Monisme: Gunung Berapi, Intertekstualitas, dan Kegagalan Epistemik

Hubungan antara manusia Indonesia dan gunung berapi adalah hubungan yang sangat panjang dan lebih tua daripada catatan yang selamat dalam sejarah. Hubungan ini menjadi asal muasal banyak kisah rakyat, sajak, puisi, film panjang, dokumenter, bahkan hingga iklan minuman berenergi yang sempat ramai menggunakan figur “penjaga” gunung sebagai model iklannya. Dilihat dari permukaan, Monisme (2023) karya Riar Rizaldi menjadi salah satu tambahan dalam hikayat panjang manusia Indonesia dengan gunung.

Melihat Monisme Secara Monisme

Monisme sebagai konsep telah hadir sejak lama dan tidak asing dalam ranah gagasan perihal kesatuan Tuhan dan alam. Spinoza adalah salah satu figur penting dalam arus filsafat barat di abad 17 yang mencetuskan konsep “kesatuan” alam semesta sebagai Deus sive Natura (Tuhan atau Alam). Menurutnya, pikiran dan materi bukan sesuatu yang terpisah. Keduanya adalah atribut yang berbeda dari satu kesatuan yang sama, mirip dengan alur pikiran filsuf sebelum Sokrates dengan ide-ide “wujud itu satu dan tidak terbagi”. Konsep ini juga ada dalam tradisi timur pada filsafat India dalam konsep non-dualisme, bahwa Brahman adalah realitas yang satu dan menjadi keberadaan yang sejati. Ide “kesatuan” ini juga muncul dalam pemahaman mistis tokoh sufi Al-Hallaj. Monisme (meski Al-Hallaj tidak secara verbatim menyebutnya sebagai monisme) adalah ketika diri manusia melebur ke dalam Yang Tunggal, sebagai bentuk hilangnya dualisme antara “pencipta” (creator) dan “yang diciptakan” (creation).

Secara necis, hilangnya batas dualisme atau perbedaan antara subjek-objek, dan “pencipta” atau “yang diciptakan” ini dipertontonkan dengan terang-terangan dalam Monisme melalui aktor-aktor Rendra Bagus Pamungkas dan Kidung Paramadita dalam film. Mereka, dalam adegan berbeda, berperan sebagai peneliti, karakter dalam film, atau sesuatu yang benar-benar berbeda dari keduanya. Dalam kesengajaan mengaburkan peran “pencipta” sebagai seseorang yang sedang menciptakan film dokumenter, mereka juga menjadi karakter yang benar-benar berbeda.

Penggabungan aktor-aktor untuk peran berbeda ini adalah monisme eksistensial klasik, berbarengan dengan upaya penyatuan bahasa sinema dan penabrakan genre yang selama ini kerap terkotakkan dalam dualisme taksonomi film: fiksi-nonfiksi, dokumenter-non-dokumenter, panjang-pendek, atau eksperimental-konvensional. Konsep monisme tersebut dimasukkan tidak hanya pada judul film, tetapi juga pada narasi, eksekusi serta pengemasannya. Dalam gaya dokumenter yang juga memiliki unsur fiksi dan breaking the fourth wall ini, Monisme kemudian menjadi manifestasi yang harfiah sebagai penyatuan “pencipta” dengan “yang diciptakan”.

Selain monisme yang hadir dalam pengaburan aktor dan perlawanan genre, ontologi yang menyatukan subjek-objek di dalam narasi film juga hadir dalam keberadaan gunung, penambang pasir, pasir, lahar, preman, instrumen seismograf, jurukunci, penari, supir truk, dan pemandangan yang berada pada level eksistensi yang setara (flat ontology). Adegan gunung Merapi yang diam berkali-kali muncul secara minimalis. Pemandangan di sekitarnya berperan sebagai subjek sekaligus objek yang berbicara pada penonton meski tanpa eksposisi verbal layaknya dokumenter semisal: “gunung Merapi adalah gunung berapi yang…”.

monismeposter
(Poster film Monisme. Sumber: rizaldiriar.com)
Dualisme dalam Monisme

Sayangnya, terdapat dualisme antara Monisme sebagai film dan monisme sebagai konsep dalam film ini. Walaupun, barangkali Monisme memang tidak secara sengaja ingin menjadi sebuah monisme. Banyak paradoks dan logika-logika biner, baik secara intrinsik dalam genrenya atau dalam narasi yang ditunjukkan. Kehadiran dualisme dalam Monisme ini dapat dilihat dari dua sisi, yakni secara intra-film dan ekstra-film.

Pertama, adanya kesengajaan Monisme untuk hadir dalam relung-relung non-arus utama. Di luar kesulitan distribusi secara teknis untuk film-film di luar rumah produksi besar, pelabelan, penamaan, serta pencitraan sebagai film eksperimental atau dokufiksi yang “radikal” ini justru memvalidasi dan memelihara film populer sebagai oposisi – yang kemudian menegaskan oposisi biner sinema konvensional versus eksperimental. Monisme juga beredar di tempat-tempat pemutaran non-ortodoks di ruang diskusi film yang penuh “was-wes-wos”, atau di festival yang tidak dapat diakses oleh kebanyakan orang. Kenyataan ini adalah kode  yang – meski bisa jadi valid lantaran kesulitan tayang akibat problem inheren sistem distribusi – juga memakmurkan kebineran budaya menonton yang ada. 

Kedua, meski pengemasan intra-film Monisme berusaha meleburkan “pencipta” (creator) dan “yang diciptakan” (creation), dengan naskah yang ditulis dan diwujudkan secara kolaboratif dan tidak umum seperti dalam penggambaran karakternya, pengemasan terakhir tetap berada di keputusan Riar Rizaldi sebagai sutradara. Riar yang secara formal dikenal sebagai pembuat-sutradara (dan kemudian menggunakan) Monisme sebagai objek diskusi dan identitas di forum-forum, tetap tidak menghilangkan adanya hierarki produksi. Dengan kenyataan, relasi dunia nyata antara film dan pembuatnya (meski tidak serta-merta menjadi kesalahan) tidak dapat dihilangkan, sehingga wacana monisme ini pun hanya dapat hadir secara intra-film tetapi tidak secara ekstra-film.

Terakhir, meski tema non-antroposentrisme (yaitu vital materialism Merapi) ini sangat kuat, pada akhirnya film ini tetap dibuat oleh manusia, untuk dikonsumsi oleh manusia, dan dinilai menggunakan instrumen kebudayaan manusia (festival film, kritik sinema, teori akademik), juga pada kritik yang tak bisa lepas dari dualisme kritik yaitu antara argumen kontra dan argumen pendukung.

Dualisme ini secara tragis dan gamblang ditunjukkan dalam salah satu adegan kekerasan yang secara hampir sangat tekstual menyampaikan “jahat” versus “baik” atau “laki-laki” versus “perempuan”, dengan kerja kamera yang memiliki tendensi male gaze berisi “subjek penonton” dan “objek penderita.” Penggambaran kekerasan terhadap perempuan di film ini, selain sarat dengan dualisme yang aneh, juga bisa jadi tidak perlu dan memiliki tendensi voyeurisme – eksploitasi dan dominasi terhadap perempuan yang dipaksakan.

Konteks Merapi dalam Monisme pun penuh dengan dualisme. Ada Merapi sebagai “objek” gunung dan Merapi sebagai “subjek” intertekstual yang kaya dengan ikatan budaya berdasar asumsi bahwa hal ini telah dipahami oleh sebagian besar penonton Indonesia. Tanpa konteks ini, penonton mungkin akan kehilangan banyak subteks, menciptakan kekosongan intertekstualitas sekaligus dualisme baru, yaitu adanya penonton yang paham Indonesia versus yang tidak.

Intertekstualisme Merapi sebagai Pondasi

Riar dalam beberapa sesi forum dan wawancara, mengaku telah menghabiskan waktu delapan tahun untuk menciptakan film ini, sekaligus kini tinggal di daerah kaki Gunung Merapi. Sebagai manusia Indonesia yang hidup dikelilingi gunung, tumbuh dengan cerita rakyat, mengenal tabu atau prasangka soal gunung, persepsi dan pemahaman saya, dan banyak orang Indonesia lain, terhadap gunung dianggap sudah terbentuk sebelumnya. Pemahaman yang dianggap sebagai keniscayaan ini kemudian menjadi titik lemah dalam memahami Monisme secara keseluruhan.

Ketimpangan epistemik ini tidak hanya hadir antara penonton dengan Riar, sebagai yang tinggal lama dan bolak-balik ke Gunung Merapi, tetapi juga terhadap penonton lain yang secara umum tidak tinggal di Indonesia, atau tidak mengalami konteks logika mistika dan sosiopolitik orang Indonesia. Pengetahuan dasar tentang gunung berapi dan tabu terhadap atmosfer gunung, atau detail-detail lain seperti konsep kesurupan yang dramatis, premanisme yang kental di Indonesia, atau keseharian kelas pekerja penambang pasir dan supir truk, akan dipahami secara berbeda-beda oleh penonton yang sudah akrab dengan konteks yang mengelilingi hal-hal tersebut. Secara sederhana, katakanlah ada sekelompok penonton dengan kebudayaan yang tidak memiliki pemahaman konteks sosiopolitik lokal dan objek-objek cerita tersebut. Menyaksikan film dengan intertekstualitas kental seperti ini, apakah Monisme sebagai media tetap bisa dipahami dan dicernasebagaimana Riar meniatkannya? Sejauh apa intertekstualitas ini bisa diandalkan ketika film ini pada dasarnya justru ingin mengangkat ide yang luas?

Terlihat ada pemisahan dan asumsi antara apa yang tampil secara fisik di layar (gambar, suara, adegan absurd, dan mise en scene) dengan teori pembungkusnya (sinopsis, pelabelan film, esai kuratorial yang kerap mendampingi, jargon new materialism, deep ecology, atau bahkan sufisme al-Hallaj). Dengan ketidakhadiran “instruksi” akibat keramaian intertekstualisme ini, Monisme berisiko menjadi tidak terjemahkan dengan baik, bahkan ketika ia masih berbicara dalam bahasa Indonesia dan bahasa sinema yang umum. Film ini goyah ketika berdiri sendiri sebagai sebuah monistis tanpa bantuan dualisme dan intertekstualisme teks penjelas di luar dirinya.

monisme still002
(Sumber foro: rizaldiriar.com)
Monisme Monisme 

Mengalami Monisme adalah mengingat bagaimana saya dan beberapa teman menyaksikannya di Flaherty Seminar Thailand pada 2024. Saat itu, saya hadir sebagai “tamu selundupan”. Ini sebuah kebetulan karena saya harus menemani seorang teman di Bangkok untuk urusan visa, lalu terbawa ke tempat tersebut dan merasa sangat beruntung bisa menonton Monisme dalam slot penayangan rahasia. Pertemuan ini terasa sebagai sebuah keberuntungan yang menyenangkan; serendipity, ketika Monisme sedang hangat-hangatnya dibicarakan di mana-mana, terutama di dalam gelembung pegiat film eksperimental. Pengalaman ini kian bertambah unik ketika seorang teman yang menghadiri acara tersebut mengaku sudah empat kali “tidak sengaja” menonton Monisme. Begitu pun di kemudian hari ketika kenalan dan beberapa teman lain saya mengalami Monisme secara kebetulan di sini dan di sana: “Seperti disodorkan dan dijodohkan”.

Saya sendiri sama sekali tidak pernah menyangka, saat bangun di pagi hari itu, bahwa saya akan menyaksikan film ini. Beberapa orang lain pun mengungkapkan hal serupa—termasuk Aya, istri saya. Mereka menonton Monisme secara tidak sengaja: “terjebak” dalam pemutaran film kecil, atau mendadak dibelikan tiket tanpa rencana awal. Monisme datang kepada mereka, bukan sebaliknya. Kenyataan yang agak ganjil ini memberi nuansa tambahan dalam menikmati karyanya, yang kerap dilabeli sebagai film horor, film eksperimental, mokumenter, hingga dokufiksi tentang ketuhanan dan hal-hal metafisikal.

Pada akhirnya, membahas kelakar dan anekdot ini pun bisa jadi penting, ketika Monisme bertransformasi menjadi sebuah monumen di mana kisah di sekitarnya perlahan-lahan menelan apa yang terjadi di dalam karyanya sendiri. Ketika dibawa dalam konteks kritik film, segala proses teknis, pengalaman, kebetulan, perasaan, “kegaiban”, distribusi, hingga tingkah “nonton Monisme ini jangan dipaksakan, harus dia yang datang untukmu”, justru bisa jadi menjadi relevan dan krusial dalam memahami film ini dalam hakikat monisme yang seutuhnya.

Mengkritik Monisme memerlukan penerimaan bahwa ketimpangan epistemik terjadi di dalam dan di luar film. Dalam konteks menikmati film, ketika melihat Monisme beroperasi dengan banyak pemahaman yang agak “gaib”, secara reaktif dan reduktif, siapapun bisa jadi akan melihat dan menilai Monisme sebagai film dokumenter, drama animisme dan dinamisme, atau horor dan eksperimental saja.

Titik disonansi yang menarik adalah ketika dunia akademia modern tampak lebih bisa menerima konsep Monisme lewat pintu masuk dan bahasa yang lebih akrab di dalam dunia ilmu sosial dan humaniora seperti konsep non-antroposentrisme dan ontologi sosial, atau dalam gerakan kesenian modern dan post-woke, dibandingkan dalam relung formal seni media yang kerap mereduksi bentuk seperti ini sebagai “eksperimental”.

Bentuk-bentuk yang secara gamblang dipertontonkan oleh Monisme seperti ekologi bermakna (deep ecology) dalamekologi politik,dan post-humanisme serta materialisme baru adalah gagasan-gagasan yang mengkritik sistem dualisme dalam interaksi manusia dan alam, bahkan juga kritik bagaimana ilmu pengetahuan itu beroperasi sebagai sisa-sisa kolonialisme dan epistemologi yang tidak adil dalam menyikapi wawasan non-manusia. Gelombang gerakan sains jaman sekarang yang lebih memberi nilai intrinsik pada hal-hal non-manusiawi tersebut, niscaya akan lebih bisa menerima tema dan paparan yang hadir dalam Monisme, meski secara metatekstual, tetap ada paradoks ketika kerangka pikirnya tetap hadir dalam dualisme non-manusia dan manusia. Kritik dalam bahasa sinema umum bisa jadi gagap dalam menghadapi Monisme.*** 

About The Author

Filed under: Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *