Sumur yang Dicuri

Dalam Well Done, Abba (2009) , sutradara Shyam Benegal menghadirkan politik sehari-hari dan kritik terhadap korupsi berkarat dalam tubuh birokrasi.

Shyam Benegal (1934-2024) adalah nama yang penting dalam sinema India non-Bollywood. Karya dan namanya, sekalipun terbatas, beredar di kalangan sinefilia. Salah satu filmnya, Well Done, Abba (2009) merupakan sebuah komedi realis yang menyinggung inkompetensi kerja birokrasi dan korupsi yang sudah sangat karib menjadi keseharian. Dari keseharian itu juga politik yang diajukan oleh Shyam Benegal berpeluang untuk memberi jalan keluar.

Film ini berkisah tentang Armaan Ali (Boman Irani) yang terjebak dalam birokrasi korup di mana ia harus membayar suap kepada berbagai pejabat, mulai dari patwari (petugas pencatat tanah), sarpanch (kepala desa), para insinyur, hingga fotografer, untuk mendapatkan sumur lewat skema bantuan pemerintah. Akibat suap beruntun itu, tak ada sisa uang untuk membangun sumur yang jadi tujuan proyek. Berkat keajaiban photoshop, di atas kertas, Armaan Ali tetap berhasil memberi laporan resmi, bahwa sumur sudah dibangun. Jadi secara administratif sumur dinyatakan selesai, meski secara fisik tidak pernah ada. 

Intrik berkembang ketika pejabat meninjau sumur yang jadi kisah sukses proyek itu. Sumur yang seharusnya dibangun melalui dana subsidi pemerintah itu pun dinyatakan “hilang”. Kata para pejabat korup itu, sumur telah dicuri! Di sini Shyam Benegal dengan cerdik memperlihatkan bagaimana struktur pemerintahan yang seharusnya melayani rakyat justru jadi mesin pemeras yang melahirkan situasi absurd. Bagaimana benda seperti sumur bisa dicuri? Inilah akal-akalan birokrasi memenuhi segala syarat administratif demi mencairkan dana suap yang masuk ke kantong mereka. 

Putri Amraan Ali, Muskaan (Minissha Lamba), memahami Right to Information Act (RTI) atau UU Keterbukaan Informasi. Ia mendorong ayahnya untuk menggunakan hak hukum tersebut untuk menantang para pejabat korup. Tindakan Armaan Ali yang menggunakan RTI untuk mencari kebenaran tentang “sumur di atas kertas” tersebut memicu sebuah revolusi mini yang bergulir pesat hingga menjadi skandal yang mengancam pemerintah. 

Lewat komedi satir yang mudah diikuti semua kalangan ini, Benegal membedah anatomi korupsi yang terjadi dari tingkat bupati hingga petugas lapangan. Berbeda dengan produksi art-house lain di India yang cenderung eksperimental dan memiliki niche penonton khusus, film-film Benegal berada di antara genre arus utama, patutlah disebut sebagai parallel cinema. Film ini bahkan berhasil menjadi hit di box-office. Alih-alih memisahkan diri dari batasan narasi sinema populer, Benegal justru bekerja di dalam struktur narasi tersebut untuk menyampaikan cerita yang serius.

Film-filmnya mengangkat masalah sosial kontemporer yang berat, seperti sistem kasta, penderitaan perempuan di pedesaan, dan korupsi lewat sudut pandang masyarakat kecil yang tidak terasa membosankan. Karya-karyanya digambarkan memiliki energi, keindahan, hingga humor yang cerdas, sehingga mampu menarik minat kelas terdidik sekaligus menghibur masyarakat umum.

Dalam Well Done, Abba, Benegal menunjukkan emansipasi masyarakat modern lewat pemanfaatan regulasi hukum RTI yang memainkan peran sentral sebagai alat perjuangan melawan korupsi sistemik. Perjuangan menggunakan RTI ditampilkan sebagai situasi sehari-hari di pedesaan India yang dapat dihadapi oleh siapa saja tanpa memandang identitas agama atau kasta, sehingga memberikan harapan bagi warga biasa untuk menuntut akuntabilitas publik. 

Melalui inisiatif Muskaan, penggunaan undang-undang ini juga memperlihatkan tema pemberdayaan perempuan dan pendidikan yang menjadi ciri khas film-film Benegal. Sebagai siswi sekolah menengah, Muskaan menggunakan pengetahuannya tentang hukum untuk menggerakkan ayahnya yang buta huruf, menunjukkan bagaimana literasi hukum dapat mengubah masyarakat pedesaan.

Kontribusi penting lain Well Done, Abba adalah penggambaran tokoh utamanya yang beragama Muslim secara tidak sadar diri (unself-conscious). Film Bollywood kebanyakan menampilkan karakter Muslim dalam klise tertentu, seperti penyair, sosok paman yang baik hati, atau profiling muslim komunitas; Mere Mehboob (1963), Chaudahvin ka Chand (1960), atau My Name is Khan (2010).  Mereka ditempatkan dalam membahas tema spesifik seperti talaq, atau masalah loyalitas nasional. Sebaliknya, Well Done, Abba menempatkan protagonis Muslim, Armaan Ali, dalam situasi masalah India sehari-hari yang dialami siapa saja tanpa memandang identitas, yaitu perjuangan melawan korupsi birokrasi dan sistem pemerintahan yang lalim. Karakter ini bisa saja diganti menjadi penganut Hindu dan ceritanya akan tetap terasa sangat alami.

Benegal membuat identitas tokohnya terasa alami tanpa perlu membuat pernyataan politik yang berat soal identitas itu. Meskipun Armaan Ali adalah tokoh utama, putrinya Muskaan, berperan sebagai pendorong perubahan. Muskaan mewakili generasi baru yang terdidik dan berdaya. Keberpihakan Benegal terlihat dari bagaimana ia menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan adalah konsekuensi alami dari pembangunan, bukan sekadar pesan moral yang dipaksakan. 

Shyam Benegal: Foto sutradara Shyam Benegal di International Film Festival of Kerala tahun 2016
Shyam Benegal at the International Film Festival of Kerala, 2016, photo by Navaneeth Krishnan S. Source: Wikipedia.
Benegal dan Pahlawan-pahlawannya 

Shyam Benegal dikenal sebagai sosok yang secara konsisten mengambil sikap melawan intoleransi dan membela nilai-nilai inklusif serta sekularisme di India. Komitmennya terhadap nilai-nilai ini terlihat dari keterlibatan nyatanya dalam isu-isu kemanusiaan. Pada tahun 2014, ia menandatangani petisi untuk mendukung hak-hak LGBT  saat hubungan sesama jenis masih dikriminalisasi oleh pengadilan. Pada tahun 2017, ia menandatangani petisi yang menentang pembangunan kuil Hindu di atas situs masjid yang telah dihancurkan oleh massa di Ayodhya, sebagai bentuk pembelaan terhadap prinsip sekularisme. 

Meskipun politik India di akhir hayat Benegal cenderung bergeser ke kanan, ke arah program Hindu-first, ia tetap mempertahankan posisinya sebagai sosok yang tidak memihak (non-partisan) dan dihormati oleh berbagai kalangan politik karena kedalaman dan sensitivitas karyanya. 

Hal itu jelas terlihat setelah ia wafat, Rahul Gandhi, cicit Jawaharlal Nehru sekaligus pemimpin oposisi di Parlemen, menyebutnya sebagai sineas visioner yang menghidupkan kisah-kisah India dengan kedalaman dan kepekaan. Bahkan lawan politiknya, Perdana Menteri Narendra Modi, turut menyampaikan duka cita secara terbuka lewat akun media sosial, menyatakan bahwa ia sangat berduka atas kepergian Benegal, dan menegaskan bahwa karya-karyanya akan terus dikenang serta diapresiasi oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dalam film-film Shyam Benegal, gambaran pahlawan sangat berbeda dengan arketipe pahlawan dalam film Bollywood arus utama yang biasanya bersifat melodramatis dan eskapis. Benegal lebih memilih untuk menampilkan karakter yang berakar pada realitas sosial dan sering kali terpinggirkan.

Armaan Ali adalah antitesis sempurna dari pahlawan Bollywood modern yang mengandalkan otot. Aktor-aktor besar saat ini telah beralih menjadi sosok berbau militer yang menghancurkan musuh dengan kekerasan; Shah Rukh Khan dalam Pathaan (2023) dan Jawan (2023), Hrithik Roshan dan Tiger Shroff dalam War (2019). Namun pahlawan Benegal justru melawan dengan ketekunan sipil. Penggambaran karakter Armaan sebagai seorang Muslim dilakukan dengan sangat manusiawi tanpa beban stereotip. 

Alih-alih pahlawan super atau sosok yang tak terkalahkan, karakter utama Benegal sering kali adalah korban ketidakadilan sosial. Pahlawan dalam film Benegal bukanlah sosok yang hitam-putih. Ia memilih karakter-karakternya dengan sangat hati-hati untuk menggambarkan ketidakadilan, penyebab, serta dampaknya. Misalnya, dalam Ankur (1974), ia menyoroti nasib pasangan miskin dan penderitaan perempuan di pedesaan India yang menghadapi kekejaman manusia serta sistem kasta.  

Dalam film lainnya, pahlawan yang ditampilkan bukanlah individu tunggal, melainkan gerakan kolektif. Misalnya pada Manthan (1976), Benegal menceritakan tentang pengorganisasian “buruh” yang merevolusi sistem produksi-distribusi susu di India. Di sini, kekuatan perubahan terletak pada kerja sama kelompok masyarakat desa, kasta Dalit. 

Benegal berpendapat bahwa pedesaan India sering kali tidak direpresentasikan dengan benar di layar lebar. Baginya, untuk memahami psikis India yang sebenarnya, sineas harus melihat ke India pedesaan, bukan sekadar menjadikannya latar belakang kosmetik seperti dalam banyak film Bollywood. 

Sudut pandang Benegal sangat dipengaruhi oleh pengalamannya selama satu dekade membuat film dokumenter korporat dan informasi publik tentang topik-topik seperti produksi baja hingga inseminasi buatan pada ternak. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang isu-isu nyata di luar Mumbai, sehingga ia memandang film sebagai sarana untuk melaporkan perubahan di dunia sekitar kita. Selama berkarier di agensi periklanan Lintas hingga menjadi kepala kreatif, ia secara keseluruhan telah memproduksi 11 film korporat dan sekitar 900 iklan.

Selain film-film korporat tersebut, Benegal juga memproduksi beberapa karya dokumenter dan non-fitur penting lainnya, seperti dokumenter wawancara dengan Satyajit Ray pada tahun 1984, juga dokumenter ambisius dalam 53 episode, Bharat Ek Khoj (1988-89) berdasarkan buku Jawaharlal Nehru, The Discovery of India yang merangkum 5.000 tahun sejarah India.

Selain Well Done, Abba, ketertarikan Benegal pada hukum sebagai alat pemberdayaan juga terlihat dalam karyanya yang lain, seperti serial televisi Samvidhaan: The Making of the Constitution of India (2014), yang mengedukasi masyarakat mengenai hak-hak konstitusional mereka.  Demikianlah Shyam Benegal dengan film-film yang memiliki kepedulian sosial politik yang tinggi, dan Well Done, Abba adalah salah satu contoh terbaiknya.***

About The Author

Filed under : Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *