Sebelum Mengenal Patriarki, Saya Lebih Dulu Mengenal Ketidakhadiran Papa 

Jika salah satu definisi keluarga adalah hadirnya kehangatan seorang papa terhadap istri dan anak-anaknya tanpa terkecuali – hingga kasih sayang tercurah sepanjang waktu – maka saya bukan bagian dari itu.

Dulu, saya berpikir bahwa laki-laki adalah penyebab semua permasalahan di dunia ini. Laki-laki yang ogah menafkahi istri dan anaknya, laki-laki yang terang-terangan berselingkuh, laki-laki yang suka bermabuk-mabukan, laki-laki pelaku kekerasan fisik terhadap anggota keluarganya, dan berbagai tipe laki-laki “ajaib” lainnya. Apa yang telah mereka lakukan itu telah menyakiti dan menginjak harga diri perempuan—atau dengan kata lain pasangannya. Dan yang lebih membuat miris, apa yang saya rasakan itu bersumber dari satu sosok yang seharusnya—bagi pandangan sebagian besar orang—menjadi cinta pertama saya sejak lahir ke dunia, yakni papa.

Saya memiliki seorang papa yang selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Beliau tidak pernah hadir di acara-acara penting semasa kecil saya. Sewaktu belia, saya kerap mengikuti berbagai lomba menggambar dan mewarnai, baik mewakili sekolah maupun hasil inisiatif sendiri. Akan tetapi dalam setiap momen tersebut, saya tidak pernah menyaksikan figur papa yang hadir. Jangankan hadir, mengetahui saya berkompetisi atau memenanginya saja belum tentu.

Sejak saat itu, saya pun semakin sulit melihat papa sebagai tempat untuk pulang. Ditambah, saya juga menyaksikan keputusan-keputusan yang meninggalkan luka mendalam bagi mama dan keluarga kami. Saya menjadi saksi bisu atas berbagai konsekuensi dari keputusan-keputusan tersebut, sementara mama kerap kali menjadi orang yang harus memikul beban tersebut seorang diri. Ketiadaan kasih sayang papa secara emosional pada akhirnya membentuk persepsi saya tentang laki-laki. Saya sempat menilai bahwa semua laki-laki sama seperti papa. Mereka tidak benar-benar tulus mencintai, sebab yang bisa mereka lakukan hanyalah menyakiti hati perempuan dan anak-anaknya.

Saya masih teringat dengan satu kejadian menyakitkan lainnya. Ada kalanya papa melampiaskan kekesalannya kepada saya, dan semua itu terlihat ketika ia tiba-tiba bertanya kepada mama tentang studi saya. “Sebenarnya dia itu mau jadi apa, sih?” adalah kalimat yang terucap darinya. Mimpi-mimpi dan rencana pasca studi yang telah saya susun sejak lama seolah tereduksi dan hancur begitu saja ketika kalimat itu keluar dari mulutnya dengan nada paduan antara menghakimi dan meremehkan. Hati saya semakin sakit ketika pada suatu waktu mama pernah berkata, “Mama doakan kamu bisa lulus tepat waktu, ya, Nak, supaya kamu tidak bergantung terus sama papa.” Kalimat itu membuat saya sadar bahwa pendidikan bukan hanya untuk meraih cita-cita, melainkan tentang mencari jalan keluar dari hubungan yang selama ini terasa menyesakkan.

Di sisi lain, saya pun kerap mempertanyakan apa yang membuat ketimpangan ini begitu menyakitkan. Bukankah banyak orang bilang jika anak perempuan jauh lebih dekat dengan papa kandungnya? Mengapa hal itu tidak berlaku bagi saya? Dan mengapa harus saya yang menanggung beban kebencian ini sendirian? Tidakkah seharusnya anak perempuan berhak mendapatkan perhatian—sekecil apapun—dari papanya sendiri tanpa harus selalu berinisiatif terlebih dahulu?

Apa yang saya rasakan ini ternyata bukan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Siapa sangka, ketika membaca banyak pengalaman—khususnya dari sesama perempuan—di media sosial seperti Instagram, Twitter, ataupun TikTok, saya tidak sendirian. Banyak dari mereka juga tumbuh dengan absennya figur ayah, terutama secara emosional. Ada pula yang menyaksikan bagaimana perempuan dalam keluarganya harus menanggung beban yang tidak setara.

Perlahan, saya mulai memahami bahwa luka yang saya alami tidak sepenuhnya hadir dalam kisah keluarga saya sendiri. Ada pola yang berulang dalam berbagai pengalaman perempuan. Kesadaran itulah yang perlahan membawa saya pada berbagai diskusi tentang gender dan patriarki. Melalui proses membaca, berdiskusi, dan menulis tentang pengalaman perempuan, saya semakin menyadari bahwa persoalan yang saya alami tidak berdiri sendiri.

Sebetulnya, saya tidak pernah menanyakan kepada papa secara terang-terangan bagaimana ia memandang perannya sebagai seorang ayah. Oleh karena itu, saya tidak bisa memastikan apa yang membentuk cara berpikir dan bertindaknya. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyak mempelajari isu gender, saya mulai bertanya-tanya: apakah hubungan kami juga dipengaruhi oleh cara masyarakat memandang dan membentuk laki-laki?

Saya pun berusaha melihat kembali hubungan saya dengan papa. Mungkin saja hubungan kami tidak hanya dibentuk oleh pilihan-pilihannya sebagai individu, melainkan juga oleh norma sosial yang lebih luas. Sebagaimana banyak laki-laki lain dalam masyarakat kita, ada kemungkinan papa juga hidup di bawah pemahaman bahwa peran utama seorang ayah adalah menjadi penyedia kebutuhan keluarga, sementara urusan kedekatan emosional tidak dianggap sama pentingnya. Barangkali itulah yang saya lihat dalam diri papa. Ia hadir sebagai pencari nafkah, tetapi tidak pernah benar-benar hadir sebagai tempat untuk berbagi cerita, ketakutan, maupun harapan.

Hingga kini, meskipun kedua orang tua saya telah berpisah, luka dari absennya sosok papa itu sesekali masih datang. Kerap kali saya mempertanyakan: apakah kami bisa berdamai, atau justru sayalah yang harus berjalan sembari memeluk luka ini sendirian? Walaupun saya tidak pernah bermaksud membenci papa, apa yang telah beliau lakukan—secara langsung maupun tidak—telah berulang kali mematahkan hati saya.

Kompleksitas ini pun membuat jarak di antara kami kian membentang. Saya tumbuh tanpa pembuktian kasih sayang papa yang nyata di permukaan. Sementara waktu terus bergulir, ruang komunikasi di antara kami tetap menjadi tanda tanya. Sebuah ruang misterius yang belum pernah saya sentuh, atau justru selamanya tidak akan pernah tersentuh.

Apakah salah bagi saya untuk tidak benar-benar menganggapnya sebagai papa? Ataukah saya tetap harus menerapkan hormat dan bakti kepada orang tua yang telah mengecewakan saya? Saya tidak tahu jawabannya. Sebagian besar orang dengan mudahnya pasti akan berkata, “Bagaimanapun, ia adalah papamu.” Saya tidak paham mengapa kalimat itu bisa meluncur begitu mulus dari mulut mereka yang tidak pernah merasakan apa yang telah saya pendam selama puluhan tahun.

Sungguh ironis masyarakat yang selalu menaruh beban emosional kepada perempuan untuk selalu memaafkan dan memaklumi. Di sisi lain, meskipun patriarki adalah sistem busuk yang menjadi akar dari ini semua, saya masih terus mempertanyakan: apakah sudah menjadi takdir seorang perempuan untuk selalu bertanggung jawab atas kesalahan laki-laki di hidupnya? Jika memang begitu, lantas apakah kami memang dikutuk untuk menerima lebih banyak luka ketimbang curahan kasih?

Hingga kini, saya belum sepenuhnya yakin. Apakah saya bisa memaafkan papa? Saya tidak tahu jawabannya. Namun bagi saya, memahami patriarki dan segala isu yang melingkarinya jauh lebih mudah dibandingkan berdamai dengan luka yang ditinggalkan oleh seseorang yang sejak kecil saya harapkan dapat menjadi tempat untuk pulang.***

About The Author

Filed under: Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *