Apa yang Tersisa dari Sebuah Perang 

Akhir-akhir ini, sosial media dan kanal-kanal berita sedang dipenuhi informasi tentang serangan-serangan yang diluncurkan oleh Amerika-Israel ke Iran. Serangan paling dahsyat bahkan menewaskan Presiden Iran, Ali Khamenei. Iran membalas kematian ini dengan menyerang beberapa pangkalan militer Amerika yang ada di beberapa negara Arab. Peristiwa ini cukup mencengangkan dunia, pasalnya beberapa waktu sebelumnya, atas perintah Donald Trump, pasukan Amerika menculik Nicolas Maduro, Presiden Venezuela, dalam Operasi Absolute Resolve. 

Perang Dunia Ketiga digadang-gadang sedang mengintip di balik berita-berita buruk di atas. Pembicaraan soal perang ini memuncak pasca serangan Rusia ke Ukraina pada 2022, dan tentu saja genosida Israel atas Palestina yang tidak berkesudahan. Perang memang selalu menegangkan, terlepas bahwa kita hanya bisa menatapnya dari layar gawai. Namun oleh beberapa orang, gairah kehidupan itu justru akan muncul ketika perasaan tegang tersebut menjalar ke sendi-sendi tubuh mereka. Seberapapun merugikannya, perang memiliki penggemar favoritnya sendiri. 

Perang, bagaimanapun ia terjadi dan dari manapun ia disaksikan, selalu meninggalkan bekasnya dalam ingatan publik suatu masyarakat. Ia tidak selesai ketika gencatan senjata, melainkan terus hidup dalam cara sebuah masyarakat mengingat, menceritakan, dan memaknai identitasnya. Ingatan publik tentang perang, dengan demikian, selalu lebih dari sekadar catatan historis; ia adalah cermin di mana suatu masyarakat terus-menerus memeriksa dirinya sendiri.  

Sebagai orang Indonesia, ingatan tentang perang membawa kita pada kisah Perang Revolusi Kemerdekaan yang berlangsung dari 1945 sampai 1949. Buku-buku sejarah cukup detail membahas tentang heroisme para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan yang coba diambil lagi oleh penjajah. Historiografi Indonesia memiliki banyak nama para pahlawan yang turut berjuang secara fisik maupun diplomasi. Narasi heroisme ini yang membentuk nilai-nilai patriotisme, solidaritas, hingga rasa kebangsaan kita sebagai negara yang berdaulat. 

Namun buku-buku sejarah itu lupa–atau mungkin memang bukan fungsinya–mencatat bahwa perasaan manusia tidak pernah ada yang sama. Perang selalu saja menyisakan ngilu dan getir yang luput diakomodir oleh buku sejarah. Selalu saja ada perasaan hampa ketika ada satu nyawa melayang terbunuh oleh musuh. Tangis-tangis yang isaknya terdengar, menggema dan terus menghantui generasi selanjutnya. Meski bukan perbandingan yang setimpal, kita mungkin bisa berpaling untuk menangkap perasaan-perasaan yang luput dari kekakuan buku sejarah: sastra. 

Sastra adalah ruang di mana segala perasaan manusia dirayakan, mulai dari hal-hal remeh, bersoal-jawab tentang kehidupan, pun ingatan-ingatan tentang perang. Sastra punya cara tersendiri untuk menandai–dan melampaui–zaman.  

Selain buku sejarah di sekolahan, pemahaman kita soal perang juga mungkin terbentuk dari cerita yang pernah ditulis oleh para sastrawan. Dua seteru Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer sama-sama pernah menulis tentang ekses-ekses Perang Kemerdekaan Indonesia yang mungkin juga baru diketahui ketika membaca buku-buku mereka. Dengan gaya roman, mereka menangkap kelindan gairah hasrat yang membingungkan dalam situasi perang. 

Jalan Tak Ada Ujung 

Novel mungil Jalan Tak Ada Ujung (1952) karya Mochtar Lubis bercerita tentang Isa, seorang guru yang tengah merasa bimbang menghadapi situasi sosial akibat pasukan Belanda yang ingin merebut kembali Jakarta meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan. Ketegangan sosial ini menuntut ia harus melibatkan diri dalam pasukan gerilya bersama Hazil, sahabatnya. Perang tidak hanya menghancurkan harapannya untuk menjadi seorang guru yang dapat mendidik calon-calon penerus bangsa. Perang juga telah membuat martabatnya sendiri sebagai seorang laki-laki dan suami Fatimah perlahan memudar. 

“Dia telah pergi ke dokter. Dan dokter mengatakan, bahwa impotensinya adalah semacam psychischenya sendiri. Yang dapat mengobatinya hanya jiwanya sendiri. Atau sesuatu di luar yang dapat melepaskan tekanan jiwanya yang merasa tidak kuasa (hal. 29).” 

Gangguan seksual ini ia dapatkan semenjak sering melihat kekerasan yang dipertontonkan oleh serdadu Jepang selama masa penjajahan di akhir Perang Dunia Kedua. Hal ini begitu menyakitkan bagi Isa yang tidak percaya pada kekerasan, dan sungguh-sungguh manusia damai. Kondisi ini memperparah kenyataan yang harus dihadapi setiap hari: banyak orang mati karena perlakuan sewenang-wenang serdadu NICA, kelangkaan kebutuhan pokok yang membuat banyak orang kelaparan, sekolah harus diliburkan karena ada serangan udara, paksaan untuk terlibat gerakan gerilya, dan kekacauan-kekacauan yang membuat ia makin frustasi. 

Lubis dengan sederhana menerjemahkan banyak hal yang mungkin ia saksikan sendiri selama masa-masa genting itu menjadi alur cerita yang memikat. Ia membuka cerita dengan adegan perdebatan pembeli-penjual di warung Baba Tan.  

“Enam rupiah!” 

“Ah, naik lagi. Kemarin dulu juga seringgit,” bantah perempuan itu. 

“Beras susah masuk sekarang,” anak itu membela harganya. 

“Saya ngutang saja,” sahut perempuan itu, dan tangannya menjangkau bungkusan beras. 

“Tidak boleh bon lagi sekarang,” kata Baba Tan dari pintu warung. Dia telah lama berdiri di sana mendengarkan. 

“Tapi saya langganan lama.” 

“Ya, tapi sekarang semua susah, saya juga banyak yang susah,” kata Baba Tan. “Tidak bisa kasih hutang. Tidak bisa.” (hal. 4-5). 

Perang telah menjauhkan kita dari kebutuhan-kebutuhan dasar, telah menjauhkan kita dari makan. Dan yang lebih menyedihkan, perang telah menjauhkan kita dari kemanusiaan. Isa harus menjual sebendel buku tulis yang ia ambil secara diam-diam dari lemari di sekolah tempat ia mengajar. Ia melakukan itu untuk mendapatkan uang demi menghidupi anak-istrinya. Perang telah membuat kita kalap dan lupa siapa diri kita sebenarnya. “Aku mencuri! Pencuri! Pencuri!” Isa berteriak mengutuk dirinya sendiri. 

Tidak berhenti di situ, ada hal yang lebih memilukan lagi yang dalam kisah Lubis tersebut. Selain pengkhianatan atas martabat dirinya sendiri sebagai seorang guru yang mencuri, kelompok gerilyanya juga mendapati kawan-kawan mereka menjual informasi kepada pihak Sekutu yang mengakibatkan banyak korban jiwa dari pihak republik. Kelak pengkhianatan juga datang dari istri dan sahabatnya, Fatimah dan Hazil. Mereka diam-diam bermain api asmara di belakang Isa. 

“Kita berdosa-dosa – berdosa,” tetapi perkataannya hilang ditelan cium Hazil dan akhirnya dia mengalah, mengalah dan mengalah (hal. 119). 

Perburuan 

Pramoedya Ananta Toer punya riwayat tersendiri tentang pengkhianatan. Dalam Perburuan (1950) ia juga meramu cerita tentang heroisme yang berkelindan dengan roman percintaan seorang prajurit. Kisah ini berlatar belakang akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia, di Kaliwangan, sebuah dusun di Blora. 

“Hhhh. Ada kudengar juga kabar itu. Seluruh tanah Jawa mendengar belaka, kata kere itu ringan. Dan kalau aku tak salah dengar pemberontakan itu gagal. 

Ya, gagal, sambung penjudi itu cepat-cepat. Kembali ia menyembunyikan mukanya dalam silangan lengannya. Dan kabar mengatakan seseorang di antara ketiga shodanco itu ada yang berkhianat. Kawan, engkau bisa merasakan sendiri … barangkali … betapa perasaan hati orang tua bila anaknya diburu-buru oleh pemerintah” (hal. 46). 

Karena kegagalan pemberontakan tersebut, Hardo, salah satu dari shodanco itu harus berkelana menyembunyikan identitasnya dari kejaran pemerintah Jepang. Ia harus menanggalkan semua yang telah ia miliki, pangkat sebagai prajurit PETA, keluarga dan harta benda sebagai anak wedana, dan juga kekasihnya, Ningsih. Pengkhianatan tidak hanya datang dari kawan prajuritnya, Shodanco Karmin, namun juga dari keluarga bakal mertuanya, seorang Lurah Kaliwangan. 

“Jadi engkaukah yang mengkhianati bakal menantumu itu? Ia menunduk ke tabunan yang sudah mati. Hanya karena anakku sekarang sudah jadi kere, dan karena dia bukan hamba Nippon lagi … hamba Nippon yang terhormat lagi.” 

Perang melawan Jepang telah membuat merosotnya kemanusiaan di Indonesia. Kekejaman opsir-opsir Jepang memecah belah masyarakat dan mendorong orang-orang untuk mencurigai satu sama lain demi menyelamatkan diri sendiri dari sabetan pedang Kempetai. Anak-anak muda dipaksa wajib militer untuk menjadi pion-pion Nippon di medan tempur sepanjang Asia-Pasifik. Dengan satir, Toer menuliskan: 

“Sedang kita menghadapi Sekutu, sedang perang kian mendekat dan beribu-ribu pemuda kita yang jadi heiho gugur di seluruh medang perang … gugur sebagai ratna …” (hal. 76) 

Novel Perburuan adalah cara Toer mengubah perang menjadi ziarah batin, dan perlawanan berubah menjadi renungan. Situasi kelana dari satu persembunyian ke persembunyian lainnya, membuat Hardo menjadi semacam pertapa yang menyadari bahwa perjuangan sejati tidak berhenti di ujung bedil, tapi terus berlangsung di dalam diri, di ruang gelap terdalam yang disebut hati nurani. Dalam gua sunyi bernama Sampur, Hardo menemukan sumber air yang jernih, dan di sanalah ia memperoleh pencerahan bahwa kemerdekaan bukanlah sekadar menyingkirkan penjajah, melainkan membebaskan manusia dari belenggu ketakutan, keserakahan, dan kehinaan. 

Identitas Baru? 

Dirilis pertama di era yang sama oleh Balai Pustaka, kedua novel di atas memberikan gambaran lain akan perang yang tengah berkecamuk di Indonesia. Dengan gaya romantik, Lubis maupun Toer menulis kalimat pertama masing-masing novel dengan semiotik yang serupa. Lubis dengan “Hujan gerimis menambah senja lekas menggelap.” Sedangkan Toer dengan “Bunyi gamelan yang penghabisan telah lenyap di udara senja hari.” Melalui kalimat tersebut, seolah-olah mereka ingin menyampaikan tentang nilai-nilai moralitas lama–oleh Toer direpresentasikan dengan kalimat “bunyi gamelan”–yang perlahan akan memudar.  

Juga dengan menggunakan kata-kata “penghabisan,” “lenyap,” “senja,” dan “gelap,” mereka ingin memberikan intensitas pada situasi yang kian tidak tertolong. Nampaknya mereka ingin memberikan isyarat akan adanya suatu zaman baru yang harus segera disongsong. Mereka mewakili generasi yang sedang bergegas meninggalkan segala sesuatu yang dianggap lampau dan usang, serta tidak sesuai dengan cita-cita Indonesia modern. Ada kenyataan yang kompleks, dan dalam beberapa hal saling bertolak belakang ditampilkan dalam kedua novel tersebut. 

Tema serupa pernah eksplorasi oleh H. B. Jassin dalam esai “Tiga Pengarang tentang Revolusi.” Dalam tulisan tersebut, Jassin memilih Keluarga Gerilya untuk karya milik Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Jajasan Pembangunan pada 1950. Menurutnya, novel Toer tersebut merupakan tanggapanan atas karya Idrus yang berjudul Surabaya. Idrus menampilkan manusia yang retak oleh takut, ragu, dan paradoks kemanusiaan, sedangkan Toer memandang revolusi sebagai medan pengorbanan dan keberanian batin yang, meski pahit dan keras, harus dijalani demi tegaknya cita-cita kemanusiaan. 

Lebih dari itu, Jassin membaca novel-novel tersebut–termasuk karya Lubis–melalui pendekatan psikologis dengan menyoroti “sikap jiwa”, yakni upayanya menelusuri pandangan batin para pengarang lewat karakter-karakter yang mereka ciptakan dalam setiap tokoh. Secara umum,  ketiga novel tersebut sesungguhnya memperlihatkan potret psikologi manusia Indonesia dalam revolusi, di mana masing-masing pengarang merepresentasikan cara yang berbeda dalam memaknai hubungan antara ketakutan, keberanian, dan tanggung jawab moral. 

Dapat juga dilihat bahwa Perang Kemerdekaan Indonesia adalah masa-masa di mana manusia berhadap-hadapan langsung dengan pencarian dan pembentukan identitas baru sebagai sebuah bangsa, sekaligus di saat yang bersamaan harus menghadapi kerapuhan modernitas pasca Perang Dunia Kedua. Mengutip A. Teeuw dalam “Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer” bahwa “sebagai pengarang ia mencerminkan masyarakatnya, kekacauan membayangkan kekalutan bangsanya, dalam konflik antara nilai-nilai dan tuntutan zaman baru.” 

Kelak, kedua novel ini diadaptasi ke dalam medium layar lebar. Novel Jalan Tak Ada Ujung menjadi film Perang Kota (sutradara Mouly Surya) dan diputar pertama kali dalam International Film Festival Rotterdam 2025. Sedangkan Perburuan (sutradara Richard Oh) tetap menggunakan judul yang sama dan rilis pada 2019. Meski mengangkat dua nama besar dalam dunia sastra Indonesia, film-film tidak bisa dikatakan berhasil dalam menggaet khalayak yang lebih luas. Rating kedua film di laman IMDb juga tidak lebih tinggi dari 6,5/10. 

Jika mau, sebenarnya kita bisa mengais-ngais apa yang tersisa dari sebuah perang dalam karya sastra lain. Periksalah judul-judul lain dengan tema serupa namun memiliki perspektif yang berbeda, seperti Kejatuhan dan Hati karya S. Rukiah yang pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Rakjat pada tahun 1950, era yang sama dengan Jalan Tak Ada Ujung dan Perburuan. Tidak hanya membentuk satu masyarakat baru dengan tabiat-tabiatnya yang baru juga, melalui tokoh Susi, Rukiah menceritakan bahwa perang telah mencerabut jiwanya dari moral yang diwariskan oleh masyarakatnya, yang membuat ia sendiri harus terombang-ambing dalam gairah revolusi yang “terlarang.” 

“Itu sebabnya, sejak dulu aku larang engkau keluar rumah dan ikut-ikut menguruskan pergerakan yang membawa manusia jadi tidak beradab itu. Tahukah engkau bahwa pergerakan perjuangan itu jadi menghilangkan kasih sayang seorang anak pada orang-orang tua yang sekian tahun kecapean menguruskan? Dan tahukah engkau bahwa kepada perempuan perjuangan itu laki-laki tak mau memilihnya, sebab mereka tahu, bahwa perempuan pergerakan itu tak memandang penting kepada rumah tangga?” (hal. 19). 

Melihat kondisi sosial hari ini dan perang yang tengah berkecamuk, kemana kita menambatkan ingatan. Pada akhirnya, perang tidak hanya meninggalkan kemenangan, strategi gerilya yang relevan, atau nama-nama yang diabadikan sebagai pahlawan. Perang juga menyisakan serpihan-serpihan kehidupan yang lebih sunyi: tubuh yang mengalami trauma, keluarga yang retak, kelaparan, pengkhianatan, dan rasa bersalah yang tidak pernah selesai. Hal-hal semacam ini jarang mendapatkan tempat dalam buku sejarah yang cenderung menata perang sebagai kisah heroisme dan kemenangan bangsa. Namun sastra, dengan segala kerentanannya, justru mampu menyimpan sisa-sisa pengalaman manusia yang tercecer dari narasi besar tersebut. *** 

About The Author

Filed under: Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *