“Si Irma karajo dima, Ngku?” (Irma kerja dimana, Angku –panggilan untuk orang yang dituakan di Minangkabau)
“Antahlah, kadang nyo manulis, kadang kalua kota maaja.” (Entahlah, kadang dia menulis, kadang keluar kota mengajar)
Pertanyaan itu acap kali dialamatkan pada Bapakku sekitar enam atau tujuh tahun lalu, ketika aku baru mulai bekerja di sebuah media startup di Jakarta. Bapak mengernyitkan jidat, bingung menjelaskan kenapa anaknya bekerja di media yang tak ia kenal. Usianya sudah lebih dari 60 tahun, ia tak mengerti apa itu media startup. Pun, tak banyak orang di kampungku, Bukittinggi, mengenal Tirto. Mereka mesti mencari di Google entah apa yang dikerjakan oleh media yang hobi betul membikin poster pada waktu itu.
Belakangan aku baru menyadari bahwa kebingungan semacam itu sebenarnya bukan hanya soal pekerjaan. Ia juga soal bagaimana orang membayangkan masa depan yang baik. Dalam kajian sains dan teknologi, bayangan kolektif tentang masa depan seperti ini sering disebut sebagai socio-technical imaginaries—cara masyarakat membayangkan masa depan yang diinginkan, lengkap dengan pekerjaan, teknologi, dan tatanan sosial yang dianggap ideal.
Bagi Bapakku, imaginaries tentang masa depan yang baik sangat sederhana: menjadi dokter. Anak perempuan semestinya kuliah di Padang saja, agar tak jauh-jauh darinya. Pulang ke rumah sebelum waktu maghrib tiba, lalu menjadi dokter dan dinas di rumah sakit umum di Padang. Pekerjaan itu stabil, dihormati, dan jelas jalurnya. Imaginaries seperti ini cukup umum di generasinya. Profesi adalah sesuatu yang dijalani seumur hidup; stabilitas pekerjaan menjadi tanda bahwa hidup berjalan sebagaimana mestinya.
Sayang, anaknya sudah jadi pembangkang sejak dulu, meniru kelakuannya. Merantau adalah satu hal, tapi memilih pekerjaan yang lebih banyak ketidakpastiannya adalah bahan sakit kepala buatnya.
Selain orang-orang di kampung yang bertanya pada Bapak, sepupu-sepupu yang juga merantau di Jakarta juga suka menanyakan, “Jadi kau kerja apa, Dek?” atau “Apa tak mau kau ikut CPNS?” atau lebih lantang lagi, “Kalau bekerja di situ, bagaimana masa depanmu nanti?”
Bagi mereka, sekali melamar pekerjaan, maka kau akan terus berada di pekerjaan tersebut hingga puluhan tahun ke depan. Di pikiran mereka, satu pekerjaan mestinya cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, juga menjamin hari tua. Pekerjaan datang dengan paket komplit: gaji, tunjangan hari raya, tunjangan perjalanan dinas, bonus jika pekerjaan mencapai target, dan bermacam hal lainnya.
Imaginaries mereka tentang kesuksesan juga cukup jelas: bekerja di gedung tinggi di tengah kota Jakarta. Berangkat subuh dari pinggir kota, bermacet-macet ria, lalu menghabiskan waktu berjam-jam di kantor pusat kota. Setelah itu pulang kampung sesekali, memboyong orang tua berkunjung ke ibukota, atau membantu sanak saudara yang baru merantau mencari pekerjaan pertama.
Ini adalah imaginaries khas kelas pekerja urban baru, mobilitas sosial yang ditandai oleh kantor ber-AC, kartu identitas perusahaan, dan tiket pulang kampung setahun sekali. Sayangnya, aku tak pernah bermimpi bekerja di gedung tinggi dan penuh formalitas. Gaya hidup korporat bukanlah buatku.
Bisa dibilang, Tirto adalah pekerjaan formal pertamaku. Jika kalian berpikir bahwa membantu penelitian dosen di kampus dan dibayar dengan makan siang dan upah seadanya bukanlah sebuah pekerjaan formal. Tapi aku melakukan itu selama satu tahun. Kupikir menjadi akademisi bisa memberikan kehidupan normal dan gaji layak, nyatanya panjang betul jalan untuk sampai ke sana. Kau tidak bisa hanya punya pendidikan master—bahkan waktu itu aku masih sarjana mentah. Aturannya, mesti punya gelar doktor terlebih dahulu untuk menjadi dosen tetap.
Hal itu yang akhirnya membuatku mengakhiri saja mimpi jadi akademisi, waktu itu. Lalu memutuskan mengadu nasib di Jakarta, menjadi jurnalis dengan gaji mepet upah minimum daerah dan tinggal di kos-kosan gang sempit tanpa pendingin ruangan.
***
Beberapa tahun kuhabiskan menjadi jurnalis, peneliti, kadang juga mengajar jurnalisme data. Waktu itu mimpiku cuma satu: melanjutkan kuliah, dan berharap kehidupan jauh lebih baik setelah itu.
Di lingkaran pergaulanku, banyak orang seusiaku menggandrungi sekolah S2 dan punya semacam “LPDP Dream”: sekolah ke luar negeri, pulang dengan gelar baru, lalu bekerja di media besar, NGO internasional, atau think-tank mentereng. Jalur itu terasa seperti peta kesuksesan yang hampir tak perlu dipertanyakan bagi kelas menengah. Aku pun punya harapan serupa, atau setidaknya bisa menjadi peneliti di sebuah think-tank.
Nyatanya selepas S2, jalanku terseok-seok. Ada urusan di rumah yang tak bisa ditinggalkan, sehingga aku mesti lekas pulang ke Padang meski belum terlalu lama kembali ke Jakarta. Banyak juga yang mempertanyakan keputusanku untuk pulang, alih-alih melanjutkan peruntungan di Jerman.
Setelah itu aku mencoba melamar berbagai pekerjaan—media internasional, think tank, hingga beberapa NGO yang bekerja di bidang media dan riset. Beberapa lamaran sempat sampai tahap wawancara, tetapi tak berujung ke mana-mana. Yang paling lucu, satu organisasi bahkan terpaksa memangkas anggaran karena keputusan politik di Amerika Serikat. Entah bagaimana, keputusan Donald Trump nun jauh di sana ikut mempengaruhi nasib pekerjaan orang kecil sepertiku di negara Selatan ini.
Puluhan lamaran, surat elektronik, dan surat motivasi yang berkali-kali kuubah bentuknya, tak satu pun yang benar-benar berujung pada pekerjaan tetap seperti yang kubayangkan dulu.
Namun, sebetulnya nasibku tak seburuk itu. Bahkan sebelum aku benar-benar kembali ke Indonesia, ada saja pekerjaan kecil yang datang. Seorang kawan lama yang kini menjadi dosen di Amerika menawariku membantu riset tentang misinformasi di Asia Tenggara untuk sebuah proyek di ISEAS Yusof Ishak Institute di Singapura. Selama hampir satu tahun aku belajar meneliti dengan standar think-tank tersebut, meski statusku hanya sebatas asisten peneliti jarak jauh.
Tentu itu hanya pekerjaan sampingan. Tak cukup untuk kehidupan sehari-hari. Ada lagi suatu kesempatan ketika mengisi webinar tentang data dan pemilu, aku sempat iseng bertanya pada panitia: apakah mereka punya pekerjaan untukku? Gayung bersambut. Ada saja proyek yang mereka tawarkan.
Begitulah dua tahun terakhir kulalui—berpindah dari satu proyek ke proyek lain. Kadang menulis, kadang meneliti, membantu riset orang lain, mengelola acara, atau sekadar menjadi tukang catat dalam sebuah rapat kerja. Istilahnya palugada. Semua itu kulakukan agar tidak kembali ke rumah seperti orang kalah. Kau tahu sisanya: dibicarakan tetangga hingga dinasihati oleh tetua di kampung.
“A lai nan bacari? Untuak a padusi kuliah tinggi-tinggi, beko ndak ado laki nan nio!” (Apa lagi yang dicari? Untuk apa perempuan kuliah tinggi-tinggi, nanti tak ada lelaki yang mau.)
Atau sekalian dinikahkan dengan orang yang tak kau kenal—barangkali pegawai negeri, atau pekerja tambang minyak. Padahal aku sendiri adalah penolak tambang. Tanpa berpanjang lebar, hal-hal semacam itu terlalu menakutkan buatku. Bagaimana jika ia patriarki mentok seperti beberapa angku atau tetua adat yang kukenal, yang percaya bahwa kodrat perempuan paling jauh adalah menyenangkan suami saja, dan nasib paling menyedihkan adalah menjadi gadih gadang indak balaki, perempuan tua tak bersuami.
Tentu tidak semua lelaki Minang zaman sekarang memegang pandangan seperti itu. Meski aku juga tak tahu sejauh apa derajat kebenaran dari asumsi tersebut.
***
Belakangan aku semakin sering memikirkan soal imaginaries tadi. Bapakku punya imaginaries tentang masa depan yang stabil: menjadi dokter. Sepupuku punya imaginaries tentang kesuksesan di ibukota: bekerja di gedung tinggi Jakarta. Aku sendiri tumbuh dengan imaginaries yang lain: sekolah ke luar negeri, lalu pulang dan bekerja di media besar, NGO, atau think-tank yang prestisius.
Namun di tengah ekonomi proyek, pekerjaan informal, dan ekspansi teknologi seperti akal imitasi yang mulai menggantikan banyak pekerjaan kreatif—dari jurnalis hingga ilustrator—imaginaries tentang masa depan itu terasa semakin goyah.
Di Indonesia sendiri, persoalan ini bukan hanya soal teknologi. Pekerja informal sudah lama berada dalam posisi yang rapuh. Sayangnya, diskusi tentang kerentanan itu hanya semakin ramai setelah teknologi mulai menggerus pekerjaan kelas menengah. Maka barangkali wajar jika imaginaries tentang masa depan juga berubah. Menjadi pekerja lepas dulunya terasa seperti kegagalan dari jalur yang kubayangkan. Bukan hanya mencabik-cabik ego, tapi juga menguji daya tahan terhadap kerentanan. Karena yang paling buruk adalah kembali ke rumah seperti orang kalah.
Tapi mungkin LPDP Dream tidaklah sepenting itu. Kerja di think-tank mentereng hanyalah sebuah label. Dan meruntuhkan ego adalah latihan yang patut dicoba oleh setiap orang. Karena sesungguhnya kehidupanku sangat cukup dari pekerjaan-pekerjaan yang banyak itu. Dan buatku, itu adalah satu hal yang patut disyukuri.
Baru kemarin seorang kawan menasihatiku agar tidak terlalu merasa hopeless ketika menjelaskan konsep socio-technical imaginaries. Imaginaries mestinya tidak terbatas pada apa yang terlihat di depan mata. Ia bisa sangat luas dan sangat jauh. Maka agar punya imaginaries yang tidak sempit, banyak-banyaklah belajar, membaca, dan berbicara dengan banyak orang.
Touch some grass, katanya.
Aku juga mengamini itu. Sesungguhnya aku tak pernah bermimpi bahwa kehidupanku dalam dua tahun terakhir justru terasa lebih baik. Lebih baik itu bisa berarti banyak hal: kemampuan menyadari keberuntungan kecil, kemampuan merawat fisik dan psikis, dan kesempatan untuk hadir mengurus Bapakku yang sedang sakit.
Barangkali aku tak punya pekerjaan di think-tank mentereng dan berganti pekerjaan tiap beberapa bulan sekali. Tapi hal itu tak bisa ditukar dengan kesempatan untuk hadir secara penuh buat Bapakku.
Mungkin imaginaries tentang masa depan memang tak pernah sepenuhnya stabil. Setiap generasi membayangkannya dengan cara sendiri, lalu menemukan bahwa dunia bergerak lebih cepat daripada bayangan itu.
Jadi, sejauh apa kita boleh punya future imaginaries di tengah situasi yang tak menentu seperti ini, duhai sobat pekerja rentan Selatan?
***




