Berbagi Suami (Nia Dinata, 2006) dikenang oleh banyak sebagai karya yang “berani” karena membicarakan poligami, tema yang kerap jadi arena perdebatan. Namun dalam ingatan kolektif, Berbagi Suami sering pula direduksi menjadi film tentang praktik poligami dengan nada yang sensasional: tentang pro dan kontra, tentang moralitas, tentang apakah film ini membela atau justru mengkritik praktik tersebut. Dalam pembacaan retrospektif, penyederhanaan semacam itu rasanya justru mengabaikan hal lebih besar dicapai Nia Dinata melalui film ini.
Pada Mei 2026 silam, Nia mengumumkan telah memulai syuting untuk stand alone sequel yang diberi tajuk Berbagi Suami 2.0. Mengutip dari catatan produksi resminya, proyek ini tidak dimaksudkan sebagai kelanjutan langsung dari film sebelumnya, melainkan “interpretasi baru yang merefleksikan dinamika keluarga dan ketimpangan relasi di era modern.” Digawangi oleh ensemble cast Morgan Oey, Jihane Almira, Tara Basro, Aming, Rory Asyari, Ayushita, Ersa Mayori, hingga Atiqah Hasiholan, Berbagi Suami 2.0 diproyeksikan untuk tayang pada 2027.
Menonton ulang Berbagi Suami dua dekade setelah peredaran pertamanya ternyata masih memunculkan penyadaran-penyadaran baru yang mencerahkan. Yang membuat Berbagi Suami masih terasa segar sampai hari ini, melampaui dari sekadar “keberaniannya” membicarakan poligami. Alih-alih menjadikan poligami sebagai perdebatan moral yang harus dimenangkan salah satu pihak, film ini memanfaatkannya sebagai pintu masuk guna melihat bagaimana kehidupan perempuan saling terhubung, saling memengaruhi, dan sering kali saling menopang dalam struktur patriarki yang sama.
Dengan kata lain, Berbagi Suami adalah film tentang pengalaman kolektif perempuan.
Mempekerjakan format multiplot yang terdiri dari tiga cerita berbeda yang saling beririsan, Nia menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dalam poligami tidak pernah berdiri sendiri. Dengan latar sosioekonomi dan sosiokultural yang berbeda di tiap segmennya, Nia mengurai peliknya perempuan-perempuan yang hidupnya tersentuh poligami.
Muncul dua gagasan yang terasa paling menonjol ketika film ini ditonton kembali hari ini. Pertama, bagaimana Berbagi Suami menangkap dimensi ekonomi dari poligami secara jauh lebih kompleks dibandingkan sebagian besar diskusi publik yang mengitarinya. Dan kedua, bagaimana kondisi-kondisi tersebut membuka ruang bagi terbentuknya solidaritas antarperempuan.
Politik Subjektivitas Kolektif
Sebagai rilisan pertengahan 2000-an, Berbagi Suami lahir di periode krusial dalam sejarah sinema Indonesia. Reformasi membuka ruang bagi kemunculan film-film independen yang mengangkat tema-tema yang sebelumnya dianggap sensitif atau bahkan tabu: seksualitas, identitas gender, etnisitas, hingga posisi perempuan dalam masyarakat. Pada saat banyak sineas masih berusaha menemukan bentuk baru bagi sinema Indonesia pasca-Orde Baru, Nia Dinata muncul sebagai salah satu figur yang paling konsisten mendobrak batas representasi.
Melalui rumah produksi Kalyana Shira, Nia tak hanya membuat film-filmnya sendiri, tetapi juga membantu membuka jalan bagi pembuat film generasi baru. Keterlibatannya dalam produksi karya-karya Sekar Ayu Asmara, Joko Anwar, dan Lucky Kuswandi menunjukkan komitmen Nia yang luas terhadap keberagaman perspektif dalam sinema Indonesia. Dalam Ca-Bau-Kan (2002) ia mengangkat pengalaman perempuan Tionghoa Indonesia, sedangkan Arisan! (2003) memperkenalkan karakter gay ke arus utama perfilman nasional.
Dalam How Do We Look?, Fatimah Tobing Rony mencatat bahwa kamera Nia bergerak melampaui dikotomi subjek dan objek yang selama ini mewarnai representasi perempuan Indonesia. Nia tidak tertarik menjadikan perempuan sebagai objek pandang yang eksotis ataupun simbol moral yang statis. Sebaliknya, ia menghadirkan berbagai bentuk subjektivitas yang saling bertaut, sering kali dalam konfigurasi yang tidak nyaman dan sulit disederhanakan.
Di level naratif, hal ini jelas kentara dalam Berbagi Suami. Sebagai konsekuensi atas format multiplot, film ini memiliki protagonis jamak. Pilihan ini bukanlah strategi naratif semata, tapi juga mengandung pernyataan politik tentang bagaimana pengalaman perempuan tidak pernah tunggal. Tidak ada satu pengalaman yang dapat mewakili semuanya. Yang ada adalah jejaring pengalaman yang saling berhubungan.
Patricia White menyebut pendekatan semacam ini sebagai networked subjectivity—subjektivitas individu yang terbentuk melalui relasinya dengan orang lain. Dalam konteks Berbagi Suami, pengalaman satu perempuan selalu terhubung dengan pengalaman perempuan lain. Keputusan satu perempuan berdampak pada kehidupan perempuan lainnya. Luka yang dialami seseorang beresonansi pada perempuan lain. Dengan kata lain, “aku” selalu hadir dalam relasinya dengan “kita”.
Konsep ini menjadi penting ketika membaca Berbagi Suami. Film ini tidak meminta penonton memilih satu tokoh untuk didukung dan tokoh lain untuk disalahkan. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat bagaimana perempuan-perempuan yang hidup dalam sistem poligami sesungguhnya berbagi beban yang sama, meski dengan kadar dan bentuk yang berbeda.

Solidaritas Antarperempuan
Dalam sinema populer Indonesia, khususnya film-film drama bernuansa religius yang subur bermunculan pasca kesuksesan Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008), relasi antara dua atau lebih perempuan yang berbagi pria yang sama hampir selalu dibingkai sebagai arena kompetisi. Narasi tentang pria yang mendua—atau meniga—seringkali diposisikan sebagai ujian moral, bukan hanya bagi sang suami, tetapi terutama bagi para perempuannya. Kamera dan skenario dengan setia mengikuti kecemburuan, pengorbanan, dan adu kesabaran antaristri, seolah-olah relasi perempuan-perempuan inilah pusat konflik, sementara figur lelaki dibiarkan relatif utuh sebagai subjek yang diuji, bukan dipertanyakan secara struktural.
Dalam kerangka semacam itu, perempuan kerap ditempatkan sebagai oposisi satu sama lain: istri pertama versus istri kedua, istri “sah” versus perempuan “lain”, yang lebih ikhlas versus yang lebih emosional. Berbagi Suami menentang semua konvensi ini. Meski tidak meniadakan kecemburuan, amarah, dan rasa dikhianati, film ini secara konsisten membuka kemungkinan lain—bahwa bahkan dalam situasi yang paling sarat konflik karena pria menjadi poros relasi, masih ada celah bagi empati dan solidaritas antarperempuan untuk tumbuh.
Salma (Jajang C. Noer) adalah karakter yang mencontohkan bagaimana solidaritas ini bekerja dalam bentuk yang tidak selalu heroik. Dalam segmen pertama, Salma digambarkan sebagai istri pertama yang “membiarkan” suaminya berpoligami. Batinnya memang terluka saat pertama kali mengetahui pengkhianatan tersebut, namun ia memilih bertahan dan, dalam level tertentu, menerima kehadiran istri-istri lain suaminya. Dalam rentang sepuluh tahun linimasa subplotnya, Salma menjalani trajektori kehidupan yang kerap diasosiasikan dengan perempuan muslim konservatif Indonesia—yang secara visual, ditandai dengan hijab yang mulai ia kenakan saat menginjak usia yang lebih tua. Memang, valid saja membaca perjalanan ini sebagai justifikasi atas penerimaannya terhadap praktik poligami. Namun interpretasi semacam itu terasa terlalu simplistik.
Coba tengok adegan ketika Salma tampil sebagai narasumber dalam sebuah talkshow mengenai poligami. Ia mengucapkan berbagai pernyataan normatif tentang keikhlasan dan keadilan suami. Di level dialog, ia terdengar seperti representasi ideal dari istri yang menerima poligami. Namun performa Jajang memunculkan lapisan lain. Cara Salma berbicara, ekspresinya yang terkontrol, serta bahasa tubuhnya yang nyaris mekanis mengesankan bahwa ia sedang memainkan sebuah peran. Ia mengatakan apa yang “seharusnya” pantas untuk dikatakan dan didengar audiens luas yang, diasumsikan, memegang nilai-nilai heteronormatif. Ia menjalankan fungsi sosial yang diharapkan darinya sebagai seorang tokoh masyarakat. Keikhlasan yang dipertontonkan Salma, dalam konteks ini terasa lebih sebagai strategi bertahan dibandingkan keyakinan ideologis.
Menariknya, dalam menjalankan peran tersebut, Salma juga menunjukkan simpati terhadap istri-istri lain suaminya. Ia menanyakan keberadaan Indri (Nungki Kusumastuti) dengan ramah melalui anaknya, memperlakukan anak-anak dari pernikahan lain dengan perhatian yang hangat. Gestur-gestur kecil ini barangkali tidak spektakuler, namun justru di sanalah solidaritas itu bekerja—dalam bentuk yang sehari-hari dan kerap luput dari pembacaan politik yang mencari perlawanan frontal.
Dimensi solidaritas antarperempuan ini juga disentuh dalam segmen ketiga, yang berpusat pada Ming (Dominique), perempuan muda yang diperistri oleh majikannya, Koh Abun (Tio Pakusadewo), seorang penjual bebek goreng terkenal yang menjalankan bisnisnya bersama istrinya, Cik Linda (Ira Maya Sopha). Berbeda dari dua segmen sebelumnya, relasi kuasa dalam cerita ini berlapis: Ming bukan hanya istri kedua, tetapi juga buruh dan perempuan muda yang posisinya secara struktural jauh lebih rentan dibanding Cik Linda.
Awalnya, Ming dan Koh Abun merahasiakan status pernikahan mereka, menunggu “waktu yang tepat” untuk memberitahukannya pada Cik Linda. Namun rencana itu kandas ketika rahasia tersebut terlanjur terbongkar. Cik Linda melabrak Ming di apartemen barunya—ruang domestik yang seharusnya menjadi simbol kenaikan status Ming setelah diperistri Koh Abun. Amarah Cik Linda meledak, diarahkan pada tubuh Ming sebagai pihak yang paling mudah dijangkau untuk disalahkan.
Namun adegan ini mengambil belokan yang tak terduga. Di tengah keributan, Ming tiba-tiba pingsan. Dalam sekejap, dinamika emosi di ruangan itu berubah. Alih-alih melanjutkan kemarahannya, Cik Linda justru panik dan berusaha membangunkan Ming. “Anak orang ini!” serunya, dengan nada yang lebih mencerminkan kecemasan ketimbang amarah. Dialog yang diucapkan sekilas ini menandai pergeseran cara pandang: Ming tidak lagi semata dilihat sebagai “perempuan lain” atau ancaman terhadap rumah tangganya, melainkan sebagai anak dari seseorang—subjek yang layak dilindungi.
Momen ini merangkum etika solidaritas yang menjadi ciri khas Berbagi Suami. Dalam situasi yang sarat konflik karena pria sebagai “bahan rebutan”, film ini tetap membuka ruang bagi empati. Apa yang ditampilkan Cik Linda sebagian besar memang dapat dibaca sebagai ekspresi sifat maternal, mengingat usia Ming yang tak jauh dari usia anak-anaknya sendiri. Adegan ini menunjukkan bagaimana identitas sebagai perempuan dan sebagai ibu dapat, dalam momen tertentu, melampaui kecemburuan sebagai istri.
Solidaritas muncul bukan karena absennya konflik, melainkan justru karena pengakuan akan kerentanan bersama. Dalam segmen Ming, subjektivitas tidak bekerja secara individual. Fokusnya bukan pada siapa yang paling tersakiti, melainkan pada bagaimana luka satu perempuan memantul dan memengaruhi perempuan lain. Lagi-lagi, “aku” selalu beroperasi dalam kerangka “kita”.

Ekonomi Poligami
Jika solidaritas menjadi salah satu cara film ini memperlihatkan pengalaman kolektif perempuan, maka ekonomi adalah cara lainnya. Hal lain yang begitu membekas ketika menonton ulang Berbagi Suami hari ini adalah betapa kuatnya dimensi ekonomi mengambang di permukaan ketiga plotnya. Betul, poligami adalah tema utamanya. Tapi, yang dibagi oleh para tokohnya bukan hanya seorang suami. Mereka juga berbagi ruang hidup, sumber daya, perhatian, waktu, bahkan kesempatan untuk merasa aman.
Tema ini sudah disinggung sejak segmen pertama. Seiring berjalannya cerita, keputusan Salma untuk “ikhlas” tidak semata-mata berangkat dari kepatuhan ideologis atau religius. Tanpa ia sangka, Salma justru bersimpati pada istri-istri muda suaminya, yang ia sadari berada dalam posisi yang lebih rentan darinya. Salma paham bahwa dalam struktur poligami, hampir tidak ada perempuan yang benar-benar diuntungkan, setidaknya dari sisi emosional. Hal itu kemudian menuntunnya pada penyadaran bahwa: hanya karena ia merasakan luka akibat dipoligami, bukan berarti istri muda suaminya otomatis mendapatkan kebahagiaan.
Dalam ruang publik, diskusi tentang poligami sering kali berputar pada satu pertanyaan normatif: apakah sang suami mampu berlaku adil? Pertanyaan ini mengedepankan fakta bahwa “keadilan” selalu dimediasi oleh kondisi material. Oleh karenanya, laki-laki dari kelas ekonomi bawah seringkali sudah dieliminasi terlebih dulu sejak awal. Mereka dianggap otomatis tidak layak berpoligami karena tidak memiliki cukup materi untuk dibagi. Seolah, praktik tersebut hanya “layak” untuk kelas menengah ke atas yang memiliki cukup sumber daya untuk didistribusikan.
Berbagi Suami menemukan celah penting dalam diskusi ini. Film ini menunjukkan bahwa persoalan poligami tidak berhenti pada urusan moral, melainkan juga merupakan persoalan ekonomi yang sangat konkret. Ia mengungkapkan kompleksitas dan kedalaman isu poligami justru ketika dipraktikkan dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.
Gagasan ini dieksplorasi melalui segmen kedua yang berpusat pada Siti (Shanty), Pak Lik (Lukman Sardi), Sri (Ria Irawan), dan Dwi (Rieke Diah Pitaloka). Siti adalah perempuan lugu dari desa yang dibawa ke Jakarta dan kemudian dinikahi sebagai istri ketiga oleh Pak Lik, seorang sopir serabutan. Bersama dua istri sebelumnya, setengah lusin anak, dan dua bayi yang tinggal menunggu untuk dilahirkan, mereka hidup berdesakan dalam sebuah rumah kontrakan.
Menariknya, Nia menandai kisah Siti secara visual berbeda dari dua segmen lainnya. Jika kisah Salma dan Ming didominasi palet warna yang relatif netral dan cenderung kebiruan, kehidupan Siti dipotret melalui lensa dengan nuansa kuning. Pilihan estetika ini memang berisiko terjebak pada konvensi visual yang mengasosiasikan warna hangat dengan kemiskinan, tetapi pada saat yang sama ia menegaskan bahwa segmen ini beroperasi dalam kondisi material yang berbeda. Di semesta segmen ke dua, persoalan ekonomi bukanlah perkara yang tersiratkan; ia jelas dan nyata, terpampang buktinya di setiap sudut rumah, dan mendikte tata laku dan keleluasaan gerak penghuninya.
Di segmen ini pula, paling gamblang ditampilkan bagaimana poligami merupakan pengalaman badaniah. Ruang hidup, makanan, dan perhatian harus dibagi secara harfiah. Bahkan tubuh perempuan pun menjadi sumber daya yang terus-menerus dinegosiasikan. Dalam rumah yang penuh sesak dan miskin privasi, seksualitas kehilangan dimensi romantisnya dan berubah menjadi bagian dari mekanisme reproduksi rumah tangga.
Dalam pembacaan ini, Siti dapat dipahami sebagai figur yang menolak menerima begitu saja “fitrah” yang dilekatkan kepadanya. Menjadi istri—dalam logika patriarki yang melingkupi kehidupannya—berarti menjadi pemenuh kebutuhan biologis suami sekaligus penghasil keturunan, seperti yang dicontohkan karakter Dwi dan Sri. Namun tubuh Siti terus-menerus menunjukkan resistensi terhadap peran tersebut.
Resistensi ini menjadi semakin menarik ketika film mulai menyugestikan kemungkinan hasrat yang bergerak ke arah lain. Sebelum menerima pinangan Pak Lik, Siti mengaku bahwa ia “nggak tahu apa-apa urusan laki-laki.” Dialog itu memunculkan lapisan makna yang baru ketika ditempatkan berdampingan dengan kedekatannya dengan Dwi. Perlahan-lahan, Dwi hadir sebagai figur yang membangkitkan kesadaran baru dalam diri Siti—sebuah kemungkinan untuk membayangkan kehidupan yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh tatanan heteronormatif yang mengurungnya.
Pembacaan queer atas relasi mereka menjadi menarik bukan saja karena film secara eksplisit menghadirkan hubungan romantis antarperempuan, melainkan karena ia membuka ruang imajinasi alternatif di tengah situasi yang seolah serba mentok. Dalam kehidupan Siti, heteroseksualitas hadir dalam bentuk yang paling keras: poligami, kewajiban reproduksi, dan kemiskinan. Maka kedekatannya dengan Dwi terasa seperti kemungkinan lain yang menawarkan kehidupan yang relatif lebih nyaman ditinggali; lembut, aman, dan yang paling penting, terasa natural baginya.
Menariknya, kemungkinan tersebut juga berkelindan dengan solidaritas antarperempuan yang menjadi salah satu tema utama film ini. Saat Pak Lik mengutarakan niatnya untuk menikahi Siti, penolakan awal yang muncul bukan didasarkan pada ketidaksukaan terhadap Pak Lik. Sebaliknya, Siti mengatakan bahwa ia tidak ingin menyakiti perasaan “bulik-bulik”-nya, Sri dan Dwi, yang selama ini begitu baik kepadanya. Yang pertama kali ia pikirkan adalah perasaan dua perempuan tersebut, bukan perasaan Pak Lik, bahkan bukan pula perasaannya sendiri. Dalam konteks film yang berbicara tentang perempuan-perempuan yang berbagi lelaki yang sama, respons ini terasa signifikan. Sebelum menjadi istri ketiga, Siti terlebih dahulu melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas perempuan yang saling merawat.

Karena itu, bukan kebetulan apabila momen paling hangat dalam segmen ini justru tidak melibatkan Pak Lik sama sekali. Salah satu momen kunci untuk memahami dinamika hubungan dalam segmen ini, adalah ketika Siti dan Dwi bermain meniup gelembung sabun bersama anak-anak yang mereka rawat. Nia memotret momen tersebut dengan kelembutan yang nyaris kontras dengan kesumpekan rumah tangga yang mengelilinginya. Di tengah kemiskinan, keterbatasan ruang, dan beban kerja perawatan yang harus mereka tanggung, kebahagiaan justru hadir dalam relasi antarperempuan.
Menariknya lagi, meskipun secara ekonomi Siti dan Dwi merupakan karakter yang paling rentan dibanding para protagonis dalam dua segmen lainnya, kisah merekalah yang berakhir dengan semburat harapan paling jelas. Harapan tersebut tidak datang dari laki-laki, tidak pula dari janji kehidupan rumah tangga yang lebih baik dalam definisi tradisional, melainkan dari kemungkinan afeksi dan solidaritas yang terbangun di antara mereka.
Dalam film Indonesia yang lebih mutakhir, fenomena ini mengingatkan pada Before, Now & Then (Kamila Andini, 2022), ketika Nana (Happy Salma) membangun relasi afektif yang bermuatan erotik dengan Ino (Laura Basuki), perempuan yang menjadi selingkuhan suaminya. Dalam kedua film ini, cinta suami yang dibagi tidak semata-mata berujung pada antagonisme antartokoh perempuan. Justru pengkhianatan yang secara konvensional dianggap sebagai pemicu permusuhan menjadi pintu masuk bagi pengenalan diri, kedekatan emosional, dan empati yang lebih dalam.
Pada titik ini, pembahasan tentang ekonomi dan solidaritas sesungguhnya bertemu. Keduanya berangkat dari premis yang sama: bahwa kehidupan perempuan dalam Berbagi Suami selalu bersifat relasional. Yang mereka bagi tak cuma seorang suami. Mereka berbagi ruang, berbagi risiko, dan sering kali berbagi penderitaan. Poligami, layaknya yang kerap dijumpai di sekeliling kita, ada bukan sebagai pilihan individual semata, melainkan sebagai sistem sosial yang menghasilkan konsekuensi kolektif. Ketika satu perempuan masuk ke dalam sistem tersebut, seluruh keseimbangan rumah tangga ikut berubah. Pengalaman mereka tidak dapat dipahami secara terpisah.***




