Pohon Kemiri di Seberang Kamarku

Jika ada yang membimbingku untuk sampai ke sini, mungkin jawabannya adalah pohon kemiri di seberang kamarku. Tidak ada sejengkal pun yang kuketahui tentang kota ini, selain jalanannya yang tak pernah kering dari debu; dengan truk tronton, truk fuso, kol brondol, dan sepeda motor yang tidak berhenti salip-menyalip. Mereka segera mengingatkanku dengan jalanan pantura. Pohon itu menjulang tinggi di pekarangan milik seseorang bernama Haji Bantet. Di antara rumah-rumah lain di dalam gang yang berhimpit-himpitan dengan area parkir sangat sempit dan rentan memicu perselisihan, hanya rumah Haji Bantet yang memiliki pekarangan.

Di pekarangan rumah itu, yang kalau di desaku bahkan tidak cukup untuk menjemur gabah, berdiri sebuah pohon kemiri yang menjulang tinggi melewati atap-atap asbes dari rumah-rumah lain di sekelilingnya. Meski tinggi, tetapi dahan pohon kemiri itu teramat kecil bahkan lebih kecil dari pohon mangga di rumahku yang karena kecilnya dan mudah digapai, sering mengundang tabiat buruk anak-anak untuk mencuri. Hanya saja, ukuran daun pohon kemiri lebih lebar dan rimbun sehingga rumah Haji Bantet jadi tampak sejuk. Bila dibandingkan dengan rumah-rumah di desaku, rumah Haji Bantet justru mungkin yang paling gersang. 

Sudah hampir petang. Aku pikir kalau aku terus-menerus membandingkan situasi di kampung halamanku dengan di sini, aku mungkin tidak akan menemukan tempat tinggal yang paling pas dengan seleraku, dan aku—seperti kata tetanggaku yang sukses merantau di kota—tidak akan pernah bergerak maju. Tetanggaku yang merantau tapi tidak sukses tidak pernah mengatakan hal-hal semacam itu. Tempat terbaik adalah tempat kita dilahirkan, katanya. 

Tetapi, begitu aku melihat pohon kemiri itu bahkan dari jarak sepuluh rumah, aku langsung yakin kalau aku harus mengetuk pintu rumah itu dan menanyakan langsung apakah ada kamar yang dapat aku sewa. Sayangnya, si pemilik rumah yang keluar sambil membenarkan sarungnya, tampak tidak begitu senang dengan pertanyaanku. Tidak, tidak ada kamar untuk disewakan

Lelaki itu hanya tinggal berdua dengan istrinya. Meski aku bisa memperkirakan jumlah seluruh kamar di rumah mereka, Haji Bantet agaknya lebih senang kamar-kamar itu tetap kosong ketimbang harus menerima orang asing sepertiku. Aku bisa dengan segera menyimpulkan hanya dengan melihat sorotan matanya yang penuh penghakiman. Aku jadi bertanya-tanya, apakah itu disebabkan oleh tas ransel buluk yang aku bawa, atau sepatu KW yang aku pakai, atau jilbabku yang lepek, atau karena wajahku pucat. 

“Tuh, rumah depan,” kata Haji Bantet sambil memonyongkan dagunya.

Sambil menenteng kardus dan tas ransel, berisi baju-baju lungsuran dari bibiku – satu-satunya saudara perempuan ibuku yang pernah mengenyam bangku kuliah meski tak lulus – kuseret kedua kakiku yang loyo akibat berjalan kaki berkilo-kilo dari kampus untuk mencari tempat tinggal. Beberapa langkah menjauh dari teras rumahnya, aku dapat mendengar istri Haji Bantet bertanya, siapa gerangan yang mengetuk pintu rumah mereka menjelang maghrib. Tetapi sebelum dapat kudengar percakapan selanjutnya, buru-buru aku berlari keluar pagar setelah mendengar suara pintu dibanting. 

*

Benarkah? 

Malam pertama aku tidur di kamarku yang baru, di kota yang jauh dari rumah, sambil sesekali mendengarkan ranting pohon kemiri bergesekan dengan kabel listrik, aku kembali terngiang dengan kata-kata tetanggaku. Tempat terbaik adalah tempat kita dilahirkan

Aku tidak yakin. Kalaupun benar, ibuku sendiri meninggalkan kampung halaman kami dan tak kembali. 

Bukan maksudku menyalahkan ibuku. Sejak aku kecil, ia sudah berada jauh sekali dari kami, bukan lagi di luar kota atau di luar provinsi tetapi di luar negeri, untuk mencari uang. Saat itu, aku punya satu pertanyaan yang selalu aku tanyakan kepada nenekku, lalu kepada Bibi Maya yang tinggal di sebelah rumah kami yang juga pernah merantau ke luar negeri, dan kepada guru Bahasa Indonesia yang tinggal di desa yang sama denganku: memangnya tidak ada uang di desa kita sampai orang harus mencarinya di tempat-tempat yang sangat jauh? 

Sayangnya, orang dewasa enggan menanggapi pertanyaan anak-anak dengan serius sehingga pertanyaan itu pun segera berlalu dan baik nenekku, Bibi Maya, guru Bahasa Indonesia, dan bahkan aku pun segera melupakannya tanpa benar-benar memperoleh jawaban. 

Malam pertama aku tidur di kamarku yang baru, di atas kasur busa yang teramat tipis dan tanpa alas kasur; tanpa bantal; tanpa selimut, bersama bau apak yang menguar dari sela pori-pori kasur, pertanyaan itu kembali lagi kepadaku sebagai orang dewasa. 

Tidak adakah uang di desa kami sehingga orang-orang benar-benar harus pergi mencarinya ke tempat-tempat yang jauh? Tetapi, bukankah aku datang ke kota ini tidak untuk mencari uang? Bersama rasa kantuk yang perlahan merayapiku, aku pun segera menyadari perbedaan dan persamaan antara aku dan ibuku. 

*

Perkuliahan hari ini ditiadakan karena saya sedang mengikuti konferensi di Hong Kong.

Siang itu aku batal ke kampus setelah membuka pesan yang dikirim oleh dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Pariwisata ke grup WhatsApp kelas. Rambutku masih basah dan sekujur tubuhku bau sabun. Hongkong… seberapa jauh dari sini? Dan berapa harga sabun mandi di sana? 

Dari balik jendela, aku dapat memandangi pohon kemiri di seberang kamarku yang kini bergoyang-goyang tertiup angin. Angin yang sama yang menyibak rambutku dan menerbangkan beberapa lembar kertas HVS yang aku pakai untuk mengerjakan tugas tadi malam. 

Haji Bantet memang tidak menyewakan satu pun kamarnya. Tetapi, kini aku tinggal di lantai atas sebuah rumah yang terletak persis di seberang kediamannya. Pemiliknya seorang perempuan paruh baya yang menderita asam urat sehingga tidak lagi dapat mengakses bagian rumah lantai dua. Dengan kata lain, keberuntungan ada di pihakku karena kini aku yang menghuninya. 

Tentang kamar yang aku sewa, yang paling aku suka adalah jendelanya. Sebuah jendela besar dari kayu nangka yang menghadap langsung ke area pekarangan Haji Bantet, dan kasurku kuletakkan persis di bawah jendela itu sehingga setiap malam sebelum tidur dan setiap pagi begitu bangun dari tidur, pemandangan yang aku saksikan adalah pohon kemiri itu. 

Saat aku kelas tiga SMP, ibuku pulang dari Taiwan setelah tujuh tahun menjadi asisten rumah tangga. Aku ingat karena begitu sampai di rumah, kami pergi ke toko emas dan ibu membelikanku anting-anting emas seberat dua gram yang membuatku ingin melepas jilbab agar semua teman-temanku tahu kalau aku memakai anting emas. Enam bulan kemudian, persis sebelum ujian kelulusan, ibu sudah berangkat lagi. Tetapi kali ini ibuku pergi ke Hong Kong untuk bekerja sebagai perawat lansia. Bibi Maya juga turut serta dan setelah tiga tahun, ia kembali. Tidak seperti ibuku. 

Di Hong Kong, ibuku bilang, ada banyak pohon kemiri ditanam di sepanjang jalan. Terkadang saat majikannya sedang tidak ada di rumah, ibu diam-diam mengambil kursi dan duduk dekat jendela di dalam ruang kerja; satu-satunya ruangan di dalam apartemen itu yang jendelanya menghadap langsung ke arah pepohonan; duduk-duduk di sana sambil memandangi daun-daun yang bergoyang terkena angin laut. Pohon-pohon itu menaungi para pejalan kaki dari sengatan matahari dan oksigen yang dihasilkannya membantu membersihkan udara dari polusi. Tetapi tidak ada yang datang untuk mengambil buahnya, kata ibuku. Dan jika aku mengingatnya sekali lagi, suaranya adalah suara yang sama saat ia mengatakan ia belum bisa pulang untuk menjengukku.

Bahkan setelah menonton film-film Hong Kong, aku sama sekali tidak punya bayangan tentang pemandangan pohon kemiri di sepanjang jalan yang sering ibuku ceritakan. Mungkinkah pohon kemiri yang dilihat ibuku juga setinggi pohon kemiri milik Haji Bantet itu?

Dua hari yang lalu, aku mengendap-ngendap masuk ke pekarangan Haji Bantet untuk memunguti buah kemiri yang jatuh berserakan di sana. Buah kemiri itu berwarna kehitaman dan sekeras batu. Musim panen telah tiba sejak seminggu yang lalu, tetapi tidak ada tanda-tanda Haji Bantet ataupun istrinya akan memetik buah-buah itu. Rumahnya lengang seperti biasa. Satu buah kantong kresek kecil ada di tanganku. Aku berjongkok di dekat pagar demi menjaga jarak aman sambil memunguti satu per satu buah yang jatuh. Bau got bercampur dengan bau tanah. Sesekali sambil menoleh ke arah pintu rumah Haji Bantet yang tertutup rapat. 

Di bawah lampu temaram, daun-daun yang sesekali bergoyang diterpa angin malam itu membentuk siluet di atas tanah pekarangan. Dari kamarku di atas sana, aku senang memandangi siluet itu jika susah tidur, sama seperti ibuku yang juga senang memandangi jemuran tetangga saat terserang insomnia. Dari apartemennya saat jendelanya dibuka, ibuku bisa mendengar bunyi trem lewat, suara orang-orang bertengkar dengan bahasa yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami, dan sesekali bunyi sirene ambulan yang melintas tengah malam. Sedangkan dari dalam kamarku, aku bisa mendengar suara tukang bakso, bunyi klakson Honda Beat yang sember, dan terkadang suara Haji Bantet memarahi istrinya. 

Kantong kresek itu mulai penuh. Saat aku mencoba memasukkan segenggam buah kemiri lagi, kantong itu jebol dan buah kemiri yang sudah susah-payah aku pungut jatuh berhamburan. Karena gugup, aku menjatuhkan kantong kresek itu dan berlari meninggalkan halaman pekarangan Haji Bantet seperti Cinderella yang kabur saat tengah malam tiba. 

Sampai sekarang aku masih berpikir kalau ibuku masih hidup. Setahun yang lalu, kebakaran besar menghanguskan sebuah apartemen di Hong Kong. Apartemen yang menjadi tempat para pekerja migran dari Filipina dan Indonesia mencari nafkah, termasuk ibuku. Aku sempat menyaksikan berita di televisi saat api mengubah seluruh bangunan menjadi hitam bahkan hingga lantai paling atas, sementara orang-orang berkerumun di pinggir jalan. Tetapi jasad ibu tidak pernah ditemukan. Tidak ada apa-apa yang bisa dibawa pulang bahkan koper dan sehelai baju pun tidak. 

Saat aku melihat nenek melakukan kegiatan malamnya membakar sampah seperti biasa, aku menyaksikan api mengubah daun-daun kering menjadi abu kemudian seketika terngiang dengan ucapan tetanggaku yang mengatakan bahwa ibuku memiliki nasib yang sama dengan daun-daun itu.

Aku tidak pernah percaya.

Karena itu aku selalu membayangkan ibuku sedang berjalan-jalan menyusuri jalanan Hong Kong yang ramai dengan orang-orang yang berbicara menggunakan bahasa yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami dan bunyi trem lewat dan suara sirene ambulans, sambil memunguti buah kemiri yang jatuh sepanjang jalan, lalu menyimpannya di dalam saku celana. 

Di dalam kamar, dengan napas tersengal-sengal, aku merabai kembali kantong celana dan menemukan beberapa butir buah kemiri yang masih sempat aku selamatkan. Buah-buah kemiri yang keras itu aku taruh di atas meja. 

Silahkan kerjakan tugas yang sudah saya kirim untuk mengganti perkuliahan hari ini.

Siang itu, aku urung pergi ke kampus setelah membuka pesan yang dikirim oleh dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Pariwisata ke grup WhatsApp kelas. Rambutku masih basah dan sekujur tubuhku bau sabun. Angin menerpa wajahku dan menerbangkan kertas-kertas HVS yang aku pakai untuk mengerjakan tugas tadi malam. Kupungut kembali kertas-kertas itu dan buah-buah kemiri yang keras itu aku pakai untuk menahan agar kertas-kertas itu tidak lagi diterbangkan oleh angin. ***

About The Author

Filed under: Fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *