Sekarang Kamu Juga Melihatnya

PROGRAM INSENTIF PEGAWAI PENGURUSAN SIPIL

REWARD: Hak Sponsor Koloni

KASUS SELESAI: 2999/3000

KASUS NO. 3000 KINI TERBUKA

BUKA FILE

[Y] [N]

Laras membaca baris-baris itu setiap pagi sebelum ia mulai bekerja. 2.999 kasus selesai. Angka itu berkedip tenang di terminalnya, menampilkan hampir seluruh hidup yang telah ia habiskan di Pohaci.

Pada kasus ke-3000, kantor koloni akan mengeluarkan izin khusus yang sudah ia tunggu bertahun-tahun. Hak untuk membawa satu orang dari Bumi ke Pohaci, dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah koloni, sampai ke kamar tambahan di unitnya.

Laras sudah tahu siapa yang akan ia bawa bahkan sebelum ia menyelesaikan kasus pertamanya.

Menurut kalender Bumi, anaknya seharusnya baru masuk sekolah menengah pertama. Saat ini yang Laras punya hanya ingatan wajah seorang anak kecil, dan setiap kali ia mencoba membayangkannya lebih tua beberapa tahun, selalu ada bagian yang harus ia karang sendiri. Bertahun-tahun adalah waktu yang panjang bagi seorang anak untuk berubah, dan masih terlalu singkat bagi seorang ibu untuk menjelaskan kenapa ia memilih tinggal beberapa tahun cahaya jauhnya.

Kadang Laras bertanya-tanya apakah anaknya masih mengenalinya. Pertanyaan yang lebih buruk selalu datang sesudahnya. Kalau masih, apakah anak itu mau datang?

Ia juga memiliki daftar tempat yang ia simpan untuk ia kunjungi bersama anaknya nanti. Sebuah bukit batu yang harus didaki empat puluh menit untuk mencapai tempat terbaik melihat tiga bulan Pohaci terbit, masing-masing pada jaraknya sendiri dan kecepatannya sendiri. Yang terakhir paling kecil dan paling lambat, selalu tertinggal di belakang dua yang lain, dan selalu mengingatkan Laras pada anaknya.

Laras menyentuh [Y] dan membuka daftar kasus pagi itu.

*

“Itu adalah waktu,” kata suara laki-laki generik keluar dari mesin penerjemah. Laras mengangkat kepala.

Makhluk di seberangnya tinggi dan ramping, kira-kira sebesar tabung oksigen industri yang diberi kaki. Bagian atas tubuhnya menggembung menjadi kubah pucat seperti adonan roti yang dibiarkan terlalu lama. Mata tumbuh mengelilinginya. Beberapa besar dan gelap, cekung seperti sumur, sementara sisanya berupa bintik-bintik kecil yang menangkap cahaya dari berbagai arah. Laras tidak pernah tahu mata mana yang sedang dipakai untuk melihatnya. Empat tungkai panjang menjuntai dari tubuh silindernya dan menahan bobotnya beberapa sentimeter di atas lantai. Tidak ada leher yang bisa menoleh, alis yang bisa terangkat, atau mulut yang bisa mengerut. Bangsa Oselia semuanya bertubuh seperti ini. Tanpa kode di layar, Laras tidak yakin ia dapat membedakannya dari Oselia lain yang datang ke kantor.

Beberapa kali selama wawancara, Laras mendapat kesan bahwa makhluk itu tersinggung, penasaran, atau bosan, lalu sadar beberapa detik kemudian bahwa semua perasaan itu mungkin ia karang sendiri.

“Aku butuh waktu dalam angka,” katanya lagi. Ia mulai mengetik penjelasan yang lebih panjang. Jam mulai kerja harus bisa dibandingkan dengan jam selesai. Durasi pekerjaan harus bisa dihitung. Dua pekerja yang melakukan pekerjaan sama dalam waktu berbeda harus punya catatan yang berbeda. Catatan itu menentukan pembayaran, dan pembayaran yang bisa dihitung akan mengurangi perselisihan. Laras menambahkan dua kalimat lagi karena rasanya masih kurang, lalu menekan kirim. Komputer memprosesnya beberapa detik sebelum kotak penerjemah mengembuskan hasilnya: “Kapan mulai kerja. Angka penting. Ada angka ada harga. Semua untung.”

Laras membaca terjemahan itu tanpa minat. “Yah, itu juga bisa.”

Makhluk itu menjawab dengan satu akor lebar. Tiga aliran udara berubah menjadi empat, lalu menyempit kembali menjadi dua. Tekanannya naik, jatuh, bertemu, berpisah, lalu bertemu lagi. Lampu-lampu pada penerjemah menyala sampai ke baris terakhir, sementara grafik di layar bertumpuk begitu rapat hingga Laras hampir tidak bisa membedakan satu garis dari garis lain. Jawaban itu berlangsung cukup lama. Entah bagaimana, Laras mendapat kesan bahwa sesuatu sedang dijelaskan kepadanya dengan sangat sabar—sesuatu yang bagi makhluk itu mungkin sesederhana menunjukkan arah pintu keluar.

Mesin membutuhkan hampir dua puluh detik untuk memprosesnya.

“Pertanyaan salah. Bulan menguntungkan. Lebih banyak waktu. Harga lebih.”

Laras memandangi hasil itu, lalu makhluk di hadapannya. Sesaat ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain dari apa yang mungkin dimaksud makhluk itu, lalu teringat bahwa penerjemahan adalah urusan Departemen Linguistik. Hari sudah panjang, dan ranjang empuk sudah memanggil punggungnya yang pegal.

Laras berdiri dan menunjuk ke jendela. Di luar, lampu tambang membentuk garis-garis putih di tanah gelap, dan para pekerja bergerak di antara kendaraan pengangkut dalam arus yang tidak pernah benar-benar berhenti. Sebagian baru memulai giliran, sebagian lain sedang berjalan pulang. Laras menunjuk salah satu dari mereka, lalu mengetuk-ngetuk pangkal pergelangan tangannya, tempat jam tangan biasa melingkar. Bahasa tubuh yang seumur hidupnya terasa sederhana.

Makhluk itu menjawab dengan memiringkan tubuhnya perlahan ke bagian atap yang terbuat dari kaca. Satu bulan Pohaci menggantung di sana. Kemudian makhluk itu mengembuskan satu akor pendek. Penerjemah mulai mendengung lagi.

“Bulan rendah menyentuh yang tinggi,” kata kotak penerjemah.

Laras mengangkat tangan, memintanya berhenti.

Ia kembali ke kursinya. Kolom waktu masih kosong. Laras berdiri berkacak pinggang sebentar, mengembuskan napas panjang, lalu mengetik satu kata.

approximate

Matanya beralih, seperti biasa ketika sebuah kasus tersangkut, ke benda di samping terminalnya: sebuah kalender Bumi-Pohaci, model ketinggalan zaman yang hampir tidak pernah lagi disimpan siapa pun di koloni. Laras masih memakainya karena kalender yang lebih modern, betapapun lebih efisien, tidak menyediakan satu hal yang perlu ia lihat setiap hari. Pada model lama ia bisa mencorat-coret sesuka hati, mencoret bulan-bulan, melihat kapan satu tahun benar-benar habis dan tanggal-tanggal mana yang belum diselesaikan.

Kata yang sama sudah muncul di catatannya lebih sering daripada yang bisa ia hitung. Laras menggulir ke atas dan menemukan kata itu di tiga laporan dari para Penyelaras Waktu sebelumnya. Para penyelaras datang dan pergi, dan satu per satu mereka menyerah lalu meninggalkan tanda merah yang sama sebelum meneruskan berkasnya. Ini baru hari pertama Laras, dan tampaknya itu sudah cukup untuk membuatnya paham kenapa.

B9-1 // sync_anomaly // unresolved

Dari riwayat kasus, penduduk lain biasanya mulai memahami waktu standar setelah beberapa sesi. B9-1 sudah melewati berhari-hari tanpa kemajuan berarti. Kolom ‘Catatan & Rekomendasi’-nya penuh dengan saran-saran yang sudah gagal. Salah satu dari mereka bahkan menulis ‘si bebal’ di sana. Laras mengernyit ketika membacanya. Baru hari pertamanya, dan ia sudah mulai paham dari mana julukan itu datang.

Laras sudah bekerja untuk kantor ini beberapa tahun, dan selama itu ia dipindahtugaskan dari satu distrik ke distrik lain. Kedatangannya selalu disambut keluhan pada mulanya, kadang penolakan terang-terangan. Beberapa bulan kemudian lonceng berbunyi, toko-toko membuka pintu pada jam yang sama, dan kapal-kapal barang berangkat sesuai manifes. Hidup menjadi jauh lebih mudah sesudahnya. Kalimat itu muncul di hampir setiap laporan akhirnya.

Sepanjang hari, peristiwa demi peristiwa melewati meja Laras dan ia memberi masing-masing sebuah angka. Seorang bayi lahir di permukiman pesisir; Laras mencatat jamnya, dan umur anak itu mulai berjalan di dalam sistem. Seseorang mati di tambang; ia memberinya cap waktu, dan nama itu berpindah ke arsip kematian. Sebelas ton mineral meninggalkan gudang pukul 1432 dan tiba di pelabuhan pukul 1651, cukup bagi kontrak untuk ditagih dan seseorang untuk dibayar. Seorang anak turun dari kapal dari Bumi masih membawa waktu tempat asalnya di tubuhnya; Laras menyelaraskannya, dan anak itu resmi menjadi penduduk Pohaci.

Sistem itu mengikuti tiap orang seumur hidup, mencatat setiap penanda yang bisa diberi angka: kata pertama yang mereka ucapkan, hari pertama sekolah, tiap peristiwa yang cukup penting untuk ditambatkan ke arsip. Hidup seseorang, di mata kantor, adalah daftar panjang waktu-waktu yang tercatat. Tanpa angka-angka itu, tak ada peristiwa yang benar-benar terjadi; semuanya hanya mengambang dalam suatu momen yang tak terdefinisi.

Di luar jendelanya, permukiman manusia memanjang di sepanjang pesisir dan berhenti di tempat udara menjadi terlalu tipis untuk paru-paru manusia. Semakin ke pedalaman, tanah Pohaci semakin naik, dan tabung oksigen menjadi wajib. Lebih jauh lagi berdiri permukiman Oselia, yang jarang didatangi manusia. Manusia datang ke Pohaci dengan armada. Setelah meriam terakhir ditembakkan, datanglah meja, formulir, nomor registrasi, dan lonceng.

Ayah Laras termasuk yang datang paling awal, ketika koloni masih hanya beberapa baris rumah. Ia pun seorang Penyelaras Waktu. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, ia semakin sering duduk dekat jendela yang menghadap laut dan mengulang pelan sebuah nama yang tak pernah Laras kenali. Laras mengira orang itu tertinggal di Bumi. Ia tidak pernah bertanya, dan ayahnya tidak pernah menjelaskan. Waktu itu Laras mengira ayahnya hanya tua, lelah, dan rindu rumah. Seperti kebanyakan manusia yang sudah terlalu lama tinggal di Pohaci.

Lonceng berbunyi ketika Laras masih memandangi B9-1. Satu nada panjang memenuhi ruangan. Jam menunjukkan pukul 1800. Laras hampir tidak mendengarnya lagi. Setelah bertahun-tahun, bunyi itu telah menjadi semacam detak jantung. Di halaman tambang, para Oselia mulai meninggalkan pekerjaan mereka. Mereka mengangkat kepala, lalu mengangkut peralatan, mengikat muatan, dan bergerak menuju jalan pulang hampir bersamaan. Ia berpaling dari jendela kembali ke B9-1, yang masih berdiri di seberang mejanya, lalu ke berkas di sampingnya. Lebih buruk daripada rasa jengkelnya adalah hitung-hitungannya: makhluk ini berdiri di antara angka 2.999 dan anaknya.

Laras mengetuk-ngetukkan jari di meja. Ia tahu ia akan menyelesaikannya. Ia hanya belum tahu caranya.

“Hari ini cukup,” kata Laras, sambil mengetik di mesin penerjemah. “Besok datang lagi, ya.”

Mesin penerjemah mengeluarkan bunyi-bunyi yang membuat makhluk itu beranjak. Kaki-kaki panjangnya mengurai, dan setiap kali melangkah menjauh, tubuh silindernya bergoyang seperti air yang mengalir ke atas. Lalu, sebelum mencapai pintu, makhluk itu memiringkan tubuhnya sekali lagi ke langit di balik atap kaca. Jeda sebentar. Ia seperti mengatakan sesuatu, tetapi terlalu jauh dari penerjemah.

*

B9-1 datang lagi keesokan harinya. Mereka mencoba pertanyaan yang sama dalam susunan berbeda, memperoleh jawaban yang sama kaburnya, lalu mengulanginya esok hari, dan esoknya lagi, sampai Laras bosan. Ia memutuskan mengganti pendekatan dan mulai bertanya tentang hal-hal yang lebih dekat dengan keseharian, misalnya berapa lama ia bekerja sebelum beristirahat, apa yang ia lakukan setelah bekerja, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak ada urusan langsung dengan jam.

Setelah beberapa hari begini, Laras mulai mengenali bentuk kegagalan komunikasi mereka. Ada pertanyaan yang selalu membuat B9-1 menatap atap kaca. Ada akor tertentu yang membuat mesin berhenti lebih lama. Kadang Laras sudah tahu terjemahannya akan sia-sia bahkan sebelum kata-katanya muncul di layar. Ada hal-hal yang sama sekali tak punya bentuk. Suatu sore B9-1 menahan dua matanya pada noda air di dekat atap sepanjang sesi, menjawab dengan sisa perhatiannya, seperti orang yang terus-terusan melirik ke jendela di tengah percakapan. Laras melihat ke arah yang sama dan tidak menemukan apa-apa. Ia tak pernah tahu itu apa. Noda itu hanya noda biasa.

Pola yang sama terus kembali, dan apa pun yang berulang cukup lama akhirnya memperoleh kenyamanan kecilnya sendiri. Suatu sore Laras mengetuk pangkal lengannya lagi, kali ini karena kesal, hampir sebagai ejekan. B9-1 mengangkat salah satu kaki panjangnya dan mengetuk pangkal kaki yang lain. Letaknya sama sekali tidak dekat dengan tempat manusia mengenakan jam. Laras menatapnya beberapa detik sebelum tertawa. Tawanya pendek dan keluar sebelum ia sempat menahannya, mengejutkan dirinya sendiri. B9-1 diam, lalu mengetuk kakinya sekali lagi. Laras tertawa lebih keras. Sejak hari itu, B9-1 selalu melakukan gerakan itu ketika masuk, dan Laras membalas dengan mengetuk pergelangan tangannya.

Setelah beberapa minggu, Laras mulai bisa mengira-ngira seperti apa karakter B9-1. Ia mengenali kemampuan itu dari dirinya sendiri; Laras pun hidup dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan pada urutan yang hampir sama setiap hari. Tetapi pendekatan barunya ini tidak menghasilkan data yang bisa dimasukkan ke kolom standar laporan. Meski begitu, setiap kali mereka mengobrol, Laras mulai merasa ia tahu apa yang sedang dilakukan makhluk itu.

Berkas B9-1 tetap merah, meski secara administratif Laras sebenarnya sudah punya cukup bahan untuk menutup kasus itu. Ia tinggal mengubah kebiasaan-kebiasaan B9-1 menjadi perkiraan waktu, memberi toleransi beberapa menit dan catatan pengecualian, lalu mengirim hasilnya ke federasi. Dengan cara itu, data-data akan berubah hijau, dan angka 2.999 akan menjadi 3.000. Beberapa penyelaras sebelumnya bahkan sudah menyarankan cara itu, supaya kepala mereka tidak meledak. Tetapi Laras merasa cara itu salah. Memanipulasi data tidak akan membuat makhluk ini paham cara memakai jam. Namun, ia tidak bertanya kepada dirinya sendiri kenapa satu-satunya kasus yang tak ingin ia tutup justru satu-satunya yang membuatnya senang bangun pagi.

Suatu sore, Laras memperhatikan baris B9-1 di bagian atas rekaman percakapan dan menyadari betapa sering ia menuliskannya. Kode itu muncul di setiap laporan dan ada sebagai penanda untuk mempermudah kerja Penyelaras Waktu. Laras mendapati dirinya bertanya-tanya apakah makhluk itu punya nama.

Ia menelusuri kamus penerjemah dan tidak menemukan kategori untuk nama. Kalau Oselia punya nama, kemungkinan besar nama itu pun terbuat dari akor dan embusan angin, sementara mesin hanya berisi daftar kata yang dianggap berguna untuk pekerjaan. Daftar itu penuh dengan jumlah, arah, mineral, berat, utang, harga, untung, dan rugi. Orang-orang yang membangun kamus ini merancang percakapan-percakapan yang mereka anggap perlu, dan selama puluhan tahun mesin itu menjadi sangat pandai melakukan percakapan-percakapan itu.

Pada pertemuan berikutnya Laras bertanya, “Siapa namamu?”

Mesin penerjemah menampilkan transkripsi otomatisnya: Apa kategori kamu?

Laras mengernyitkan dahi, lalu mengeditnya: Siapa nama kamu?

Mesin mengembalikan lagi: Siapa pemilik kamu?

Laras mengeditnya sekali lagi, dan mesin menampilkan: Apa identitas kamu?

Rasanya percuma berdebat dengan mesin itu, dan tampaknya itu pertanyaan paling dekat yang bisa dihasilkannya dari apa yang ia maksud. Laras menekan enter dan kotak itu mengirimnya.

B9-1 tidak langsung menjawab. Ia terdiam, seperti mengumpulkan sesuatu, lalu mengeluarkan akor yang tak pernah Laras dengar sebelumnya. Ia bisa menangkap dengan jelas ruang-ruang di antara akornya, embusan yang berhenti sesaat sebelum disusul embusan lain, seolah sebagian dari jawabannya harus dicari lebih dulu. Sensor menangkap semuanya. Lampu-lampu pada kotak menyala satu per satu hingga penuh, garis-garis memenuhi layar, dan mesin membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk menemukan sesuatu yang bisa disebut kata.

approximate

Laras menatap kata itu lama sekali.

Ia teringat anaknya pada usia tiga tahun, duduk di pangkuannya sementara mereka memainkan permainan menangkap monster. Seekor monster bulat berwarna biru muncul di layar dan sebuah telunjuk kecil langsung teracung ke arahnya. “Payuuu!” Itu kata pertama anaknya yang terucap jelas. Nama monster itu sama sekali tidak berbunyi begitu, tetapi Laras tahu apa yang dimaksud. Kini ia memandangi approximate di layar dan bertanya-tanya kenapa mesin yang jauh lebih canggih justru memilih untuk tidak mencoba.

“Aku Laras,” katanya sambil mengetik.

Jarinya masih di atas papan ketik ketika B9-1 menjawab. Akornya pendek dan datang jauh lebih cepat dari biasanya. Mesin menunggu, lalu tidak menampilkan apa-apa.

Laras memandangi namanya sendiri di layar dan menghapusnya.

“Kamu mengerti yang barusan aku bilang?”

B9-1 terdiam. Kotak penerjemah terus mendengung, garis-garis di layar bergerak mencari pola, berhenti, lalu mencoba lagi. Baru sekarang Laras menyadari betapa janggal kehadiran mesin itu. Ia menekan tombol daya.

Dengungan itu mati.

Dan tiba-tiba yang tersisa hanyalah keheningan yang lembam antara dirinya dan makhluk di seberangnya. Tanpa penerjemah, kenyataan bahwa dua makhluk yang tak sebahasa duduk dalam satu ruangan justru terasa semakin nyata. Laras berusaha menyembunyikan kekikukannya dengan menyiulkan sebuah lagu, jingle iklan pasta gigi yang berulang-ulang ia dengar waktu kecil, satu-satunya nada yang terlintas di kepalanya.

B9-1 menunggu sampai siulan itu selesai, lalu mengembuskan satu akor pendek. Nadanya naik sedikit di ujung dan berhenti di sana. Laras tersenyum dan membalas dengan siulan yang lebih pendek. B9-1 menjawab lagi. Mereka melakukannya beberapa kali, saling melempar bunyi melintasi meja. Laras mulai mengubah iramanya. B9-1 ikut berubah. Kadang jawabannya datang cepat, kadang ia membiarkan jeda cukup panjang sampai Laras mengira permainan itu sudah selesai. Kemudian tiga aliran angin keluar sekaligus dari tubuh B9-1. Mereka naik, saling menyilang, pecah menjadi tekanan-tekanan kecil, lalu berkumpul lagi. Laras merasa ada sesuatu dalam iramanya yang terasa akrab, sesuatu yang membuat bahunya turun dan mulutnya terbuka sebelum ia sempat memikirkan alasannya.

Ia tertawa.

B9-1 mengulang akor itu, kali ini sedikit lebih pendek.

Laras tertawa lagi. Ia tidak tahu apakah B9-1 sedang melucu, apakah pola itu punya makna tertentu, atau apakah ia hanya mendengar apa yang ingin ia dengar. Untuk sesaat Laras tidak merasa perlu memastikan. Saling lempar bunyi itu membuat sesi tersebut berakhir lebih lambat dari biasanya. Ia baru menyadarinya keesokan pagi, ketika tiba di kantor dan layar kerjanya meminta konfirmasi ulang waktu kepulangannya kemarin. Ia begitu menikmati sesi sore itu hingga lupa check out. Sebelum ia sempat membuka catatan pelanggaran kecil itu, sebuah pesan resmi muncul di layar kerjanya.

Prioritas tinggi. Lambang federasi tertera di sudut atas pesan.

Kasus yang menggantung melewati tiga puluh siklus akan otomatis dilimpahkan ke peninjauan federasi. B9-1 sudah memasuki siklus kedua puluh tujuh. Laras membaca pesan itu dua kali. Kemarin ia lupa check out karena terlalu lama bersiul bersama B9-1; pagi ini sistem mengingatkannya bahwa waktu mereka ternyata tidak sebanyak yang ia kira.

Tiga siklus lagi. Kalau ia gagal, kesempatannya membawa anaknya ke sini akan lenyap. Itu juga akan mempertanyakan kompetensinya sebagai Penyelaras Waktu dan mencoreng reputasi perusahaan. Dan yang paling ia takutkan, meski ia belum bersedia menamai ketakutan itu, adalah apa yang akan terjadi pada makhluk itu.

Maka ketika B9-1 masuk pagi itu dan mengetuk kakinya seperti biasa, Laras tidak langsung membalas. Tidak ada humor hari itu. Ia duduk memandanginya sebentar, lalu menyalakan kembali penerjemah.

“Kita sudah di tenggat,” kata Laras. Ia mengetik cepat. “Kalau kamu tidak bisa pakai waktu standar, mereka akan membawamu pergi.”

Makhluk itu mengarahkan matanya ke atap kaca, tempat bulan-bulan mulai memudar. Ia menimbang sejenak, lalu menjawab dengan beberapa akor sederhana yang agak panjang. Mesin menggarapnya, membuang, memampatkan, sampai yang tersisa muat dalam satu baris.

“Ke mana.”

“Aku tidak tahu. Jauh. Dan kamu tidak akan kembali.”

Akor makhluk itu melebar dan meluap saat tiga aliran menyilang. Mesin agak tersendat menangkapnya. Cuma dua kata yang keluar.

“Kembali selalu.”

“Tidak.” Laras mendengar suaranya sendiri mengeras. “Tidak selalu kembali. Kamu tidak akan kembali, kamu mengerti itu? Tidak ada yang akan membawamu kembali.”

“Bulan kembali selalu.”

“Tidak! Pergi itu permanen.”

Makhluk itu memiringkan tubuhnya ke bulan-bulan di balik atap kaca. Dan sesuatu di dalam diri Laras, yang terlalu lama ditahan oleh kesopanan dan profesionalisme, akhirnya meletup.

“Kenapa, sih, kau begini?” kata Laras, terlalu keras. “Aku cuma minta kamu memakai waktu yang sama dengan semua orang di sini. Supaya kamu tetap di sini.”

Laras mengoceh bagaimana ia bertahun-tahun mengumpulkan hal-hal untuk ditunjukkan kepada seseorang yang spesial baginya. Sebuah jalan kecil di belakang kompleks hunian tempat lumut biru menyala setelah hujan. Sebuah kedai yang membuat minuman dari buah lokal, jenis yang kalau diminum meletup-letup kecil di lidah. Bukit itu, dan pendakian empat puluh menitnya, dan tiga bulan yang terbit. Mereka akan berdiri di bukit dan mengangkat tangan, lalu tiga bayangan akan terentang di tanah dari satu tubuh, masing-masing menunjuk ke arah yang berbeda. “Coba kamu bayangkan bagaimana perasaan orang yang menyayangimu, yang menympan rencana-rencana besar untuk kalian lakukan bersama, kalau kamu tiba-tiba hilang!”

Transkripsi otomatis mesin kesulitan mengejar. Baru separuh kalimat Laras yang diterjemahkannya ketika B9-1 memotong.

“Bulan bawa pulang,” kata mesin itu.

“Bulan bawa pulang,” ulang Laras, tertawa sinis.

“Pergi itu rugi. Kembali itu untung.”

“Kamu boleh percaya itu. Tapi tidak di sini,” kata Laras. Ia mengetuk-ngetuk dadanya keras-keras dengan telunjuk, tanpa sengaja menyentuh badge logo federasi di sana. “Di sini, sesuatu hanya pergi sekali, lalu selesai.”

“Selesai itu mahal.”

Laras tertawa pendek. “Iya. Makanya aku sedang mencoba menyelamatkanmu.”

B9-1 memiringkan tubuhnya ke langit lagi.

“Hentikan kebiasaanmu itu,” kata Laras. “Berapa kali pun kau menengadah ke atas sana, itu tidak akan menolongmu.”

Mesin di antara mereka hanya berdengung. Tak ada padanan yang cukup dekat untuk seluruh kalimat itu. Suara Laras menggantung di ruangan, lalu jatuh ke dalam kehampaan.

Makhluk itu terdiam untuk waktu yang lama. Dan Laras, kehabisan tenaga, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menatap makhluk itu dari sela jarinya. Perhatiannya jatuh pada kubah tempat mata-mata kecilnya bertaburan.

Laras melihat makhluk itu bergerak perlahan, dan ketika tubuhnya bergeser di bawah atap kaca, cahaya tiga bulan di atas jatuh bergantian pada bintik-bintik kecil yang tersebar mengelilingi kubah tubuhnya. Laras dulu mengira itu hanya bagian dari anatominya, tonjolan kusam yang terlalu kecil untuk disebut mata, tetapi pagi itu anggapan itu mulai terasa terburu-buru. Satu per satu bintik itu menangkap cahaya dan menahannya, sehingga titik-titik pucat mulai muncul mengitari tubuh makhluk itu. Ada keteraturan dalam cara mereka menyala, meski Laras tak segera bisa menentukan keteraturan macam apa. Sesaat mereka tampak mirip lensa. Sesaat kemudian, kemiripan itu pun terasa keliru. Cahaya yang masuk ke sana tampaknya tidak kembali dengan warna yang sama.

Sesuatu di dalam tubuh Laras tahu ia seharusnya memalingkan wajah. Tetapi ia terlalu lelah untuk mengikuti instingnya, dan cahaya yang jatuh dari bintik-bintik itu begitu lembut hingga matanya bertahan di sana lebih lama dari yang ia maksudkan. Setelah beberapa saat, tepi-tepi ruangan mulai kehilangan ketegasannya. Sudut-sudut dinding meleleh, sambungan-sambungannya kabur, dan benda-benda di luar lingkaran cahaya semakin sulit dipisahkan dari bayangan di belakangnya.

Lalu datang sebuah bunyi pelan yang berulang. Ada gerak berputar di dalamnya, diselingi gesekan-gesekan pendek pada jarak yang sama, seperti sebuah gulungan yang bergerak melewati roda-roda kecil. Laras mendengarkannya tanpa mengalihkan pandangan dari kubah makhluk itu. Cahaya pada mata-mata kecilnya bergeser mengikuti irama; satu meredup ketika yang lain menguat, lalu pola itu berpindah lagi mengitari tubuhnya dalam urutan yang terlalu tetap untuk disebut kebetulan.

Baru ketika sebuah bentuk pucat muncul di dinding, Laras teringat proyektor-proyektor film lama yang pernah ia lihat. Kemiripannya cukup dekat untuk memberinya pegangan. Ada sumber cahaya, ada putaran yang teratur, dan di hadapannya sebuah citra mulai tumbuh yang belum sepenuhnya bisa ia kenali. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan makhluk itu. Di dinding, sebuah bentuk mulai mengambil wujud.

Bentuk pucat itu semakin padat sampai Laras mengenali sepasang tangan tua. Tangan neneknya. Tangan yang dulu menghitung waktu dengan terang tanah, dengan habis Ashar, dengan kokok ayam, dengan surup matahari—cara bicara yang dulu membuat Laras malu ketika teman-temannya datang bermain. Kini tangan itu terangkat di tepi laut Pohaci. Ombak membasahi kaki neneknya, dan tiga bulan menggantung di atasnya pada jarak yang berbeda-beda. Air mata Laras jatuh sebelum ia tahu bagian mana dari pemandangan itu yang membuat dadanya sesak.

Wajah neneknya berubah tanpa urutan. Kerutannya menipis, rambutnya menghitam, punggungnya menegak, lalu tubuh itu kembali rapuh dalam satu pergeseran cahaya. Usia datang dan pergi seperti lapisan-lapisan gambar yang ditumpuk terlalu rapat. Laras melihat nenek yang mengajaknya berjalan-jalan, nenek yang duduk di dapur, nenek yang sudah tak bisa lagi memasukkan benang ke lubang jarum, lalu hari terakhir itu, hari yang selama ini tersimpan paling jauh dalam ingatannya. Kali ini hari itu bergerak ke arahnya. Laras merasakan perubahan itu seperti lantai yang perlahan miring. Ia tahu neneknya sudah mati. Ia ingat ruang depan, kain batik yang menutupi tubuhnya, tangan yang berhenti bergerak, suara-suara yang sengaja direndahkan di luar pintu. Tetapi di dalam kubah cahaya yang membungkusnya, kematian itu terasa seolah belum terjadi. Ia datang bersama tubuh nenek yang usianya terus berubah, mendekat dari suatu tempat yang tak bisa Laras tunjuk sebagai masa lalu atau masa depan.

Baru kali ini sejak hari duka itu, Laras tidak merasa sedang mengingat hari kematian itu. Ia justru merasa sedang menunggu neneknya mati.

Perasaan itu menarik satu kenangan lain. Tiga keping uang di atas meja, padahal seharusnya empat. Laras meraba lantai dan kolong meja, membuka mulut anaknya, lalu membawanya ke dokter, yakin sekeping koin telah tertelan. Bau antiseptik memenuhi ruang periksa. Logam stetoskop berkilat di bawah lampu putih. Dokter tidak menemukan apa-apa. Berbulan-bulan kemudian, ketika sofa digeser, koin itu muncul dari debu beberapa meter dari tempat terakhir Laras melihatnya.

Cahaya di sekelilingnya bergeser lagi, dan Laras berdiri di tepi sebuah jalan yang ia kenali entah dari mana. Aspalnya retak di beberapa tempat. Rumput tumbuh di pinggirannya. Dari kejauhan neneknya berjalan mendekat, masih berada di dalam hari-hari yang bagi Laras sudah lama selesai. Semakin dekat, semakin jelas cara satu bahunya turun ketika berjalan, dan lipatan kain yang berayun di lengannya.

Laras menunggu. Jarak mereka semakin kecil, dan semakin kecil, lalu neneknya melewatinya begitu saja.

Beberapa langkah setelah itu, neneknya tertidur di ranjang, berdiri lagi di dapur, lalu berjalan dengan tubuh yang lebih muda. Rambutnya kembali hitam dan punggungnya menegak. Wajahnya menjadi wajah dari masa ketika Laras bahkan belum lahir. Laras berbalik mengikuti sosok itu dan hampir memanggilnya, tetapi jalan di belakang neneknya penuh oleh hari-hari yang tak pernah Laras lihat dan tak mungkin ia ingat.

Laras tidak tahu apakah neneknya sedang berjalan menjauhinya atau justru mendekatinya.

Cahaya mulai menipis. Tubuh neneknya memudar lebih dulu, lalu jalan, rumput, dan langit di atasnya. Laras keluar dari sana dengan napas pendek-pendek, seperti orang yang baru muncul ke permukaan setelah terlalu lama menyelam. Dengung mesin kembali terdengar. Lantai logam bergetar halus di bawah telapak kakinya. Dari balik dinding datang suara laut Pohaci. Ketika penglihatannya kembali utuh, tangannya masih setengah terangkat, dan kertas di mejanya basah.

Ia memikirkan anaknya. Kerinduan itu datang begitu cepat hingga terasa seolah tubuh kecil itu baru saja turun dari pangkuannya beberapa menit lalu.

Laras teringat satu sore ketika layar permainan menyala di depan mereka, satu tangan menutup tangan yang lain di atas pengendali, tetapi kali ini gambar itu tak mau menetap. Kali ini gambar itu tak mau diam. Tangan-tangan itu terus bertukar tempat, pangkuan itu terus bertukar tempat, dan ia tak bisa membuat sore itu menetap sebagaimana biasanya. Laras memejamkan mata lagi, berusaha menenangkan diri dan mengembalikan segalanya ke urutan yang ia kenal. Ketika ia membukanya lagi, B9-1 masih berdiri di seberang meja, dan salah satu bulan telah bergeser beberapa jari dari tempatnya semula di balik atap kaca.

Hari itu Laras tidak mencoba menyelaraskan apa pun lagi. Ia hanya memandangi berkas B9-1 yang masih merah dan lampu-lampu di area tambang, lalu teringat bahwa semua yang baru saja diperlihatkan makhluk itu tidak akan mengubah apa pun ketika para peninjau datang.

*

Keesokan paginya B9-1 datang pada jam yang sama dan mengetuk pangkal kakinya seperti biasa. Laras membalas dengan mengetuk pergelangan tangannya, lalu membuka berkas kasus. Ia membaca baris-baris merah dari atas ke bawah sampai berhenti pada sebuah catatan yang sudah ada sejak Penyelaras pertama: kematian seorang pekerja Oselia di tambang. Setiap orang sebelum Laras telah meminta angka untuk peristiwa itu. Setiap kali, B9-1 menjawab dengan sesuatu yang tidak jelas. Laras membuka lampiran rekamannya.

Rekaman dari kamera pengawas memperlihatkan seorang Oselia bekerja di dalam terowongan yang basah. Dua tungkainya bergerak di sekitar mesin tambang sementara tubuhnya bertumpu pada dua yang lain, dan cahaya lampu memantul pada bintik-bintik kecil di kubahnya setiap kali ia bergeser. Beberapa saat kemudian terdengar gemuruh rendah. Dinding di belakangnya retak, tanah di bawah salah satu kakinya turun, lalu bagian atas terowongan runtuh dan kamera berguncang hebat. Debu menutup hampir seluruh gambar. Ketika udara mulai jernih, tubuh Oselia itu sudah tidak bergerak, tetapi bintik-bintik kecil di kubahnya masih menangkap cahaya lampu yang terhalang reruntuhan, menyala dan padam setiap kali debu lewat di depan kamera. Laras membiarkan rekaman berjalan beberapa detik lagi sebelum menunjuk angka waktu yang tercetak di bawah gambar.

“Kamu lihat jam di sini?” ujarnya.

“Lihat.”

Laras menggerakkan jarinya dari tubuh di layar ke angka di bawahnya. “Jam berapa?”

B9-1 tidak langsung menjawab. Sebagian matanya tetap menghadap rekaman, sementara yang lain bergerak ke angka yang ditunjuk Laras. Tubuhnya diam cukup lama sampai Laras mendengar kipas kecil di dalam terminal berputar lebih cepat. Kemudian sebuah akor pendek keluar darinya, dan kotak penerjemah memprosesnya tanpa kesulitan.

“1937.”

Laras memandang angka di layar cukup lama. Jawaban B9-1 terekam langsung ke kolom yang disediakan. Ia bahkan menunggu beberapa detik, seolah mesin mungkin akan berubah pikiran. Tidak terjadi apa-apa. Laras menyetujui empat digit itu untuk masuk ke kolom waktu kematian. Tanda merah yang bertahan sejak Penyelaras pertama berubah hijau.

Makhluk itu memiringkan tubuhnya ke kaca.

“Merelakan temanmu pasti terasa berat.”

“1937.”

“Ya, kamu benar. Waktu kejadiannya pukul 1937.”

“1937.”

“Cukup.”

“1937.”

“Cukup!” Laras menggebrak meja. Membentak makhluk di depannya supaya berhenti. Lalu, seolah sadar itu percuma, ia duduk dan berusaha menenangkan diri.

“Maaf,” ketik Laras.

“Maaf itu murah.”

Lonceng shift berbunyi. Tanpa menengadah, B9-1 menjawab dengan satu akor pendek. “0900.”

Laras menatapnya. Satu menit kemudian, angka di layar berubah.

“0901.”

“Ya,” kata Laras. “Sekarang pukul 0901.”

Makhluk itu mengeluarkan akor panjang dan pendek, tujuh kali berturut-turut, dan mesin menerjemahkannya. “Menguntungkan menjadi sepertimu.”

“Kamu membuatku benci pekerjaan ini.”

Jeda. Satu akor pendek. Mesin mengubahnya menjadi empat kata yang akan tinggal di kepala Laras jauh setelah semuanya selesai.

“Sekarang kamu juga melihatnya.”

*

Pada hari terakhir siklus ketiga puluh, berkas B9-1 hijau seluruhnya. Laras menekan tombol untuk menutupnya. Tanda sync_anomaly lenyap, dan di tempatnya muncul kode sipil standar, sama seperti ribuan yang sudah diselaraskan.

*

Beberapa hari setelah berkas B9-1 berubah hijau, terminal di unit Laras berbunyi tepat ketika ia selesai melepas sepatu. Bunyinya pendek dan cerah, nada yang biasa dipakai sistem untuk kabar baik. Laras masih berdiri ketika layar menyala dan angka yang selama bertahun-tahun ia baca setiap pagi muncul di hadapannya:

3000/3000

Hak Sponsor Koloni: AKTIF

Cahaya layar memutihkan ujung jarinya ketika ia menyentuh pemberitahuan itu. Selama beberapa detik, yang ia dengar hanya dengung ventilasi dan debur ombak di luar kompleks. Lalu ia membuka formulirnya.

Isinya terasa akrab. Nama lengkap. Nomor registrasi sipil. Tanggal lahir. Hubungan dengan pemohon. Laras telah mengisi kolom-kolom semacam itu ribuan kali untuk orang lain, dan tangannya bergerak dengan kebiasaan lama, mengetuk kolom pertama bahkan sebelum ia membaca petunjuk di bawahnya. Kursor berkedip setelah tulisan Nama Sponsor. Laras menunggu nama yang selama bertahun-tahun ia kira sudah tersedia di kepalanya. Nama itu tidak muncul.

Ia memejamkan mata. Sebuah sore muncul lebih dulu daripada wajah atau apa pun. Cahaya biru sebuah permainan di layar, tawa yang sangat dekat dengan telinganya, tubuh seorang anak yang hangat di pangkuan, rambut halus menyentuh dagu seseorang. Laras mencoba melihat wajahnya dan gambar itu bergeser. Ia mencoba memanggil namanya dan yang muncul justru tawa. Semakin keras ia berusaha menahan satu bagian, semakin banyak bagian lain yang lepas. Setiap upaya mengingat terasa seperti mencoba menggenggam air.

Laras membuka mata. Kursor masih berkedip di tempat yang sama. Ia merasa sedikit konyol. Semua orang punya catatan. Ia sendiri telah menghabiskan hidupnya memastikan hal itu. Kalau sebuah nama luput dari ingatan, arsip sipil menyimpannya sampai ke hitungan menit. Laras memindahkan formulir sponsor ke separuh layar dan membuka arsip keluarganya di sebelahnya.

Namanya muncul di paling atas. Di bawahnya ada tempat lahir, tanggal lahir, status sipil, izin tinggal, riwayat pekerjaan. Ia membuka cabang hubungan keluarga dan menemukan nama ayahnya, lengkap dengan nomor registrasi lama yang berstatus meninggal. Laras menggulir ke bawah mencari cabang berikutnya. Tidak ada apa-apa. Ia menekan ikon perluasan sekali lagi, mengira panelnya belum termuat. Kolom itu tetap kosong.

Ia mencoba pencarian langsung. Nama keluarganya mengembalikan dirinya dan ayahnya. Filter hubungan anak mengembalikan nol hasil. Laras menghapus filter, memasukkan rentang tahun yang menurut perhitungannya masuk akal, lalu memperlebarnya lima tahun ke kedua arah. Nol lagi. Ia membuka registrasi tanggungan. Kosong. Ketika ia kembali ke arsipnya sendiri, telapak tangannya sudah meninggalkan bekas lembap di meja.

Laras berhenti mencari ke bawah. Kalau anak itu tidak muncul di cabang keluarganya, ia akan mencarinya di tempat lain. Jemarinya menggeser arsip ke tahun-tahun yang lebih tua, melewati penempatan kerja pertama, pendidikan, dan masa remaja, terus mundur ke bagian hidupnya yang hampir tak pernah ia buka.

Pada usia tujuh tahun, ia tiba di Pohaci bersama ayahnya. Nama kapal, nomor kabin, tanggal kedatangan, semuanya masih ada di sana. Bumi muncul satu kali sebagai tempat lahir, dan tidak ada lagi sesudahnya. Setelah hari kedatangannya, sekolah, pemeriksaan kesehatan, dan izin kerja pertamanya semuanya tercatat di Pohaci. Ia mencari keberangkatan ke Bumi dan tidak menemukan satu pun. Ia memperlebar rentang tahun, memeriksa arsip perjalanan, lalu kembali lagi ke garis hidupnya. Tahun-tahun ketika ia seharusnya mengandung, melahirkan, dan meninggalkan seorang anak sudah terisi oleh kehidupan lain, kehidupan yang ia kenali sebagai miliknya sendiri.

Laras menggulir lebih jauh ke masa kecil. Sistem menyimpan hal-hal yang terasa ganjil justru karena begitu remeh dibanding puluhan tahun yang datang sesudahnya: hari pertama sekolah, vaksinasi pertama di koloni, tinggi badan sebelum pindah ke Pohaci. Di antaranya ada beragam entri pendek apa saja yang sudah terjadi pada dirinya selama di Bumi. Di bawahnya bahkan tersimpan pindaian gambar rumah berkaki empat yang ia buat di sekolah dasar, lengkap dengan tanggal dan nomor arsipnya. Ujung jari Laras berhenti di layar. Sesaat ia hanya memandangi daftar yang aneh dan spesifik itu, seolah seseorang telah berdiri di sampingnya sepanjang masa kecilnya dengan papan catatan di tangan.

Sore itu kembali dengan suara lebih dulu. Musik permainan yang tipis dan berulang, bunyi kecil ketika seekor monster muncul di layar, tawa seseorang tepat di belakang kepalanya. Lalu datang warna biru dari layar dan bau kaus yang lama dipakai. Laras melihat dua tangan di atas pengendali, yang satu lebih besar dari yang lain. Selama bertahun-tahun ia melihat kenangan itu dari tempat tangan yang lebih besar berada. Sekarang pandangannya turun beberapa puluh sentimeter. Jari-jari kecil itu bergerak ketika ia mencoba menunjuk monster di layar. Dada seseorang menopang punggungnya. Sebuah dagu menyentuh rambutnya ketika suara tiga tahun keluar dari mulutnya sendiri.

“Payuuu.”

Ayahnya tertawa.

Kenangan lain mulai bergerak. Cahaya putih ruang periksa, bau antiseptik, logam stetoskop yang dingin di dadanya. Selama ini Laras mengingat dirinya membuka mulut seorang anak untuk mencari koin. Sekarang yang ia rasakan adalah ibu jari besar menekan pipinya dan suara ayahnya memintanya membuka mulut lebih lebar. Beberapa bulan kemudian mereka menggeser sofa bersama dan menemukan koin itu terbenam dalam debu. Kenangan tentang bukit pun berubah tempat. Ada tangan yang lebih besar menggenggam tangannya ketika mereka mendaki. Ada suara ayahnya di belakang, menyuruhnya pelan-pelan di batu yang licin.

Ia telah membangun sebuah masa depan utuh dari anak itu. Mereka berdua berjalan berdampingan, menonton film yang sama, menertawakan lelucon yang sama, pulang membawa makanan yang terlalu banyak, usia mereka sudah cukup dekat sehingga bisa disangka bukan ibu dan anak.

Laras teringat ayahnya pada tahun-tahun terakhir, duduk dekat jendela dengan bahu yang mengendur dan tubuh yang semakin kurus, memandangi laut ketika cahaya Pohaci meredup menjadi kelabu.

Formulir sponsor masih terbuka di sisi lain layar. Kursor pada kolom nama terus berkedip dengan sabar. Laras kembali ke sana dan meletakkan kedua tangannya di papan ketik. Jarinya terasa dingin. Jarinya bergerak sebelum ia selesai memikirkan apa yang hendak ia tulis. Kata yang sama muncul lagi.

approximate

Bingkai kolom itu langsung berubah merah. Terminal mengeluarkan bunyi pendek yang sudah ribuan kali Laras dengar dari meja kerjanya.

NAMA TIDAK VALID

Laras membaca pesan itu, lalu menghapus huruf-hurufnya satu per satu. Setelah huruf terakhir hilang, kursor kembali berkedip di ruang kosong yang sama. Ia tidak mengetik apa pun lagi malam itu. Formulir itu tetap tersimpan sebagai draf, dan minggu-minggu berikutnya tulisan Hak Sponsor Koloni: AKTIF masih muncul setiap kali ia membuka terminal. Laras tidak pernah menekan kirim.

Pekerjaan terus berjalan. Setiap pagi ada berkas baru, lalu Oselia lain duduk bergantian di seberangnya. Kantor tetap menganggapnya Penyelaras Waktu terbaik di distrik itu. Berkas B9-1 bahkan dikirim ke pusat sebagai contoh penanganan kasus sulit. Laras sudah tidak bisa lagi mengenali B9-1. Kadang, ketika berpapasan dengan seekor Oselia di koridor, ia mengetuk pergelangan tangannya, berharap makhluk itu mengerti dan membalas dengan mengetuk kakinya. Ia ingin bertanya apa yang telah terjadi pada dirinya, pada ingatan-ingatannya. Itu tidak pernah terjadi.

Pada malam hari, Laras sering berdiri di jendela unitnya dengan dahi hampir menyentuh kaca yang dingin. Laut di bawah permukiman berbau asin setiap kali ventilasi membuka saluran udara luar, dan jauh di balik tanggul, mesin-mesin tambang berdengung sampai suaranya berbaur dengan ombak. Tiga bulan bergerak di atas air, masing-masing di jalurnya sendiri. Kadang, ketika matanya lelah, sebuah tubuh kecil muncul sesaat di antara pantulan pada kaca. Ia menyebut nama seseorang yang sangat ia rindukan. Seseorang yang, di suatu tempat dalam waktu, sedang berbahagia.***

About The Author

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *