risetku. 

ES: Oke Ferdi, terima kasih banyak untuk kesediaannya wawancara hari ini.

Oke. Makasih Eric, semoga bermanfaat ya.

ES: Pasti, pasti bermanfaat. Terima kasih Ferdi.

About The Author

Filed under: Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *