Tulisan ini dimulai dengan satu pertanyaan sederhana: bagaimana cara merekam sebuah pameran? Karya seni sering kali menjadi fokus utama saat kita membahas pameran yang telah berlangsung. Tapi bagaimana dengan membahas pameran itu sendiri sebagai sebuah kontribusi dalam kebudayaan?
Umumnya, tulisan tentang pameran juga berfokus pada teks kuratorial, mengelaborasi narasi dan wacana tematik yang digagas oleh sebuah pameran. Pembahasan narasi dan wacana ini tampaknya mereduksi pameran sebagai sebuah ruang yang bukan saja untuk dipahami secara rasional tapi juga sensoris. Ulasan pameran yang membahas gagasan pameran dan karya-karya semata (apalagi yang hanya berbasis pada katalog), tentu saja akan mengabaikan bagaimana pameran secara ruang mendesain tubuh kita untuk bergerak dan menyerap secara sensoris karya-karya satu persatu.
Dalam tulisan ini, saya tertarik untuk membawa pembaca menjadi pengunjung pameran bertajuk Thirst: In Search of Freshwater yang berlangsung di Wellcome Collection, London, pada 26 Juni 2025 sampai 1 Februari 2026. Pameran ini begitu berkesan bukan hanya dari karya dan diskursus yang ditawarkannya, tapi juga bagaimana desain pameran ini menawarkan pengalaman multiperspektif dan multisensoris menggunakan medium yang beragam bagi pengunjung (visitor)1.

Memasuki ruang pameran, kita akan menemukan bagaimana pameran dibagi ke dalam beberapa segmen dengan sekat-sekat dinding khusus.2 Di bagian pertama ini, pengunjung disuguhi sebuah artefak kuno (1900-1600 SM), potongan tablet cuneiform kisah Epic of Gilgamesh yang termahsyur dari peradaban Sumeria. Sebuah reproduksi tablet tersebut diletakkan di depan artefak asli agar pengunjung dapat berinteraksi meraba teks cuneiform tersebut, merasakan tekstur salah satu aksara tertua di dunia ini.
Di sisinya, kita bisa melihat teks pengantar pameran yang dikuratori oleh Janice Li ini, menekankan bahwa pameran ini berangkat dari rasa haus, pengalaman universal yang dirasakan hampir semua makhluk hidup. Wacana pencarian terhadap air serta pengelolaannya menjadi hal vital yang coba digemakan oleh pameran ini. Kisah Gilgamesh menjadi signifikan mengingat bagaimana kisah kuno tersebut merupakan sejarah tertua yang mencatat perang pertama atas air. Mereka yang akrab dengan kisah Gilgamesh mengenal kisah banjir bandang yang konon kemudian ditemukan serupa dalam kisah Noah atau Nuh.

Bergeser ke segmen kedua pameran, kita akan menemukan bagaimana karya seni kontemporer bersanding dengan data penelitian, arsip, dan artefak sejarah. Segmen Aridity ini memotret kekeringan atau gersang yang dialami manusia di berbagai tempat. Lebih dari 10 karya fotografi M’hammed Kilito menyajikan kekeringan di Maroko dalam imaji oasis, tanah tandus. Sedangkan karya yang mendominasi segmen tersebut adalah sebuah instalasi video multi-channel karya Raqs Media Collective bertajuk Thirst/Trishna (2025). Instalasi tiga dimensi yang ditampilkan merujuk pada struktur bawah tanah yang telah ada sejak abad ketiga di India sebagai saluran air. Lima kanal televisi menyajikan visual dan teks refleksi kolektif seniman tersebut terkait absennya namun sekaligus tidak terprediksinya aliran air.
Sementara proyeksi video di dinding menampilkan animasi struktur tersebut dengan bayangan pesawat, seolah menekankan refleksi mengenai aliran air yang juga didengungkan lewat narasi audio dari speaker di atas bangku pengunjung. Sisi lain segmen ini membahas khusus tentang Qanat, saluran air bawah tanah di Iran yang berasal dari 3000 tahun silam. Bahasan mengenai Qanat ini disuguhkan melalui potongan ilustrasi buku abad 14, artefak abad 17, sebuah peta berbasis AI, video dokumenter, hingga imaji X-Ray dari artefak. Perpaduan seluruh karya ini tidak menempatkan karya kontemporer secara superior, sebaliknya setara dengan data penelitian maupun artefak historis sebagai sumber pengetahuan.

Jika di segmen sebelumnya beragam pengalaman sensoris (menonton, melihat, mendengar, dan meraba) telah ditawarkan pada pengunjung, dalam segmen ketiga bertajuk Rain, pengunjung dapat mencium aroma herbal dari temuan riset seniman Lora Aziz. Dalam proyeknya, Lora Aziz mengeksplorasi Semenanjung Sinai di Mesir untuk mengembangkan pengetahuan tanaman tradisional. Wilayah ini menjadi penting karena mengalami hujan tak henti saat pandemi, menjadi tempat tumbuhnya spesies yang terkait dengan varian Omicron. Proyek tersebut dipresentasikan dalam kolase foto, catatan, video, dan sampel herbal dalam jar yang dapat dicium aromanya oleh pengunjung.
Jika kisah-kisah dari Asia Afrika mendominasi segmen sebelumnya, segmen ini juga menampilkan problem hujan di UK, misalnya lewat karya cukil George de Maurier pada 1869 tentang Seasonal Affective Disorder (SAD), sebuah depresi yang disebabkan oleh cuaca. Di sebelahnya, laporan surat kabar dan atlas tentang hujan di tanah UK memberikan konteks lebih luas tentang kondisi iklim di balik SAD ini. Yang paling menakjubkan dalam segmen ini buat saya adalah karya video lima kanal Gideon Mendel. Berdurasi 21 menit, karya ini menampilkan dokumentasinya pada banjir di berbagai negara selama lebih dari 10 tahun. Dengan pendekatan visual artistiknya, penonton diajak berefleksi lewat genangan air setinggi perut, memasuki rumah penyintas, merasakan distopia pasca bencana.
Segmen berikutnya Glacier berfokus pada bagaimana es dianggap sebagai penyimpan cadangan terbesar air dunia. Segmen ini mencoba memanjakan sensor pendengaran pengunjung lewat ruang yang dilengkapi dengan headphones dan beanbags. Rileks di ruang ini, pengunjung seolah diajak untuk mengunjungi gletser di berbagai wilayah dunia, dari Himalaya sampai Skandinavia. Pengunjung dapat mendengarkan suara-suara natural seperti es yang meleleh dan menetes. Rekaman suara ini awalnya adalah data glasiologi, namun menjadi rekaman bagaimana alam berubah dalam suara sehari-hari yang merdu.
Salah satu track yang dapat didengar dalam listening booth ini juga sebuah lagu berjudul The Pearls in the White Snow yang merupakan lagu rakyat dari Ladakh, wilayah India Utara yang berada di kawasan pegunungan Himalaya. Masyarakat Ladakh sendiri kerap menggunakan lagu rakyat dan puisi untuk mewariskan pengetahuan alam. Di sisi lain dinding, sebuah etalase piringan hitam dan sampulnya dipajang. Dari sampul belakang tersebut, kita bisa mendapati bahwa proyek piringan hitam yang digagas peneliti Susan Schuppli tersebut mencoba mengumpulkan material sonic seperti yang kita dengar dalam listening booth.
Segmen berikutnya, Surface Water mencoba menegaskan bahwa “haus” muncul bukan hanya karena kelangkaan air, tapi juga memburuknya kualitas air tanah. Salah satu karya kontemporer yang menarik dalam segmen ini misalnya karya tekstil seniman Lebanon Dala Nasser. Karya berjudul Mineral Lick (2019) ini memajang lembaran kain panjang merekam bagaimana air di Beirut yang terkontaminasi karena ketidakpedulian pemerintah. Dalam membuat karya ini, sang seniman mengumpulkan contoh tap water dari 60 sektor di Beirut.

Salah satu karya paling masif dalam segmen ini adalah presentasi proyek yang dipimpin oleh seniman Feifei Zhou di Singapura dan Malaysia, khususnya di wilayah selat Johor. Dalam satu layar interaktif, pengunjung dapat menjelajahi peta digital tentang implikasi dari infrastruktur kolonial, urbanisasi, dan industrialisasi pada kesehatan ekologi di pesisir. Layar kedua menampilkan dokumenter Where Water Ends yang mewawancarai masalah-masalah masyarakat tempatan Orang Seletar yang telah lama hidup di atas air.
Karya lain yang menarik dalam segmen ini adalah sebuah buku fotografi karya Chloe Dewe Mathews. Foto-foto Mathews berfokus pada beragam komunitas yang melakukan praktik spiritual di tepi sungai Thames, UK. Mulai dari foto seorang perempuan yang sedang menunaikan salat Maghrib hingga keluarga yang sedang membuang abu kremasi dapat kita lihat sembari membuka halaman buku fotografi tersebut.

Pameran ditutup dalam satu ruang yang memuat segmen Groundwater dan Epilogue. Salah satu karya paling masif dalam ruang ini adalah instalasi Anthony Acciavatti berupa model layer batu atau sedimen di tiga lokasi berbeda: Jakarta, New Delhi, dan Phoenix-Tucson. Karya ini berusaha menunjukkan misalnya bagaimana ketika air di tanah Jakarta diekstraksi secara berlebihan, kenaikan ketinggian air laut membuat Jakarta perlahan tenggelam dan cadangan air segar terancam oleh air asin. Di sisi instalasi, terdapat beberapa tablet yang didesain dengan teknologi augmented reality sebagai bagian dari refleksi epilog karya Raqs Media Collective. Mengarahkan layar tablet ke instalasi Acciavatti dan segala sisi ruang, kita akan mendapatkan animasi asteroid berbentuk air mengorbit dalam pola tertentu. Karya ini seolah mengajak kita untuk membayangkan bagaimana saat kelangkaan air menyerang bumi, kita dipaksa untuk mengeksplorasi tata surya untuk menambang air dari asteroid.
Bagi saya, pameran ini tidak hanya menawarkan refleksi sebatas wacana “haus” yang menjadi tema pameran ini. Lebih jauh, pameran ini menawarkan refleksi berbasis pengalaman multisensoris yang memanjakan tubuh serta berbagai indera untuk menyerap pengetahuan. Mulai dari melihat, mendengar, meraba, hingga mencium aroma ditawarkan pada pengunjung. Penempatan karya seni kontemporer beragam medium yang sejajar dengan artefak historis dan data/arsip penelitian, lengkap dengan berbagai teknologi mutakhir, seolah sengaja didesain untuk membuat kita melompat-lompat menggunakan otak kanan dan otak kiri dalam mencerna gagasan pameran. Pameran yang menuntut pengalaman tubuh dan sensoris ini bagi saya adalah contoh sebuah pameran yang berhasil karena ia justru sulit direkam dan diabadikan baik dengan teks, gambar, ataupun video.
Pameran ini sadar untuk memaksimalkan kelebihan dari medium “pameran” yang tidak dimiliki oleh medium lain (seperti teks atau video), yaitu memobilisasi tubuh dan mengaktivasi beragam indera. Ia harus dikunjungi secara langsung, tidak bisa dinikmati hanya dengan membaca katalog atau sekadar melihat dokumentasi foto dan videonya. Lantas, bagaimana cara merekam sebuah pameran seperti pameran Thirst ini?
Jawabannya tidak ada.
Sebuah pameran adalah bentuk kebudayaan temporer dan teknologi media kita belum cukup mampu untuk merekamnya agar bisa dinikmati secara permanen.***
- Istilah “pengunjung” dalam hal ini saya rasa paling tepat untuk merujuk pada orang yang hadir dalam sebuah pameran. Istilah “audiens” dan “penonton” adalah dua term lain yang sering dipakai, meski secara etimologi merujuk pada satu konsumsi sensorik. Audiens berasal dari kata latin audentia (mendengar) sedangkan penonton merujuk pada pengalaman sensorik primer melihat. Dua term ini menafikan aspek sensorik lain dan pengalaman mobilisasi tubuh yang dilakukan dalam menonton pameran. ↩︎
- Partisi pameran ini terbuat dari bahan-bahan biologi terbarukan. Pilihan ini terkait dengan penggunaan air, sebagai alternatif dari bahan kayu yang umum dipakai mesti tidak kalah kuat. Misalnya, partisi menggunakan bahan hemp board yang dianggap membutuhkan air secara minimal dan tidak membutuhkan pestisida. ↩︎




