Sesaat sebelum azan magrib, ayah pasti bersenandung sambil melintas ruang tengah rumah kami yang luas. Kuingat liriknya begini:
Dalam renunganku seoraaaaang
Diambang sore nan layu.
Aku tak tahu itu lagu apa dan siapa penyanyinya, dan tak pernah menanyakan kepada ayah.
Tak lama azan magrib terdengar, dan Ibu berwudu, lalu disuruhnya aku ikut berwudu lalu menyiapkan telekung, sholat bersama ibu, dan menyiapkan lekar. Biasanya, tak lama satu per satu anak-anak perempuan kampungku berdatangan dengan kerudung warna-warni sambil mendekap Al Qur’an di dada.
Sehabis magrib anak-anak perempuan itu berkumpul di ruang tengah, duduk menghadapi Al Qur’an yang terbuka di lekar dan mendaras kajinya masing-masing. Ramai seperti lebah berdengung memenuhi ruang tengah. Aku suka sekali suasana itu. Tak lama, ibu keluar kamar dengan telekung masih terpasang. Sekalipun kain telekung tampak berkibar ketika ia berjalan mendekat, aku merasa angin berhenti.
Kami berhenti mendaras seperti lebah yang berhenti mendengung karena dipukul jatuh. Ibu kemudian duduk menghadapi lekar yang agak terpisah di tengah ruang dan memanggili kami satu demi satu ke hadapannya. Diujinya kaji kami dan dibenarkannya jika ada yang salah. Jika ada anak yang baru mulai mengaji, anak yang kajinya sudah jauh biasanya menjadi pembimbing buat anak baru itu. Mulai dari kitab tipis juz amma.
Namun sejak ada televisi di kampung, anak-anak perempuan tak lagi datang ke rumah untuk mengaji. Aku tak tahu bagaimana anak laki-laki. Katanya, biasanya mereka mengaji di masjid. Mungkin sekarang mereka juga sibuk menonton televisi ketimbang mengaji.
Kini lekar-lekar teronggok di sudut ruang. Aku mengaji di kamar ibu berhadap-hadapan dengannya. Tak ada lagi suara bagai dengungan lebah. Cuma suara kajiku saja, bahkan tak bisa memenuhi kamar ibu yang jauh lebih kecil dibanding ruang tengah. Kajiku segera tuntas. Kemudian malam jadi sunyi, dan kucium tangan ibu.
Masih juga sunyi ketika kami bersiap untuk makan malam. Rasanya waktu makan malam jadi terlalu cepat. Lamat-lamat terdengar suara radio, entah dari mana, sementara piring dan sendok ditata. Kami tak bercakap dan ada sedikit rasa kehilangan pada diriku. Mungkin pada ibu lebih banyak lagi, aku tak tahu dan tak pernah menanyakannya.
Sebulan berjalan. Yang benar-benar kurasakan sebagai kehilangan adalah tak ada lagi cerita ibu. Biasanya seminggu sekali setiap malam Jumat, kepada anak-anak yang mengaji di rumah, ibu bercerita kisah-kisah para nabi atau orang-orang saleh yang ada dalam Al Quran.
Yang paling berkesan bagiku adalah cerita tentang Ashabul Kahfi. Mereka adalah sekelompok orang beriman yang karena keimanannya dikejar-kejar oleh penguasa. Bersembunyilah mereka dalam gua ditemani seekor anjing. Mereka kemudian tidur di gua itu. Sang anjing menunggui mereka.
Besok paginya mereka terbangun dan lapar. Setelah berunding, seorang dari mereka diutus untuk membeli makanan di pasar sambil memeriksa keadaan. Ketika akan membayar makanan, sang penjual kebingungan karena uang yang diterimanya adalah uang kuno yang sudah berumur ratusan tahun! Bagaimana itu bisa terjadi? Ternyata Ashabul Kahfi tertidur selama ratusan tahun tapi mereka hanya merasa tidur satu malam. Itulah sebabnya uang mereka tiba-tiba menjadi uang kuno.
Kenapa bisa begitu? Aku tak berani bertanya pada ibu. Itulah kekuasaan Sang Maha Kuasa, kata ibu tanpa kutanya, yang melindungi orang-orang beriman. Penjelasan itu kuterima saja.
Sesekali aku membayangkan ada gua semacam itu di kampungku. Bagaimana ya rasanya tidur semalaman dan ketika bangun keadaan sudah berubah. Tapi aku membayangkan bakal kesepian kalau memang itu terjadi padaku. Orang-orang yang kukenal tentu sudah tak ada lagi.
Kalau memang hal-hal ajaib semacam itu bisa terjadi padaku, dan aku boleh memilih, aku memilih menjadi orang yang tak bisa dilihat saja. Atau bisa berpindah tempat sekejap mata. Wah! Maka menjelang tidur sering kubayangkan aku punya kehebatan-kehebatan macam itu.
Namun ternyata khayalanku biasa saja bagi teman-temanku. Mereka melihat itu semua di televisi. Kata mereka, orang di televisi bisa terbang. Ada juga yang bisa tak kelihatan oleh orang lain. Aku terlongong-longong mendengarkan mereka saling berbagi cerita tentang yang mereka lihat di televisi. Aku tak mengerti sama sekali.
Aku mulai tersisih dari obrolan teman-teman sekelasku di sekolah.
Sampai suatu hari, saat istirahat dan kami berbincang di teras depan kelas, obrolan tiba-tiba beralih ke acara film di televisi tadi malam. Aku tak bisa bergabung dengan percakapan saling menimpali membicarakan serial baru di TV. Teman-temanku itu berebut bicara sekalipun mereka sama-sama sudah tahu apa yang dibicarakan. Saat itulah aku ingin bisa menembus bumi atau tiba-tiba ada bidadari datang dan membawaku terbang sehingga aku bisa pamer pada kawan-kawanku. Tapi karena itu semua tak terjadi, pelan-pelan aku mundur. Sampai aku menabrak Meli.
Barulah kusadari bahwa ada Meli. Setiap hari ia bersandar di dinding di luar kelas kami hampir menempel ke daun pintu kelas yang membuka. Aku tak pernah memperhatikan Meli. Siapa yang pernah memperhatikan Meli?
Tampaknya bagi kami, ada atau tidak ada Meli, dunia akan sama. Di kelas ia seperti dianggap pajangan dinding. Tak ada yang pernah mengajaknya bicara. Tak ada yang mau duduk sebangku dengannya kalaupun ada, anak yang kebagian akan memilih menggeser kursi ke sisi terjauh. Guru-guru juga tak pernah berusaha melibatkan dia dalam belajar dan tak pernah memeriksa PR-nya.
Di luar sekolah, ia tak pernah terlihat bermain bersama kami. Dulu sekali sempat kulihat ia duduk di tanah sementara kami bermain. Matanya menerawang kosong dan yang paling mencolok adalah mulutnya selalu terbuka, sehingga sesekali air liurnya menetes. Sementara kami bermain, ia duduk bersila di tanah dan sering sengaja dilanggar oleh anak laki-laki untuk kemudian dikata-katai tolol, goblok dan sebagainya. Ia tak bereaksi. Bahkan menoleh kepada anak yang mengasarinya pun tidak. Aku tak tahu bagaimana sikap orang tua Meli karena tak pernah kulihat mereka di sekolah.
Usianya? Tak ada yang tahu. Seingatku, pertamakali masuk sekolah, aku sudah melihat Meli menyender dekat daun pintu dan berdiri sendirian saja memandangi anak-anak bermain dengan tatapan menerawang. Entah kelas berapa ia waktu itu. Sekarang aku sekelas dengannya. Kabarnya ia tak bisa membaca, tak juga berhitung.
Kabarnya lagi, orangtuanya sudah pasrah anaknya tak kunjung lulus sekolah dan tetap berusaha menghidupkan harapannya dengan membiarkan ia terus sekolah. Tapi dari apa yang kulihat, Meli selalu melakukan hal sama: masuk kelas, duduk di bangkunya, berdiri di dekat pintu ruang kelas pada jam istirahat, masuk kelas lagi dan pulang.
***
Hari itu aku menabrak Meli. Aku menoleh, ia melihat ke arahku saja tanpa bereaksi. Matanya menerawang dan mulutnya setengah terbuka. Aku melihat air liurnya menggenang di ujung bibir.
“Maaf”, tak sadar aku berbisik. la masih diam saja. Matanya mengarah ke mataku tapi aku tak merasa sedang dipandangi. Aku belum pernah begitu kikuk hingga tak tahu harus bersikap apa. Tiba-tiba mulutnya mengatup dan ia tersenyum padaku! Inilah pertama kalinya aku melihat Meli tersenyum. Aku tahu harus membalas apa, dan bel tanda selesai istirahat berbunyi. Namun itu tak menyelamatkanku dari kebingungan dengan senyum itu.
Aku segera berlari kecil menuju bangku. Saat itulah aku merasa pandangan mata Meli mengikuti terus punggungku. Dan ketika aku berpaling ke arahnya ternyata benar. la sedang menatapku. Mulutnya terkatup.
Hari itu wajah Meli terus menghantuiku. Adakah ia bisa bicara? Aku tak pernah melihat ada yang mengajaknya bicara. la tidak pernah dianggap ada.
Sesudah itu aku terus berpikir: Bagaimana perasaannya? Adakah ia merasakan sesuatu? Apakah ia merasa seperti aku saat tak bisa ikutan ketika teman-teman membicarakan televisi? Mungkin bagi Meli seluruh hidupnya seperti itu?
Tiba-tiba aku merasa ingin mengerti apa yang dirasakannya itu. Muncul rasa ingin tahuku.
Ini adalah pertama kalinya aku merasa begitu ingin tahu akan sesuatu. Rasa ingin tahu ini mendesak-desak hingga tak ada pelajaran yang bisa kutangkap. Di sisa hari itu keinginan untuk menengok ke tempat duduk Meli begitu besar, dan sesekali gagal kutahan. Pertanyaan berhamburan di kepalaku. Di mana ia tinggal? Bagaimana orangtuanya? Dan seterusnya.
Akhirnya aku membuntuti Meli sepulang sekolah. Dari kejauhan kuikuti ia berjalan ke arah perbatasan kampungku dengan hutan. Kemudian sebaris pagar tembok terjelang. Tembok itu sudah terkelupas sana sini. Seingatku inilah satu-satunya rumah berpagar tembok di kampung kami. Biasanya orang membiarkan rumahnya tanpa pagar atau kalaupun berpagar, biasanya pagar bambu setinggi bahuku atau pagar tanaman hidup.
Meli mendekati pintu di pagar tembok itu. Pintu itu tidak istimewa. Seperti pintu biasa, kecil dilapisi seng dicat warna coklat. Aku mengintip dari balik pohon saat Meli membuka pintu kecil itu.
Belum sepenuhnya masuk ke dalam tembok ketika tiba-tiba saja Meli memalingkan wajahnya dan menatap tepat ke arahku. la melihatku. Rasa takutku muncul, mungkin akibat merasa bersalah membuntutinya. Baru saja aku akan berbalik badan untuk lari ketika kudengar seperti orang berbisik dekat sekali di telingaku, “jangan lari!”.
Suara itu terdengar jelas dan terasa sangat dekat hingga menahanku dan membuatku berpaling. Tepat di depan pintu berlapis seng warna coklat itu berdiri Meli dan perempuan yang kuduga ibunya. Akupun mengurungkan niatku berlari. Terlebih ketika kulihat perempuan itu melambaikan tangan ke arahku. la seperti tiba-tiba saja berada di situ. Rasa takutku muncul, tapi rasa ingin tahuku lebih besar. Aku pun mendekat.
“Mari masuk”, kata perempuan yang kuduga ibunya Meli.
Aku melangkah mengikuti mereka menyeberang pintu berlapis seng warna coklat itu. Di dalam, halamannya berumput rapi dengan jalanan berbatu-batu koral. Di sisi kanan kiri berbagai pohon ditanam. Sempat kulihat pohon jeruk dan bunga cempaka membatasi jalan itu. Agak di tengah tampak juga pohon rambutan, kelapa dan pohon jambu air. Melintas halaman, sampailah ke rumah kecil di tengah.
