Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian Rakjat tanggal 19 Mei 1962, disalin dari kliping koran sebagaimana aslinya, termasuk kemungkinan salah ketik yang terjadi.
***
Perlu saja djelaskan dahulu dasar sikap saja mengenai pengertian cinematik. Jang djelas, saja bertolak dari segi pandangan visuil. Tapi kalau hanja dalam pengertian visuil dalam artikata jang umum saja belum dapat mendjelaskan sikap saja, karena arti visuil dalam pengertian saja, punja arti terbatas sekali. Karena itu pula saja tidak mungkin menilai ketjak hanja dari segi pandangan visuil belaka. Mau tidak mau saja tidak dapat memisahkan faktor nada2, ritme, harmoni jang merupakan suatu kesatuan jang bulat dengan bentuk visuil. Djadi pengertian cinematik bagi saja, ialah paduan paralel atau lebih tepat suatu kesatuan sebagai hasil peleburan segi suara dan gambar, segi audio-visuil.
Dan kesatuan nada dan gambar itu sendiri sebenarnya sudah merupakan suatu dasar bagi penilaian. Bagi saja, penilaian atau unsur visual, senantiasa berdiri atas azas penilaian bidang, garis, dalam kesatuan bentuknja pada bangunan2 komposisi vertikal, horizontal maupun diagonal, pada ritme jang mengalir dari penggubahan bentuk garis2plastis, persinggungan gelap terang, vitalitet dan ekspresie dari nilai2 jang paling sublim dari objek, dingin sepotong es, atau panasnja bara! Sedangkan nada2 mentjetuskan pelbagai tingkatan gerakan emosi, menurun atau merendah, mentjetus atau terbakar. Nada2 adalah ekspresie jang se-bulat2nja terlahir dari dalam, mengalir lembut atau bergelora, lalu membentuk keseimbangan2 baru, keseimbangan jang menjentuh daerah perpaduan antara objek2 optik dan akustik membangun nilai aestetika. Disamping itu perlulah ditjatat pengertian saja atas objek2 visuil. Setjara cinematik, objek benda, bentuk bidang, garis dan iramanja tidak bergantung pada bidang, garis benda itu sendiri, tapi bergantung pada kontradiksi benda dan tjahaja. Tanpa tjahaja sebenarnja secara cinematik, benda tidak pernah ada.
Ketika saja untuk pertamakalinja berhadap dengan dengan suatu ansambel penari ketjak jang melakonkan drama Ramajana (fragmen), terlebih dahulu saja melihat faktor tjahaja ini. Ditengah sebuah ruang ditegakkan sebuah lampu jang indah seperti obor, jang tjahajanya melahirkan gerakan2 bajangan pada lingkungan. Bajangan jang bergerak dinamis itu sebenarnja setjara cinematik sudah merupakan suatu drama tersendiri, drama jang indah. Dan tak lama kemudian, setelah anggota ansambel Ketjak itu muntjul seorang demi seorang duduk mengelilingi lampu itu, kagumlah saja akan pengertian seniman2 Bali atas faktor tjahaja jang saja kemukakan sebagai salahsatu dasar cinematik jang pokok.
Sekaligus penari2 jang tak berbadju dan dengan demikian mengemukakan garis2 jang indah dari bidang tubuhatasnja, tangannja, leher dan kepala, dan menempatkan dirinja sebagai objek tjahaja obor jang bergerak setjara berirama dan tetap. Pada tubuh jang masih duduk bersila, belum bergerak apa2, telah terlihat gerakan2 bajangan jang indah, jang setiap detik merobah bentuknja, merobah ritmenja.
Bajangkanlah betapa hebatnja sesudah penari2 itu mentjiptakan garis2 baru dalam gerakan tariannja, dalam sinar lampur jang dinamis bergerak. Dua gerakan lalu berpadu. Pertama gerakan lampu jang melahirkan bajangan jg me-nari2 pada tubuh dan kedua gerakan tarian itu sendiri. Sekaligus tarian lampu berpadu dengan tarian tubuh, leher, tangan dan djari. Ditilik dari sjarat2 cinematik jang pokok ini sadja, djelas betapa tingginja pengertian seniman2 Bali tentang hakekat bajang pada benda, bidang dan garis, pada gerak dan tari, pada mimik dan gestikulasi.
Lalu kekaguman saja tidak terhenti disana sadja. Sesudah para penari berkeliling, bersila dan sesekali tangannja diatjungkan keatas se-olah2 hendak menggapai sesuatu dengan djari jang gemetar seperti gemetarnya tjahaja obor dipermainkan angin, heranlah saja betapa tingginja pengertian mereka atas komposisi garis lurus dan garis lengkung cinematik. Lingkaran manusia jang mentjetuskan gerakan2 tubuh ter-ajun2 kekiri kekanan lalu disusul gapaian tangan dengan djari2 jang menari se-olah2 lidah api jang membakar, telah membangun sekaligus perspektif2 jang tegas atas vitalitet komposisi ruang screen pada fotografie. Djika mereka dipotret, dari sudut manapun, mereka akan melahirkan garis lengkung jang mendukung gelombang2 tangan turun naik dari djari jang senantiasa mentjetuskan garis2 zig-zag di atas lengkungan badan jang membungkuk lalu tegak lalu membungkuk lagi ter-ajun2. Sekaligus garis2 ini bertemu dengan bangunan objek obor jang ber-tingkat2, dan djika dipandang dari bidang gambar akan melahirkan harmoni dan komposisi jang kuat penuh vitalitet. Kita akan melihat suatu garis jang bertjabang dibangun di-tengah2 suatu lengkungan jang turun naik setjara ritmis mengangumkan. Bukan hanja terbatas disana ketinggian mutu cinematik mereka. Kalau kita teliti lebih djauh, lingkaran manusia dengan suatu tonggak lampu ditengah jang lampunya melahirkan bajang seperti air mengalir, sekaligus mereka telah membangun sjarat2 3 dimensional pada bidang gambar. Alangkah tingginya pengertian mereka itu akan hukum ruang cinematik.
Dan mereka tentunja tidak luput dari kekurangan2 cinematik ini. Misalnja ada saat2 babakan selesai. Tapi kelemahan itu sendiri memang bukan kelemahan karena sebenarnja adegan selesai dan objek tertegun sesaat. Tetapi djangan dikira “kekosongan sesaat” itu tidak punja funksi apa2. Memang kalau dia tegak atau terdjadi sebagai suatu “kekosongan sesaat” jang terlepas dari taraf2 dramatik tari, bolehdjadi dia tidak berfunksi apa2 selain mentjeguskan segi jang negatif. Tapi “kekosongan sesaat” itu mereka beri funksi jang tepat, sebagai suatu interval untuk mengantar serbuan dan gemuruh nada2 jang tiba2 sadja menderu seperti gelombang menghempas. Karena kekosongan sesaat tadi, kegemuruhan nada2 terasa lebih menondjol, lebih berkesan, se-olah2 geledek jang menjambar tiba2 pada suatu sendja jang hening. Dia begitu mengedjutkan dan dia berhasil merenggut segenap emosi kedalam suatu konsentrasi, kesuatu pemusatan jang luar biasa.
Dari irama, gerak jang penuh vitalitet dalam kesatuan itu, se-olah2 menjala api besar jang mendjilat dan membakar lingkungannja.

Disini berlaku hukum cinematik jang kuat dan jang berhasil mengobarkan njala emosi penonton kedalam kantjah dramatik tarian itu sendiri. Penonton sudah kehilangan dirinja, dan lebur kedalam taraf pentjairan suatu identifikasi emosional jang se-padat2nja.
Penonton dalam kehadirannja tidak lagi menduduki tempat penonton tapi peserta jang aktif dalam njala temperament jang menandjak lalu turun dan menandjak lagi kepuntjak klimaksnja.
Bukankah hal itu sudah merupakan pernjataan dari bangunan aestetika jang se-indah2nja?
Tjelakalah cineast2 jang tidak melihat ini. Tjelakah cineast2 jang melihat Bali dari segi alunan2 erotik belaka. Saja pernah melihat beberapa film jang dibikin di Bali dan katanja film tentang Bali. Tapi sungguh, saja tidak melihat Bali didalamnja dalam artian cinematik maupun dramatik. Paling2 saja sekedar menjaksikan suatu kegalauan gerak, garis jang tjondong kearah perangsangan nafsu. Mungkin djuga cineast2nja ada melihat Bali dalam artian cinematik dan dramatik jang se-murni2nja, tapi ia tidak dapat menggali kekajaan2 jang padat itu ke-bidang2 gambarnja sebagai material plastis jang bernilai. Mungkin bukan karena tak sanggup, tapi karena faktor lain jang begitu berkuasa atas dirinja jaitu kapitalisme jang menempatkan film bukan sebagai media kebudajaan dan pendidikan jang bulat tapi sebagai barang-dagangan jang harus mengorek keuntungan se-besar2nja.
Bukan itu sadja, bahkan film ditempatkan sebagai suatu alat jang penting dalam penjebaran imperalisme kebudajaan. Apa tudjuan film2 imperialis selain menjebarkan dekadensi di kalangan Rakjat2 jang terdjadjah atau hendak didjadjah.
Tidaklah heran, djika cineast2 mereka tidak mungkin mengemukakan material2 cinematik jang tinggi tentang Bali. Karena material2 cinematik Bali adalah material Plastis jang dibangun dari garis2, ritme dan harmoni jang penuh vaitzlitet dan vitalitet itu bersumber pada suatu dasar jang begitu dibentji oleh kapitalisme, jaitu dasar kolektif jang padu seperti jang direfleksikan oleh Ketjak jang besar itu. Memang imperialisme adalah musuh utama kesenian Rakjat. Imperialisme melalui segala djalan hendak mengebiri kesenian Rakjat. Tapi ia tidak mungkin bisa berhasil, karena sedjarah tidak pernah berhenti dan jang menetapkan sedjarah adalah Rakjat itu sendiri.
Tradisi2 luhur jang positif di Bali ini dalam kehadirannja di-bidang2 kesenian dan kehidupan, tentunja harus di-hankan (sic) dan mengembangkan kan (sic). Tapi untuk mempertahankan dan mengembangkan hal2 itu tidaklah tjukup hanja oleh idee2 atau usaha2 jang bersifat reform. Ia memerlukan suatu landasan jang kuat, landasan jang mendorongnya madju, karena kemadjuannja itu adalah kehidupannja. Dan landasan itu sebenarnja tidak bisa lain dari kemerdekaan penuh dan demokrasi, bebas dari imperialism dan feodalisme. Dengan landasan ini kebudajaan Rakjat akan berkembang tapi kebudajaan Rakjat itu sendiripun akan mengembangkan perdjuangan kemerdekaan dan demokrasi ketaraf jang lebihtinggi.
Bagi pekerdja2 kebudajaan Rakjat, tidak ada djalan jang lebih penting sekarang ini dari berdjuang kearah itu. Dengan demikian Bali bukan sadja akan dapat menjumbangkan hal2 jang indah pada kehidupan kita tapi kehidupan kitapun dapat menjumbangkan banjak untuk Bali.
***
Kliping koran diperoleh dari koleksi arsip National Library of Australia, didapat berkat bantuan Dr. Thomas Barker.
Terima kasih kepada Bunga Siagian yang sudah mengizinkan penerbitan ulang tulisan ini.




