Terlalu Banyak Manusia di Langit – Bab 2

Bab 2: Apakah Ikan Hologram Bisa Bermimpi tentang Ikan Betulan?

Lorong menuju ruang interogasi terasa terlalu panjang.

Naki berjalan menunduk, akuarium bowl di tangannya bergetar setiap kali dengung ventilasi meledak dari grille dinding. Gravitasi 0.9G membuat setiap langkah terasa seperti menginjak trampolin. Aroma kopi basi dan bakaran plastik entah dari mana membuatnya beberapa kali menyeka hidung dengan lengan. Mulutnya berkomat-kamit, meyakinkan dirinya sendiri, ia berharap tidak ada yang melihatnya membawa akuarium ini. Ia berharap Omar belum sampai sehingga ia punya waktu untuk menyiapkan diri.

Ini adalah interogasi pertamanya dan dia mau segalanya berjalan sempurna.

Kedua tangannya memegang sebuah akuarium bowl dengan hati-hati. Ia membeli akuarium itu di Bengkel Ibu Blendung, bengkel yang menjual apa saja. Di dalamnya, seekor ikan cupang hologram berenang tanpa air, sisiknya berkilau patah-patah mengikuti latensi proyektor murahan. Ikan itu tidak pernah diam, selalu berputar-putar, seolah yakin suatu hari ia akan menemukan jalan keluar. Naki percaya akuarium ini akan bekerja. Ia pernah membaca setengah artikel lama tentang distraction-based interrogation dan memutuskan itu cukup ilmiah untuk diaplikasikan. Selain itu (dan ini lebih jujur) ia sadar sebagai pemula, ia perlu punya sesuatu yang menjadi ciri khasnya. Sesuatu yang membuatnya berbeda. Sesuatu yang membuatnya diingat. Dan untuk itu, dia sudah siap bahkan jika akan ditertawakan Omar.

Saat pintu interogasi terbuka, Omar tertawa keras sekali.

“Akuarium, buat apa?” tanya Omar, setelah tawanya mereda. Ikan hologram berenang mendekat ke sisi bowl, lalu menembus dinding cahaya dan kembali ke tengah. Omar menghela napas. “Kita interogasi orang, Ki. Bukan mau adu cupang.”

Naki membuka mulut sedikit, lalu menutupnya lagi. Ia sungguh mengira akan menjadi orang pertama yang tiba di ruangan. Ia memang sudah siap ditertawakan—itu risiko yang sudah ia terima sejak awal—tetapi ia butuh jeda kecil sebelum itu terjadi, semacam pemanasan mental. Karena itulah ia bangun pagi-pagi sekali, menjemput pesanan akuarium custom-nya di Bengkel Blendung, lalu bergegas ke ruangan ini dengan rencana merapikan segalanya: meja, kursi, pencahayaan, dan mentalnya sendiri. Ketika sadar rencana itu gagal di detik pintu interogasi terbuka, dia jadi kebingungan.

Naki meletakkan akuarium itu di tengah meja lipat metal, persis di antara perekam suara dan bekas kopi yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia berusaha menghindari sensor sentuh di dasar bowl, satu-satunya pantangan dari Ibu Blendung kalau ia tidak mau me-reset ulang cupangnya ke setelan pabrik.

Ia menyalakan lampu LED di evidence tray, meski belum ada barang bukti apa pun di sana. Cahaya kekuningan membuat sisik ikan hologram berkilau patah-patah seperti ikan terserang jamur. Naki mengecek kamera—lampu merah berkedip, stabil—lalu menepuk-nepuk tablet dengan kebiasaan gugup yang tidak ia sadari. Ia menyesuaikan posisi kursi oranye untuk tersangka, memastikan D-ring di kaki kursi menghadap ke luar. Semua sesuai SOP. Ia melirik ikan itu sekali lagi. Ikan tersebut berbalik arah, tepat saat Naki berpikir ini mungkin ide yang bodoh. Tapi sudah telanjur.

“Taktik psikologi, Pak,” ujarnya, menjawab pertanyaan yang Omar sendiri bahkan sudah lupa.

“Oh, oke,” jawab Omar, singkat saja, “Pastikan saja cupangmu nggak minta pengacara.”

“Bob,” kata Naki.

“Bob? Pengacara cupangmu?”

“Nama cupangku, Pak.”

Pintu otomatis terbuka. Lain masuk sambil menyeruput kopi dari tumbler, berhenti satu detik lebih lama dari yang perlu ketika melihat akuarium di meja. “Akuarium?” tanyanya, datar.

Ikan hologram berenang mendekat ke sisi bowl, lalu menembus dinding cahaya dan kembali ke tengah.

Omar menghela napas pelan sambil tangannya membuka dokumen di meja. 

Lain duduk seperti sedang menunggu izin untuk duduk. Punggungnya tegak dan tangan di pangkuan. Jari-jarinya bertaut, terpisah, bertaut lagi. Naki mengenali gerak itu. Ia melakukan hal yang sama setiap kali Omar menatapnya terlalu lama. Mata Lain sesekali melirik akuarium, lalu cepat kembali ke lantai.

Naki membuka tabletnya, jari telunjuk menggulir terlalu cepat, lalu berhenti. Ia berdehem. “Lain Koswara. Umur dua puluh enam. Engineer apprentice, Divisi Perawatan. Anak kandung almarhum Kos Koswara.” Ia mengangkat kepala. “Itu benar?”

Lain mengangguk, menjawab, “Benar,” tetapi suaranya hampir tenggelam dalam dengung ventilasi.

Omar bersandar di kursi lipat, lengannya menyilang. “Kami turut berdukacita,” ujarnya, tanpa intonasi apa pun, seolah sedang membaca resep obat batuk.

Lain mengangguk tanpa suara.

Naki menelusuri catatannya. “Kamu yang menemukan ayahmu pagi itu. Jam berapa?”

“Tidak lama sebelum telepon darurat.” Lain menatap tangannya sendiri. “Sekitar 07:36. Saya tidak tahu persisnya.”

“Kamu selalu bangun seawal itu? Selalu membawakan protein shake?”

“Shift saya jam setengah sembilan.” Jari-jemari Lain kembali bertaut. “Jadi setiap pagi saya ke sana. Selain membawa minuman dan menuangkannya di cangkir kesayangan Ayah—ya, dia punya tremor yang cukup parah, kadang saya merapikan kamar atau membangunkannya.” Suaranya turun. “Ayah tidak suka diatur.”

Omar bersandar, mata menyipit. Seperti ada sesuatu yang ia hitung di kepala.

“Setiap pagi. Konsisten sekali,” ujar Omar, bersandar ke kursi. “Kapan terakhir kali kamu tidak mengunjunginya?”

Lain memikirkan sejenak. “Mungkin… dua minggu lalu. Seorang kolega sakit, jadi saya dapat shift malam dadakan.”

“Dan saat itu ayahmu baik-baik saja? Tidak ada yang aneh? Tidak ada perubahan perilaku?”

Lain menggeleng. “Ayahku memang aneh, si Bodoh itu…”

Ia berhenti, suaranya melunak, nyaris seperti sedang bercerita pada diri sendiri. “Tapi, kalau perubahan perilaku, dia nyaris ngga pernah berubah sejak aku kecil. Dia itu… bagaimana ya menjelaskannya. Seperti gabungan antara robot yang terlalu banyak menonton anime.”

Naki berkedip. “Anime? Maksudnya?”

“Ya, Ayah suka sekali anime. Film kartun dari Bumi.”

Omar dan Naki bertukar pandang. Naki bertanya, “Kukira dia penulis?”

“Dia menulis karena tidak bisa menggambar.” Lain hampir tersenyum. “Tapi rutinitas hariannya seperti ritual. Dua jam membaca setelah bangun. Tiga jam menulis. Sebelum makan siang, mengutak-atik sesuatu sambil dengar musik.”

“Rutinitas yang ketat,” komentar Omar.

“Presisi,” tanggap Lain, sambil menggeleng cepat. “Ayah bilang dia ‘presisi’ dan ‘menjauh dari kebisingan sosial.’ Baginya, sistem kapal ini terlalu kacau. Jadi dia membuat sistem sendiri. Supaya bisa mengelola harapannya.”

Omar mencondongkan tubuh sedikit. “Sistem seperti yang ‘ketat’ itu?”

Lain menggeleng. “Dia sering meracau tentang bagaimana kapal ini seharusnya bekerja. Tapi, kupikir semua orang seumuran dia melakukannya. Nggak ada yang spesial.”

Naki melirik Omar, lalu bertanya, “Hm, dia merasa tidak puas dengan sistem saat ini?”

“Aku jelas ngga bisa mewakili opini Ayah,” sahut Lain. “Dia bilang dia menghargai konsistensi. Katanya, ‘konsistensi adalah yang membuat kita tetap hidup di dalam kaleng yang mengapung di luar angkasa’. Jadi, buat dia disiplin, penuh perhitungan dan konsisten itu pegangan hidupnya. Mungkin cara dia menyikapi kekecewaannya saja yang agak menyebalkan, seperti ngomel-ngomel pada dirinya sendiri. Tapi itu kupikir nggak membahayakan siapapun, dan nggak cukup alasan buat mengakhiri hidup.”

Omar mengangguk pelan sambil mencatat sesuatu. “Ayahmu sangat disiplin dengan rutinitasnya. Kamu juga begitu?”

Lain mengangkat bahu. “Saya nggak seobsesif itu. Mungkin karena—”

Ia berhenti.

“Karena?” desak Naki.

“Mungkin karena aku lebih fleksibel dan  agak reckless,” jawab Lain, meluruskan punggung. “Kami berbeda dalam banyak hal.”

“Jadi ayahmu bisa dibilang penuh perhitungan, ya.”

“Ya, dia sangat minimalis. Pernah suatu kali saya tanya, ‘Ayah, kenapa kita nggak pindah ke kompartemen yang lebih besar?’ Dia cuma jawab, ‘Ruang itu juga sumber daya. Menyia-nyiakannya adalah perilaku yang jahat.’ Lalu dia kembali mengukir miniatur kapal luar angkasa dari kayu bekas.”

Naki hampir tertawa, tapi menahan diri. “Dia mengukir kapal luar angkasa di dalam kapal luar angkasa?”

“Bukan sembarang kapal,” koreksi Lain dengan nada serius yang sepertinya ditularkan ayahnya. “Space Battleship Yamato. Ayah punya tujuh belas versi miniatur. Nggak semua bagus, sih, tapi semua diukir tangannya sendiri. Semua diberi nama berdasarkan episode favorit dia.”

Omar menatap Lain lama. “Tujuh belas?”

“Delapan belas kalau dia sempat menyelesaikan yang terakhir,” jawab Lain, suaranya mulai bergetar. “Tapi seperti yang kita tahu, dia nggak sempat menyelesaikannya.”

Ruangan diam sejenak. Hanya dengung ventilasi.

Naki berdehem pelan. “Sepanjang pengetahuanmu, apakah belakangan ini ayahmu sering mengobrol bersama teman atau kolega?”

Lain menggeleng. “Nggak ada.”

“Bahkan untuk berbincang di akhir pekan,” desak Naki, “Kau tahu, seperti bapak-bapak pada umumnya?”

“Ayah nggak punya teman,” jawab Lain. “Atau, lebih tepatnya, Ayah menganggap konsep pertemanan itu ‘tidak efisien.’ Itu kata-kata dia sendiri.”

“Tidak ada teman sama sekali?” Omar bertanya, nada suaranya naik sedikit.

“Kalau ‘teman’ seperti yang kita pahami bersama, sepanjang pengetahuanku, nggak ada,” kata Lain, mengingat-ingat, “Pertemanan itu butuh perawatan emosional terus-menerus, dan ayahku cukup malas menjaga modal sosial seperti itu. Aku cukup kenal ayahku sehingga aku tau dia lebih nyaman dengan hubungan yang nilai transaksionalnya jelas.”

Dia berhenti, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, “Kecuali dengan saya. Ayah bilang saya adalah ‘satu-satunya interaksi sosial yang nilainya sepadan dengan energi yang harus dia keluarkan.’”

“Kalau dipikir-pikir, ayahmu sebenarnya cukup manis,” ujar Naki seraya menulis sesuatu, lalu berhenti lagi.

“Atau menyedihkan,” sahut Lain. “Tergantung cara pandangnya. Ayah mungkin sesederhana ngga bisa bersosialisasi dengan wajar.”

“Oke, kalau begitu aku ganti pertanyaannya, adakah orang yang sering bertransaksi dengan ayahmu?” tanya Omar.

“Paling sering mungkin petugas kebersihan, apoteker, dan… oh—dia kadang berbincang dengan Pak Jayadi. Pemilik Warteg Jayadi Laut.”

Naki melongo. “Pak Jayadi yang anaknya nggak mau keluar dari vending machine itu?”

Omar menoleh tajam ke Naki. Naki merasakan pandangan itu seperti laser.

Vending machine?” tanya Omar, datar.

“Iya, Pak. Anak Pak Jayadi tinggal di dalam vending machine,” jawab Naki dengan antusias yang tidak pada tempatnya. “Ceritanya cukup lucu, Pak. Mau tahu?”

Omar menatap Naki dengan tatapan kosong yang biasanya dipakai untuk menatap laporan yang salah ketik. “Kenapa kamu tahu hal-hal tidak berguna seperti itu?”

“Oh, sekarang aku ingat,” ujar Lain, menyela. “Kau kan sering di Area Komunal dan bergosip dengan petugas laundry?”

“Bukan bergosip,” sanggah Naki defensif. “Itu namanya membangun network untuk investigasi.”

“Anak orang tinggal di vending machine,” ulang Omar, masih dengan nada datar, “dan kamu sebut itu networking.”

“Dia mengidap paranoid berat, Pak,” jelas Naki, terbata-bata tapi tampak masih antusias dengan topiknya.

Omar mengusap wajah, menghela napas panjang seperti orang yang baru menyadari juniornya mungkin tidak akan pernah naik pangkat. “Naki, lebih baik kamu periksa CCTV di sekitar warteg itu, dan jadwalkan untuk berbincang dengannya.”

Naki membuka mulut, menutupnya lagi, lalu mencatat sesuatu dengan gugup. Lain menggigit bibir menahan tawa—untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu.

Lain berdehem, mencoba meluruskan wajahnya. “Ayah memang kadang makan di sana. Dia bilang makanannya cukup berterima dan Pak Jayadi nggak pernah menanyakan hal-hal yang nggak penting.”

Omar mencatat. “Kau tahu kapan terakhir ayahmu ke warteg itu?”

Lain mengangkat bahu.

Omar mengangguk, lalu melirik Naki dengan tatapan peringatan. Ia sekali lagi mengingatkan untuk periksa kamera di sekitar Warteg dan Area Komunal.

Naki berdeham, berusaha mengembalikan topik, “Jadi, kalau ayahmu terisolasi sosial…”

“Bukan terisolasi,” sanggah Lain. “Ayah memilih untuk mengisolasi dirinya sendiri. Bedanya besar. Dia menganggap hubungan antar-manusia merepotkan. Dan itu bukan lelucon. Dia benar-benar percaya itu.”

“Kalau ayahmu tidak punya teman, tidak bersosialisasi, kenapa dia jadi target?” Naki berhenti, menyadari sesuatu. “Maksudku, Veyl biasanya menarget orang penting, kan?”

Lain menatapnya. “Dan ayah saya bukan orang penting?”

“Bukan begitu—” Naki mengusap tengkuk. “Maaf.”

“Nggak apa-apa,” kata Lain, pelan, “Ayah saya memang bukan orang penting. Dan itu yang mengganggu saya sejak teori Veyl muncul. Kalau organisasi semacam itu benar-benar ada, Ayah saya bukan tipe orang yang menjadi target pembunuhan? Ayah saya cuma orang aneh yang masih suka nonton kartun dan nggak suka ngobrol, dan saya rasa itu bukan alasan kuat kenapa dia harus dibunuh.”

Omar tidak langsung menjawab. Ia membuka map abu-abu di meja, mengeluarkan selembar kertas. “Karena,” katanya, “mungkin ayahmu bukan cuma orang aneh yang suka nonton kartun.”

Ia mengulurkan kertas itu. Di sana, foto seorang perempuan yang wajahnya terpecah jadi piksel-piksel buram dari CCTV yang diperbesar secara paksa.

“Kau kenal dia?” tanya Omar.

Lain menatap foto itu. Rahangnya mengencang. Jari-jemarinya, yang sejak tadi tidak pernah diam, membeku.

“Jelas kau kenal dia,” kata Omar, nada suaranya turun sedikit, lebih menekan, “Dari pemeriksaan CCTV, orang ini ada di lorong belakang kediaman ayahmu sekitar lima belas menit sebelum kematiannya.”

Lain mengangkat kepala. Matanya menyipit, menampilkan keraguan.

“Di lorong,” konfirmasi Naki. “Dia berdiri saja. Sebentar, sebelum menghilang saat sadar ada kamera.”

“Hanya berdiri?” tanya Lain, suaranya naik sedikit. “Nggak masuk?”

“Kamu terdengar terkejut,” komentar Omar. “Kenapa?”

“Kalau dia nggak masuk kamar, kenapa Ibu dicurigai?” Lain bertanya balik.

“Kau tahu kenapa,” kata Omar, dengan nada agak sinis.

Lain tidak langsung menjawab. Jemarinya meremas ujung kaos. “Setahuku, Ayah dan Ibu sudah nggak berkomunikasi sejak mereka bercerai. Tapi, bukan berarti mereka saling membenci. Dia membolehkan saya bertanya apapun tentang Ibu kalau saya mau, dan dia selalu menceritakan hal-hal baik.”

“Apakah kamu bertanya tentang arti namamu?” tanya Naki, “Biasanya orang tua menitipkan harapan pada nama anaknya.”

“Sekali. Waktu umur saya sepuluh tahun.” Lain menatap akuarium mati. “Tapi, saya nggak melihat ini relevan dalam interogasi.”

Omar tidak bergerak. “Olin Wardhani memilih nama ‘Lain’ untukmu?”

Lain menatap Omar tajam, “Saya rasa itu nggak ada kaitannya dengan kematian Ayah saya.”

“Atau,” kata Omar, tanpa mengangkat kepala dari catatannya, “seseorang yang ingin memastikan kau tidak pernah lupa bahwa kau datang dari tempat lain.”

“Saya rasa itu bukan hak saya untuk menjawab, dan sekali lagi, jelas nggak ada kaitan dengan penyelidikan ini.”

Omar tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan foto lain. Foto pertama, seorang perempuan di tengah kerumunan, mengenakan semacam selempang putih dengan simbol matahari stilasi. Foto kedua, perempuan yang sama, berdiri di podium, berbicara pada ratusan orang. Foto ketiga, perempuan itu tersenyum di samping seorang pria berambut panjang yang juga mengenakan selempang serupa.

“Tahu ke mana ibumu pergi setelah meninggalkan kalian?” tanya Omar. Tanpa mengisyaratkan Naki untuk membuka tablet. Di layar tertera profil lengkap: Olin Wardhani. Wirajaga, Luminara.

Lain membaca layar itu, bibirnya terbuka sedikit. “Wirajaga,” ia membaca pelan. “Apa itu?”

Omar menjawab dengan membuka map, mengeluarkan foto perempuan berselempang putih di tengah sekelompok orang.

“Ini adalah foto aktivitas perekrutan anggota Veyl di Luminara,” katanya singkat. “Sebagai Wirajaga, ibumu memastikan transfer pengetahuan dan pengasahan ideologi terjadi di Veyl, sebagai anak divisi mereka.”

Lain menatap foto itu. Di belakang ibunya, banner besar bertuliskan:.

Bumi Telah Mati.

Kitalah yang Membunuhnya.

“Mereka percaya aforisme Nietzsche versi bootleg seperti itu?” tanya Lain, suaranya hampir berbisik.

“Ibumu yang menulis slogan itu,” jawab Omar. “Dan dia cukup serius sampai bersedia ‘mengoptimalkan’ siapa yang layak hidup di kapal ini.”

“Mengoptimalkan?” ulang Lain.

Omar menggeser tablet ke arah Lain. Di layar, muncul dokumen berjudul “Proyeksi Keberlanjutan Mandala Horizon – Internal Only”.

“Ini ditemukan di server internal mereka.” Omar menggulir tablet. “Luminara punya timeline yang cukup ketat. ‘Fase Optimalisasi’ dimulai delapan bulan lalu.”

Naki membaca di atas bahu Omar. Dokumen bertajuk:

Proyeksi Keberlanjutan Mandala Horizon

“Mereka menghitung konsumsi oksigen per demografi,” lanjut Omar. “Proyeksi lima puluh tahun dengan berbagai skenario.” Jarinya berhenti di tabel. “Kriteria ‘Perhatian Prioritas’: usia 60+, pensiunan dini, pecandu kronis, disabilitas perawatan intensif.”

Omar menggeser tablet. Halaman berikutnya menampilkan grafik. Garis merah menurun tajam di tahun kelima. Label: Perhatian Prioritas.

“’Perhatian Prioritas,’” jawab Omar. “Eufemisme mereka untuk membunuh.”

“Ayahmu masuk dua kategori,” kata Naki pelan, membaca layar. Jarinya menunjuk catatan kaki. Catatan: Prioritaskan individu yang belum tercerahkan.

“Ayahmu menolak bergabung Luminara tiga kali,” kata Omar. “Bagi mereka, jelas Pak Kos menolak untuk dicerahkan.”

Lain menatap layar itu. “Kalian menduga mereka merencanakan pembunuhan massal?”

“Tidak secara eksplisit,” koreksi Omar. “Mereka mengadvokasi. Secara terbuka, mereka hanya bicara soal ‘optimalisasi sumber daya’ dan ‘keberlanjutan jangka panjang.’ Tapi di internal, retorikanya mungkin bisa jauh lebih ekstrem.”

“Sepertinya pertanyaan ini lebih cocok ditanyakan ke anggota Luminara?” tanya Lain, “Karena semua ini baru asumsi kalian saja.”

“Kami belum punya bukti konkret,” kata Naki. “Tapi pola makin jelas setelah manifesto Luminara dan ibumu tertangkap kamera. Kehadiran ibumu di lokasi adalah kesalahan yang tidak mereka perhitungkan.”

“Mungkin juga itu bukan kesalahan,” jawab Omar pelan. “Bisa jadi malah itu semacam pesan.”

Ruangan itu kemudian dikuasai oleh jenis kesunyian yang hanya muncul ketika terlalu banyak perasaan diucapkan sekaligus, sunyi yang sesak. Dengung ventilasi yang sejak tadi diabaikan tiba-tiba terdengar seperti monster yang bengek.

Lain menatap foto ibunya di layar tablet. Wajah yang sudah asing. “Mungkin Ibu ingin saya tahu,” bisiknya.

Omar dan Naki saling melirik.

“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Omar.

Lain menghembuskan napas panjang alih-alih menjawab. Matanya masih terpaku pada layar. Kemudian dia mengangkat bahu, “Cuma feeling. Kalian, kan, juga merancang semua cerita tentang bagaimana ibuku membunuh ayahku berdasarkan feeling?”

“Begini,” lanjut Omar. “Ibumu adalah Wirajaga. Kepala Intelijen. Dia bertugas menjaga ideologi, dan dia juga yang memutuskan siapa yang akan direkrut, dan—” ia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata berikutnya mengendap, “—disingkirkan.”

Ia menghela napas panjang, “Jadi, kami kira feeling kami cukup terjustifikasi.”

Ruangan seolah menyusut. Lain menatap foto ibunya di layar tablet, matanya bergerak lambat menelusuri wajah di layar seolah mencoba mengenali seseorang yang seharusnya familier.

“Ayahmu kelihatannya orang baik, dia tegas menolak bergabung dengan Luminara,” ujar Omar

“Ayah memang menolak banyak hal,” jawab Lain, agak parau. “Kalau nggak ada pertanyaan buat saya, saya rasa sesi saya cukup buat hari ini?”

“Satu hal yang perlu kamu pahami. Orang berubah. Terutama kalau sudah menyangkut iman,” kata Omar seraya menutup map. “Jadi sekarang, pertanyaan kami sederhana: apakah kamu tahu sesuatu yang bisa menjelaskan kenapa ibumu ada di lorong itu? Apakah ayahmu pernah bilang sesuatu tentang ancaman? Apakah ada hal lain yang perlu kami ketahui?”

Lain membuka mata. Wajahnya lelah. “Saya tidak tahu apa-apa,” katanya pelan. “Saya hanya ingin pulang.”

Omar menatapnya lama dan kelihatan ingin mencecar lagi dengan pertanyaan lain. Naki dengan cepat memotong. “Jadi, sejauh ini, kami tahu ibumu berperan sebagai Wirajaga, yang kami duga—”

“Dugaan yang konsisten,” potong Omar, lalu dia menatap Naki lagi. Kali ini lebih lama. Tidak marah. Tidak tersenyum. Lalu ia menurunkan pandangan ke dokumen di meja, setelah yakin Naki sudah kembali menjadi furnitur.

Omar melanjutkan, “Konsisten dengan pola. Dengan kebutuhan organisasi. Lagipula penemuan rekaman ibumu di sekitar lokasi memberi banyak jawaban.”

Lain menarik napas. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, ia tidak langsung menjawab. Matanya melirik akuarium. Cupang hologram berhenti tepat di depan wajahnya, menabrak dinding cahaya, lalu mundur lagi. Berulang. Tidak pernah belajar.

“Kalau begitu,” kata Lain akhirnya, “kenapa Ayah nggak mati lebih cepat?”

Omar mengangkat alis. “Maksudmu?”

“Kalau Ibu memang menarget Ayah,” lanjut Lain, “Ayah sudah jadi beban ideologis bertahun-tahun. Kenapa baru sekarang?”

Omar memutar kursinya sedikit, menciptakan sudut yang tidak sejajar dengan meja. “Kamu bertanya kenapa sekarang,” kata Omar. Ia menutup map, tangannya bertumpu di atas foto ibunya. “Tapi kamu tidak bertanya hal yang seharusnya lebih mengganggumu. Bagaimana pasangan bisa bercerai kalau tidak menikah? Atau, kamu tidak tahu itu?”

Omar tidak bergerak. Tangannya menggeser foto-foto dan menyingkap map abu-abu yang sejak tadi tidak disentuh.

“Dua dokumen legal,” kata Omar, meletakkan kertas pertama. “Kos dan Olin tidak pernah menikah secara resmi. Ini dibuat dua puluh tahun lalu untuk perizinan boarding. Dan yang satu ini menyatakan bahwa kamu anak adopsi.”

Ruangan seperti kehilangan oksigen.

“Kamu sudah tahu,” kata Omar. Bukan pertanyaan. “Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu: Kenapa Luminara baru bergerak sekarang?”

Omar bangkit dan menekan meja dengan kedua tangannya.

“Bagi Luminara, semua soal momentum yang tepat. Aku pun kadang menunggu momen yang tepat. Seperti saat ini. Saat aku membuka dua dokumen legal penumpang kapal di meja ini.”

Lain kelihatan sudah sangat tidak nyaman.

“Luminara konsisten soal momentum,” kata Omar, tangannya bergerak di bawah meja. Jari-jarinya menemukan sesuatu di dasar akuarium. “Seperti yang kulakukan saat ini.”

Klik.

Bob si cupang hologram padam, menyisakan bowl kosong yang memantulkan wajah mereka bertiga dalam kaca melengkung. Omar menatap Lain melalui pantulan itu. “Momen di mana aku menegaskan: interogasi cukup untuk hari ini.”

Lain bangkit dari kursi dan sebelum berjalan meninggalkan mereka, ia berkata, “Ayah mungkin harus mengoreksi sedikit kata-katanya,” katanya pelan. “Berinteraksi dengan polisi memang tidak sepadan dengan energi yang dikeluarkan.”

Pintu terbuka otomatis. Dua petugas muncul di ambang pintu, mengantar Lain keluar dari kantor polisi. Pintu menutup. Ruangan interogasi kembali dipenuhi dengung ventilasi.

Naki masih setengah berdiri, seolah tubuhnya lupa urutan berikutnya. Akuarium kosong di depannya terasa lebih berat dari sebelumnya. Omar, di sisi lain meja, merapikan berkas-berkas dengan ketelitian yang nyaris penuh kasih, lalu menyelipkannya ke dalam sebuah map abu-abu.

“Kamu terlalu cepat kasihan,” kata Omar, sambil berjalan ke pintu. “Itu kelemahanmu.”

Ia berhenti sebentar. Menoleh ke arah Naki. “Interogasi bukan tentang mencari siapa yang paling kasihan.”

Pintu terbuka.

“Tapi, mencari tahu apa yang berguna.”

Pintu menutup lagi.

Lampu merah kamera masih menyala. Ia merekam akuarium mati; merekam Naki yang kembali duduk, nyaris terhuyung; merekam seorang penyelidik yang baru menyadari, sedikit terlambat, bahwa di ruangan ini ia tak jauh berbeda dengan Bob, si ikan hologram. Seolah ingat sesuatu, Naki mengambil ponselnya lalu mencatat sesuatu di sana. Selesai mencatat, ia mengamat-amati wajahnya sendiri di akuarium. Pucat dan terdistorsi.

“Polisi ternyata suka mainan jadul.”

Naki tersentak, nyaris menyenggol jatuh akuarium.

Aika berdiri di ambang pintu, kepala miring, menatap bowl kosong. “Waktu kecil, aku punya yang seperti itu. Ikannya warna ungu.”

Naki menarik napas, berusaha menenangkan detak jantung, lalu menghardik, “Heh, bagaimana kau bisa masuk?”

“Lewat pintu. Seperti orang normal.” Aika melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. “Jadwalku sudah dimulai lima menit lalu. Kamu bengong terlalu lama.”

Naki melirik jam dinding. Setengah jam hilang tanpa ia sadari.

Aika duduk di kursi yang tadi diduduki Lain. Jari-jarinya mengetuk pelan di permukaan bowl. “Waktu itu akuariumku juga mati seperti ini. Orang tua bilang ikannya sedang tidur.”

Dengung ventilasi kembali mengencang, pertanda terjadi perubahan suhu. Lampu merah kamera masih berkedip. Merekam bowl kosong. Merekam dua orang yang tidak bicara.

Naki akhirnya membuka mulut, tanpa menoleh. “Menurutmu, ikan hologram bisa bermimpi tentang ikan betulan?”

Aika tidak langsung menjawab. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca melengkung.

“Tidak tahu,” katanya pelan. “Tapi kurasa ikan betulan tidak pernah bermimpi tentang hologram.”***

(Bersambung)

About The Author

Filed under : Fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *