Beberapa bulan terakhir saya sering berjalan sebagai pemandu program walking tour di Kampung Laweyan, Surakarta. Sebuah kegiatan berjalan kaki dan menelusuri cerita di balik kampung tua Laweyan yang telah berusia 480 tahun sejak Ki Ageng Henis, leluhur raja-raja Mataram Islam menetap di sana pada tahun 1546. Di tempat ini, rumah-rumah besar peninggalan saudagar batik masih berdiri dengan dinding tinggi dan gerbang kokoh. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Seolah sejarah masih tinggal di sana.
Namun semakin lama saya keluar masuk rumah-rumah ini, ada pertanyaan yang makin sulit diabaikan: jika rumah-rumah ini masih ada, ke mana perginya kehidupan yang dulu mengisinya? Kenapa saya—keturunan keempat dari kakek buyut saya yang berasal dari Laweyan—merasa begitu berjarak dengan rumah-rumah tua ini?
Pertanyaan itu barangkali tidak hanya berlaku untuk Laweyan. Ia muncul di banyak tempat di dunia yang sejak awal dibentuk oleh perpindahan manusia. Orang berpindah untuk berdagang, bermigrasi, merantau, berperang, atau membangun kehidupan baru. Namun pada saat yang sama, manusia juga selalu berusaha menciptakan sesuatu yang dapat bertahan lebih lama daripada perpindahan itu sendiri: rumah, keluarga, komunitas, dan ingatan bersama.
Di Laweyan, rumah-rumah besar peninggalan saudagar batik masih menyimpan jejak kemakmuran masa lalu melalui arsitekturnya: halaman luas, ruang tamu besar, lorong-lorong panjang, serta tata ruang yang dahulu menopang ritme kerja keluarga batik. Rumah-rumah ini tidak pernah berdiri sendiri. Biasanya rumah juragan batik terhubung dengan pabrik batik, gudang penyimpanan kain dan lilin, serta rumah-rumah para pekerja di sekitarnya. Secara keseluruhan, rumah-rumah tersebut membentuk sebuah ekosistem kehidupan. Di sana aktivitas produksi, relasi keluarga, jaringan perdagangan, dan kehidupan sosial sehari-hari berlangsung dalam ruang yang saling terhubung.
Jejak fisik dari dunia itu masih dapat ditemukan hingga hari ini. Namun kehidupan yang dahulu menghidupinya telah banyak berubah. Sebagian kehidupan domestik dalam rumah berubah fungsi menjadi showroom, galeri, hotel, atau kafe. Sebagian lain masih berfungsi sebagai rumah tinggal, tetapi telah berganti kepemilikan dan dipugar menjadi bangunan yang terlepas dari sejarahnya sendiri. Ruang-ruang ini perlahan bertransformasi menjadi objek pelestarian sekaligus konsumsi budaya — sesuatu yang dirawat, dikunjungi, dan dipasarkan sebagai bagian dari masa lalu.
Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut fungsi bangunan, tetapi juga cara rumah diwariskan dan dipahami. Bagi sebagian generasi penerus, rumah-rumah besar itu tidak selalu hadir sebagai ruang hidup yang ingin dipertahankan, melainkan sebagai aset ekonomi, beban perawatan, atau simbol masa lalu yang semakin sulit dihidupkan kembali. Ritme produksi keluarga, jaringan dagang, serta pola hidup yang dahulu menopang rumah-rumah saudagar tidak lagi bekerja dalam bentuk yang sama.

Karena itu, yang hilang sesungguhnya bukan rumahnya. Dinding, gerbang, dan atapnya masih dapat dipertahankan. Yang perlahan menghilang adalah jaringan relasi yang dahulu membuat ruang-ruang tersebut terasa hidup. Orang masih dapat mengenali fasadnya dan menikmati atmosfer nostalgianya, tetapi semakin sulit membayangkan bagaimana keluarga, pekerja, tetangga, dan aktivitas ekonomi pernah saling bertaut membentuk kehidupan sehari-hari di dalamnya.
Dalam arti tertentu, rumah-rumah tua Laweyan memperlihatkan sebuah paradoks. Bangunan dapat bertahan jauh lebih lama daripada dunia sosial yang pernah menghidupinya. Sejarah tidak sepenuhnya lenyap, tetapi berubah bentuk. Ia hadir sebagai jejak visual yang dapat dilihat, dipotret, dan diceritakan kembali, sementara pengalaman hidup yang dahulu membuat seseorang merasa tertanam di sana semakin sulit diwariskan.
Mungkin karena itu pertanyaan tentang rumah terus muncul dalam berbagai bentuk. Rumah tidak semata berarti bangunan atau lokasi geografis. Ia juga merupakan hubungan: antara tubuh dan rutinitas, memori dan bahasa, individu dan komunitas yang memberinya rasa keberlanjutan. Ketika hubungan-hubungan itu berubah atau terputus, seseorang dapat merasa asing bahkan di tempat kelahirannya sendiri.
Perubahan itu tidak hanya terjadi pada ruang fisik. Dalam beberapa dekade terakhir, sebagian pengalaman sosial yang dahulu berlangsung di lingkungan sekitar rumah mulai berpindah ke ruang digital. Internet muncul sebagai ruang baru untuk membangun keterhubungan. Forum daring, blog pribadi, hingga komunitas digital memungkinkan banyak orang menemukan bentuk pengakuan yang gagal mereka peroleh dari lingkungan fisiknya.

Bagi mereka yang merasa terasing dalam keluarga, kota, atau komunitasnya sendiri, ruang digital menyediakan kesempatan untuk bertemu orang-orang dengan pengalaman, minat, atau keresahan yang serupa. Kehadiran sosial mulai bergeser: seseorang dapat merasa lebih dipahami oleh komunitas virtual yang tersebar di berbagai tempat dibandingkan oleh lingkungan tempat ia tinggal.
Jika internet pada awalnya mempertemukan manusia dengan manusia lain, hari ini perkembangan kecerdasan buatan membawa pengalaman tersebut ke arah yang berbeda. Sekarang banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam berbicara dengan sistem yang bukan manusia. Mereka meminta saran, membicarakan pekerjaan, menceritakan kesedihan, bahkan mengungkapkan hal-hal yang tidak pernah mereka ceritakan kepada keluarga atau teman dekat. Fenomena ini sering dibaca sebagai kemajuan teknologi atau gejala krisis relasi sosial. Namun dibalik keduanya tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa besar kebutuhan manusia untuk merasa didengar dan dikenali?
Jika rumah adalah tempat seseorang merasa kehadirannya diakui, maka teknologi mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap sangat manusiawi. Ia tidak menggantikan rumah dalam pengertian tradisional, tetapi menawarkan sebagian fungsi yang dahulu ditemukan dalam keluarga, komunitas, atau persahabatan. Pengalaman ditemani, didengarkan, dan diingat kini dapat muncul melalui hubungan dengan sistem non-manusia.
Namun jika rumah dipahami sebagai jaringan kehidupan yang menopang seseorang, maka internet dan teknologi hanya mampu menggantikan sebagian kecil dari fungsi tersebut. Ia dapat menawarkan pengakuan dan percakapan, tetapi tidak selalu mampu menghadirkan seluruh relasi sosial yang membuat seseorang merasa sungguh tertanam dalam dunia.
Meski demikian, bentuk keterhubungan baru ini tetap memiliki konsekuensinya sendiri. Keintiman yang ditawarkan teknologi berlangsung di dalam infrastruktur yang dibangun oleh logika data, kapital, dan pengelolaan perhatian. Ia dapat memberikan rasa kedekatan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan manusia untuk merasa dikenali kini semakin dapat dipelajari, diproduksi, dan dikelola secara teknologis. Teknologi mampu menawarkan percakapan dan pengakuan. Namun pertanyaan yang lebih sulit tetap terbuka: dapatkah ia menghadirkan sesuatu yang dulu tumbuh di rumah-rumah seperti Laweyan — rasa menjadi bagian dari kehidupan yang lebih besar daripada diri sendiri?
Namun persoalan rumah menjadi jauh lebih konkret ketika yang dipertaruhkan bukan hanya rasa keterhubungan, melainkan ruang hidup itu sendiri. Jika di Laweyan saya melihat rumah-rumah yang masih berdiri sementara dunia sosial yang pernah menghidupinya perlahan memudar, di tempat lain pertanyaannya justru dimulai dari ancaman hilangnya rumah secara fisik.

Saya teringat sebuah adegan dalam film dokumenter Pesta Babi. Dalam salah satu momen paling monumental, masyarakat adat menancapkan sekitar 1.800 salib merah di wilayah yang mereka klaim sebagai tanah dan hutan adat mereka ketika deforestasi besar-besaran terjadi di papua bagian selatan. Dari kejauhan, salib-salib itu memenuhi lanskap seperti penanda kuburan. Namun yang sedang dipertaruhkan bukan kematian individu, melainkan kemungkinan hilangnya sebuah dunia kehidupan.
Bagi masyarakat yang hidup dari dan bersama tanahnya, rumah tidak berhenti pada bangunan tempat tinggal. Rumah hadir dalam hutan yang menyediakan makanan, sungai yang menghubungkan desa-desa, jalur-jalur yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta ingatan kolektif yang tertanam pada lanskap itu sendiri. Ketika ruang hidup tersebut terancam hilang, yang dipertaruhkan bukan hanya kepemilikan atas sebidang tanah, melainkan keberlangsungan hubungan yang selama ini membuat sebuah komunitas merasa berada di rumah.
Dalam konteks itu, 1.800 salib merah tersebut dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan keberadaan sebuah rumah yang lebih luas daripada pengertian rumah pada umumnya. Ia bukan sekadar tanda klaim teritorial, tetapi juga pernyataan bahwa sebuah komunitas masih ingin mempertahankan hubungan dengan ruang, sejarah, dan cara hidup yang membentuk mereka.
Ekspansi industri ekstraktif dan pembabatan hutan yang terjadi di Papua tidak hanya berarti bergantinya sumber daya alam atau perubahan lanskap ekonomi, melainkan penghilangan paksa hubungan antara manusia, tanah, leluhur, pengetahuan, dan cara hidup yang selama ini membentuk orientasi mereka terhadap dunia. Hutan bukan sekadar lingkungan fisik yang dapat diganti melalui kompensasi material; ia merupakan bagian dari keberlanjutan identitas, ingatan kolektif, dan cara suatu komunitas memahami keberadaannya sendiri.
Pengalaman di Papua menunjukkan bahwa rumah tidak pernah hanya soal bangunan atau alamat. Ia adalah jaringan hubungan yang mengikat manusia pada tanah, leluhur, bahasa, pekerjaan, dan cara hidup yang diwariskan. Karena itu, ketika hutan adat dibabat atau ruang hidup dirampas, yang hilang bukan sekadar lanskap fisik, melainkan kemampuan sebuah komunitas untuk mempertahankan keberlanjutan hidupnya sendiri. Dalam situasi seperti itu, kehilangan rumah bukan lagi metafora tentang keterasingan, melainkan pengalaman konkret tentang terputusnya dunia yang selama ini menopang mereka.
Di titik ini, terlihat bahwa tidak semua perpindahan lahir dari pilihan. Kita sering merayakan mobilitas sebagai simbol kebebasan, fleksibilitas, dan kemajuan. Namun ada perpindahan yang terjadi karena ekspansi kekuasaan, eksploitasi lingkungan, ketimpangan ekonomi, atau penggusuran struktural. Kehilangan rumah bukan pengalaman romantik seorang pengembara, melainkan pengalaman ketercabutan yang konkret, politis, dan menyakitkan.

Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa rumah tidak pernah hanya soal tempat tinggal. Ia adalah simpul tempat berbagai hubungan bertemu: manusia dengan keluarga, komunitas, pekerjaan, bahasa, sejarah, dan lingkungan yang menopang kehidupannya. Karena itu kehilangan rumah tidak selalu berarti kehilangan bangunan. Seseorang dapat tetap tinggal di rumah yang sama, tetapi merasa asing terhadap dunia yang dahulu menghidupinya. Sebaliknya, seseorang dapat berpindah jauh dari tempat kelahirannya dan tetap membawa rasa rumah melalui hubungan-hubungan yang berhasil ia pertahankan.
Meski demikian, mobilitas sendiri bukan sesuatu yang harus ditolak. Sejarah manusia justru dibentuk oleh perpindahan: perdagangan, diaspora, urbanisasi, perantauan, hingga internet lahir dari kemampuan manusia bergerak melintasi ruang. Bahkan banyak kampung tua yang hari ini dipahami sebagai simbol tradisi sesungguhnya terbentuk melalui sejarah migrasi yang panjang. Tidak ada kebudayaan yang sepenuhnya statis.
Barangkali karena itu persoalan rumah pada akhirnya bukan persoalan menetap atau berpindah. Ia muncul ketika saya berjalan di antara rumah-rumah tua Laweyan. Ia muncul ketika orang mencari komunitas di internet atau berbicara dengan sistem yang bukan manusia. Ia juga muncul ketika masyarakat adat berusaha mempertahankan hutan yang selama ini menjadi ruang hidup mereka. Dalam semua situasi tersebut, yang sedang dipertaruhkan sesungguhnya bukan sekadar tempat, melainkan keberlanjutan hubungan yang membuat seseorang merasa menjadi bagian dari dunia.
Rumah, dalam pengertian ini, bukan lawan dari migrasi. Ia adalah cara manusia menjaga orientasinya di tengah dunia yang terus berubah. Ia dapat dipasarkan, disimulasikan, dirampas, dipindahkan, atau dibangun ulang dalam bentuk yang sama sekali baru. Justru karena itu, rumah mungkin bukan sesuatu yang benar-benar selesai dimiliki. Ia lebih menyerupai usaha terus-menerus manusia untuk menjaga agar perpindahan tidak sepenuhnya berubah menjadi ketercabutan.***





Terimakasih mas Bani atas ulasannya, saya jadi tau tentang history kampung laweyan lewat tulisan karya panjenengan