Kembang Rawang, Sebuah Pesta Persembahan

Babak Awal

Penciptaanku terjadi 273.750 tahun yang lalu, dari tetes api neraka yang diambil dari dosa para hamba-hamba Tuhan yang menentang perintahnya di bumi. Inilah neraka. Dari sini aku mulai dibentuk menjadi segumpal daging, aku berasal dari rahim seorang pelacur, darahku berasal dari mafia tanah, hatiku ditempah dari hati seorang penguasa zalim, jantungku hasil cangkok dari kepala dusun yang menyusahkan rakyatnya. Aku dibentuk oleh dewa api, dan penghuni neraka sekalipun mereka menolak kehadiranku. Aku ditentang, ketika setetes api neraka masuk ke ovarium seorang pelacur; ia menjerit dengan keras, seluruh penghuni neraka merasakan kesakitan yang dialaminya.

Pak nelayan berlarian ke arah tangisanku, ikan yang memenuhi jala di pundaknya berhamburan keluar. Tangisanku tiba-tiba berhenti. Betapa terkejutnya nelayan ketika melihat bayi tanpa sehelai kain, melihat tubuhku yang berbau amis, bersisik, telingaku berinsang, bola mata hitam, dan kuku yang panjang. Nelayan menggendongku, jala di pundaknya—dilepaskan. Ia menggendong bayi yang baru ditemukannya, tidak peduli lagi dengan ikan yang berhamburan di tanah. Badanku terbungkus dengan bendongan berwarna hitam, seolah-olah aku ini anak seorang manusia. Air rawang berubah menjadi merah darah, pekat dan bau anyir, mengeluarkan asap dan menggelegak panas. Tetapi, bentuk tubuhku tidak seperti bayi manusia lainnya. Tangisanku seperti suara pekikan yang melengking membuat burung-burung di pinggir rawang berterbangan.

Di hadapan rawang yang merah pekat setelah menghisap dosa-dosaku, aku disucikan dengan airnya. Basuhan pertama pada kakiku, ujung-ujung jariku yang berkuku panjang menyusut dan menjadi kaki bayi manusia normal. Kulitku yang bersisik menjadi kulit mulus bayi, basuhan ke separuh badanku; perlahan semuanya menjadi seperti kehendak Pak nelayan. Wujud asliku menjadi hilang, watakku disucikan dan kepekaanku dilenyapkan. Aku hampir tidak mengingat memori masa bayiku setelah dimandikan di rawang. Yang kutahu, datuk menatapku menangis. Lalu menamaiku dengan nama bininya; Meri. Yang telah mati.

Aku dibesarkan di dusun sepi, di lebak yang tak lagi basah—pabrik dan sawit tumbuh di atas rawa. Aku menyukai panas menyengat, dan dingin yang menusuk tulang ketika matahari tepat bersinar di atas kepala. Aku melepas serindak yang menutup kepalaku, aku biarkan panas menghisap ubun-ubun kepalaku. Ketika selimut menyelimuti tubuh warga, aku membiarkan dingin menyetubuhi tulangku. 

Memasuki usia 12 tahun, aku menyukai kesakitan. Kelembutan diriku, serta mata yang seperti bulan yang tenang—seakan membuat luntur kemunafikan dalam diriku, entah mengapa itu terjadi dalam proses pendewasaan. Setiap saat aliran darahku seperti memanas, dan mengalir begitu cepat berputar ke sel-sel tubuhku. Aku merasakan detak jantungku, seakan memompa dengan cepat tatkala sesuatu yang membuatku ingin cepat-cepat meludah ke wajah mereka yang merampas lebak kami. Hari ini berkumpul di balai dusun. Membicarakan ikan setiap hari, dan rawang terakhir. Sementara pabrik-pabrik dan sawit telah tumbuh bak jamur setelah hujan.

Sebelum Laga Pesta

(100 Tahun yang Lalu)

Perempuan itu, menjulurkan tangannya. Lalu, kilauan cahaya keluar dari telapak tangan. Akil terdorong dalam imajinasi yang diciptakan oleh perempuan itu, yang dimana kekacauan yang terjadi di dunia luar ditampakkan, langitnya berwarna merah pekat, orang-orang saling membunuh untuk mendapatkan makanan. Semua itu berganti dengan cepat, seakan perempuan itu memegang remote control terhadap imajinasinya; yang memang benar-benar telah terjadi. Lalu, Akil ditunjukkan kepada kehancuran yang akan datang di desa yang dibangunnya ini jika tidak melakukan persekutuan. Perempuan itu tersenyum, lesung pipinya membuat sejuk, rambutnya terurai panjang, seekor burung pipit berwarna putih hinggap di pundak perempuan itu. Akil sedikit merasa lega, tetapi di kepalanya berisi ratusan pertanyaan yang ingin segera ia keluarkan. Namun, ia memikirkan kapan waktu yang tepat untuk berbicara. Agar sesuatu yang buruk tidak menimpa dirinya—burung pipit di pundak perempuan itu berbicara ke arah Akil.

“Hei anak muda, beri sembah kepada Dewi Bulan. Sungguh kurang ajar kalian, menanam dan mengambil ikan di atas bumi milik Dewi Bulan tanpa memberi sembah padanya.” Seekor burung mengeluarkan suara cempreng.

Akil membungkuk, namun ia masih kebingungan bagaimana bisa seekor burung bisa berbicara. “Maaf dewi, sungguh bagaimana lagi kami bisa bertahan hidup jika harus pergi dari desa ini. Kami baru saja mendapatkan kehidupan disini, apapun akan kami lakukan untuk bisa bertahan disini dewi.”

Dewi Bulan menyentuh dengan lembut pundak Akil, lalu berjalan mengelilinginya. Akil gemetaran di hadapan perempuan yang cantik parasnya, dan seorang dewi—yang mengasuh seluruh musim dan perairan. Bagaimana bisa?

“Aku menawarkan hal yang harus kalian jaga, pada keturunan pertama dari anak-anak kalian. Semuanya akan berkelamin perempuan, dari anak-anak itu hingga ia meninggal. Haruslah ia tetap perawan, dan ketika ia memasuki masa kegadisannya; kembang rawang itu harus memiliki rumah sendiri.  Dan ketika masa puncaknya pesta persembahan, darah-darah mereka beserta dengan kambing hutan harus mengalir berbarengan hingga ke danau.”

“Bagaimana aku bisa menyampaikan ini dengan orang-orang, akankah aku dianggap ngawur dewi.” Tanya Akil.

“Engkau tidak perlu repot anak muda, semua orang yang menikmati tanah ini. Bermimpi sama sepertimu, dan aku tunggu tawaran sepakat dari kalian. Pada malam bulan purnama, di tengah rawang aku akan menyambut pesta persembahan dari rakyatku tercinta.”

Seluruh bayangan di depan Akil menjadi putih, tidak ada setitik warna lain. Warna putih itu berputar-putar membentuk lingkaran yang seperti beliung hingga kesadarannya kembali. Ia terbangun di pinggir danau, badannya lemas. Termenung sesaat menatap rawang yang tenang, dan kosong.

Masuk Babak

Lagi-lagi aku tenggelam dalam lamunan tentang itu. Ikan salai asap di depanku yang wangi, dan suci. Hanya gadis-gadis yang masih perawan yang boleh mengasuhnya, apabila dilanggar; dusun akan celaka. Akan habis keturunan dari dusun ini. Aku berkumpul di sini, sebuah pondok dari bambu yang menyimpan dingin. Seluruh gadis berkumpul, anak-anak hingga dewasa. Aku dibiarkan di hadapan ikan basah, berpikul-pikul harapan terjemur di pelataran balai dusun. Matahari memanggang ikan basah, dan impian calon penerus kembang rawang.

Kami memegang kepercayaan-kepercayaan mistik, hubungan manusia, rawang, dan alam semesta. Kami percaya bahwa rawang memiliki nyawa, maka dari itu nyawa harus diasuh oleh gadis yang suci dan kemaluannya wangi dan rapat. Ketika selaput lendir terlepas dari diri kami, haram bagi kami mengasuh ikan salai.

“Wahai ikan-ikan di sungai dan rawang, dengan segenap cinta aku serahkan kesucian kepadamu. Hiduplah di air yang tersisa ini, matahari, bulan, angin dan air; kami memilihmu. Dan terberkatilah Dewi Bulan untuk musim kejayaan kami.”

Setelah membaca tradisi lisan, yang diwariskan nelayan kepada perempuan. Aku memegang ikan salai baung; dengan terikat sumpah. Leluhur kami membangun ikatan dengan Dewi bulan dan semesta. Kesuburan tanah kami tidak lepas dari hubungan yang terbangun, dengan itu setiap keberkatan dan kejayaan yang ada disini—para perempuan yang menjadi nilai tukar atas kesuburan itu.

Aku tidak memiliki kawan lelaki, perempuan tidak diperbolehkan mengenal laki-laki, sejak kami mulai menstruasi. Sejak saat itu, kami dibuatkan rumah sendiri. Rumah yang seperti penjara, kesepian sangat menakutkan bagi diriku. Terkadang aku membayangkan dunia dimana lelaki dan perempuan sama, di sini kami dianggap suci. Sampai matipun kami akan merasa kesepian, bertahan dalam penjara yang sakral ini.

Aku kembang rawang, menunggu fajar yang menggelinding dari gelap malam. Di lebak yang kering dan mutung; langit bebas, dimana awan mengasuh basah namun hujan enggan turun. Aku terlahir di saat bumi tak berbayang, terang gagal mengeja kegelapan. Di saat itu pula, kabar tentang rawang tersebar; baunya mengundang babi-babi gendut, tikus-tikus gemuk, lalu excavator mengeruk perhiasan dusunku.

Tengah malam, langit tergelincir menjadi gelap. Pintu-pintu rumah tertutup, asap dari kayu bakar menanak nasi beraroma pandan keluar dari celah-celah dinding papan. Langit memerah seakan hendak meledakkan hujan api, dan hembusan angin membuat api yang membakar kayu bakar membesar. Merah kegelapan, dan membesar. Melahap tembikar, dan kukusan nasi. Dengan cepat aku menuju sumur, mengambil seember air dan menyiram ke arah api. Api menjadi padam, asap hitam muncul membentuk bayangan wajah yang seram.

“Dusun akan terbakar, tanah ini akan mutung, dan kembang rawang tidak pernah ada lagi di atas bumi raya. Semua lenyap, termasuk keturunannya. Hanya ada satu yang tersisa, gadis merah. Hatinya merah mengkilap bersih dan segar, darahnya mendidih, matanya bersinar bagai api yang akan membakar seluruh kesucian yang tidak lagi murni. Hanya kesucian yang murnilah yang akan bertahan, semua orang akan berdiri tegak dan menyeru namanya. Ia si gadis merah, kembang rawang yang kesuciannya murni. Dari seorang perempuan yang tidak pernah bersetubuh dengan lelaki, dan darah perawannya menjadi seorang gadis yang hidup dalam rahim kau.”

Bayangan dari asap yang tersisa itu menyampaikan pesan, lalu menghilang pelan seperti sedang tidak pernah terjadi. Rembesan air hujan dari atap nipah kamarku, membuat aku terbangun dari mimpi. Separuh tubuhku basah, payudaraku lembab dan kecut. Padahal hujan hanya meneteskan airnya, tetapi aku seakan tenggelam pada mimpi yang baru saja aku rasakan. Entahlah aku tidak merasakan peristiwa tadi sebagai mimpi, aku merasakan itu benar-benar terjadi. Makhluk jelmaan yang menjadi momok gadis-gadis dusun. Siapa yang masih perawan, buah dadanya belum pernah disentuh dan bulat; tentu saja kegadisan itu akan dengan cepat dinikmatinya. Malam ini, aku sedang tidak bermimpi. Buah dadaku kecut dan lembab, selangkanganku berdarah. Ia sudah menyetubuhiku, menghabisi ranum badanku. 

Aku kembang rawang, mengutuk setiap iblis yang merenggut perawan gadis-gadis. Dan tak sudi; keperawananku diambil saat sedang tertidur. Aku akan memeras kedua testis dalam seluar celana, hingga kau menangis, menangis, dan menangis.

Menit Akhir, Pesta Dimulai

Perutku membesar, ayahnya entah siapa. Iblis telah menitipkan nyawa pada rahimku.  Setiap hari aku merasakan galau, tidak pernah berhubungan badan; tapi merasakan bunting. Bibirku membengkak, perutku mengembang, selera makan sudah tidak timbul lagi beberapa malam ini. Dan rambut rontok setiap kali aku menyisirnya, aku kesepian. Di dusun ini; telah hilang diriku. Aku tidak mengenal lagi diriku seutuhnya, buntingnya diriku membuat aku semakin kehilangan kesempatan untuk menjadi kembang rawang. 

Aku mengutuk setiap malam, dimana bulan tidak pernah lagi menyapaku. Perutku bercahaya merah, ketika berada pada kegelapan kamar. Lalu, setiap menjelang pagi. Aku selalu bermimpi hal yang sama, bertemu asap berwajah seram. Dan berucap sumpah bahwa dusun ini akan terbakar, entahlah; mungkin asap itu yang meniduri tubuhku ketika sedang tertidur. 

Desa benar-benar sangat panas malam ini, apakah hanya aku gadis bunting yang mengasuh perutku yang menimbulkan panas. Bagaimana aku menjelaskan kepada nelayan dan dukun, ketika upacara adat kembang rawang. Bagaimana, aku sudah tidak suci dan pastilah akan menjadi aib bagi dusun ini. Keperawananku sudah diambil oleh iblis, aku tidak pantas berada pada barisan gadis-gadis yang lain. Aku tidak berhak atas kembang rawang, aku harus mengubur impianku menjadi kembang rawang. Aku sudah layu, tidak segar, dan pastilah aku akan dibuang dari dusun. Hidupku kian sepi dan sunyi, terlahir tanpa orang tua. Nelayan dan dukun bilang aku adalah anak dari dewa api, lahir ketika api melumat habis tembikar tanah liat dan kukusan nasi. Aku lahir dari semburat api, ditemukan tanpa kain dan tali pusarku menggantung berwarna merah. Aku dititipkan oleh dewa api, aku diciptakan dari bara api neraka. Lalu disucikan dengan air rawang terakhir, diasuh oleh malam bulan yang terang dan panas pada darahku berganti dingin. Darah pada badanku seperti dikuras habis, aku dibuat lupa dengan asal-usul dan darimana aku berasal. Setitik neraka itu telah tumbuh menjadi aku, dan kelak aku akan menjadi kembang rawang. Suatu kehormatan tertinggi bagi seorang perempuan.

Perutku semakin panas, seakan ingin segera meledak. Upacara akan segera dilaksanakan, seluruh warga desa telah berkumpul di pinggir rawang terakhir. Pak nelayan, dan dukun-dukun telah duduk di depan kami. Seluruh gadis yang salah satunya akan menjadi kembang rempah melingkar, tubuhku telah merasa panas. Seluruh aliran darahku seperti ada api yang bergejolak, mendidihkan darahku. Malam ini bulan purnama bulat sempurna, tanpa ada celah di lingkarannya. Pak nelayan, dan dukun-dukun berpegangan tangan lalu menghadap ke arah rawang. Yang dimana bulan tertuju tepat di pucuk air rawang;

Wahai keberkahan yang tersembunyi pada bulan purnama dan buteknya air rawang ini, limpahkan kepada kami tanah yang subur. Limpahkan kepada kami ikan, tanah yang suci melahirkan dewi-dewi yang dirahmati oleh semesta. Jadikan tanah ini menjadi limpahan keberkahan, dan jadikan kembang rawang yang akan memimpin kami ini menjadi seorang dewi rawang yang membawa kepada kemakmuran atas tanah kami. Musnahlah segala sawit dan pabrik-pabrik yang tumbuh di atas rawa.

Ketika doa diucapkan, sesajen sudah diberikan kepada dewi bulan dan air rawang sudah menenggelamkan habis serindak, jala, bubu, tangkul, serkap dan perahu kajang. Tumpukan kayu disiram dengan kembang-kembang, kerbau rawa disembelih; darahnya menyembur. Seorang dukun, menggunakan baju kurung berwarna putih membawa kendi. Lalu dukun itu menadah darah yang mengalir deras di leher kerbau rawa, setelah kendi itu penuh dengan darah. Dukun itu mendekat ke gadis-gadis suci yang akan menjadi kembang rawang. 

Wahai dewa-dewi, aku serahkan persembahan kepada engkau pelaksana berjalannya bumi ini. Diantara rawang yang masih tersisa, kami goreskan pesan cinta. Niat yang suci, hati yang suci, dan gadis-gadis yang akan selalu perawan dan suci hingga matinya. Bagaikan matahari, jadikanlah kembang rawang menuntun terang untuk jalan kami. Berkatilah tubuhnya, dan durhakalah kami ketika salah seorangnya telah hina.”

Sang dukun, penuh uban, rambutnya dikuncir ke atas. Pangkuan tangannya membawa penuh darah kerbau rawa, seorang dari kami telah digoreskan kepalanya dengan darah kerbau rawa. Ia menatap mataku, tubuhku memanas tak tahan lagi. Ia mendekat, dan ingin menggoreskan darah itu ke kepala. Aku menepis, dan membuat darah kerbau itu tumpah. Pak nelayan beranjak dari persilahannya di atas rerumputan yang becek, mendekat ke arahku. Lalu dengan kedua jarinya, ia membasahi jarinya dengan darah kambing hutan yang tumpah. Mata Pak nelayan melotot ke arahku, aku menunduk dan tidak mau melawan orang yang mengasuhku. Dengan cepat ia menggoreskan kedua jarinya ke keningku, aku teriak kepanasan. Tubuhku berubah menjadi merah dan mendidih, semua orang bangkit dari persilahannya. Aku memberontak, seperti ada yang merasukiku. Dukun itu kembali membasuh tangannya dengan darah yang sudah terjatuh, kedua telapak tangannya basah. 

Pak nelayan membasahi wajahku dengan darah di telapak tangannya, lalu aku semakin tak karuan. Di atas tanah lebak, angin bertiup kencang dihembuskan dari celah-celah pohon. Lalu, bertiup ke rawang yang membuat air rawang itu berombak. Aku kepanasan, tumpukan kayu yang sudah dihias dengan alat-alat tangkap ikan dan darah kerbau rawa; tiba-tiba api menyala besar. Seorang dewi bulan turun ke danau, tubuhnya begitu putih mengkilap. Matanya terang, siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta dan patuh. Dari balik api besar, seorang dewa menjelma. Badannya adalah api, wajahnya terbentuk dari kepulan asap. Matanya hitam, dan ia tertawa besar. Dewi bulan mendekat ke arah Dewa api yang seperti sedang mengejek persembahan kepadanya.

“Hahahahah, aku kesini untuk menjemput calon dewi api dan calon anakku. Kami akan berkuasa atas tanah ini, semua kekayaan alam akan berganti. Kami akan membangun neraka disini, dan seluruh manusia yang tersisa akan menyembah kami. Hahahaha.” 

Semua orang terkejut, tubuhku seperti mau meledak. Arghhhhhhhh. Aku teriak! Kepalaku seperti ingin pecah, kulit tubuhku melepuh, kakiku seperti meneteskan api, lalu angin meniup kain yang menutup badanku. Perut besarku membuat semua warga terkejut, urat kepalaku seakan ditarik keluar; benar saja tanduk perlahan tumbuh keluar dari kepalaku. Kulit tanganku melepuh, mengeluarkan sisik seperti ikan. Lalu, bola mataku keluar. Semua mataku berganti hitam pekat, dan masuk kembali. Telingaku berganti ingsang, jari-jari tangan dan kakiku bertumbuh cakar yang panjang. Aku sudah tidak kuat lagi, arghhhhhhhhh! 

Aku berdiri di atas tanah lembab, tanah desaku. Aku sudah tidak bisa lagi menjadi kembang rawang, aku sudah kehilangan jati diri yang ditanam sejak kecil oleh Pak nelayan. Dewa api tersenyum kepadaku, dan mengulurkan tangannya. “Kemari sini dewiku, sudah lama aku menunggumu. Kau akan hidup abadi, dan kita akan merawat neraka dari sini.”

“Meri,” Pak nelayan teriak ke arahku. “Sini nak, kembali. Jangan kau ke arah dewa api, kita semua akan mati.” 

Aku tidak perlu memperdulikannya, rasa sakitku sudah hilang. Tubuhku mungkin tidak cantik dan suci seperti dahulu, tetapi inilah aku sebenarnya. Tercipta dari setetes api neraka, dan besar diasuh dewi bulan yang suci. 

“Inilah aku sebenarnya, selama ini kalian menipuku. Menghilangkan ingatanku, dan dari mana aku dilahirkan. Alam telah berkata lain, seluruh penghuni neraka menyeru namaku. Aku mendengarnya, dan dusun ini akan mutung berganti gedung-gedung pencakar langit dan hutan sawit.”

Aku menjemput tangan dewa api, iblis yang selama ini masuk ke dalam mimpiku. Mau bagaimanapun aku adalah dewi api, dipersuntingnya ketika aku dari setetes neraka. Aku merasakan nadinya bergetar ketika memegang tanganku, aku melihat cinta di matanya. Kami akan membangun neraka di dusun ini, seluruh penghuninya akan bersifat rakus dan serakah.

“Kepada kalian semua, aku beritahukan; segeralah menjauh dari dusun ini. Dan jangan pernah kembali, menjauhlah sejauh-jauhnya. Lalu, lupakan aku.”

Pesta Berakhir.***

About The Author

Filed under: Fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *