Jejak “Adaptasi” Karya The Godfather di Indonesia

Seringkali kita menemukan karya yang direstorasi, diremake, ditayangkan ulang dan adaptasi dari novel menjadi film begitu juga sebaliknya. Alih wahana seringkali kita temukan dan rasanya lumrah saja terjadi di industri tontonan. Pada tahun 2020 film The Godfather ditayangkan kembali di Indonesia melalui platform menonton film populer.  

The Godfather sendiri adalah novel karya Mario Puzo yang diadaptasi menjadi film oleh sutradara Francis Ford Coppola, tayang perdana di Amerika pada tahun 1972. Tokoh utama film ini diperankan oleh Marlon Brando dan Al Pacino. Pemutaran awal The Godfather di Indonesia secara pastinya memang tidak diketahui. Namun ada bukti foto yang secara tidak sengaja memotret sebuah bangunan yang memasang spanduk film The Godfather di Bogor pada tahun 1974. Dari foto tersebut kita bisa menduga film ini mungkin diputar di Indonesia sekitar tahun-tahun tersebut, berselang dua tahun setelah tayang di Amerika. Film The Godfather saat itu nampaknya berhasil di pasaran dan memiliki banyak penggemar di Indonesia.  

Merayakan The Godfather 

Kesuksesan dari film The Godfather karya Francis Ford Coppola ini, membuat seorang sutradara Indonesia, Hasmanan, mengambil kesempatan untuk mengadaptasi kembali film tersebut. Proses adaptasi Hasmanan berhasil menyulap kisah keluarga mafia Italia yang tinggal di Amerika tersebut menjadi komedi yang dibintangi oleh pelawak Ateng dan Iskak dengan judul film Ateng The Godfather yang tayang perdana pada tahun 1976. The Godfather versi Hasmanan ini hanya berselang empat tahun dari kemunculan film The Godfather buatan Francis Ford Copppola.

Film Ateng The Godfather secara alur cerita dibuat sederhana. Menceritakan perebutan wilayah antara Don Ateng Singaleon dan suku Kribo. Di tengah ketegangan tersebut Iskak Kreolibo yang diperankan oleh Iskak, jatuh cinta kepada Dona Vivi. Namun kisah cinta Iskak tidak berjalan mulus karena adanya Papai yang menjadi saingan Iskak untuk mendapatkan hati Dona Vivi. Karena masalah itu, terjadi salah paham antara Don Ateng Singaleon dengan Iskak. Iskak dianggap oleh Don Ateng Singaleon membantu suku Kribo yang saat itu sedang berseteru dengannya. Salah paham tersebut sedikit membuat percekcokan antara kelompok Don Ateng Singaleon dan kelompok Kribo. Percekcokan antara dua kelompok tersebut menimbulkan pertempuran kecil yang berakhir dengan Iskak yang dimaafkan oleh Don Ateng Singaleon.  

ateng the godfather cover 678c5ba1c3868
Poster film Ateng The Godfather (Sumber foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Ateng,_The_Godfather)

Meskipun film Ateng The Godfather sepertinya jauh dari sumber asli filmnya, tetapi beberapa ciri khas The Godfather masih ditampilkan dengan cara yang lucu. Misalnya penampilan Ateng yang dibuat mirip Marlon Brando dengan mengenakan jas dan aksesoris suspender atau tali kodok . Kendaraan Ateng sendiri juga bukan mobil sedan tetapi bajaj yang memiliki teknologi canggih. Ateng juga disegani oleh semua anak buahnya sehingga tidak ada yang berani macam-macam dengannya.  

Selain itu, film Ateng The Godfather juga menampilkan kebiasaan umum mayarakat indonesia pada umumnya. Ada adegan di mana Ateng yang sedang berlatih tinju jatuh dan membuat seluruh anak buahnya panik. Di tengah kepanikan tersebut ada percakapan dari anak buah Ateng yang mau membawa Ateng ke dokter atau ke dukun. Percakapan tersebut mau menggambarkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang kerap mencari alternatif dukun meskipun memiliki penampilan bergaya barat. Ateng The Godfather memiliki alur yang tidak terlalu berhubungan antara adegan yang satu dengan yang lainnya kebanyakan malah menjual komedi yang dilakukan oleh Ateng dan Iskak. Sebenarnya tidak mengherankan juga kalau Ateng menjadi daya tarik pada saat itu. Karena popularitas Ateng sebagai komedian memang sedang berada dalam masa puncaknya. 

Selain Hasmanan, kepopuleran The Godfather tidak hanya menjadi film komedi tetapi juga diadaptasi menjadi komik oleh komikus Teguh Santosa.  Adaptasi tersebut menjadi komik berjudul The Godfather 1800 yang juga terbit pada tahun 1976. Dalam mempersiapkan komiknya Teguh menonton film The Godfather sebanyak tiga kali. Harapan Teguh saat itu adalah ada yang ingin memfilmkan komiknya. Dan sempat berandai-andai jika sutradara Teguh Karya mengajaknya bekerja sama membuat film. Teguh Santosa juga melakukan apropriasi dari film The Godfather.

Dengan mengambil ide utama The Godfather tentang Bapa Baptis yang diubah menjadi Bapa Pelindung dan kelompok mafia yang diganti menjadi bajak laut. Selebihnya Teguh meramu cerita The Godfather 1800 sesuai dengan keinginannya. Alur cerita The Godfather 1800 berkisah tentang bajak laut yang kemudian dikaitkan dengan peristiwa sejarah pada masa Hindia Belanda. 

image
Sampul depan The Godfather 1800  (sumber foto : https://komikindonesia.com/komik/the-godfather-1800-ballada-kertalegawa/) 

Ini menjadi upaya Teguh ketika melakukan kontekstualisasi film Hollywood untuk dijadikan lebih dekat dengan masyarakat Indonesia dengan mengambil latar waktu perang di Jawa. Selain itu Komik ini juga membicarakan kemaritiman di Indonesia pada masa kolonial; tema yang sebenarnya jarang diangkat. Dalam penyampaian artistiknya Teguh hanya menggunakan dua panel dalam setiap halamannya dengan kontras gelap terang pencahayaan yang menarik. Penggunaan dua panel pada komik sudah menjadi patokan yang umum pada masa itu.  

Secara garis besar cerita The Godfather 1800 diawali dengan kisah Kertalegawa seorang mayarakat biasa yang melarikan diri dari pasangannya ketika nyawanya terancam. Dalam pelarian, dirinya bekerja serabutan dengan menjadi salah satu kuli panggul di Pelabuhan kapal. Tidak lama Kertalegawa dijual dan menjadi kelasi di salah satu kapal bajak laut yang dipimpin oleh Bapa Pelindung. Penggunaan Bapa Pelindung di sini sepertinya mirip dengan Bapa Baptis yang digunakan dalam film Godfather. Tidak lama perjalanan kapal bajak laut tersebut harus berhadapan dengan kapal dari Portugis.  Tetapi kapal bajak laut milik Bapa Pelindung harus menyerah dan menjadi tawanan dari kapal Portugis.  Nasib Kertalegawa di sini cukup baik karena dia tidak sepenuhnya dikurung seperti anggota bajak laut Bapa Pelindung. Jadi Kertalegawa masih bisa berjalan bebas di kapal Portugis. Kemudian setelah bergulat dengan pikirannya, Kertalegawa memutuskan untuk menolong Bapa Pelindung beserta seluruh anggota kapalnya.  

Karena tindakan yang berani tersebut Kertalegawa diangkat menjadi anak oleh Bapa Pelindung. Hubungan antara Kertalegawa dan Bapa Pelindung menjadi lebih baik. Kemudian Kertalegawa juga mengetahui identitas asli dari Bapa Pelindung. Ternyata Bapa Pelindung adalah Nenggala Pati dan masih ada kerabat dengan Kerajaan yang ada di Jawa. Kekuatan Nenggala pati membuatnya ditakuti dan menjadi salah satu kelompok yang mempunyai jalur menyebarkan candu. Selain itu Neggala pati juga memiliki hubungan dengan kelompok teratai emas sebagai salah satu pemasok terbesar candu dari Cina. Hubungan Nenggala pati dengan teratai emas memiliki intrik politik karena saling ingin menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Keduanya saling berstrategi untuk saling bertahan dengan waspada, karena selain mereka berdua ada kompeni berkuasa yang memiliki kepentingan sendiri untuk menguasai lautan. 

Kedekatan Nenggala pati dengan Kertalegawa membuat Barong Makara, anak dari Nenggala pati tidak terima dan menghabisi ayahnya sendiri. Konflik yang semakin pelik antara Barong Makara dan Kertalegawa membuat pertempuran di antara mereka berdua tidak terelakkan. Meskipun keadaan masih berpihak pada Kertalegawa, upaya menghancurkan Kertalegawa terus dilakukan oleh musuh-musuhnya.

Kisah The Godfather 1800 berlatar di tengah pertempuran perang Diponegoro. Karakter Kertalegawa juga mengalami perubahan. Dari  masyarakat biasa yang merasakan dijajah oleh kompeni, menjadi sosok bajak laut yang ikut  menyelundupkan senjata melawan kompeni. Yang mendukung Diponegoro melawan kolonialisme. Secara garis besar ketika membangun cerita Teguh mencoba membuat kelindan antara petualangan Kertalegawa dengan sejarah masyarakat yang ada di Indonesia. Di sinilah kepiawaian Teguh ditunjukan ketika mengolah latar belakang cerita yang dekat dengan sejarah. 

“Adaptasi” Dengan Rasa Lokal 

 Adaptasi The Godfather yang dilakukan oleh Hasmanan dan Teguh Santosa terlihat seperti hanya mengambil tema besar mafia dari Ford Coppola saja, selebihnya adalah kreatifitas ketika mengembangkan alur cerita. Meskipun seperti itu, kedua karya tersebut tetap bisa dikatakan sebagai adaptasi. Karena adaptasi sendiri tidak selalu saklek seperti karya aslinya. Kita dapat meminjam gagasan ini dari Sarah Maitland penulis buku Cultural Translation yang mengatakan penerjemahan adalah upaya “mengulang” karya orang lain sambil secara bersamaan menciptakan karya orisinalnya sendiri. Maitland juga sepakat dengan steiner mengenai proses translasi sendiri bisa dikatakan sebagai reenactment atau penataan kembali dari suatu karya (hal.114)1. Sehingga suatu karya yang memiliki kaitan dengan karya lain yang menjadi sumbernya seperti translasi, alih wahana atau adaptasi. Pada prosesnya tidak bisa luput dari kreatifitas pelaku yang melakukannya.

Meskipun dari sumber yang sama proses tersebut dapat menghasilkan karya yang berbeda. Di satu sisi karya adaptasi terkadang terlihat seolah mau membonceng karya sumbernya supaya dikenal luas. Sekaligus mendapatkan potensi pemirsa dari karya sumber yang nantinya dapat menjadi calon pemirsa dari karya adaptasi tersebut. Maka ketika ada karya adaptasi yang muncul akan ada anggapan karya adaptasi tersebut dibuat supaya laku di pasaran. Di sisi yang lain karya translasi, alih wahana atau adaptasi bisa juga sebagai respon merayakan suatu karya yang menjadi sumbernya. 

Karya adaptasi The Godfather yang diuraikan di atas, bisa menjadi salah satu perspektif ketika melihat karya-karya lainnya yang mengusung tema adaptasi. Karena tema adaptasi memiliki posisi yang longgar terhimpit di antara merayakan suatu karya besar atau persoalan mengambil pasar yang sudah ada. Tentu kita jangan terburu-buru menyimpulkan. Karena memang bisa saja suatu karya tidak selalu dibuat dengan tujuan mendapatkan pasar, tetapi terkadang kita lupa kalau kita semua sejak awal memang sudah menjadi pasar itu sendiri.

  1. Sarah Maitland, What is Cultural Translation ? (New York : Bloomsbury Academic, 2017) ↩︎

About The Author

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *