Perempuan, Kursi Roda dan Gotong Royong di Tengah Banjir Rob

*Peringatan pemicu: tulisan ini dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman: penggambaran kesulitan hidup. 

Semasa hidupnya, Turiah menghabiskan hampir seharian waktunya di rumah panggung orang tuanya. Rumah panggung itu pengap dan gerah, karena lantainya terus menerus ditinggikan, berlomba dengan banjir rob yang meninggi setiap tahunnya. Kamar Turiah menghadap langsung ke jalan utama desa dengan jendela besar untuk sirkulasi udara. Jendela yang besar itu, membuatnya bisa berinteraksi dan menyapa tetangga yang lewat. 

Di dalam kamar, terdapat televisi kecil dan tumpukan sembako yang ia jual, mulai dari gula, mie, dan tepung. “Warung kecil-kecilan mbak, biar ada kegiatan, tapi gak nentu kok, seadanya,” kata Turiah sembari menunjukan dagangannya kepada saya. Turiah tidak bisa berpindah tempat tanpa bantuan orang lain. Bukan karena tidak mau, namun tidak ada cara baginya untuk dapat bergerak mandiri. Televisi dan kegiatan melayani pembeli baginya adalah penghiburan.

Tepat di depan jendela kamar Turiah, terdapat ember besar berisi air yang ia gunakan untuk keperluan mencuci di area teras. Sekali lagi, jendela besar memungkinkannya untuk meraih ember dan melakukan kegiatan bersih-bersih. Meski demikian, setelah ibunya meninggal, Turiah masih bergantung pada ayahnya untuk mengurus seluruh keperluan dirinya saat makan, mandi, mengganti pakaian, buang air, menstruasi, hingga menyelamatkannya ketika banjir rob datang. 

Kursi Roda

“Kursi roda rusak, karatan, kena banjir. Kursi roda gak bisa dipakai, jadi dijual. Soalnya gak bisa jalan karena kursi rodanya berkarat. Jalanan juga banjir. Susah kemana-mana. Harus diangkat sama orang” (Turiah, Agustus, 2024)

Dukuh Timbulsloko, tempat tinggal Turiah, berada di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kecamatan Sayung dilintasi oleh proyek Jalan Tol Semarang-Demak yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN). Kecamatan Sayung memiliki luas sekitar 85,97 km² atau sekitar 11% dari total wilayah Kabupaten Demak. Sementara itu, Desa Timbulsloko sendiri mencakup sekitar 461 hektar atau 5,85% dari wilayah kecamatan tersebut, yang terbagi ke dalam empat dukuh, salah satunya Timbulsloko. 

Secara historis, Dukuh Timbulsloko dikenal sebagai wilayah yang subur dan makmur, gemah ripah ijo royo-royo, dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Namun dalam dua dekade terakhir, wilayah ini mengalami perubahan lanskap dan fungsi lahan. Air laut meninggi secara bertahap, membuat sawah di Timbulsloko berubah menjadi tambak, dan kini tenggelam. Perubahan ini memaksa sebagian warga untuk berpindah, sebagian lainnya memilih bertahan dan beradaptasi. Turiah dan keluarganya adalah salah satu dari sedikit warga yang memilih untuk tetap bertahan di tengah banjir rob. 

Banjir rob yang menenggelamkan Dukuh Timbulsloko, disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari kenaikan muka air laut, hilangnya ekosistem mangrove di pesisir, dan pembangunan ekstraktif di pesisir utara Jawa Tengah. Pembangunan ekstraktif ini di antaranya adalah reklamasi, pembangunan jalan tol Program Strategis Nasional (PSN), dan ekspansi kawasan industri yang mengeksploitasi air tanah dan membuang limbah ke perairan sekitar. Menurut pengakuan warga yang tinggal di sekitar kawasan industri, kualitas air dan udara mereka semakin memburuk. Ini memengaruhi usaha perikanan mereka.   

Model pembangunan ekstraktif ini tidak bisa dilepaskan dari konteks ekonomi politik. Dalam sepuluh tahun terakhir, terdapat tren relokasi pabrik industri padat karya dari wilayah Jabodetabek ke wilayah Jawa Tengah untuk menekan biaya produksi. Wilayah Jawa Tengah dipilih karena Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang lebih rendah dibandingkan dengan Jabodetabek. Sementara itu, jalan tol dibangun sebagai infrastruktur pendukung. Digadang-gadang sebagai tanggul laut dan dapat menyelesaikan masalah kemacetan, jalan tol tersebut justru terdampak banjir rob.  

Di balik “kemegahan” pembangunan dan janji “kesejahteraan” itu, warga Timbulsloko justru menghadapi realitas pahit: tenggelam dalam banjir rob. Turiah, perempuan muda disabilitas, harus terus-menerus berada di dalam rumah, tanpa akses terhadap kebutuhan dasar dan pekerjaan yang layak. Turiah sudah lupa kapan terakhir kali ia menggunakan kursi rodanya. Banjir membuat kursi rodanya karatan. Meski diberi kursi roda baru, ia tidak bisa menggunakannya karena jalan tidak ada lagi. 

dcim100mediadji 0076.jpg
Rob telah merendam dukuh Timbulsloko (foto: Wean Guspa Upadhi, 2025)

Gotong Royong 

Gotong royong adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana warga bertahan dengan banjir rob yakni: saling membantu; kerja kolektif; berbagi beban; warga jaga warga. Di depan jalan masuk di Dukuh Timbulsloko, terdapat kotak biru bertuliskan “Sumbangan/Kotak Amal”. Uang yang terkumpul digunakan untuk kebutuhan warga, mulai dari membangun jembatan, meninggikan makam, merenovasi masjid, mengisi air bersih di toilet umum, mengurus orang sakit, dan lainnya. 

Selain dari kotak amal dan sumbangan, warga juga mendapatkan bantuan dari donasi dan program dari berbagai pihak lain, misalnya NGO, mahasiswa, universitas, dan komunitas. Beberapa bantuan tersebut diantaranya, lampu jalan, rumah apung, sistem pengelolaan air bersih, dan toilet umum. Bantuan-bantuan ini meringankan beban warga untuk beradaptasi. Meski demikian, warga tetap berharap ruang hidup mereka bisa kembali pulih, bukan dengan program relokasi pemerintah, tetapi dengan pemulihan ekosistem pesisir yang rusak. 

Gotong royong memungkinkan warga untuk tetap bertahan hingga kini. Salah satu warga mengatakan, setelah air banjir rob datang 5 tahun yang lalu, Dukuh Timbulsloko seperti kampung mati. Tidak ada kegiatan dan interaksi sosial antar warga karena hilangnya jalan utama. Kini dengan adanya jembatan, warga bisa saling berinteraksi dan berkegiatan bersama dengan segala keterbatasan yang ada. 

Kini beberapa warga bisa berinteraksi kembali, namun tidak dengan Turiah. Kesepian tetap bersamanya. 

“Saya sudah tidak pernah keluar rumah sejak 7 tahun yang lalu [2017]. Pemandangannya ya ini ya, iya gini aja. Orang-orang lewat. Sepi. Orang-orang ini sudah pada pindah, saudara saudara, adik-adiknya bapak saya udah pada pindah” (Turiah, Agustus, 2024)

Tak hanya perasaan sepi, Turiah juga harus menghadapi perasaan takut, khawatir, dan tidak nyaman secara sekaligus. Di tahun 2019 ia mengalami kecelakaan yang membuatnya menjadi disabilitas daksa, yang membuatnya bergantung pada orang lain ketika sakit. Setelah banjir rob datang, kesulitannya untuk mengakses layanan kesehatan semakin berlipat. Ia harus menunggu tenaga kesehatan datang ke rumahnya, sementara di saat yang sama ia pun merasa takut untuk keluar desa dengan perahu. 

“Dulu, sebelum air naik, diantar naik motor kalau sakit, itu juga susah mbak. Sekarang, [kalau sakit] manggil bidan desa, nanti ke sini, dikasih obat. Alhamdulillah paling kalau saya sakit beli obat di apotik, gak pernah keluar-keluar sini. Takut saya naik perahu mbak, takut mbak” (Turiah, Agustus, 2024)

Perasaan takut ini semakin meningkat ketika angin kencang datang dan banjir semakin tinggi. Pondasi rumahnya yang semakin keropos dan lantai kayu beradu dengan air banjir. Angin menerpa langsung tanpa halangan dari pohon-pohon yang kini tiada. Ini semua membuat Turiah terjaga setiap malam. 

“Kalau angin kencang, rasanya kayak di atas kapal goyang-goyang. Kalau air tinggi, saya takut. Jadi suka liatin air di bawah [melihat air dari sela lantai kayu]. Ya mesti nunggu ada yang angkat kalau banjir. Bapak udah tua, ya minta bantuan orang lain” (Turiah, Agustus, 2024)

Turiah sangat mengandalkan praktik gotong royong warga. Mulai dari sekadar membeli barang jualannya, mengantarkan Bidan untuk sampai ke rumahnya, hingga membantunya untuk mengevakuasi diri saat banjir.  

“Makanan kesukaan saya bakso mbak, tapi gak ada yang jual bakso di sini. Jalannya gini kok [banjir], gak ada yang mau datang ke sini,” tutup Turiah dalam percakapan terakhirnya dengan saya. 

Turiah telah berpulang. Ia diantar oleh warga dengan perahu ke tempat peristirahatannya yang terakhir, di tanah yang basah, di makam yang tenggelam. Warga kembali menunjukkan solidaritas, hanya itu yang tersisa untuk bertahan: gotong royong, #wargabantuwarga. 

Tubuh Perempuan Disabilitas dalam Krisis

Banjir rob yang dialami warga Dukuh Timbulsloko, dan desa-desa pesisir lainnya di Demak, bukan semata-mata bencana “alamiah” yang datang begitu saja. Kenaikan muka air laut, perubahan iklim global, abrasi pesisir, eksploitasi air tanah, reklamasi, hilangnya ekosistem mangrove, pembangunan kawasan industri, hingga proyek infrastruktur skala besar.

Kombinasi berbagai faktor tersebut menyebabkan penurunan muka tanah, melemahnya daya dukung ekosistem, dan tenggelamnya desa-desa pesisir. Karenanya, banjir rob tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan air laut yang (tiba-tiba) naik, melainkan sebagai hasil dari krisis ekologis berkepanjangan dan model pembangunan yang tidak berkeadilan. 

Dalam satu dekade terakhir, tren banjir di Indonesia terus meningkat secara signifikan. Data BNPB menunjukkan bahwa jumlah kejadian banjir meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 824 kasus pada tahun 2016 menjadi 2.104 kasus pada tahun 2025 (BNPB, 2026). Demak dan wilayah pesisir utara Jawa seperti Jakarta Utara, Pekalongan, Semarang, Indramayu, dan Subang menjadi kawasan yang paling rentan dan terus mengalami banjir rob secara kronis.

Di banyak tempat, termasuk Demak, banjir rob bukan lagi peristiwa musiman (saat air laut mengalami pasang tertinggi, sering kali dipicu oleh siklus bulan purnama atau bulan baru), melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Dalam situasi krisis yang berlangsung perlahan namun terus memburuk ini, kelompok-kelompok (ter)marjinal(kan) mengalami dampak yang jauh lebih berat dibandingkan dengan yang lain, sebagaimana Turiah.

Meski demikian, program penanggulangan bencana dan adaptasi iklim sering kali dimaknai, didesain, dan dilakukan tanpa melibatkan kelompok yang paling merasakan dampaknya: perempuan, lansia, disabilitas, masyarakat adat, minoritas gender dan seksual, dan kelompok lainnya yang terpinggirkan karena kelas, ras, agama, etnisitas, status ekonomi (dan jenis ketimpangan lainnya!).

Dalam kebijakan adaptasi iklim di Indonesia, misalnya, pengalaman, suara, dan praktik gotong royong kelompok-kelompok tersebut tidak terakomodasi dan diberi ruang. Identitas mereka disebutkan dalam daftar kelompok rentan (listing practice), tetapi dalam rencana aksi mereka hanya diposisikan sebagai “penerima manfaat” (baca: objek) program yang dibuat oleh para birokrat (top-down approach) (Pratiwi et al., 2026). 

Sebagai contoh, program penanganan banjir rob di Kabupaten Demak, misalnya, alih-alih merestorasi ekosistem mangrove untuk pemulihan ekosistem pesisir, pemerintah justru menawarkan program subsidi relokasi. Tentu ini tidak menyelesaikan akar masalah kerusakan ekosistem pesisir, malah menambah masalah dan beban baru bagi warga yang memiliki keterikatan ekonomi, emosional, sosial, dan spiritual terhadap tanah dan ruang hidup mereka.

Beberapa warga harus berutang, berganti pekerjaan, dan kehilangan komunitas saat berpindah ke luar desa. Sementara itu, warga yang memilih menetap harus menghadapi banjir rob tanpa dukungan pemerintah dan kepastian.

Dukuh Timbulsloko

Pengalaman Turiah mengingatkan kita bahwa bencana dan krisis iklim tidak pernah dialami secara setara. Bagi perempuan disabilitas seperti Turiah, banjir rob bukan sekadar air yang datang setiap hari, tetapi krisis yang membatasi gerak, membawa rasa takut dan ketidakpastian, mempersempit akses kesehatan, memutus relasi sosial, dan menciptakan ketergantungan yang semakin besar pada orang lain.

Tubuh disabilitas sering kali absen dalam perencanaan kebijakan dan program kebencanaan dan adaptasi iklim, seolah semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk berpindah, bekerja, menyelamatkan diri, dan bertahan hidup. 

Pengalaman Turiah menunjukkan bahwa ketika ruang hidup menyempit, kelompok disabilitas menghadapi kerentanan yang berlapis. Dalam situasi seperti ini, gotong royong warga menjadi bentuk perlindungan sosial yang paling nyata, meski seharusnya tanggung jawab perlindungan disediakan negara, bukan dibebankan kepada komunitas yang juga sedang bertahan hidup. 

Mengingat Turiah berarti juga mempertanyakan: untuk siapa sebenarnya pembangunan? Untuk siapa kebijakan dan program dirancang? Dan siapa yang terus-menerus dibiarkan tertinggal dalam pembangunan dan krisis yang semakin memburuk?

*Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang Turiah, perempuan disabilitas daksa yang lahir, tumbuh besar, menetap, dan meninggal di Dukuh Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah, Indonesia. Turiah meninggal pada 20 April 2026 dan disemayamkan di makam dekat rumahnya yang telah tenggelam akibat banjir rob. 

About The Author

Filed under: Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *