Twice Adalah Panasea di Tengah Negara yang Gila

“Twice selalu jadi panasea, tidak seperti Ilmu Komunikasi.”

Celetuk salah satu kawan yang juga menyukai K-pop dan pernah belajar Ilmu Komunikasi. Kalimat itu merupakan plesetan dari buku Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar karya Prof. Deddy Mulyana. Dalam buku itu, Prof. Deddy menyebut, “Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan semua masalah.”

Jika kau tidak tahu, panasea maksudnya adalah obat mujarab yang dianggap mampu menyelesaikan semua persoalan. Meskipun komunikasi berperan penting dalam mencegah dan menyelesaikan konflik, komunikasi bukanlah satu-satunya solusi. Suatu konflik bisa berakar pada persoalan struktural, kepentingan, kekuasaan, maupun kondisi sosial lainnya.

Karena ini bukan kelas Komunikasi 101, aku tidak akan menjelaskan lebih jauh soal komunikasi sebagai panasea. Tapi aku setuju dengan gurauan tersebut, karena belakangan aku sedang keranjingan mengikuti girl group Korea, Twice.

Twice adalah grup perempuan Korea Selatan yang dibentuk oleh JYP Entertainment. Grup ini terdiri dari sembilan anggota: Nayeon, Jeongyeon, Momo, Sana, Jihyo, Mina, Dahyun, Chaeyoung, dan Tzuyu. Mereka diakui sebagai salah satu girl group terlaris sepanjang masa dan secara luas dianggap sebagai salah satu artis K-pop yang paling berpengaruh.

Sabar dulu. Jika kau sudah lama menjadi Once—sebutan untuk penggemar Twice—barangkali kau sudah berkata-kata kasar.

Hahahah.

“Kenapa baru suka sekarang?? Grupnya sudah hiatus??!! Bahkan ada rumor BUBAAR!!!”

tzuyu twice

Tenang saja. Sebelum diata-ngatai seperti itu, aku sudah duluan menyesali diri sendiri. Kenapa baru suka Twice sekarang, setelah mereka debut sejak 2015? Apa ini karma karena dari dulu aku begitu bingung melihat orang suka K-pop sampai jadi garis keras?

Kemana saja aku selama ini? Bahkan sejak 2011, kawan-kawanku sudah banyak yang menyukai Girls’ Generation, f(x), 2PM, SHINee, BIGBANG, atau grup K-pop generasi kedua lainnya. Sementara Twice merupakan bagian dari generasi ketiga, bersama Blackpink, BTS, Seventeen, dan grup-grup lain yang debut pada periode tersebut.

Yup, that’s me. You’re probably wondering how I ended up in this situation.

Semua ini dimulai akhir Juli lalu ketika aku pulang kampung untuk menemani Bapak yang habis operasi. Tenang saja, beliau pulih dengan cepat. Aku pun jadi punya banyak waktu luang di rumah.

Kau bayangkan: tidak punya teman sebaya untuk diajak bermain, rumah cukup jauh dari kafe-kafe kalcer, dan aku juga sedang tidak melakukan kebiasaan olahraga angkat beban. Aku benar-benar mati gaya di rumah.

Kemudian aku iseng membuka YouTube dan mendengarkan rekomendasi lagu-lagu Twice lainnya. Sebenarnya, kawan yang tadi juga yang mengenalkanku pada lagu Feel Special. Beberapa bulan sebelumnya, dia bahkan memaksa aku menonton MV-nya. Tapi waktu itu aku masih skeptis. Lalu waktu berlalu begitu saja.

Sampai akhirnya, ketika sedang di rumah, aku mendengar This Is For untuk pertama kalinya. Aku langsung memasang ekspresi seperti ini.

bugs bunny in love

Kuharap emoji ini tidak membuatmu menganggap bahwa aku hanya melihat mereka sebagai “objek”, tapi jujur, itulah emoji yang paling menggambarkanku waktu itu. Respectfully!

Semua skeptisisme tentang K-pop tersebut hilang begitu saja. Soal bentuk tubuh dan beauty standard—di awal-awal debut, tidak semua anggota mengikuti standar kecantikan seperti rambut panjang, badan langsing, dan kulit putih. Soal girl group yang harus super feminine. Banyak anggota Twice justru bereksperimen dengan gaya rambut dan penampilan. Dan juga anggapan bahwa girl group cuma bisa nyanyi dan menari.

Semakin banyak aku menyaksikan M/V mereka, juga berbagai video komedi dari fans seperti “Twice chaos that can crack you up” atau “You lose if you laugh: Twice edition”, aku akhirnya paham bahwa ada kehidupan baru di sana. Kehidupan yang tak pernah kutemui sebelumnya.

Melihat video-video mereka di belakang layar—bercanda satu sama lain, saling mengganggu, dan tidak risih atau gengsi bertingkah lucu dan aneh—aku mulai merasa akrab dengan semua itu.

Memang belakangan mereka juga mengikuti beauty standard, karena bagaimanapun mereka dibentuk oleh industri tersebut. Tapi ada sesuatu yang terasa tulus dari video-video ketika mereka masih merintis karier: mereka adalah anak-anak remaja yang sedang berusaha menavigasi kehidupan.

Kau bayangkan berusia 15 tahun dan harus mengejar ekspektasi sosial soal bentuk tubuh, cara berdandan, dan cara berpakaian, lalu tiba-tiba dikenal banyak orang.

Aku senang karena mereka cukup sering bereksperimen dengan penampilan dan fashun. Jeongyeon dan Chaeyoung, misalnya, yang tiba-tiba memotong rambut jadi pendek sekali. Momo yang tampil seperti perempuan anggun di Feel Special, tapi bisa jadi sangat sangar di koreografi Strategy. Atau Tzuyu yang biasanya tampil kalem dan “cantik” di banyak M/V, tetapi kelakuannya di belakang layar sangat savage.

Menyaksikan mereka di belakang layar juga membuatku paham bahwa mereka bukan cuma orang yang tampil di layar dua dimensi. Ada cerita di balik semua itu. Jeongyeon yang sempat sakit dan dikritik karena berat badannya naik. Jihyo yang juga mendapat kritik serupa sebelum debut, padahal ia hanyalah remaja biasa yang sedang tumbuh. Lalu Nayeon yang sangat hobi teriak-teriak dan menjauhi standar bahwa perempuan mesti kalem dan tidak boleh banyak beropini.

Momo juga bisa sangat berbeda di belakang layar. Jika di depan layar ia bisa menari dengan sangat oke—mungkin kalian familiar dengan kolaborasinya bersama ATEEZ—di belakang layar tingkahnya justru sangat lucu. Mulai dari paling gugup di depan publik sampai lupa bahasa ibu sendiri.

made in japan momo

Aku juga tidak tahu bahwa aku bisa kecanduan Twice sebegitunya. Dalam waktu yang relatif singkat, aku bisa mencari tahu tentang budaya K-pop sebanyak-banyaknya. Entah karena algoritma media sosial yang mengarahkanku ke sana, atau karena aku sedang mencari pelarian dari berita-berita buruk yang belakangan menimpa negara kita.

Mungkin aku perlu menjelaskan kenapa pelarian itu terasa begitu menyenangkan. Kalian bayangkan: dalam pekerjaanku sehari-hari, aku mesti memantau begitu banyak hal bodoh yang berseliweran di media sosial. Bahkan ketika hal-hal bodoh dan nir-empati itu diucapkan oleh pejabat publik di tengah bencana yang beruntun menimpa masyarakat.

Ada pula seorang staf kepresidenan yang dulunya adalah “peneliti” terorisme (ketika tulisan ini diedit, ia sudah dicopot dari jabatan tersebut). Dalam bayanganku, seorang peneliti—apalagi yang fokus pada terorisme—semestinya punya cara berpikir yang cukup kritis. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia pasang badan demi rezim, terlihat konyol di depan publik dan media sosial, sampai dijadikan parodi oleh warganet.

Tidak semua hal harus dibiayai asing, Mba. Apalagi bencana beruntun.

Narasi denial juga datang dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, pada Juni 2025 lalu. Ia mengatakan gambar viral Pulau Piaynemo, Raja Ampat, yang beredar di media sosial adalah hoaks. Entah siapa yang punya kuasa menentukan mana hoaks dan bukan hoaks.

Aku paham, mungkin itu cara paling mudah untuk berkilah ketika bukti kerusakan sudah terpampang di mana-mana.

Kembali lagi ke tahun ini, Presiden Prabowo mengatakan bahwa bencana alam yang menimpa Indonesia merupakan takdir. Seolah kebakaran hutan di Kalimantan—termasuk pembakaran hutan yang dilakukan pelaku-pelaku korporasi—juga merupakan takdir. Ya memang takdir, jika yang menentukan takdir tersebut adalah pemberi tanda tangan atas izin-izin itu.

(Aku tidak main-main soal ini. Ustaz Abdul Somad juga pernah membahas soal “takdir” ini dalam ceramah keagamaan di Aceh.)

Ini belum bicara tentang kelompok minoritas LGBT yang disalahkan karena bencana. Menurut rujukan tak berdasar itu, LGBT adalah singkatan dari Longsor, Gempa, Banjir, dan Tsunami. Seolah kelompok tersebut punya daya dan kuasa menyebabkan semua itu terjadi, padahal banyak dari mereka masih mesti pontang-panting menyambung hidup dari hari ke hari.

Ada pula pejabat yang bilang kebakaran hutan cuma ramai di medsos. Seolah pada 2024, Presiden kita tidak ikut meramaikan medsos dengan kartun AI Gemoy dan joget “Oke Gas”. Jujur, itu juga cuma ramai di medsos, lho. Tapi dampaknya masih terasa sampai dua tahun kemudian, dan entah sampai kapan. Memang kadang lebih mudah menyalahkan orang lain ketimbang mengakui kesalahan sendiri.

Aku masih punya banyak daftar berita buruk jika kalian mau dengar….Tapi sudahlah. Sudah terlambat. Aku tidak ingin tulisan ini malah disensor oleh “mantan jurnalis turned menteri”.

Kembali lagi ke Twice.