Rumah itu sederhana, tak bisa kukenali keistimewaannya dibandingkan rumah-rumah lain di kampungku. Aku masuk, dan kemudian Meli duduk di depanku. Ibunya kemudian datang membawakan air di dalam gelas dan duduk di samping Meli.
“Silakan minum”.
Teh manis hangat. Enak sekali. Ibu dan anak itu sama-sama memandangiku. “Kamu anaknya Bu Aisah ya”. Ibuku yang guru ngaji memang terkenal di kampung. “Siapa namamu?” Kusebut namaku dan ia mengangguk.
“Syukurlah kamu mau main kemari. Meli tak punya teman. Biasanya dia main sendirian di sini. Panjat-panjat pohon, petik buah-buahan”. Aku diam saja. “Ibu tinggal ya”, katanya lalu berlalu masuk ke dalam.
Mungkin ia ingin menyiapkan makan siang, atau bermaksud supaya kami ngobrol, tapi aku tak tahu apa yang harus kuobrolkan. Meli pun diam dan terus memandangiku dengan mulut setengah menganga.
Kecanggungan itu terputus ketika Meli tiba-tiba berdiri dan memberi isyarat agar aku mengikutinya ke luar rumah. Sampai di luar ia mendekati pokok jambu air yang bercabang membelah dua dan duduk di cabang itu sementara aku berdiri di depannya. Kini wajahnya berubah. Pandangan matanya menajam dan mulutnya mengatup. Punggungnya tegak dan matanya menerawang jauh.
“Kamu bertanya-tanya apa aku bisa ngomong atau tidak.”
Aku kaget. Meli bicara! Ini pertamakalinya kudengar ia bicara. Terlebih lagi, ia seperti mengetahui apa yang kupikirkan. Aku bertanya dalam hati: Apakah ia bisa membaca pikiranku?
“Ya, aku bisa bicara. Dan, ya, aku juga bisa membaca pikiran”.
Jantungku berdegup keras. Aku merasa sedang dihakimi untuk pikiran-pikiranku tentangnya.
”Tenang.” la tersenyum, mungkin berniat menenangkan, tapi malah membuat debar jantungku tambah keras. Lalu ia diam sejenak dan suasana begitu hening. Bahkan suara angin saja seperti tak terdengar.
Tiba-tiba seekor anjing datang menuju ke arah kami. Meli bangkit dari pokok jambu dan mengusap kepala anjing itu. Aku mundur setapak. Di kampungku tak ada orang pelihara anjing.
“Kau kenal anjing ini?” aku menggeleng sambil melihat anjing itu. Anjing kecil, berbulu coklat polos. Kupingnya kecil dan hidungnya hitam tampak lembab.
“Kau pasti pernah mendengar cerita tentang anjing ini.” Aku tak mengerti maksudnya, dan masih diam saja.
Kemudian ia memungut dan menggendong anjing itu sambal menyodorkannya ke arahku. “Lihat baik-baik,” katanya. Aku tak melihat ada yang istimewa dengan anjing itu, dan mundur selangkah.
“Mungkin ini anjing yang tinggal bersama Ashabul Kahfi,” katanya.
Maksudnya? Kenapa ia menyebut Ashabul Kahfi? Apa ia tahu cerita kesukaanku? Dari mana ia tahu!? Degup jantungku begitu keras sampai aku takut Meli bisa mendengarnya.
“Kau tahu sampai sekarang masih ada orang semacam Ashabul Kahfi?” katanya sambil berjalan ke arah pintu berwarna coklat di pagar dinding. Anjing itu masih digendongnya.
“Aku salah satunya”.
Kami tiba di pintu berwarna coklat yang membatasi rumahnya dengan jalanan. Aku sungguh tak tahu harus bicara apa.
“Di balik pintu ini aku berlindung. Di sini aku menyamar menjadi anak perempuan seperti ini. Di kehidupanku yang sesungguhnya, aku dikejar-kejar dan harus bersembunyi. Kalau mereka tahu aku di sini, mereka akan menangkapku dan mungkin membakarku hidup-hidup”.
Seperti Nabi Ibrahim, pikirku, teringat salah satu cerita ibu yang lain.
“Benar. Seperti Nabi lbrahim. Tapi di balik pintu ini aku aman. Aku bisa menjadi seperti apa adanya. Sedangkan di luar, aku harus berlaku seperti anak perempuan seperti yang kamu lihat”.
“Seperti apa?” Ini kalimat pertamaku yang terucap.
la tertawa kecil. “Apa ya?” Ia diam sejenak. “Ya seperti Meli yang kamu lihat sehari-hari”.
Aku diam tak tahu harus menjawab apa.
“Kamu tak percaya?”
Aku menggeleng.
“Tak apa, kamu tidak ada hubungannya dengan ini semua”.
“Kenapa kamu kasih tahu ke aku?”, kuberanikan diri bertanya.
“Tak ada alasan khusus. Mungkin karena kamu senang cerita Ashabul Kahfi”. Darimana ia tahu, pikirku tapi karena ia bisa membaca pikiran, tentu ia tahu.
“Ya aku tahu. Aku membaca pikiranmu.”
“Kau tak takut aku cerita ke orang lain?”
“Tak ada yang akan percaya”.
la benar. Tak akan ada yang percaya.
“Ya, tak akan ada yang percaya. Padahal kalau kau perhatikan aku dari dulu tampak seumur ini dan tidak bertambah tua”.
la benar. Dari pertama kali aku melihatnya ia tidak pernah tampak lebih besar atau lebih tua.
“Nah, mereka yang mengejarku tak ‘kan mengenaliku.”
“Siapa mereka? Tinggal di mana? Apa mereka jahat ke semua orang?”
Meli tertawa. “Tak mungkin kuceritakan padamu. Ceritanya panjang.”
Kemudian kami berjalan kembali ke arah rumah sambil menendangi kerikil di jalan itu. Anjing kecil masih digendongnya, aku mengikuti dari belakang.
“Ayah dan ibumu?”
“Mereka cuma perantara. Buat mereka aku anak perempuan bodoh”.
“Kenapa bisa begitu?”
“Sudahlah. Segala yang tampak ini sesungguhnya tidak seperti yang tampak. Kau tidak akan mengerti”.
Meli menurunkan anjing yang sedari tadi digendongnya sebelum sampai di pintu rumah. Ia sempat berkata: “Sebaiknya tak usah kau ceritakan kepada siapapun; tak ada yang percaya. Jangan-jangan kau malah dianggap sama dengan aku.”
la mengakhirinya dengan senyum, lalu duduk di tempatnya semula.
Kini ia kembali seperti Meli yang biasa. Meli yang selalu berdiri di dekat pintu kelas dan tak pernah dianggap ada. Aku bingung, jantungku masih berdegup keras dan perutku agak tidak enak.
Aku memutuskan untuk pulang. Ibunya tak tampak, maka aku berkata minta dipamitkan saja. la diam saja, kembali bagai Meli yang kukenal di sekolah. Aku sempat ragu, tapi rasa takutku jauh lebih besar sehingga aku menghambur keluar dari rumah itu.
Sepanjang jalan pulang bulu kudukku meremang meskipun hari terang. Aku merasa Meli mengikuti di balik punggungku. Aku tak berani menoleh. Semakin aku mempercepat langkah, semakin terasa dingin tengkukku. Akhirnya aku berlari.
Sampai di rumah dengan terengah-engah, aku langsung masuk kamar. Ibu tak tampak, sukurlah. Mudah-mudahan ia tak bertanya aku habis dari mana. Akan sulit bagiku untuk cerita.
***
Sampai sekarang cerita tentang Meli masih kusimpan sendiri. Nyaris tiga puluh tahun usia peristiwa itu, tak ada yang tahu. Tak ada penjelasan apapun untukku, dan aku tak pernah menceritakannya kepada siapapun. Karena sejak hari itu Meli kembali seperti Meli yang bersandar di dinding dengan mulut setengah terbuka. Aku coba bicara dengannya, tak ada tanggapan. Bahkan ia seperti tak pernah mendengarku ketika aku mencoba bicara dengannya. Aku sama sekali tak berminat cerita ke siapapun di sekolah, apalagi di luar sekolah.
Aku tak pernah lupa cerita ini, meski tak ingin mengingatnya sama sekali.
Tapi ingatan itu datang ketika aku pulang kampung tahun ini. Sejak kuliah dan dapat beasiswa lalu sekolah dan tinggal di luar negeri, aku jarang sekali pulang kampung. Apalagi hubunganku dengan orang tuaku memburuk. Tapi kali ini ayah sakit keras, aku memutuskan untuk pulang dan tinggal lebih lama di kampung.
Sore sudah berubah di rumah. Ayah tak lagi bersenandung. Ibu masih berwudu, meski dengan berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi. Aku disuruhnya berwudu. Aku tak langsung mematuhinya.
Lekar-lekar sudah lama tak ada, mungkin sudah jadi kayu bakar, aku tak tahu. Suara azan terdengar di televisi, tak terlalu kuperhatikan karena aku sibuk dengan telepon genggamku.
Sudah lama sekali anak-anak tak mengaji lagi di rumah ini. Sudah lama mungkin ibu tak cerita tentang Ashabul Kahfi.
Aku teringat Meli, kutanyakan pada ibu, tapi ia tak ingat siapa itu Meli. Besoknya aku bertemu bekas teman sekelasku dulu kutanyakan tentang Meli. Temanku itu hanya ingat samar-samar. Kutanya beberapa teman lain, tak ada yang ingat dengan jelas. Bahkan ada yang merasa tak pernah ada nama itu di kelas dulu.
Keesokan paginya aku memutuskan pergi ke rumah berpagar dinding, berpintu coklat itu. Aku tak tahu apakah rumah itu masih di sana. Ada rasa agak ngeri sebenarnya, tapi mungkin sekarang keadaannya lain jika aku bertemu dengannya. Mungkin akan terjelaskan sesuatu.
Keadaan sudah berubah. Hutan desa dulu sudah berganti rumah-rumah, sekalipun suasana sekitar situ masih terasa agak sepi. Ternyata kulihat pagar rumah itu dan pintu coklatnya masih ada! Meski banyak bangunan lain, rumah itu seperti terkucil sendirian, dan keadaannya tampak sangat tua dan lusuh.
Pagar dinding masih sama hanya sudah tak berwarna putih sama sekali. Catnya sudah mengelupas dan lumut tumbuh disana-sini. Pintu seng tergantung di satu engsel tersisa, dengan cat warna coklat sedikit sekali di satu sudut saja. Setengah terbuka. Saat mendekati pintu itu, aku merasa seperti ada desiran angin. Tapi kusadar itu hanya perasaanku.
Melongok ke dalam pintu, yang kulihat adalah semak-semak rimbun. Selangkah aku masuk, tak tampak pohon-pohon yang dulu pernah kulihat, hanya pokok pohon jambu yang bercabang yang masih ada, tanpa daun. Jalan berkerikil masih terlihat bekasnya. Aku tak berani melangkah lebih jauh.
Kulihat di kejauhan masih berdiri rumah Meli, atau apa yang pernah menjadi rumah Meli. Separuh atapnya sudah roboh, dan daun jendelanya hilang.
Seluruh percakapanku dengan Meli siang itu terngiang-ngiang di ingatanku. Aku tetap tak mengerti apa makna percakapan itu meski sekolahku sudah jauh keluar negeri. Betapa rapuhnya pengertian-pengertian manusia akan kenyataan. Melihat keadaan rumah ini, aku memutuskan kesimpulanku itu cukup, dan berbalik badan.
Aku kemudian melangkah keluar dari pintu berwarna coklat itu. Kubayangkan tatapan Meli melepasku pergi. Apa sebenarnya yang kuhadapi waktu itu? Aku tak tahu, dan pertanyaanku masih menggantung, tiga puluh tahun kemudian.
Ketika kumelangkah menjauh dari pintu, seekor anjing kecil berbulu coklat melintas kemudian masuk melalui pintu itu.
Masih kuingat, dengan sangat yakin, itu adalah anjing yang dulu digendong Meli ketika berbincang denganku siang itu.***




