4 Setiap Hantu di Dalam Mesin Memilih Mesinnya Sendiri
Selamat pagi, Arkonot.
Selamat pagi, anak-anak Bumi terkasih.
Saatnya bangun.
Suara itu turun dari langit-langit Kompartemen Hunian Blok C dengan kelembutan seorang ibu yang sudah memutuskan bahwa ia, tak peduli bahwa anak-anaknya pemalas, tetap membangunkan sebagai wujud kasih sayang. Siaran Pagi 06.00 CAT telah berfungsi sebagai alarm kolektif seluruh kapal sejak hari keberangkatan. Orang bisa berdebat tentang bagaimana kamu mendefinisikan ‘pagi’ di dalam ruangan yang tidak punya ufuk dan secara teknis tidak punya alasan astronomis apa pun untuk menyebut satu momen lebih ‘pagi’ daripada momen lainnya. Tetapi manusia adalah spesies yang membutuhkan permulaan, dan kapal ini memberikannya setiap dua puluh empat jam secara konsisten.
Di bunk tingkat keempat—tingkat paling atas, yang nyaris menempel pada instalasi pipa langit-langit dekat speaker tempat suara siaran masuk—Aika terbangun dengan cara yang sama seperti orang yang ditarik keluar dari air dingin.
Aika menyentak duduk. Kepalanya nyaris membentur panel. Ini bukan reaksi yang wajar terhadap pengumuman pagi yang menyenangkan, tetapi Aika tidak pernah punya hubungan yang wajar dengan suara yang datang dari atas, sementara kapal ini—yang mencatat suhu, kelembapan, kadar oksigen, dan jumlah air yang digunakan setiap penghuni menyiram toilet—tidak terlalu peduli trauma Aika dengan suaranya.
Kami mengenalmu, kamu mengenal kami.
Dan Bumi selalu menunggu kepulangan kita.
Aika menunggu napasnya kembali ke ritme yang lebih wajar, lalu turun dari bunk dengan tangga yang sudah hafal lekuk telapak kakinya. Di bawah, antrean ke washtafel umum sudah terbentuk dengan disiplin. Orang-orang tahu persis berapa detik jatah air mereka dan tidak berniat membuangnya untuk berbasa-basi. Seseorang menggosok gigi. Seseorang lain menatap cermin dengan ekspresi ingin tidur lagi. Aika mengantre, mencuci muka pada gilirannya, mengelap dengan handuk, lalu mundur agar orang berikutnya bisa maju. Ini adalah koreografi yang sama setiap pagi, ditarikan oleh ribuan orang yang memori pada otot-ototnya ditempa oleh waktu, kedisiplinan, dan doktrin.
Hari ini kita bekerja dengan riang gembira.
Bekerja membuat kita bermakna.
Bekerja membuat kita bahagia.
Bekerja membawa kita selangkah lebih dekat untuk pulang.
Aika mengenakan seragam kerja—merah dengan hiasan strip putih, dan tambalan di siku kiri yang ia jahit sendiri dengan benang yang warnanya hampir cocok—dan menyumpalkan sepasang earphone ke telinga. Tablet penugasannya berkedip, memberi instruksi baginya untuk mengunjungi Kompartemen IV, Zona Fotoautotrofik. Ia mengantre lagi di pintu keluar, kali ini ia harus mentransfer daftar kerja hariannya di mesin administrasi di muka pintu.
Hari ini ia harus menjalani pemeriksaan rutin. Aika sudah cukup sering melakukannya hingga memahami bahwa rutin adalah ungkapan favorit kapal untuk segala sesuatu yang sangat penting, sangat membosankan, dan tidak bisa ditunda. Di Mandala Horizon, ketiga hal itu hampir selalu muncul dalam paket yang sama.
Bumi adalah satu-satunya rumah.
Satu-satunya Surga.
Dan dengan itu, Siaran Pagi selesai, sebagaimana ia selalu selesai, dengan sebuah lagu berjudul “Mars Pemuda Arkonot Indonesia”, tanpa memikirkan perasaan lansia.
Aika menekan satu tombol di perangkat kecil di dasar sakunya. Transmisi di eraphone-nya beralih. Selama beberapa detik hanya derau, lalu pada detik berikutnya muncul sepotong lagu dan kemudian sebuah suara yang menginterupsi lagu itu.
“—dan itu, Saudara-saudara sekalian penghuni kaleng terbang ini, adalah lagu yang sangat bagus untuk didengarkan sambil mempertanyakan pilihan hidupmu. Selamat pagi. Atau apapun yang selamat saat ini, kecuali diriku sendiri,” ujar penyiar radio, mengoceh dengan ringan.
“Aku nggak melebih-lebihkan, di ruang siaran ini sekarang suhunya kurang lebih sehangat ketiak Tuhan, dan aku sudah berkeringat di lipatan-lipatan yang bahkan kupikir selama ini nggak punya kelenjar. Tapi, aku tetap di sini. Untuk kalian. Karena itulah cinta, kan? Cinta adalah tetap menyiarkan meskipun celana dalammu sudah menyatu secara permanen dengan kursi. Alamakjan! Pagi-pagi aku sudah mengeluarkan stok kata-kata bijak.”
Aika berjalan menuju elevator. Di sekelilingnya, orang-orang bergerak menuju hari mereka dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa mereka tidak mendengar suara yang sama dengannya, karena memang tidak. Itulah keindahan dari sebuah radio yang tidak seharusnya ada: ia terasa spesial karena hanya bisa didengar oleh mereka yang sudah tahu cara mendengarnya.
“Berita hari ini,” lanjut suara itu, dengan nada seseorang yang berpura-pura menjadi penyiar berita. “Kita masih berada di dalam termos raksasa dengan jarak yang ngeri-ngeri sedap dari Jupiter.
Kata Kapten Kapal yang terhormat, kalau kita kena radiasi kita bakal berubah jadi sekumpulan ubur-ubur bercahaya yang bisa dipakai sebagai lampu darurat. Untungnya para ingsinyur kita belum berubah menjadi kumpulan kerang, sehingga perisai radiasi masih berfungsi sebagaimana mestinya. Kabar baik harus disampaikan!”
Aika sangat mengenal penyiar yang satu ini, termasuk bagaimana ia menggunakan kata seruan ‘alamakjan’ (entah apa artinya) dan dengan sengaja menyebut ‘insinyur’ dengan ‘ingsinyur’. Dan yang keren dari semua itu, penyiar yang satu ini membuat dua kata itu jadi populer di kalangan pendengarnya.
“Tapi… oh, tunggu, ada satu berita. Konon katanya, dan ini cuma katanya, ya, jangan kutip aku, kalian nggak boleh menyertakan kutipan ini di dalam laporan harian kalian, oke. Katanya, ada tamu yang sudah seminggu ini mondar-mandir di area kita. Nggak ada yang tahu dia ngapain, sebetulnya nggak ada yang tahu juga dia tamu siapa. Kalau di antara kalian ada yang kesepian banget, mungkin bisa ajak ngobrol.” Suara itu terkekeh pada lelucon yang baru ia buat sendiri. “Anyway. Oji memang begitu, sih. Kalian tahulah reputasi mereka. Selalu mengirim orang paling membosankan yang bisa mereka temukan ke mana pun. Aku rasa itu strategi. Kalau utusan Oji ini cukup membosankan, nggak ada yang akan ingat dia pernah datang.”
Pintu elevator menutup perlahan. Coro—nama penyiar itu—adalah salah satu orang yang ikut mempopulerkan istilah Oji sebagai pengganti Ozymandias, salah satu dari empat Kapal Generasi yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Sebenarnya ia bukan orang pertama yang menyebutnya demikian. Julukan itu sudah lebih dulu beredar di kalangan warga Indonesia di Mandala Horizon. Namun Coro mengadopsinya dengan penuh semangat karena, menurutnya, Oji terdengar seperti nama paman yang muncul di acara keluarga setahun sekali, meminjam uang, lalu menghilang lagi selama sebelas bulan berikutnya.
Selama beberapa tahun terakhir ia berhasil membuat cukup banyak lelucon tentang Oji hingga sebagian orang lupa bahwa nama resminya adalah Ozymandias. Setelah satu atau dua sindiran lagi yang tidak memiliki hubungan dengan apa pun, Coro langsung beralih ke topik berikutnya tanpa transisi.
“Ngomong-ngomong soal kematian,” kata Coro, yang sama sekali tidak sedang membicarakan kematian sebelumnya, “kalian dengar soal periset tambang yang mati di Koridor Lingkar 331? Tentu kalian dengar. Nggak ada rahasia yang bisa disimpan di kapal yang dindingnya setipis keripik singkong. Nah, ini bagian lucunya. Polisi kita yang terhormat, yang tugasnya menjaga kita semua tetap aman dan teratur seperti protein dalam karton, sudah menemukan orang yang diduga tersangkanya. Coba tebak siapa? Istrinya sendiri.”
Coro berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Luar biasa. Seorang pria ditemukan tewas, dan kurang dari dua hari kemudian penyelidikan berhasil mencapai kesimpulan yang paling mengejutkan dalam sejarah forensik: mereka mencurigai pelaku adalah keluarga dekatnya. Kalau begini caranya, aku juga bisa jadi detektif. Ada ikan mati di akuarium? Tersangkanya adalah ikan lain. Ada tanaman layu? Tahan seluruh pot bunga untuk diinterogasi. Polisi yang efisien seperti ini adalah alasan mengapa peradaban kita masih berfungsi. Kita harus efisien! Jangan protes kalau lagu yang saya putar itu-itu melulu, karena, alamakjan! Ini bagian dari efisiensi. Saya cuma memutar lagu yang orang tua saya simpan dari 20 tahun lalu. Jadi—”
Coro berhenti. Ia terdengar sibuk melakukan sesuatu, lalu sebuah intro lagu mengalun. “Kalau kalian melihat polisi hari ini, peluk mereka. Lalu lari. Itu namanya kasih sayang yang sehat.”
Aika berusaha keras menahan tawa.
Elevator membuka di lantai pertanian, dan bau yang amat kuat menyambutnya bahkan sebelum matanya menangkap pemandangan.
Kompartemen IV tidak berbau seperti kapal. Ia berbau seperti makhluk rawa. Lembap, hangat, agak masam yang menyeruak dari aroma akar dan tanah olahan dan air yang sudah didaur ulang berkali-kali sehingga ia mungkin punya garis keturunan sendiri. Lampu tumbuh menyala dalam spektrum yang dirancang oleh Dewan Bioma untuk menipu dedaunan agar mengira mereka sedang dimandikan sinar matahari.
Di tengah-tengah baris selada hidroponik dan terung yang menggantung seperti lonceng, sekelompok orang sedang berteriak satu sama lain tentang labu.
Mereka adalah Majelis Komunitas dan mereka tidak sedang bertengkar, meskipun bagi pengamat luar perbedaannya tipis. Di Mandala Horizon, Dewan Bioma memegang wewenang atas jadwal panen dan alokasi pangan. Keputusan semacam itu—berdasarkan Catatan Tata Kelola yang tebal dan mungkin tidak pernah dibaca siapa pun—tidak boleh diserahkan kepada AI tanpa persetujuan Majelis.
Pertanian adalah Ruang Musyawarah, demikian bunyi kalimat yang terpampang di poster pudar di dinding, tepat di atas poster lain yang mengingatkan semua orang untuk tidak mengencingi sistem irigasi.
Birokrasi seperti itu menekankan bahwa setiap keputusan tentang apa pun, termasuk beberapa kilogram labu, di kapal ini harus melewati proses yang dalam hal kerumitan emosional dan durasi, hanya bisa disaingi oleh pertengkaran suami-istri.
“Kalau kita panen sekarang, kita kehilangan empat persen bobot,” kata seseorang.
“Kalau nunggu, kita kehilangan satu jalur tanam buat siklus berikutnya,” kata yang lain.
“Empat persen itu enam puluh tujuh porsi.”
“Demi Tuhan! Satu jalur tanam itu merusak siklus.”
“Nggak usah bawa-bawa Tuhan dalam pertengakaran soal labu!”
Dan begitulah seterusnya, dua belas manusia dewasa yang memperdebatkan nasib labu dengan kesungguhan orang yang tahu bahwa di dalam kaleng terbang yang berjarak setengah miliar kilometer dari toko sayur terdekat, sayur-mayur dan buah-buahan adalah masa depan. Tidak ada Ark lain yang melakukan ini. Di tempat lain, mesin yang memutuskan. Tetapi Mandala Horizon adalah kapal yang lebih suka berdebat, dan ini adalah sumber kebanggaannya, sumber inefisiensinya, dan akar dari banyak konflik yang mungkin terjadi. Itulah kenapa ada lebih banyak polisi di kapal ini ketimbang petani.
Aika melewati mereka, menempelkan tabletnya ke node sensor, membaca angka-angka yang memberitahunya bahwa labu masih akan menjadi labu untuk beberapa waktu, dan tidak ada yang meledak. Pekerjaan yang penting dan membosankan. Ia mengerjakannya dengan baik.
Di telinganya, Coro sedang memutar lagu lain sambil menjelaskan kepada pendengar mengapa lagu itu, secara struktural, adalah penghinaan terhadap konsep harapan. Seberapa pun cerewetnya Coro, Aika tetap peduli dengannya. Sepulang kerja nanti, ia berencana mengisi jatah jam olahraganya di gym yang sudah minus 1.240 menit sejak dia masuk program rehabilitasi sosial. Setelah itu ia berencana main fussball dengan sahabatnya itu.
*
Posisi Radio Ali Arkham Asylum sebagai radio memang cukup unik. Secara hukum, radio itu tidak ada. Dan secara fisik, letaknya berada di tempat yang membuat kebanyakan orang berharap radio itu benar-benar tidak ada.
Untuk sampai ke sana, Aika harus melewati pintu servis yang panel keamanannya sudah lama menyerah pada nasib, menuruni tangga sempit, lalu menyelinap ke dalam rongga di balik Heat Recovery System—celah yang cukup besar untuk tiga sampai empat orang, satu sofa busuk dan meja fussball mini di antara dinding reaktor termal dan struktur kapal, tempat pipa-pipa mendesis dan penukar panas berdengung dan suhu udara seolah naik beberapa derajat setiap kali kamu melangkah. Kapal ini mengubah panas tubuh penghuninya menjadi air minum, dan ruang servis ini adalah perut tempat keajaiban tidak elegan itu terjadi. Aika sudah cukup sering ke sini untuk tahu bahwa keringat akan datang dalam sembilan langkah dan tidak akan pergi sampai ia keluar lagi.
Coro pernah menjelaskan, dengan kebanggaan seorang tukang dan kosakata seorang penjudi, mengapa tempat ini sempurna bagi keberlangsungan Radio Ali Arkham Asylum. Sensor di sini dipasang untuk memantau suhu dan aliran panas, bukan keberadaan manusia—dan tubuh manusia bersuhu tiga puluh tujuh derajat tidak akan terlihat istimewa di ruang yang memang panas. Suara-suara bawel dari penyiar radio pun tenggelam dalam derau mesin.
“Kita nggak meretas apa pun,” kata Coro suatu kali, sambil mengelap dahinya dengan kaos yang sudah basah kuyup. “Kita cuma berdiri di titik yang sudah disediakan dengan baik hati oleh ingsinyur yang merancang kapal ini.”
Empat orang menemukan ruangan ini bertahun-tahun lalu. Tiga sudah meninggal. Cicak adalah satu-satunya yang masih tersisa. Kini radio itu ia kelola bersama Coro, dan sesekali ada bantuan sukarelawan pendengar yang entah pemberani atau kurang kerjaan.
Ketika Aika menyibak tirai termal di pintu masuk, Coro sedang membungkuk di atas sebuah layar kecil, berbicara kepada seseorang yang tidak ada di ruangan itu.
“—alamakjan! Jangan disambung ke yang biru. Yang biru itu untuk ground. Kalau kamu sambung ke biru, kamu yang akan jadi ground. Kamu paham bedanya antara memasang antena dan menjadi antena, kan, Cak?”
Di layar, samar di balik kaca helm yang berembun dan latar belakang kegelapan total yang ditaburi titik-titik tajam, Cicak dalam space suit mengacungkan jempol. Tulisan di sudut layar berkedip pelan:
INTERHULL // SEGMEN 7 // TEKANAN: NOMINAL
Melihat notifikasi itu, Coro meninggalkan layar menuju meja fussball di mana Aika sudah menunggu. Ia mengelap tangan dengan handuk, memegang gagang, lalu menendang bola ke arah Aika.
Ada satu masalah fundamental dalam menyiarkan radio dari dalam kapal logam. Kapal ini adalah sangkar Faraday raksasa; lambungnya memblokir gelombang radio dengan kesetiaan yang sama seperti ia memblokir radiasi, vakum, dan secara umum seluruh potensi gangguan dari luar. Sinyal radio yang dipancarkan di dalam akan memantul-mantul di dalam seperti tahanan yang putus asa.
Untuk menyiasati ini, Radio Ali Arkham Asylum tidak pernah repot-repot memancar lewat udara. Ia membonceng kabel dengan menyuntikkan diri ke jaringan pengumuman yang sama yang setiap saat memberi tahu penghuni bahwa bekerja membuat mereka bahagia. Sinyal yang merambat lewat kabel tidak peduli pada sangkar Faraday, ia hanya mengikuti tembaga ke mana pun tembaga itu menjalar. Maka Coro dan kawan-kawannya menanam perangkat penyuntik di beberapa titik sepanjang jalur kabel kapal, dan membagikan receiver rakitan kepada siapa pun yang cukup bisa dipercaya untuk tidak melaporkan aktivitas mereka—sebuah panel mini yang dimodifikasi dan digit frekuensi untuk terhubung. Hasilnya, sebagian kecil penghuni kapal bisa mendengar Coro mengeluh tentang apa saja dan kapan saja mereka mau.
Kelemahannya, kabel tidak pandai menyimpan rahasia. Sebagaimana ia menjalar, sinyal yang dikirim lewat tembaga akan muncul di mana pun tembaga itu melewatinya. Ia bisa bocor di koridor, di kompartemen hunian, di bengkel, dan, pada beberapa kesempatan yang membuat Coro jauh lebih bangga menjadi penyiar, di ruang kendali kapal. Ada sesuatu yang membahagiakan baginya tentang gagasan bahwa ruang paling terkunci di seluruh Mandala Horizon, ruang tempat orang-orang penting membuat keputusan-keputusan penting, sesekali terisi suaranya yang sedang menjelaskan kenapa musik reggae adalah genre musik yang keren. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya. Itu bagian favoritnya.
Tetapi kabel hanya menjangkau sejauh mana kabel terangkai, dan kabel kapal Mandala Horizon hanya ada di kapal Mandala Horizon. Yang ingin Coro lakukan sekarang—yang membuat seseorang bernama Cicak mengambang di luar lambung dengan space suit lengkap agar tubuhnya tidak tercerai-berai—adalah memasang antena di ruang interhull, satu-satunya tempat yang cukup dekat dengan dunia luar untuk melempar sinyal melintasi kehampaan, menuju siaran radio liar di kapal-kapal lain. Kalau ada. Mereka ingin siaran Radio Ali Arkham Asylum juga didengar di Ark lain. Ini adalah ambisi yang sangat besar untuk dua orang dan sebuah ruangan yang berbau seperti bagian dalam pengering rambut.
“Mantap, antena fase satu sudah setengah jalan,” kata Coro ke Cicak, menoleh sedikit ke layar lalu kembali lagi ke meja fussball. “Kau balik dulu saja, sudah tua bangka, nanti pilek. Lagipula, kita masih kurang barang. Kita perlu penguat daya, harus pakai tabung TWT1, sama satu reflektor kecil biar sinyalnya nggak nyasar ke alien di Saturnus. Oh, dan kabel coax2 yang benar, yang kemarin kau ambil itu buat sinyal video.”
Ia menendang bola, mencetak gol ke gawang kosong Aika yang sedang tidak memperhatikan, lalu merayakannya sendirian.
“Aku belum tahu bagaimana kita colong barang-barang itu dari ruang mesin. Tapi, pasti ketemu kalau kita pikirkan,” Ia kembali menatap layar. “Ya, ya. Aku percaya di luar sangat indah, Cicak, tapi kalau sampai bikin kamu ingin menangis, tunggu dulu. Coba cek dulu, bisa jadi itu bukan karena kamu terharu, tapi karena kamu lupa cara kerja katup oksigen.”
“Kamu kalah,” kata Aika.
Coro memandang wajah Aika dengan sewot. Wajahnya, yang punya kualitas seseorang yang sudah lama memutuskan bahwa lelucon adalah satu-satunya struktur bangunan yang bisa diandalkan, menunjukkan kekagetan yang terlalu berlebihan untuk dipercaya.
“Aku belum kalah,” kata Coro. “Aku terganggu. Ada perbedaan besar. Kalah itu soal kemampuan. Terganggu itu soal keadaan. Kau ajak aku bertanding saat sedang mengoordinasikan temanku memasang antena. Kalau kau memenangkan pertandingan melawan orang yang sedang menyelamatkan nyawa temannya, sebenarnya yang harus malu itu kau.”
“Lima kosong,” ujar Aika, tidak merespons alasan temannya.
“Lima kosong.” Coro mengangkat kedua tangannya, memberi gestur sedang mengutip. Ia meraih handuk kecil di sofa, dan menarik napas seperti orang yang akan terjun ke laut. “Baik. Aku traktir. Tapi, sebagai catatan, aku menang secara moral.”
Di layar kecil, Cicak mengacungkan dua jempol, lalu kembali ke kegelapan dan pekerjaannya.
*
Area Komunal pada jam ini punya kualitas pasar yang tidak bisa memutuskan apakah ia sedang dibuka atau ditutup. Siaran kapal mengumumkan bahwa saat ini sudah memasuki pukul tujuh malam. Lampu disetel ke mode malam, biru keunguan dan lampu-lampu kecil yang tersebar di area mulai dinyalakan. Orang-orang makan, mengeluh, menukar barang, dan duduk berkelompok dengan logika sosial yang serumit struktur kasta.
Di antaranya, dengan dinamika yang khusus dan tidak diucapkan, duduk para tamu dari kapal Ozymandias. Mereka ini yang disebut ‘Oji’ oleh Coro dan sebagian besar pekerja lain. Di atas kertas mereka semestinya tidak mendapat pelayanan berbeda, tetapi praktik berkata lain. Sekeras apapun mereka mencoba berbaur, mereka tetap kelihatan berbeda. Coro mendengus sebal melihat mereka, “Kita nongkrong di tempat lain.”
“Nongkrong di dekat bokong roket pun akan terasa menyenangkan kalau ditraktir,” jawab Aika.
Coro makin melipat wajahnya. Ia menggiring Aika melewati kerumunan ke tepi Area Komunal, lalu Coro meminta Aika menunggu sebentar sementara ia masuk sebuah toko pandai besi. Sesaat kemudian ia keluar dengan kantung berisi dua botol Cuka Tobat. Mereka lanjut menyusuri tepian, dan Coro berbelok kiri tepat setelah melewati Sentra Binatu.
Aika menoleh ke Coro dengan heran, “Kau mengajakku ke tempat lansia hangout?”
“Apa beda bokong roket dan tempat lansia hangout?” tanya Coro, menanggapi pertanyaan dengan tebak-tebakan yang sama sekali tidak membantu. Ia bahkan tidak memberi Aika kesempatan untuk menjawab. Sambil mengangkat satu kaki ke kursi metal tua yang langsung berdecit protes di bawah bebannya, ia membuka botol dengan gerakan yang terlalu terlatih untuk sesuatu yang seharusnya tidak membanggakan.
“Yang satu dapat dana perawatan rutin,” katanya, lalu meneguk sedikit isi botol. “Tebak yang mana.”
Baru beberapa menit duduk, Coro sudah menghabiskan setengah botol Cuka Tobat. Minuman itu adalah salah satu dari sekian banyak arak suling rumahan yang dibuat dari apa pun yang kebetulan mengandung gula atau pati. Ia bisa berasal dari hasil panen gagal, ampas jagung, kadang bahkan diinfus dengan buah-buah curian agar memiliki rasa yang berterima.
Dewan Bioma membenci minuman semacam ini, tetapi tidak pernah berhasil mengaturnya. Setiap liter etanol berarti kalori yang hilang dari rantai pangan tertutup, dan kapal yang menghitung setiap kalori tentu tidak senang melihat warganya memilih memabukkan makanan daripada memakannya. Masalahnya, setiap kali larangan diperketat, produksi justru meningkat. Akhirnya Dewan Bioma memandang Cuka Tobat dengan ekspresi yang sama seperti ketika menemukan seseorang mengencingi sistem irigasi, dan seluruh urusan minuman keras pun bermigrasi ke sudut-sudut kapal yang tidak terlalu sering diperhatikan.
“—dan inilah yang nggak dimengerti orang tentang pantai,” katanya, kepada audiens yang terdiri dari Aika dan beberapa orang tua yang sedang menjahit dan main kartu. “Semakin dekat kamu mengukurnya, semakin panjang pantainya. Bayangin. Dari jauh, garis pantai kelihatan sederhana. Dari dekat, ada teluk. Lebih dekat lagi, ada batu. Lebih dekat lagi, ada retakan di batu. Lebih dekat lagi, ada pasir. Lebih dekat lagi—”
Ia berhenti sebentar, melakukan jeda dramatis, “—ada butiran pasir. Semakin kecil satuanmu, semakin banyak lekukan yang tertangkap, semakin banyak batu yang harus kamu kelilingi. Kamu bisa terus sampai ke skala atom. Dan di skala atom, jawabannya mendekati tak terhingga.” Ia menunjuk udara dengan botolnya. “Dan ini belum masuk ke masalah di mana batas antara sungai dan laut? Dan, oh, air pasang. Alamakjan! Ombak masuk, pasir bergeser, garis pantai berubah setiap detik, dan secara fisik, pantainya jadi pantai yang berbeda. Tak terhingga, Aika. Bagaimana Buku Panduan Mengenal Bumi yang kita baca di sekolah dulu berusaha meyakinkan kita kalau pantai Pulau Nugini panjangnya lima ribu seratus lima puluh dua kilometer, itu sungguh kesepakatan yang kita sepakati supaya kita bisa tidur nyenyak.”
Ia sendawa keras sekali, kemudian melanjutkan, “Di titik ini, pantai itu kayak fraktal. Kapal ini juga mungkin fraktal. Kita juga mungkin fraktal. Aku nggak tahu lagi apa yang benar.”
“Tenang, Coro,” kata Aika, yang dari tadi membiarkan temannya mengoceh sebagai hiburan gratis. “Nggak semua orang ingat panjang pantai Pulau Nugini sepuluh tahun setelah baca buku itu.”
“Intinya bukan itu,” kata Coro. Ia menurunkan botolnya, dan untuk satu detik wajahnya punya ekspresi seseorang yang benar-benar ingin dipahami. “Kita mungkin melakukan kesepakatan itu buat banyak hal, nggak cuma buat pantai. Tailah soal pantai, di titik ini aku bahkan mempertanyakan apakah pantai sungguh benar-benar ada atau nggak.”
“Kau daritadi membicarakan pantai, memang kau pernah lihat pantai sungguhan?”
“Aku punya poster, hadiah ulang tahunku yang ke delapan.” Ia menyeruput gelasnya dengan dramatis, lalu menatap ke kejauhan dengan ekspresi seseorang yang baru saja menemukan pencerahan atau kehilangan sinyal. “Dan di poster itu pantainya lurus. Ah, itu kebohongan paling indah yang pernah ibuku kasih ke aku.”
Ia mengangguk pelan dan tiba-tiba menggerak-gerakan tangan seperti sedang main gitar sambil mulutnya bersenandung, “Cengcet cengcengcet,” ujarnya, meniru irama gitar reggae. “Don’t worry about a thing, cause every little thing is gonna be alright. Yo, man~”
Beberapa orang tua di meja sebelah tertawa. Beberapa yang lain memindahkan barang mereka menjauh.
Di salah satu meja tak jauh dari mereka, sendirian, Lain memegang cangkir dengan kedua tangan. Cangkir itu bukan cangkir komunal; tepinya lebih tebal, glasirnya retak halus di satu sisi, dan tidak cocok dengan apa pun di Area Komunal, tempat semua benda dibuat agar mudah didaur ulang. Ia tidak meminum dari cangkir itu. Ia hanya memegangnya.
Ketika orang-orang di sekitarnya tertawa melihat gerak-gerik Coro, Lain tampak berusaha keras untuk tertawa juga.
Lampu ‘mode malam’ berkedip sekali, lalu stabil lagi.
Di seberang ruangan, nyanyian Coro mendadak mencapai klimaks. Ia kehilangan keseimbangan. Coro, yang selama ini menggantungkan sebagian besar reputasinya pada kemampuan berbicara lebih cepat daripada berpikir, memasuki perselisihan singkat dengan gravitasi artifisial dan kalah telak. Ia jatuh dengan posisi yang mungkin tidak terlalu membahayakan, tetapi terjadi sedikit lebih lambat dan jauh lebih memalukan.
Aika memapah tubuh kawannya. Keduanya berjalan terhuyung ke arah meja terdekat yang punya kursi kosong.
“Permisi,” kata Aika kepada Lain, “Boleh menumpang, ya?”
Lain mengangguk pelan.
Aika mendudukkan Coro ke kursi dengan gerakan seseorang yang sudah sering melakukan ini. “Temanku sedang merayakan kekalahannya di fussball dengan cara menjadi sayuran.”
Coro menelungkupkan wajahnya ke meja, mengeluh tentang hidup di dalam kapal, hari-hari yang membosankan dan rasa muak yang juga ditunjukan dengan muntahan. Dari posisi itu, suaranya jadi teredam dan lebih dalam.
“Waktu kasih hadiah itu, ibuku bilang, kesempatan terbentang seluas samudra,” Ia bergumam ke siku tangannya. “Tapi sepertinya aku mabuk laut.”
Lain tertawa. Kali ini lebih lepas. Aika sampai agak kaget dan menatapnya dengan mata sayu, “Eh, kau pernah lihat pantai sungguhan?”
Lain kelihatan berusaha memaklumi pertanyaan yang lebih mirip pertanyaan tentang surga daripada pertanyaan tentang geografi, dia hanya tersenyum canggung.
“Aku pernah,” kata sebuah suara dari belakang Lain. Suara itu berat, hangat, dan datang dari ketinggian seseorang yang berdiri sambil membawa nampan.
Yang menjawab adalah seorang kakek. Ia berusia tujuh puluh satu tahun—angka yang ia sebutkan sendiri, beberapa kalimat kemudian, dengan nada bangga seperti orang yang menganggap bertahan hidup selama tujuh puluh satu tahun di dalam kapal ini adalah lelucon yang berhasil. Rambutnya putih dan disisir dengan kerapian yang sudah menjadi karakter. Ia membawa nampan berisi teh dan sepiring kecil kue nastar.
Ada orang-orang tertentu yang, ketika masuk ke sebuah ruangan, membuat ruangan itu terasa sedikit lebih bisa ditinggali. Kakek ini adalah salah satunya. Ia tidak melakukan sesuatu yang istimewa, tetapi wajahnya seperti dirancang untuk selalu tampak gembira meski di hadapannya seorang pemuda mabuk sedang memain-mainkan muntahannya sendiri di lantai, dan kegembiraan semacam itu menular dengan cara yang sama seperti menguap.
“Boleh aku ikut duduk di sini, Lain?” tanyanya, dan sudah duduk sebelum kalimatnya selesai, di kursi terakhir yang tersisa di meja itu. “Di usiaku, berdiri sambil memegang teh panas adalah olahraga ekstrem.”
Lain tersenyum dan mengangguk kecil sambil memperkenalkan si kakek kepada yang lain, sementara Aika sibuk memijit-mijit tengkuk temannya.
“Aku turut berduka,” katanya kepada Lain sambil membagikan kue nastar tanpa bertanya apakah ada yang mau, yang ternyata adalah strategi yang benar, karena semua orang mau.
Lain berterima kasih kepada kakek itu.
“Omong-omong, di luar hal-hal memusingkan yang temanmu bilang tadi, pantai itu memang tempat yang sangat mengagumkan,” katanya, kembali ke topik pantai seolah ia sudah menjadi bagian dari percakapan sejak awal. “Bahkan ketika sudah banyak polutan, pantai tetap tampak mengagumkan. Waktu masih muda di Bumi, aku selalu membawa metal detector ke pantai. Tahu benda itu? Alat yang berbunyi kalau ada logam di bawah pasir.” Ia menggerakkan tangannya maju-mundur, menirukan, dan membuat suara niiing niiing dengan mulutnya. “Orang-orang mengira aku mencari harta karun. Aku biarkan mereka berpikir begitu. Lebih keren daripada kebenaran.”
“Memang, apa yang sebenarnya kau lakukan?” tanya Aika.
“Aku menghilangkan sebuah cincin dan mencarinya hampir setengah tahun penuh,” katanya, tertawa keras sekali. “Cincin yang seharusnya kupakai untuk melamar seorang perempuan. Aku menjatuhkannya di pasir saat sedang berlatih cara memberikannya. Lalu, ombak cukup besar menggulung cincin itu. Jadi setiap akhir pekan, selama kurang lebih setengah tahun, aku kembali ke pantai itu dengan metal detector, mencari satu cincin di antara sejuta sedotan.”
“Tapi, jadi melamar pacarmu itu?”
“Orang bilang, dalam hidup kita akan kehilangan hal-hal penting sepanjang perjalanan. Buatku sendiri, kehilangan itu dimulai dari cincin itu,” jawab si kakek sambil tersenyum lebar, lalu menyantap nastarnya.
Coro mengeluarkan suara yang mungkin tawa atau mungkin sesuatu yang basah.
Mereka mengobrol—meski sebenarnya yang terjadi adalah sang kakek terus berbicara sementara ketiganya mengikuti arus percakapan itu tanpa perlawanan. Ia bercerita sekilas pertama kali bertemu Kos, dan Lain terlihat gembira mengetahui ayahnya memiliki teman mengobrol. Sesekali ia melambaikan tangan kepada seseorang yang melintas, lalu berhenti untuk menyapa orang lain. Ia melakukannya dengan keakraban yang menunjukan ia sudah cukup lama berada di area ini untuk mengenal banyak orang, dan cukup baik hati untuk mengingat setengah namanya.
“Aku banyak bicara, ya?” katanya pada satu titik, dan untuk pertama kalinya nadanya turun sedikit. “Ternyata kesedihan membuatku jadi sangat cerewet. Jadi, maafkan seorang tua yang tidak tahu kapan harus berhenti bicara ini.”
Ia tersenyum dan menghabiskan tehnya, menepuk-nepuk lututnya, dan berdiri dengan upacara kecil yang sama seperti saat ia duduk.
“Aku pamit dulu,” katanya. Ia mengangguk kepada mereka bertiga, hangat dan menyeluruh. “Senang melihat ada anak muda di sekitar sini. Jaga temanmu agar tidak tersedak muntahannya sendiri.”
Kakek itu pergi. Ia berbelok sedikit menghindari meja panjang, lalu melanjutkan perjalanan ke arah lorong. Punggung putihnya bergerak pelan melewati antrean kedai, melewati seseorang yang sedang menimbang jatah, melewati seorang anak muda berseragam yang berjalan ke arah berlawanan dengan tablet di tangan. Keduanya tidak saling melihat; di koridor selebar ini, berpapasan adalah hal yang terjadi pada semua orang sepanjang hari. Anak muda itu kebetulan bergerak ke arah berlawanan, ia melihat-lihat sekitar sebelum masuk ke warteg.
Naki masuk warteg dengan akuarium di tangan dan ekspresi amat serius dan ingin semua orang tahu bahwa ia sedang menjalankan tugas yang serius. Ia melihat posisi CCTV di sekitar warteg, dan ia sangat kelihatan berniat melaksanakan tugasnya dengan ketelitian yang akan membuat Omar akhirnya menganggapnya serius pula.
Dari gaya bicaranya dengan beberapa pengunjung warteg yang sedang mengobrol atau menghabiskan makanan, Naki kelihatan masih percaya bahwa lembaganya menunjuk ke arah yang benar. Sementara orang yang diajak bicara bergumam kepada penjaga warteg, minta tambah makanan.
“Pak Jayadi,” panggil Naki, tangannya meletakan akuarium di atas etalase.
Yang dipanggil adalah seorang pria yang telah mencapai usia dan berat badan tertentu di mana kedua hal itu tampak telah berdamai satu sama lain. Pak Jayadi mengelap tangan ke celemek dan memandangi ikan hologram di akuarium dengan heran sebelum melihat Naki dengan kewaspadaan ramah seorang pemilik warteg yang sudah cukup sering menerima polisi muda untuk tahu bahwa mereka biasanya datang untuk dua hal: bertanya, makan, dan kalau beruntung, keduanya. Tapi, ia kelihatan amat jarang menangani polisi muda yang membawa akuarium, terlihat dari gerak-geriknya.
“Cupang hologram?”
“Bob,” katanya, “Nama cupang ini.”
“Mau saya masak atau bagaimana, Mas Naki?”
“Oh, nggak, ini mainan baru dari Bu Blendung. Buat koleksi.”
Pak Jayadi mengelap keringat di ujung hidungnya dan mengangguk, “Soalnya saya belum punya pengalaman masak ikan hologram.”
Naki tertawa kecil mendengar komentar itu.
“Mau makan seperti biasa, Mas Naki?”
“Sebenarnya saya—” Naki terdistraksi oleh uap panci di belakang Pak Jayadi. “Ya. Boleh. Yang itu apa?”
“Sayur lodeh. Tapi agak keasinan, sepertinya.”
Naki tetap memesannya. Sambil menunggu, ia mengajukan pertanyaannya dengan apa yang ia anggap sebagai kehalusan investigatif, dan apa yang Pak Jayadi anggap sebagai seorang anak muda yang jelas-jelas ingin bertanya tentang kasus pembunuhan.
“Bapak kenal Kos Koswara?”
Pak Jayadi mengangguk pelan dan sesuatu di wajahnya melembut.
“Kenal. Dia pelanggan lama. Orangnya pendiam, agak ketus, tapi nggak sombong.” Ia menaruh piring di depan Naki. “Datang sendiri, makan sendiri, pulang sendiri. Nggak pernah tanya hal-hal yang nggak perlu. Saya menghargai orang seperti itu.”
Ia menatap ke arah pintu, ke arah kerumunan di luar, dengan tatapan orang yang sedang menghitung sesuatu yang tidak bisa dihitung. “Setengah jam lalu anaknya datang, lalu nggak lama apoteker senior teman main caturnya juga datang. Kasihan sekali, anaknya tampak masih linglung.”
“Tunggu,” Naki mengangkat kepala dari piringnya. “Anaknya?”
“Ya,” jawab Pak Jayadi. “Dia datang cuma sebentar.”
“Ada yang aneh dari gerak-geriknya?”
“Kalau aneh yang kau maksud dia berguling-guling di lantai, seingat saya dia nggak melakukannya.”
Naki melenguh keras sekali.
“Sabar, Mas,” jawab Pak Jayadi, menunjuk kursi di luar warung. “Dia cuma duduk di sana. Mungkin sepuluh atau lima belas menit. Satu-satunya yang aneh, dia nggak pesan apa-apa. Numpang duduk saja. Tapi, mungkin itu karena saya penjual yang berharap seseorang jajan di warungnya.”
Ia mengatakannya sambil melayani pelanggan berikutnya.
Naki mencatat di tabletnya, ‘Lain, warteg, tidak memesan apa-apa’ dan menggarisbawahinya. Ia mencorat-coret beberapa pertanyaan di layar, seperti, ‘ke arah mana Lain pergi?’, ‘apakah dia ketemu seseorang? Olin?’ dan sebagainya. Kemudian dia menggeser semua pertanyaan itu ke folder prioritas. Ia akan mengejar pertanyaan-pertanyaan itu segera setelah ia menyelesaikan satu hal kecil yang menarik perhatiannya di sudut ruangan.
Sebuah vending machine minuman.
Sebetulnya agak menyesatkan menyebutnya vending machine. Mesin itu memang berbentuk mesin penjual otomatis dengan sedikit ekstra tinggi yang nyaris menyentuh langit-langit warteg dan lebar satu setengah meter, tapi selain kebesaran itu, ia tetap memiliki kaca depan penuh deretan botol minuman dan lubang pengambilan barang di bagian bawah seperti lazimnya vending machine. Meski tampak lazim, tidak ada satu pun mekanisme otomatis di dalamnya. Rak minuman di depan hanya sedalam sepuluh sentimeter, sekadar cukup untuk satu pajangan minuman, dan seorang bocah akan mengambil minuman yang kamu pilih lalu menggelontorkannya di lubang pengambilan barang.
Di dalam vending machine minuman itulah anak Pak Jayadi tidur, duduk dan menunaikan tugasnya untuk membantu orang tua.
Ini bukan kiasan. Ia mulai tinggal di sana sejak usia tujuh, dan saat ini usianya sepuluh. Bagaimana persisnya seorang anak bisa sampai pada keputusan untuk tinggal di dalam mesin minuman selama tiga tahun terakhir, dan mengapa orang tuanya akhirnya mengizinkannya, adalah cerita yang panjang dan melibatkan satu bekas luka panjang di punggung tangan kanan Pak Jayadi, seorang psikiater, drama keluarga, dan seorang tukang las serba bisa. Yang jelas kini anak itu ada di sana, duduk di balik botol-botol yang menghadap ke depan dengan label terbaca rapi, mengawasi dengan kewaspadaan seseorang yang telah memutuskan bahwa dunia di luar kaca tidak bisa dipercaya. Sepasang mata di dalam vending machine minuman itu memperhatikan Naki makan dan Naki sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Setelah menghabiskan lodeh, Naki minum dan berkata pada Pak Jayadi jika diizinkan ia mau menitip akuariumnya sebentar karena dia hendak mengobservasi Area Komunal, “Setengah jam saja, Pak,” katanya.
Pak Jayadi menatap akuarium itu dengan curiga, tetapi sepertinya ia tahu ia tidak punya pilihan selain menjadi orang yang ramah, “Taruh di pojok situ, ya,” jawabnya, menunjuk sebuah meja kecil di dekat vending machine.
“Titip, ya, Pak,” ujar Naki lalu pamit keluar warteg.
Punggung Naki masih ada di bibir pintu warteg saat Pak Jayadi menutup akuarium itu dengan handuk di lehernya.
Gerak punggung Naki sungguh mencurigakan, seakan-akan semakin ia berusaha tampak natural semakin tubuhnya bertindak sebaliknya. Ia berhenti di tepi keramaian Area Komunal, mengeluarkan tablet, kemudian mulai memindai area itu.
Naki menuliskan temuan-temuannya di tablet. Tentang Lain yang datang ke Warteg Pak Jayadi, dan tentang Teman Main Catur. Ia menggarisbawahi nama Lain, kemudian memberi tanda tanya besar. Ia juga berusaha chat Ruang Komando, bahkan menelepon, untuk meminta akses CCTV tetapi belum ada jawaban.
Naki mungkin bukan penyelidik terbaik di kapal, tetapi ia punya kesabaran dan tekad yang amat kuat. Sampai di mana tekad kuat menjadi bakat, lalu bakat menjadi obsesi liar, hanya waktu yang bisa menjawab. Namun saat itu kesabaran dan tekad menuntunnya untuk memperhatikan satu per satu manusia di tengah keramaian. Benar-benar satu per satu manusia di sekitarnya. Ia memotret dan merekam apa yang ia pikirkan tentang seseorang yang ia curigai, lalu hasil rekamannya langsung terkonversi jadi teks, dan teks menjadi tabel data lengkap dengan foto. Kadang muncul gumam-gumam yang bagi orang biasa kurang penting, seperti, noda kecap pada baju atau berapa kali orang yang dia curigai bersin dalam satu menit tapi bagi Naki semua harus dicatat, semua dapat tempat.
Hingga matanya menangkap sebuah meja dan melihat tiga orang yang ia kenali. Dua orang perempuan yang ia kenali, yang satu dengan gelang elektronik dengan gerak-gerik aneh dan satu lagi yang memegangi cangkir dengan gerak-gerik minimal yang mencurigakan. Di antara mereka, seorang laki-laki yang bolak-balik menunduk dan mendongak yang baru pertama kali Naki lihat tetapi sama-sama mencurigakan. Ketiga orang itu berbincang dan tertawa. Naki memotret ketiganya sambil menggumam ke perekam tabletnya, “Observasi Subjek Nomor 37. Lain dan Aika kelihatan akrab, padahal kemarin mereka terlihat seperti nggak saling kenal. Apakah Aika membantu Lain menutupi kesalahan Olin? Atau—atau justru Aika yang merencanakan semua ini? Dia kelihatannya cukup cerdas dan licik. Cek juga latar belakang teman cowok mereka, kelihatannya dia orang bermasalah. Oh, lihat mereka tertawa-tawa, mereka pasti sedang menertawai kerjaanku. Kita lihat siapa yang akan tertawa terakhir.”
Sementara itu, di meja yang dimaksud, Coro memuntahkan cairan cokelat pekat dan kental, seperti agar-agar, di lantai.
“Aku nggak akan minum lagi,” katanya, kepada meja, dengan keyakinan seorang nabi. “Sumpah. Nggak akan minum lagi. Lebih baik minum deterjen daripada minum alkohol lagi. Aku bos—”
Ia muntah lagi, dan Aika mengomentari mutahannya seperti bangkai kodok. Bahunya bergetar menahan tawa, sementara kakinya menggeser nampan agar bisa tepat menampung muntahan.
“Tenang saja, dia selalu begini,” kata Aika kepada Lain yang kelihatan khawatir, “setiap kali terlalu mabuk dia akan bersumpah nggak akan minum lagi. Tapi tubuhnya seperti punya selera humor sendiri.”
Lain tersenyum, dan untuk pertama kalinya sejak duo itu di mejanya, ia tampak sudah memahami cara mereka bercanda.
“Kita bertemu beberapa kali, tapi situasinya nggak layak buat berkenalan,” kata Aika, mengulurkan tangan, “Aku Aika. Ini temanku, Coro. Dia ngga bisa kenalan dengan baik karena sedang ngobrol dengan lantai.”
“Kami turut berduka atas kematian ayahmu,” ujar Aika.
Lain menerima kalimat itu dengan anggukan. Lalu, ia melanjutkan, “Aku baru dari Warteg Jayadi tadi. Mencoba bertanya soal Ayah. Apakah dia bilang sesuatu, ketemu orang yang nggak biasa, atau ada yang aneh dengan tingkahnya. Tapi, Pak Jayadi bilang ayahku hanya bersikap aneh seperti biasa. Normal-normal saja untuknya.”
Aika kelihatan bingung menanggapi apakah harus tertawa atau bersedih, tetapi ia berusaha menghibur dengan bilang bahwa di lingkup sebesar kapal ini, dengan jumlah orang yang tidak terlalu banyak, mungkin pembunuhnya bisa ditemukan.
Lain memutar cangkir di tangannya. “Tapi, ada anak aneh yang tinggal di dalam vending machine di sana.”
“Kamu yakin, kamu nggak sedang demam?” tanya Aika.
Lain menggeleng, “Aneh juga kalau diceritakan, ya, tapi dia memang ada di dalam vending machine. Aku punya firasat kalau aku bisa mengajaknya mengobrol, mungkin aku bisa tahu sesuatu yang berguna. Tapi dia terlalu—” Lain mencari kata. “Bagaimana, ya, cara menjelaskannya.”
Aika mengangguk, “Yah, dia tinggal di dalam vending machine saja sudah cukup menjelaskan betapa sulit mengorek informasi darinya. Bagaimana kalau setelah ini, kita ke situ dulu?”
Coro mengangkat wajahnya dari meja. Matanya tidak fokus, tetapi mulutnya, yang beroperasi pada sumber daya yang berbeda dari sisa tubuhnya, siap menimbrung dalam obrolan.
“Rudi,” gumam Coro. Lain dan Aika tersentak nyaris bersamaan mendengar Coro memotong obrolan mereka. Dengan kekhidmatan orang mabuk, Coro melanjutkan, “Nama bocah itu, Rudi. Alamakjan! Dia aneh sekali.”
“Kalau kamu saja bilang anak itu aneh, pasti sudah nggak diragukan lagi keanehannya,” komentar Aika.
“Dan firasatmu benar,” kata Coro, menghiraukan komentar sahabatnya. “Dia melihat segalanya, kawan. Segalanya. Anak itu kayak CCTV. Tahu kenapa aku tahu? Karena aku pernah merasakan pengalaman spiritual dengan anak itu—”
“Oke, aku nggak nyangka kondisinya berbalik seekstrem ini,” komentar Aika, dengan nada meledek, “Orang mabuk ngomongin pengalaman spiritual. Ini sudah level ateis yang mulai percaya ada hantu di dalam mesin.”
“Dengarkan ceritaku dulu,” tukas Coro, tangannya memberi gestur seolah sedang meredam amarah warga, “Jadi, suatu kali aku melakukan sesuatu yang secara legal mungkin masih bisa diperdebatkan benar atau salah…”
“Kau mengutil?” potong Aika.
“Eits, kita bisa berdebat soal ini lain waktu. Saat itu sedang panas sekali, aku ingat karena kau berkeringat dan lapar. Pak Jayadi tanya, aku makan berapa. Aku mengaku ambil tahu satu biji, padahal aku mengantongi lima.”
“Dia mengutil,” ujar Aika ke Lain.
“Saat hendak keluar, bocah itu mengetuk-ngetuk kaca,” lanjut Coro, dengan nada yang dibuat seram untuk menutupi komentar Aika, “Aku melihat anak itu menatapku dari dalam mesin dengan tatapan yang berkata, ‘aku mencatat kelakuanmu, dan suatu hari akun-akun akan diseimbangkan dan kau harus mempertanggungjawabkan semuanya,’ begitu kata anak itu lewat matanya,” katanya, dengan suara dalam dan bikin bergidik. “Jadi, aku mengembalikan empat gorengannya.”
Lain tertawa dan untuk sesaat ia terdengar seperti bisa melupakan dukanya.
“Kau yakin itu yang dia katakan dengan tatapannya?” tanya Aika. “Karena menurutku yang terjadi adalah kau merasa bersalah, lalu kau jadi overthinking dan membatalkan aksi mengutil.”
“Alamakjan! Aku memang berniat mengutil. Itu keliru,” jawab Coro, setengah terisak, lalu ia menenggelamkan lagi wajahnya ke meja, “Aku cuma bilang bahwa jika seseorang mengutil empat gorengan, lalu seorang anak menatapnya, dan orang itu langsung membatalkan aksi mengutilnya, maka tatapan anak itu jelas punya semacam kekuatan.”
“Oke, oke. Terima kasih sudah cerita,” jawab Aika sambil memijat tengkuk temannya, lalu menurunkan suaranya ke arah Lain, “Omong-omong soal awas-mengawasi, polisi muda yang menginterogasi kita. Kamu ingat? Dia sedang mengawasi kita dari tadi.”
Ia tidak menoleh. Ia hanya memberi gestur kecil dengan dagunya, ke arah tepi keramaian.
“Jangan lihat langsung,” tambah Aika.
Lain langusng menoleh.
Tentu saja ia langsung menoleh. Ada semacam hukum Bumi tak tertulis dari kalimat ‘jangan lihat artinya melihat’, sebuah hukum yang berlaku bahkan ketika manusia sudah menjauh dari Bumi. Mata Lain menemukan tepi keramaian, dan di tepi keramaian itu, mata Naki sedang menemukan mereka.
Untuk satu setengah detik, pandangan mereka bertemu melintasi Area Komunal.
Lalu Naki bangkit dari kursinya, dan mulai berjalan ke arah mereka.
Aika menunduk ke arah telinga Coro, yang masih setengah menempel di meja, dan berbisik, dengan ketenangan total seseorang yang telah mengalami hal ini cukup sering untuk tidak menganggapnya darurat, “Ada polisi.”
Coro lekas bangun dan sadar. Tidak ada transisi, seakan nyawanya langsung terkumpul ketika mendengar kata ‘polisi’. Ia berlari meninggalkan dua temannya.
Aika menarik Lain berdiri, dan mereka mengikuti Coro.
Di belakang, Naki berseru sesuatu dan langkahnya semakin cepat, pada satu titik di tengah Area Komunal, langkah cepat itu berubah jadi lari.
Berkejar-kejaran di dalam Mandala Horizon adalah pengalaman yang berbeda dari berkejar-kejaran di Bumi. Gravitasi di sini 0,9G, angka yang terlihat tidak signifikan bedanya, tetapi sembilan persepuluh dari beratmu ternyata cukup untuk membuat pelarianmu terasa seperti di dalam mimpi. Setiap langkah membawamu sedikit lebih jauh dari yang otot-otot kamu harapkan, seakan mereka menuntut perhitungan ulang. Dan itu membuat momentum jadi tak ubahnya commitment issue. Sekali kamu memutuskan ke arah mana tubuhmu pergi, tubuhmu akan ngotot mengikutinya. Tidak ada kesempatan untuk membatalkan secara mendadak dalam operasi itu.
Coro tidak punya masalah ini. Ia bergerak melalui keramaian seperti air mencari jalan. Ia berlari sebentar, lalu berjalan santai memasuki gang seolah ia memang berniat berjalan santai di gang itu sepanjang waktu, lalu berlari lagi ketika tidak ada yang melihat. Ia menyelinap di antara orang, di bawah pipa, dan tampak fokus sekali. Ia berlari tanpa, sejauh yang bisa diamati, memikirkan apakah Aika dan Lain masih mengikutinya.
“Jangan khawatir,” kata Aika kepada Lain, nyaris tidak terengah, di antara dua belokan. “Coro selalu menemukan cara kabur dari polisi. Ini satu-satunya bidang di mana dia benar-benar kompeten.”
Lain, di sisi lain, terengah-engah. Tubuhnya memang dilatih untuk menaiki tangga dengan meloncati dua anak sekaligus atau membawa barang tanpa gemetar, tapi bukan untuk melarikan diri dari aparat di gravitasi yang lebih cocok untuk bermalas-malasan. Sekalipun ia sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk terbiasa di kapal ini, tubuhnya tetap berkata lain.
Coro menyelipkan diri ke dalam sebuah celah antara dua panel dinding, celah yang dari bau, konsentrasi minyak di permukaan dan lebarnya hanya cukup untuk satu orang yang tidak terlalu serius soal harga diri. Ia menggelosor di dalam pipa, dan keluar di ruangan lain. Tanpa membuang waktu, Coro memanjat pipa untuk naik ke pelantar baja tempat kipas-kipas besar berbaris. Ia memilih satu sudut dan berjongkok di situ. Saat melihat Aika dan Lain tiba, ia melambai-lambaikan tangan.
Aika dan Lain terengah-engah, berusaha mengatur napas mereka. Keduanya melihat lambaian Coro di sudut ruang yang muncul dari ketidaksempurnaan arsitektur dan kemudian dilupakan oleh semua orang, kecuali Coro. Mereka bertiga tiarap di sana, di dalam titik luput, dengan napas yang berusaha mereka kecilkan.
Di bawah, mereka melihat Naki lewat. Ia berhenti di persimpangan, memutar tubuhnya, dan memindai buruannya. Seakan tak percaya buruanya menguap, ia bergegas ke arah gang yang salah.
Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari Aika, Coro dan Lain yang bergerak.
Lain menatap langit-langit metal beberapa sentimeter di atas wajahnya, dan napasnya pelan-pelan kembali normal, dan di samping kepalanya berdengung pipa-pipa kapal yang membawa air, panas, dan dengung yang konsisten.
“Sudah pergi,” bisik Aika. Ia bangkit perlahan, hati-hati terhadap langit-langit. “Ayo, Coro, kita ke tempat yang lebih aman.”
Coro menjawabnya dengan dengkuran keras sekali.***
(Bersambung)
- Traveling-Wave Tube Amplifier (TWTA) adalah sistem penguat gelombang mikro yang menggabungkan traveling-wave tube (TWT) dengan catu daya dan rangkaian proteksi, digunakan untuk memperkuat sinyal radio frekuensi tinggi pada satelit, radar, dan komunikasi ruang angkasa. ↩︎
- Kabel coaxial, kabel transmisi yang terdiri atas konduktor inti yang dikelilingi lapisan isolator dan pelindung konduktif, dirancang untuk mengirimkan sinyal frekuensi tinggi dengan gangguan dan kehilangan sinyal yang minimal. ↩︎