Barangkali alasan paling masuk akal mengapa aku tiba-tiba begitu candu adalah eskapisme. Di tengah masalah negara yang begitu ruwet, Twice menjadi panasea yang membuat hati terasa senang dan bersemangat. Seperti ada kawan baru yang setia mendengarkan.

image

Dan barangkali kau akan bersedih ketika kawan baru tersebut akan segera pergi.

Iya, aku tahu. Mereka baru saja mengumumkan akan hiatus entah sampai kapan setelah menuntaskan This Is For world tour. Beberapa rumor juga menyebutkan mereka akan bubar karena dua personelnya, Jeongyeon dan Chaeyoung, meninggalkan agensi mereka, JYP Entertainment. Sementara anggota lain juga mulai asyik mengeksplorasi karier lain seperti berakting, membuat sub-unit girl group (MISAMO), atau tampil solo.

Barangkali mirip nasib bangsa Indonesia yang mulai tak jelas. Apakah akan bubar di ujung pemerintahan Prabowo? Atau history repeating itself seperti yang terjadi pada 1998? Jujur, aku juga tidak bisa meramal masa depan.

Beberapa hari lalu aku pun menangis dan menuliskan hal ini di sebuah unggahan penggemar Twice. Istilah vernacular-nya, “first in my bloodline to write ‘right person, wrong time’ ” untuk sebuah girl group.

Yang lebih menyesakkan adalah menemukan dan menyukai mereka ketika nasibnya masih belum jelas.

image

Namun daripada bersedih terus-terusan, lebih baik melihat unggahan Once yang optimis soal Twice. Mereka yakin grup ini tidak akan bubar karena ikatan di antara anggota Twice begitu kuat.

Barangkali kalian akan menemukan potongan-potongan wawancara ketika Sana atau Nayeon tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa Twice secara utuh. Sebab separuh hidup mereka dihabiskan bersama Twice.

Mungkin kalian juga bisa menemukan unggahan Once yang bilang bahwa jika kalian mencintai Twice sebagai sebuah grup, kalian juga tentu akan menyukai mereka secara perorangan: Nayeon dan Tzuyu sebagai penyanyi solo, Momo sebagai koreografer, Chaeyoung sebagai penyanyi dan penulis lagu, Jihyo sebagai CEO, Jeongyeon, Sana dan Dahyun sebagai pemain film, dan Mina sebagai model.

Barangkali itu sebabnya aku masih iri kepada para Once yang optimistis. Mereka masih percaya bahwa sembilan orang ini bisa menemukan jalan untuk tetap bersama, meskipun bentuknya mungkin tidak akan pernah sama lagi. Bahwa sebuah keluarga tidak selalu harus tinggal di rumah yang sama untuk tetap menjadi keluarga.

Aku tidak tahu apakah optimisme seperti itu masih bisa kupakai untuk memikirkan negeri ini. Tapi mungkin memang bukan itu persoalannya. Indonesia punya masalah yang sangat sistemik dan struktural. Perubahan “ke arah yang lebih baik” tidak bisa dilihat dari satu atau dua putaran pemilu saja. Apalagi jika jajaran pemangku kepentingan masih lebih peduli pada jabatan, uang yang masuk ke kantong pribadi, dan menyelamatkan anak-cucu mereka sendiri ketimbang bersikap tegas terhadap kerusakan—korupsi, perusakan lingkungan, nepotisme, serta ancaman terhadap aktivis dan jurnalis—yang diperbuat oleh pejabat yang lebih tinggi.

Bagaimana kita bisa melihat perubahan jika realitanya para pejabat justru membiarkan semua itu sambil menjilat pantat penguasa yang lebih tinggi? Mungkin barangkali kita tidak akan melihat perubahan itu di usia kita. Not in our bloodline, lagi-lagi.

Tapi jangan terlalu keras pada dirimu, kawan. Masa depan bangsa ini tidak perlu dipikirkan olehmu seorang. Ia bukan tanggung jawab satu orang saja. Banyak peneliti telah menulis tentang “Indonesia at a crossroads”, berusaha menemukan bentuk dan masa depan politik serta demokrasinya. Bentuk seperti apa yang akan kita lihat dalam 20 atau 50 tahun mendatang, tiada yang tahu.

Maka dari itu, saat ini izinkanlah aku menikmati apa yang bisa kunikmati. Menjadikan sebuah girl group sebagai pelarian di tengah dunia yang gila.

Dan kalau suatu hari Twice benar-benar bubar, barangkali aku akan sedih. Sangat sedih, mungkin. Tetapi dunia akan tetap berjalan. Dan Twice akan tetap menjadi pengingat bagiku bahwa ada beragam bentuk kehidupan yang bisa ditempuh oleh masing-masing anggotanya.

Bagiku, mereka terasa seperti kawan yang bahagia dengan jalan hidup yang ditempuhnya. Namun mereka pernah menjadi teman yang mengobati ketika dunia sedang kacau balau.

Seperti panasea.

—

Terima kasih pada Annisa W. Larasati yang telah mengecek tulisan ini dan mengenalkanku pada Twice. 

About The Author

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *