“Pilem-pilem P. Ramlee”dalam Keseharian dan Ingatan Kolektif Warga Perbatasan Nunukan

Suatu malam pada 2004, ruang tengah rumah nenek saya disesaki hampir oleh seluruh anggota keluarga. Orang-orang dewasa duduk di sofa. Anak-anak berbaring di atas lantai berlapis karpet, termasuk saya yang masih berusia lima tahun waktu itu. Semua mata tertuju ke televisi tabung berukuran 21 inci tengah menayangkan film hitam-putih berjudul Pendekar Bujang Lapok besutan P. Ramlee. Tawa demi tawa mengalir deras. Saya terpukau dengan kelucuannya. Durasi hampir 2 jam terasa singkat. Malam itu menjadi awal perkenalan saya, sekaligus mulai ikut menggandrungi apa yang biasanya warga Nunukan sebut “Pilem-pilem P. Ramlee.”   

P. Ramlee merupakan aktor, komposer, sutradara, penyanyi, sekaligus penulis naskah kelahiran Penang, Malaysia, 22 Maret 1929. Warga Nunukan dan sekitarnya, sehari-hari ditemani film yang dibintangi dan disutradarai olehnya. Khususnya bagi generasi kelahiran 1940-an hingga awal 2000-an. Nujum Pak Belalang, Ali Baba Bujang Lapok, Pendekar Bujang Lapok, Seniman Bujang Lapok, Ibu Mertuaku, Do Re Mi, Anakku Sazali, adalah beberapa film kesukaan saya. Menonton karya seniman serba bisa yang lahir dengan nama Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh, sempat menjadi kebiasaan turun-temurun masyarakat Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia ini. Dari mana semuanya bermula?    

Gambar peta Nunukan di perbatasan Indonesia dengan Sabah, Malaysia.
Peta Nunukan di perbatasan Indonesia dengan Sabah, Malaysia – sumber foto: google maps.
TV1 Malaysia melintasi perbatasan

Saya akan kilas balik menengok kondisi penyiaran televisi di Nunukan dalam rentang waktu 1960-an hingga 1980-an. Televisi adalah barang langka pada masa itu karena harganya yang mahal, tidak semua keluarga memilikinya. Biasanya, rumah pemilik televisi dikerumuni oleh warga sekitar untuk melakukan kegiatan nonton bersama. Selain itu, jauh sebelum siaran televisi Indonesia seperti TVRI hadir, TV1 milik pemerintah Malaysia sudah terlebih dahulu mengudara di layar kaca masyarakat perbatasan. Salah seorang warga Nunukan kelahiran 1970-an, masih mengingat jelas bagaimana hiburan televisi masa kecilnya hanya diwarnai oleh satu kanal televisi tersebut. Ia menceritakan kepada saya: 

“Dahulu cuman ada satu saja siaran kanal televisi di sini (Nunukan), namanya TV1 punya Malaysia. Hanya itu saja hiburan dulu. Kami sampai hafal nama raja-raja dan lagu kebangsaan Malaysia. Nah, film-film P. Ramlee ditayangkan juga, bahkan jadi favorit semua orang. TVRI itu baru masuk belakangan.” 

Mengapa kanal televisi Malaysia dapat dinikmati masyarakat Nunukan? Jika menelisik sejarahnya, pada 1963 pemerintah Malaysia mendirikan kanal siaran bernama Radio Televisyen Malaysia 1 (RTM1), atau umumnya dikenal sebagai Televisyen Malaysia 1 (TV1). Mulanya, kanal televisi pertama dan tertua Malaysia ini belum menjangkau keseluruhan negara; terbatas hanya pada beberapa wilayah negara bagian khususnya di Malaysia barat, atau juga dikenal sebagai semenanjung. Barulah pada Agustus 1980, mulai menyebar termasuk negara bagian Sarawak dan Sabah yang berada di Malaysia timur.  

Antena-antena televisi tabung milik sebagian kecil warga Nunukan mudah menangkap gelombang siaran tersebut, mengingat jarak dengan Sabah hanya sekitar 67 kilometer. Relasi kekerabatan dan intensitas mobilitas transnasional masyarakat antar kedua negara–mengakar bahkan sebelum ditariknya garis batas bikinan kolonial–menjadi sarana pertukaran berbagai informasi, termasuk tentang perluasan jangkauan kanal TV1. Sejak melintasi perbatasan ‘imajiner’ negara-bangsa, kanal TV1 dengan film-film P. Ramlee sebagai salah satu tayangan andalannya, dalam waktu cukup lama sempat menjadi satu-satunya tontonan bagi warga perbatasan Nunukan.

Foto Tugu Dwikora yang terletak di Alun-alun Pulau Nunukan, Kabupaten Nunukan, Indonesia.
Tugu Dwikora yang terletak di Alun-alun Pulau Nunukan, Kabupaten Nunukan, Indonesia – sumber foto: Muhammad Ad’har Nasir. 
Dari layar kaca ke keseharian 

Sinema selesai, televisi rusak, sinyal antena macet, atau listrik mendadak padam, tidak menjadi penghambat karya-karya P. Ramlee untuk terus hidup. Adegan-adegan lucu dibungkus satire, maupun sedih mengundang derai air mata, acapkali diperbincangkan ulang oleh warga dalam kehidupan sehari-hari. Menembus ruang dan waktu. Saat sedang berkumpul bersama keluarga, teman, maupun tetangga. Di sela-sela momen pernikahan, akikah, sunatan, sampai sekadar berkumpul di warung kopi, pos ronda, teras rumah, hingga sekolah.  

Saya masih mengingat kali pertama membahas filmnya ketika masih mengenyam pendidikan sekolah dasar. Waktu itu adalah jam istirahat makan siang di salah satu warung di kantin sekolah. Setelah meneguk pop ice rasa coklat, dan mengakhiri gosip tentang penjaga sekolah, seorang teman menyelipkan salah satu adegan ikonik menggelitik perut dalam film Pendekar Bujang Lapok. “P. Ramlee dan dua kawannya sedang berguru silat agar dapat menjadi pendekar sakti mandraguna, lalu diuji oleh sang guru untuk bertapa di tempat-tempat angker. Mereka diminta untuk tetap tenang jika mengalami berbagai macam gangguan sambil berucap kata ‘cobaan.’ Eh, anak gurunya diculik penjahat. Mereka tidak membantu padahal telah diperintahkan oleh sang guru, bahkan melihat langsung adegan penculikan, karena mengira itu hanya bagian dari tes,” langsung disambut dengan gelak tawa seisi warung.  

Saya yang duduk di meja berbeda langsung menimpali. “Aku nonton juga! Gurunya berkali-kali mengatakan kalau ini sungguhan, bahkan membawa dua orang lain untuk meyakinkan kalau anaknya bernama Ros, benar-benar diculik. Ketiganya, tetap duduk bersila di bawah pohon dengan tenangnya terus-menerus mengucap ‘cobaan.’ Gurunya pusing uring-uringan hingga tergeletak di atas tanah.” Padahal saya dan seorang teman yang memancing obrolan tadi, sebelumnya sempat berkelahi di ruang kelas karena berebut pensil. Rasa permusuhan berganti menjadi keakraban kembali, karena satu cuplikan adegan film. Pemilik kantin tidak ketinggalan memberikan komentar. “Ibu pun nonton semalam. Itu artinya kalian harus sabar, dan jangan menelan mentah-mentah tanpa dipikir terlebih dahulu yah, Nak.” Lonceng penanda berakhirnya jam istirahat mulai berbunyi. Setelah masing-masing membayar, kami berjalan bersama menuju ruang kelas sembari melanjutkan obrolan tentang akhir cerita dalam film. 

Foto Salah satu patok perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Indonesia
Salah satu patok perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Indonesia – sumber foto: Muhammad Ad’har Nasir. 
Ingatan dan kerinduan 

TV1 perlahan mulai menghilang dari peredaran. Antena analog usang mulai ditinggalkan, digantikan oleh jaringan televisi kabel. Berbeda dari sebelumnya, kanal-kanal televisi swasta asal Indonesia mulai mendominasi dengan beragam program dari pagi hingga tengah malam. Harga berlangganan televisi kabel pun mulai terjangkau. Saya sempat mengira tidak akan dapat menonton film-film P. Ramlee lagi. Film-film Malaysia belum banyak diunggah secara ilegal di internet, hiburan masih sangat bergantung pada televisi yang disesaki sinetron-sinetron Indonesia. Memang ada banyak pilihan, namun sangat membosankan karena formulanya seragam. Pada titik inilah, saya merindukan film-film P. Ramlee.  

Perasaan itu ternyata tidak saya rasakan sendiri. Ketika berkumpul di rumah nenek bersama keluarga besar, di tengah obrolan tentangkenangan masa lalu, nama P. Ramlee selalu muncul. Hal yang sama juga terjadi dalam berbagai kesempatan berbeda. Ketika saya nongkrong bersama tetangga di pos ronda, maupun berkumpul bersama teman-teman di sekolah. Semua mulut selalu saja memunculkan kata “ingatan” dan “kerinduan” terhadap film-filmnya. Bahasan seputar film juga seringkali memantik nostalgia akan peristiwa-peristiwa lain. Misal, perkenalan saya dengan filmnya bersamaan dengan momen awal memulai jenjang pendidikan sekolah dasar. Tetangga saya mengingat, ia pernah nonton bersama dengan beberapa buruh migran tanpa dokumen asal Indonesia yang dideportasi dari Sabah melalui Nunukan pada tahun 2002 di salah satu lokasi penampungan massal. 

Kerinduan tak terbendung. Ada suatu masa ketika penyedia jasa televisi kabel di dekat rumah saya, diminta oleh banyak warga untuk menayangkan secara khusus hanya film-film P. Ramlee. Pemilik usaha dengan senang hati menyetujui. Selain dapat meraup keuntungan, kebetulan ia merupakan salah satu penggemar berat seniman yang meninggal muda pada usia 44 tahun itu. Akhirnya warga kembali dapat menikmatinya. Pelanggan baru pun melonjak drastis. Ruang keluarga kembali ramai diisi seperti dahulu. Tidak menayangkan hanya beberapa judul film populer saja; hampir semuanya selama 24 jam secara maraton dalam kurun waktu beberapa minggu! Kalau tidak salah ingat, momen itu bersamaan dengan kembali merenggangnya hubungan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia karena suatu hal, namun tidak menyurutkan minat warga menonton film-film negeri jiran. 

Pilem-pilem P. Ramlee melampaui hiburan semata. Menerabas konflik dan garis batas antar negara. Menjadi penanda peristiwa personal dan sosial. Diperbincangkan dalam waktu cukup lama. Terselip di antara obrolan tentang urusan pribadi maupun publik. Merentang dalam lima generasi masyarakat perbatasan Nunukan, mulai dari baby boomer hingga gen-z awal. Tidak terasa hambar walaupun disaksikan berulang-ulang. Sudah 50 tahun lebih berlalu sejak P. Ramlee menghembuskan nafas terakhirnya, namun karyanya tidak pernah mati. Nilai-nilai didalamnya meninggalkan kesan mendalam. Meskipun tontonan televisi kini tidak seramai dahulu, beberapa cuplikan di dalam filmnya masih membekas di dalam ingatan dan tindakan. Hingga sekarang, ketika sedang mengalami kesialan dalam hidup, saya dan beberapa kenalan sesama warga Nunukan masih sering menenangkan diri sambil mengucapkan kata “cobaan,” diserap dari salah satu adegan ikonik film berjudul Pendekar Bujang Lapok.

***

Artikel ini pernah dimuat di zine Kattebeletje: Collective Culture, diterbitkan oleh Telkom University dan Komunitas Filsebat, 2026. 

About The Author

Filed under : Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *