Masa depan akan menyambutmu dengan teh hangat setelah kau selesai menangis. Sinar matahari akan berwarna emas, lembut, dan melayang di udara yang manis. Manis. Semanis gula. Dan kau akan mengingat masa lalu yang tanpa suara seperti film bisu, cantik dan senyap karena napas orang-orang yang menghidupinya telah pergi.
Luka mengembalikan kertas lusuh itu pada bentuknya yang terlipat empat, lalu mendorongnya ke dalam sebuah jurnal hitam. Dengan tangan gemetar, ia masukkan jurnal itu ke koper kecil di kakinya. Seluruh barang miliknya ada di sana. Luka menunduk, menyeka pipinya yang basah. Kerongkongannya perih. Setelah beberapa saat bergumul dalam diam, Luka kehilangan kuasa atas tubuhnya sendiri, dan tangisnya pecah. Di bawah pesawat yang dinaikinya itu, tanah Jakarta menjauh dan menjauh.
Gula benar, seperti biasa. Ingatan datang pada Luka dalam kesunyian. Seperti sedang menyelam ke laut dalam dan mengamati hidup yang berlangsung di dalam sana yang bukan miliknya. Luka ingat, pertama-tama, bahwa ia bertemu Gula sembilan tahun lalu di rumah sakit tempatnya bekerja. Tahun 1989.
Dari balik gaun pasien biru tulang belikat Gula menyembul. Leher mungilnya dibingkai rambut tebal, dicat cokelat terang, melingkar jatuh di bahu. Alisnya tipis, melengkung di atas mata sipit. Bibirnya merah. Kukunya lancip, dicat putih dan penuh stiker warna-warni. Ketika perempuan muda itu melihat Luka ia tersenyum kecil, dan satu sudut bibirnya naik lebih tinggi. Tak takut orang asing. Ada kesan, dia menganggap dirinya tak sepadan dengan orang lain (tentu karena dia jauh lebih keren). Dia tampak cocok sebagai bintang pop atau model majalah gadis remaja Jepang. Tapi Gula bukan orang Jepang. Ia lahir di Jakarta — begitu kata biodata di tangan Luka.
Selamat si-aang, sapa Luka sumringah sambil membuka tirai kamar itu lebih lebar. Aku Luka, perawat yang berjaga sore ini. Tiap konsonan kata ia lafalkan dengan jelas. Ada keluhan hari ini? Gula menggeleng. Sudah bertemu dengan dokternya tadi? Gula mengangguk.
Luka melirik lembaran kertas di lengannya. Usia dua puluh dua. Masuk rawat inap siang tadi untuk persiapan operasi kista ovarium jam enam pagi besok. Setelah operasi ia akan dirawat beberapa hari, sesuai prosedur, kemudian boleh pulang. Seharusnya tak akan banyak masalah. Luka melempar pandangan ke sekeliling ruangan VIP besar itu. Kosong. Gema suaranya memantul-mantul tiap kali ia bicara. Tak ada yang menunggui anak ini. Luka membuka mulutnya, dan sejenak kemudian, menutupnya lagi. Tak pantas bertanya hal-hal yang bukan urusannya. Ia bergegas menyiapkan alat ukur tensi.
“Keluargaku udah gak ada,” Gula bicara tiba-tiba, seakan mengintip pikiran Luka.
Luka mendongak, terkejut, dan agak malu. “Ahh begitu ya…”. Dia berusaha sebaik mungkin agar tak kikuk karena setitik rasa kasihan sudah merembesi hatinya. Dari dulu Luka memang begitu: hatinya setipis kain kasa. Dia pernah menangis tiga malam berturut-turut karena melihat anjing liar dipukuli di jalan, yang membuatnya gantian dipukuli Akong supaya “tak cengeng seperti perempuan”. Luka kini berusaha menepis rasa itu bukan karena gebukan Akong, tapi karena ia tahu gadis di hadapannya ini tak akan suka dikasihani.
Selesai mengambil tensi, Luka memberitahu Gula perihal makan malam yang nanti akan dibawakan petugas, dan bahwa jam terakhir ia boleh masukkan makanan ke dalam mulut adalah jam sepuluh karena perut harus sudah kosong saat operasi. Kemudian, Luka membereskan peralatannya dan mulai melangkah keluar.
“Omong-omong… Aku bakal mati,” didengarnya suara gadis itu.
Kata-kata Gula menghentikan langkah Luka, yang langsung membalikkan badan dan berjalan mendekatinya kembali. Ya, dia cukup sering melihat pasien bertingkah aneh. Kegrogian sebelum operasi itu wajar.
“Oh, sayang, jangan ngomong begitu.”
“Oh, aku gak apa-apa. Hanya ingin kasih tahu aja.” Gula tersenyum.
Luka menunduk ke catatannya.
“Kistamu kemungkinan besar tidak ganas, menurut dokter. Dan ini tahun delapan sembilan, operasi kista itu udah umum sekali,” kata Luka.
“Tahu.” Gula mengibaskan rambut dan menegakkan duduknya di kasur. “Aku gak akan mati di meja operasi besok. Aku akan mati di kasur ini setelahnya, dari infeksi pasca-operasi, yang memang langka.” Ia melanjutkan: “Akulah kelangkaan itu.”
“Hmm,” Luka menaruh tangannya di pinggang. “Oke. Ayo taruhan.”
“Betulan?”
“Ya, betulan.”
Kata Gula: “Kalau aku mati, aku akan kasih kamu hadiah. Kalau aku gak mati, kau kasih aku hadiah.”
Luka tertawa. “Terbalik! Kalau gitu caranya ya pasti aku yang kasih hadiah. Memangnya alam kematian punya kantor pos?”
Mereka berdua tergelak. Ruangan itu tak lagi terasa terlalu kosong. Luka melambai pamit.
Setelah bertahun-tahun di rumah sakit, Luka sudah terbiasa dengan hal ganjil. Pasien-pasien yang tampak membaik tiba-tiba ingin urus surat wasiat, atau menelpon sanak saudara jauh, atau minta maaf pada keluarga. Kemudian mati. Masalahnya, kebanyakan dari mereka berumur lebih tua, dengan penyakit jauh lebih serius, operasi lebih rumit, dan pembuluh darah yang sudah tersaturasi obat. Belum pernah ada yang mengumumkan kematiannya dengan percaya diri, apalagi dengan riang. Gula, gadis dua puluh dua tahun itu, masih penuh dengan hidup. Tetap saja, Luka memutuskan untuk ambil aman. Besok ia akan datang sebelum makan siang, persis setelah operasi Gula selesai.
Pukul sepuluh tiga puluh Luka menyapa petugas keamanan di lantai dasar sebelum naik lift. Saat ia masuk kamar di ujung lorong lantai delapan itu pada pukul sebelas, Gula ada di sana, terbaring di atas kasur dengan selang urin di antara kakinya dan selang infus tertancap di tangan kirinya. Ia sedang tidur lelap. Rambut cokelatnya lepek, tak lagi mengembang, dan beberapa helainya menempel ke dahinya yang berkeringat. Operasi Gula berjalan lancar tadi pagi dan selesai jam sembilan. Anak itu bangun dari bius sekitar pukul sepuluh, namun langsung tidur lagi untuk beristirahat — demikian informasi yang Luka terima dari perawat lain. Luka mengecek kantung-kantung obat yang tergantung di atas kepala Gula, juga selang-selang. Semua aliran keluar dan masuk tampak baik.
Pukul satu siang, Luka kembali ke kamar. Gula melambai lemah. Di ujung kakinya, baki makanan yang belum dibuka. Luka mengambil gelas, mengisinya dengan air putih, dan membantu Gula minum sedikit.
“Benar gak mati, kan,” kata Luka.
“Haha…,” Gula belum ada tenaga berkelakar. Obat bius masih merajai tubuhnya.
Luka membantu Gula makan sedikit dan sambil menunggunya mengunyah lambat-lambat, Luka berkata ia telah melihat puluhan, bahkan mungkin ratusan, perempuan segala umur dibelek perutnya supaya dokter dapat mengeluarkan bayi ataupun kista, dan setelah sedikit istirahat mereka berjalan keluar dari gerbang rumah sakit ini, dan Gula pun akan sama. Ini tahun ketiga, oh, bukan, tahun keempat Luka bekerja di sini. Tadinya ia tak menyangka akan keluar dari rumah keluarga di Tangerang — ia sudah persiapkan diri untuk urus Ibu sampai salah satu dari mereka mati — namun, mungkin sudah rencana Tuhan, kakak-kakaknya ternyata bisa mengumpulkan cukup banyak uang untuk ia masuk sekolah perawat, dan setelah itu seorang salesman yang pernah berutang pada keluarganya membantunya dapat kerja di rumah sakit. Jadilah ia ada di sini, di Jakarta, menyewa kamar, mengirimkan setengah gaji bulanan pada Ibu di rumah. Sebentar. Tadi ia bicara apa? Oh ya. Gula tak perlu khawatir. Dalam dua tiga hari ia sudah tak akan ada di ranjang ini, Luka jamin.
Gula menggelengkan kepala dan menutup mulutnya, menolak suapan baru yang sudah siap di tangan Luka. Mual, katanya. Luka menaruh piring makanan di atas meja kecil di samping ranjang, lalu membuatkan Gula teh hangat manis dan membenahi posisi bantal di belakang kepalanya.
“Lebih baik?” tanya Luka.
Gula mengangguk pelan.
“Betul mau muntah? Kalau iya kuambilkan kantong plastik.”
Gula menggeleng.
“Betah kerja di sini?” tanya Gula.
“Ya, dibetah-betahkan,” kata Luka. “Sebenarnya, kalau bisa memilih aku ingin coba kerja di luar negeri. Mungkin. Sebentar aja, cuma untuk lihat apa rasanya lalu kembali lagi. Dosen yang menyewakan kamar rumah tempatku tinggal sekarang ada pajang di ruang tamu foto anak-anaknya yang sedang belajar di Amerika Serikat. Tampaknya seru. Aku ingin pergi ke sana. Tapi ya… itu mimpi kejauhan. Beli tiket pesawat saja gak bisa.”
“Bagaimana dengan pacar?” tanya Gula lagi.
Luka terbahak. “Tak ada waktu buat pacar-pacaran,” katanya.
“Aku bisa meramal masa depanmu,” kata Gula. “Kau mau kuramal, gak?”
Luka teringat istri Akong yang sering minta nasehat orang pintar di klenteng. Orang itu katanya bisa meramal, dan selalu mengatakan hal-hal seperti: Kau baru akan makmur saat tahun naga. Cobalah taruh beberapa koin dalam vas bunga untuk lancarkan rezeki. Bersabar, kau masih melunasi karma orangtuamu. Jangan dekat-dekat dengan orang dengan elemen air, dia akan menusukmu dari belakang. Diam-diam Luka jadi penasaran ingin diramal. Ia percaya ada orang-orang yang memang diberi bakat untuk itu.
Gula meraih pergelangan tangan Luka, lalu menggenggamnya erat sambil memejamkan mata. Ruangan itu hening seperti di dalam liang kuburan yang sudah ditumbuhi alang-alang dan lama dilupakan. Dunia di luar sana menderu dan meng-klakson dan ber-ting-ting-ting. Di ruang pasien itu, tenang dan damai. Setelah beberapa saat, Gula melepas tangan Luka.
“Jadi, gimana?” tanya Luka.
“Bener. Kamu bakal pergi jauh,” kata Gula. “Dan kamu bakal bahagia di sana, tenang aja.”
Luka agak kecewa karena dia mengharapkan ramalan yang lebih spesifik dari gadis yang punya imajinasi detil tentang bagaimana ia akan mati. Tapi Luka tersenyum, merasa sedikit tertular kepercayaan diri Gula akan nasib bahagia dirinya. Ada perasaan familiar dalam hatinya yang semakin menjadi-jadi. Keakraban Gula membuat dia merasa menemukan saudara lama. Mungkin di kehidupan lampau, mereka teman baik. Luka memang percaya kehidupan masa lalu. Dia selalu pikir bahwa dulu dirinya adalah putri raja.
Luka melihat ke arah jam bundar di dinding. Pukul dua lewat lima belas menit. Sudah waktunya dia kembali ke shift. Lagipula, Gula sudah menguap berkali-kali dan matanya hampir terpejam. Luka melambai pamit dan membiarkan Gula tidur lagi.
Sepanjang hari itu, Luka menyambangi kamar-kamar pasien lain, membopong tubuh-tubuh renta dari ranjang ke kursi roda, dari kursi roda ke ranjang, mengganti infus, mengukur dosis antibiotik, berjalan di lorong-lorong panjang, memperbaharui data pasien, membuat kopi, dan menulis di jurnal kecilnya. Ia menemukan dirinya sendiri melamun tentang kata-kata Gula bahwa ia akan pergi ke tempat lain, tempat yang jauh, dan bahwa ia akan bahagia di sana.
Ke mana lagi dia akan pergi? Kepergian Luka dari Tangerang sudah merupakan ketidaknyamanan bagi keluarga. Kakak-kakaknya berpesan agar Ibu jangan dibiarkan tinggal sendirian terlalu lama. Ibu makin tua. Luka yakin sebentar lagi dia bakal diminta pulang. Sebelum pindah ke Jakarta, Luka tinggal bersebelas di rumah kecil milik Akong: enam saudara yang semuanya perempuan, Ibu, Akong dan istri keduanya, serta paman angkatnya. Ia paling kecil. Ia tak punya ayah karena ketika umurnya satu tahun, Ayah ditangkap karena pemerintah mengatakan ia seorang komunis. Luka bertanya pada Ibu, apa itu komunis? Tapi ia tak dapat jawaban. Dia mencoba bertanya pada istri Akong, yang menggelengkan kepala dan berkata “Ah, saya kurang tahu yang begituan, coba tanya Akong-mu,” namun Luka takut pada Akong, yang tak akan segan-segan menggebuknya kalau dia salah bertanya. Sekali waktu Luka pernah menguping Akong memberitahu Ibu: ada telegram baru sampai, laki lu katanya dipindah ke daerah Maluku, ada pulau kecil di sana butuh dibangun. Ayah Luka tak pernah pulang. Kabarnya mati kena rabies di pulau itu.
Pada pagi kedua Gula di rumah sakit, Luka membuka tirai jendela kamar itu lebar-lebar agar sinar matahari dapat masuk dengan leluasa.
“Luka,” Gula membaca nama yang terjahit di seragam biru tua Luka ketika ia membungkus lengan kurus itu dengan alat ukur tensi. “Kenapa namamu Luka?”
Luka menunduk dan melirik bordiran namanya. “Dari Lukas. Aku buat jadi Luka karena…” Luka memiringkan kepala sejenak, lalu nyengir. “Komik favoritku, tokohnya seorang detektif bernama Haruka. Suatu kali saat menyelidiki kasus, ia harus tinggal di Eropa sebentar sambil pakai identitas palsu. Dia ganti nama jadi Luka. Kupikir nama itu bunyinya lebih keren.” Gula mengangguk. Menurut Gula tiap orang bebas memilih namanya sendiri.
Gula memberi tahu Luka kalau namanya, Gula, dipilihkan oleh tantenya, Asa, karena Ibunya meninggal sebelum ia keluar dari rahim. Ia tak punya bapak karena keluarganya adalah para perempuan yang tak pernah tinggal bersama lelaki. Turun temurun begitu. Di daerah asal nenek moyang Gula, mereka berketurunan dengan kawin kemudian pergi berpindah desa. Atau kawin dengan pemuda-pemuda yang akan pergi perang. Anak-anak mereka selalu perempuan, tidak pernah tidak.
Sekitar lima atau enam generasi lalu nenek moyang Gula naik kapal lalu tiba di Jakarta. Belajar bahasa setempat, membaur, membeli-jual kain dan memulai usaha jahit di kawasan Glodok. Sebelum Gula lahir mereka beralih jualan radio, lama-lama kalkulator, jam tangan, walkman, CD player, lalu komputer. Mereka tak pindah lagi karena rupanya di kota besar perempuan bisa berkeluarga tanpa lelaki tanpa banyak hukuman. Tentu asal pandai mencari alasan dan membikin situasi. Setelah Ibu meninggal, Gula dibesarkan tantenya Asa seorang. Bersama sejumlah pegawai mereka menjalankan toko.
Asa tak di sini menemaninya operasi karena perempuan itu menyusul Ibu setahun lalu. Usianya enam puluh delapan. Sudah punya masalah paru sejak lama. Tapi tentu saja Gula telah mengetahui nasib tantenya itu sejak ia dapat bicara. Demikian juga dengan nasibnya sendiri, yang akan istirahat selamanya setelah hari ini.
Jangan bingung, lanjut Gula setelah melihat mata Luka yang melebar, dan mulutnya yang terbuka. Semua yang akan terjadi telah diketahui oleh Gula, oleh Asa, dan oleh segenap nenek moyang mereka. Itu karena garis keturunan keluarga Gula sejak dulu diberikan pengetahuan masa depan. Mereka mungkin garis terakhir di dunia yang punya kemampuan itu. Garis ini akan ditutup oleh dirinya sebentar lagi.
Itulah mengapa sebelum ke rumah sakit ia telah menyerahkan kunci toko pada seorang keturunan Arab yang ia lupa namanya, yang telah sepakat membeli dan meneruskan bisnis elektronik itu. Tak ada yang perlu disesali karena Gula dan nenek-nenek moyangnya telah berjalan dan bernapas di bongkahan planet ini sepuluh ribu tahun lamanya, sejak Yang Pertama diberi Penglihatan. Dan sebenarnya mereka telah hidup lebih lama dari waktu mereka sendiri karena masa depan tiap orang yang lahir di bumi mengalir di pembuluh darah mereka. Jika Yang Mahakuasa mengizinkan perjalanan mereka berakhir dengan Gula, maka itu telah lebih dari cukup.
Mendengar kalimat yang terakhir itu, Luka berkata: “Dirimu masih percaya Tuhan?”
“Kenapa tidak?”
Luka mengangkat bahu. “Orang akan merasa tak butuh Tuhan kalau bisa melihat masa depan…?”
Gula menggeleng. “Kita gak gitu.” Dia melanjutkan: “Asa bilang salah satu nenek moyang kami ada yang berusaha jadi Tuhan, mengumpulkan pengikut, merekrut rasul. Ia hidup satu atau dua generasi sebelum Nabi Isa atau Yesus itu lahir.”
“Banyak pengikutnya?”
“Ya. Kemudian ia ditangkap, dikurung, dipaksa berjejal di ruang bawah tanah dimana orang hanya bisa setengah jongkok dan tidak bisa berdiri, berbulan-bulan lamanya sebelum diarak keliling kota, lalu dibakar bersama dengan pengikutnya. Total ratusan orang, mungkin ribuan,” kata Gula. “Sejak itu tak ada dari kami mau jadi Tuhan.”
“Kalau memang bisa melihat masa depan, kenapa nenek moyangmu itu tidak kabur sebelum dibakar? Atau bahkan, tidak usah kumpulkan rasul?” tanya Luka.
Gula menjawab: “Asa pernah bilang padaku: masa depan hanyalah konsekuensi dari pilihan yang kita buat, bukan sebaliknya. Tiap orang, termasuk nenek-nenek kami, punya alasan masing-masing dalam memilih hidup mereka. Pilihan itu bisa benar atau salah menurut kau dan aku, atau tak keduanya. Atau separuh benar dan separuh salah. Tahu kan. Bagaimanapun mereka manusia. Kadang mereka ingin nama, kadang ingin kuasa, mungkin juga uang, lalu bersedia membayar apa saja demi keinginan itu, demi visi ideal hidup mereka sendiri. Ini teori Asa, tapi aku setuju dengannya. Mungkin nenek moyangku itu senang jadi raja. Jadi tokoh. Jadi martir. Mungkin dia ingin diingat dan dicatat. Aku tak tahu. Aku cuma bisa lihat masa depan dan bukan masa lalu. Dan memang tiap keturunan nenek moyangku itu — kami semua — ingat betul akan ceritanya. Dan sesungguhnya juga, sejak pembantaian itu keluargaku jadi lebih pandai sembunyi. Menutup kemampuan ini rapat-rapat dari orang lain. Keturunan nenek-nenekku jadi bisa hidup lebih lama.
Maka di sinilah aku, di Jakarta dua ribu tahun kemudian. Memilah takdir. Hidup dari konsekuensi pilihan leluhurku. Aku dapat cerita ini semua padamu sekarang, meski kita baru kenal, karena ini hari terakhirku.”
Luka menarik kursi tempatnya duduk agar mendekat ke kasur Gula. Ia tak tega mendengar anak ini masih berpikir dirinya akan mati. Ia ingin menyentuh bahu Gula, menyingkirkan helai rambutnya yang basah dari keningnya, menenangkannya.
“Sungguh, aku gak apa-apa,” kata Gula sambil tersenyum lemah. “Aku dan tiap orang yang pernah hidup di keluargaku bebas menentukan pilihan kami masing-masing, meski kami tahu akhirnya. Sejatinya wujud masa depan adalah ranting yang tumpang tindih dan bercabang-cabang tanpa ujung. Lagi-lagi ini kata Asa.”
Luka tak begitu paham maksud Gula. Obat bius di tubuh anak ini masih sangat kuat, pikirnya. Luka menyuruh Gula minum lagi, sambil bertanya: “Lalu kenapa kau pilih operasi, kalau tahu bakal mati?”
Gula tak menjawabnya lama. Ia berkedip dan menarik napas, seakan ingin mengucap sesuatu tapi kata-kata sulit datang padanya. Luka sudah menaruh gelas di meja dan bersandar lagi di kursi saat Gula akhirnya memberitahunya: di cabang kehidupan lain, memang ia dapat biarkan kista itu bercokol di rahim. Tapi tahun-tahun yang akan datang, jika ia hidup, tak akan lagi jadi milik Gula: ia telah menelusuri cabang ranting masa depan itu, merasakan serat-seratnya. Bertahun-tahun lalu Gula telah putuskan bahwa saat dewasa nanti, ia akan pergi. Ia tak akan menghidupi pilihan kota ini, bangsa ini. Ia lebih baik mati akibat konsekuensi pilihannya sendiri, sedini mungkin, selagi dapat.
Di kalimat terakhir itu suara Gula bergetar. Luka menatap wajah Gula. Ujung hidung dan telinganya merah. Gula menatapnya balik dan pandangan mereka bertemu. Air mulai menggenangi kedua mata Gula, lalu menetes jatuh di pipi. Gadis itu tak berusaha menahannya sedikit pun. Luka tak mengerti mengapa Gula begitu sedih. Apa yang sedang dibayangkan kepala berambut terang itu, Luka tak sampai hati untuk bertanya. Maka Luka meraih tangan Gula dan mendekapnya dalam genggaman tangannya sendiri. Luka baru menyadari bahwa inilah yang akan dilakukannya jika ia punya adik perempuan, dan jika adik perempuannya itu sedang berpikir tentang kematian. Ia menggenggam tangan Gula erat-erat dan membawanya ke dada.
Dalam momen itu Gula teringat tantenya, Asa, yang setahun lalu juga mendekap tangannya saat memintanya untuk tak peduli takdir. Persetan dengan takdir. Kamu harus terus hidup, tolonglah, Gula. Tolonglah. Demikian Asa memohon Gula untuk hidup ketika ia sendiri, seorang perempuan tua dengan paru penuh tumor dan cairan, sudah terbaring di tempat tidur berminggu-minggu lamanya, menunggu ajal. Gula juga teringat bagaimana dia menjawab: Asa, aku tidak bisa hidup sendiri. Sungguh, aku tidak sanggup menjalani semuanya sendiri. Kau tahu semua yang akan terjadi, dan aku tidak sanggup. Tunggu aku di Hutan Waktu, aku akan segera menyusulmu dan Ibu; kita akan bergabung dengan semua nenek kita, dan bersama-sama kita akan sungguh-sungguh pulang. Itu adalah keputusanku yang bulat.
Gula lalu mencium kening Asa, membelai rambutnya yang putih, dan perempuan itu menghembuskan napas terakhir.
Ingatan itu merangsek masuk ke dada Gula, naik ke tenggorokannya, kemudian menyeruak keluar lewat tangis yang mengalir deras dari mata dan ingus dari hidungnya. Ia baru ingat bahwa ia ingin menyudahi hidupnya sendiri karena semua orang seperti dirinya tidak ada lagi di sini. Perempuan-perempuan pendahulunya telah hidup, bertualang, dan mati dalam dekapan satu sama lain. Mereka tak meninggalkan instruksi. Ataupun tujuan. Tak juga penjelasan. Gula dibiarkan menanggung masa depan seisi bumi sendirian entah untuk apa.
Luka berdiri dari kursi, memeluk Gula, dan membiarkan gadis itu terisak-isak di bahunya. Sshh, shhh. “Kamu akan sembuh, kamu akan sembuh,” kata Luka sambil menepuk-nepuk punggung Gula dengan lembut.
Setelah beberapa saat, Luka melepas pelukannya, mengambil gelas berisi air dan mengantarnya ke mulut Gula. Ia juga memberinya beberapa lembar tisu. Gula terlihat lebih tenang, namun wajahnya kini pucat dan sedikit berkeringat.
Melihat darah merembes di perban putih di perut Gula, Luka melongokkan kepala dari pintu kamar ke lorong, memanggil seorang perawat lain di lantai itu, yang tak lama setelahnya memanggil dokter jaga. Bertiga mereka berkumpul di kaki ranjang Gula sambil berdiskusi dengan suara rendah, seperti kawanan lebah, lalu memutuskan untuk mengganti perban supaya luka operasi itu dapat lekas mengering.
Setelah perban diganti, Luka mengatakan bahwa Gula harus makan siang. Gula mengangguk. Menu hari itu bubur sumsum dan buah-buahan. Luka menyalakan televisi sembari Gula berusaha makan. Berkumandang lagu dari stasiun TVRI:
Li-hat bunga-bunga berkembang
Ki-cau burung bernyanyi indah
Ku-pu-kupu menari riang
Menyongsong esok
yang penuh harapan
Hampir tengah malam, setelah Luka menggoreskan parafnya di buku absen untuk menandakan bahwa ia telah mengakhiri shift, ia membuka pintu kamar Gula dan melihatnya sedang sibuk menulis. Gula menoleh ke arah Luka. Wajahnya sudah lebih ceria. Sudah tak ada keringat di dahinya. Dugaan Luka benar, anak itu bisa pulang dalam satu atau dua hari.
Luka menghampirinya, menyentuh pundaknya dengan lembut dan berkata: “Pulang dulu ya.”
“Oke,” kata Gula.
“Sampai ketemu besok,” kata Luka. Di pintu, ia melambaikan tangan.
Gula mengangguk dan tersenyum. Ia membalas lambaian Luka.
***
Halo, Luka.
Kau tahu tidak, tempat favoritku adalah kebun atas atap rumah kami di Glodok. Di sana Asa telah menanam bunga asoka, melati, kembang sepatu, kamboja, jambu, dan belimbing dalam banyak pot besar-kecil, tinggi-pendek yang setiap sore dia sirami. Aku telah menaruh dua kursi karet di petak yang tersisa di tengahnya; aku suka menghabiskan sore hari liburku di sana untuk membaca. Beberapa hari setelah pemakaman Asa selesai, aku duduk di sana juga, menonton matahari yang bersiap-siap turun. Aku berpikir ulang tentang segala alternatif yang dapat kupilih: pergi dari sini dan mulai hidup baru, tinggal dan melanjutkan toko Asa, atau ke rumah sakit untuk mati.
Aku menelusuri segala cabang pilihan itu di kepalaku seperti film, menimbang setiap adegan. Keputusanku makin bulat karena kau, Luka. Pada akhirnya aku ingin pergi ditemani wajah yang baik, yang familiar. Aku ingin pergi ketika sedang dirawat, dan di kotaku sendiri, karena bagaimanapun ini adalah rumahku. Hidupku ada di sini, dan aku ingin tubuhku diperlakukan baik saat aku mati. Aku ingat benar, sore itu pelan-pelan berubah jadi emas, sekelompok anak-anak sedang bermain di bawah, ada suara anjing menggonggong, dan aku merasa lega. Seakan tidak ada lagi beban di hatiku. Aku tahu sudah membuat keputusan yang benar buat diriku sendiri.
Di hidup yang ini memang kita cuma punya dua hari untuk mengenal satu sama lain, aku tahu, tapi perasaanku mengatakan bahwa di semua reinkarnasi hidup lain, kita selalu adalah saudara. Saling merawat, saling mengawasi. Aku berterima kasih bahwa kau-lah wajah terakhir yang kulihat. Aku tahu hidupku berarti karena Asa, dan karena kau, aku tahu matiku juga berarti. Semoga hadiah dariku berguna untukmu.
Kau membaca surat ini lama setelah aku menulisnya, sesuai dengan instruksi yang kutinggalkan dalam surat pertama. Kedua surat kau terima beberapa jam setelah dokter menuliskan jam kematianku. Seperti yang sudah kukatakan padamu kemarin (atau hampir sepuluh tahun yang lalu — buatmu!), aku mati karena infeksi luka operasi yang menyebabkan sepsis. Aku tidak panggil perawat dan membiarkan organ-organku berhenti bekerja, dan aku menahan sakit hingga mati sekitar jam empat pagi. Namun, kau tahu ini semua, Luka. Karena kau sudah menerima laporannya.
Di surat pertama, aku memberitahumu bahwa kau akan menerima seluruh tabungan yang dikumpulkan nenekku, Rindu, Ibuku, Nada, dan tanteku, Asa, semasa tubuh mereka masih mampu bergerak dan bekerja. Tabungan itu sempat kutambahi juga dengan gajiku sendiri dari toko. Kini jumlahnya cukup untuk apapun yang ingin kau lakukan. Kau terkejut, dan merasa tak dapat menerimanya. Tapi kau menemukan bahwa namamu sudah tertulis dalam surat wasiat yang kubuat setahun sebelum aku masuk rumah sakit, beberapa minggu setelah Asa dikubur. Pengadilan percaya bahwa memang kita berteman sejak lama. Dan setelah usahamu yang sia-sia untuk menemukan kerabatku yang masih hidup, tak peduli seberapa jauhnya, kau akhirnya menerimanya juga. Kau memakainya dengan baik. Aku tahu.
Pertama-tama kau mengirimkan setengahnya untuk kakak-kakakmu. Membantu anak-anak mereka melanjutkan sekolah, membuka toko, membayar utang suami-suami mereka, dan entahlah apa lagi. Lalu kau mencarikan pekerja dan perawat untuk menjaga Ibu di rumah. Setengahnya lagi kau pakai untuk memulai kedai kopi kecil di Samanhudi. Kau menemukan resep-resep kue istri Akong yang masih terselip di laci di rumahmu di Tangerang dan memutuskan untuk menggunakannya. Bisnismu itu berjalan baik, dan kau dapat bernapas lega. Penghasilanmu jelas lebih besar dari waktu jadi perawat, sehingga kau kini bisa menabung.
Ingat ketika kubilang masa depan adalah ranting bercabang yang tumpang tindih? Kau bisa saja membuat pilihan lain dan surat ini akan terdengar sangat aneh untukmu sekarang. Mungkin kau langsung habiskan tabungan itu untuk jalan-jalan dan berpesta. Siapa tahu? Tapi, dari pertemuan singkat kita, aku merasa mengenalmu, Luka. Dan menurutku bukan itu jalan yang kau pilih. Aku mau bertaruh denganmu. Tapi kan, aku sudah mati. Haha.
Tidak, kau tidak jalan-jalan. Belum. Kau buka kedai kopi di Samanhudi dan tinggal di sana. Kau bertemu pasanganmu, Iga, dan dia membantumu menjalankan bisnis itu. Berdua kalian tinggal di ruko mungil di atas kedai. Iga lelaki baik. Kau merasa dapat hidup selamanya bersama dia, bahkan tanpa pengakuan dari manapun. Tanpa surat resmi dari negara atau pertanyaan basa-basi keluarga besar: “Laki lu ga diajak?” setiap Imlek. Kau tidak butuh semua itu. Aku tahu, Luka. Dan untuk beberapa tahun yang singkat kau hidup tentram bersama Iga.
Di surat pertama, aku memintamu untuk buka surat ini hanya ketika kau sudah pergi jauh, seperti dalam ramalanku. Maka ketika kau baca surat ini, semua yang kukira akan terjadi sudah terjadi. Kau sudah menerima sajadah pinjaman tetangga yang memohonmu untuk menggantungnya di pagar kedai, bersama dengan papan kardus bertuliskan “Milik Pribumi”. Kau sudah membeli gembok besar dan rantai untuk pagar, menutup pintu rapat-rapat sambil menunggu Iga kembali dari bertemu suplier di Slipi. Malam itu kau sudah bermalam tanpa Iga. Dan esoknya kau sadar Iga sudah jadi arang bersama dengan toko-toko yang dibakar: kau mendengar bagaimana plaza itu disiram bensin lalu dikunci dari luar sementara api melahapnya. Kau tak pernah bertemu dengan jasad Iga ataupun ratusan orang yang terpanggang di situ. Kau sudah mengepak kopermu di hari berikutnya, mencari pesawat paling pagi untuk ke Hong Kong. Kau memberikan uang untuk keluargamu di Tangerang supaya mereka dapat ikut, dan mereka berkata bahwa beberapa keponakanmu yang masih SMP akan menyusulmu segera.
Mungkin kini kau mendapat sedikit gambaran, apa yang dulu kulihat dalam nasibku sendiri jika aku memilih hidup dan terus tinggal di Glodok. Tapi sudahlah. Tidak perlu aku katakan kepadamu hal-hal yang memang tidak pernah terjadi. Itu bukan lagi masa depanku. Sebagai konsekuensinya itu tak akan pernah ada dalam ingatanku, memori tubuhku. Maka aku tidak bisa berduka untuk hal yang tidak pernah terjadi.
Kau akan baca surat ini dalam keadaan hancur tidak terkira, tapi ketahuilah, Luka, bahwa aku telah melihat seluruh masa depanmu. Sakitmu yang inipun telah kujumpai. Maaf kalau aku tidak beri peringatan apa-apa. Tak ada yang bisa kukatakan hari itu tanpa membuatmu kabur terbirit-birit, atau menganggapku sepenuhnya gila. Mungkin ini klise, tapi percayalah bahwa misteri masa depan adalah hadiah semesta yang sesungguhnya, karena dengan begitu, kau bisa sepenuhnya jadi diri sendiri di masa sekarang.
Luka, aku tahu kau telah mengalami keperihan amat sangat. Tapi ketahuilah, mulai dari sekarang, masa depan hanya akan memperlakukanmu lebih baik. Masa depan akan menyambutmu dengan teh hangat setelah kau selesai menangis. Sinar matahari akan berwarna emas, lembut, dan melayang di udara yang manis. Manis. Semanis gula. Dan kau akan mengingat masa lalu yang tanpa suara seperti film bisu, cantik dan senyap karena napas orang-orang yang menghidupinya telah pergi.
Bersyukurlah, karena nanti masa depanmu akan penuh suara; bising; suara orang-orang asing yang memberimu makan, yang membantumu mencari tempat tinggal, yang berjalan di sampingmu ketika kau berangkat kerja, yang bertengkar di atas apartemenmu, yang tertawa di bar tempat kau melepas lelah, yang bernyanyi di atas panggung, yang berterima kasih karena kau membukakannya pintu, yang memberitahumu bahwa kereta terakhir sudah lewat, yang menunjukkan padamu cara memesan taksi, yang membantumu memasang internet, dan banyak lagi suara orang-orang yang membuat hidupmu di tempat baru serasa mungkin.
Masa depanmu akan penuh dengan suara orang-orang terkasihmu, yang menanyakan apakah kau sudah makan, yang memberitahumu mereka akan pulang terlambat, yang memintamu uang jajan, yang mengomelimu saat jaket yang kau pakai tak cukup tebal karena musim dingin Hong Kong berangin, yang mengingatkanmu minum ginseng, yang menelpon untuk bertanya apa yang kau lakukan, yang minta opinimu tentang segala hal mulai dari gigi tanggal hingga toilet mampet, yang menyanyikan “Happy Birthday” ketika kau ulang tahun, yang membawakanmu Indomie, sambal, dan Tolak Angin dari Indonesia, dan yang nanti akan mendekapmu ketika kau pergi.
Dan kau akan meninggalkan dunia ini ditemani keduanya: yang bising dan yang senyap. Bersukalah, Luka, bahwa pada momen terakhir saat masa depanmu habis, mereka semua sepenuhnya akan jadi ingatanmu, memori tubuhmu.
– Gula –
13 Mei 1989
***



