Mengenang Sri Owen, Duta Masakan Indonesia

Jika kuliner Indonesia adalah sebuah negara, maka duta besarnya adalah Sri Owen, seorang perempuan bahadur yang dengan tekun memperkenalkan masakan Indonesia ke dunia.

Beberapa tahun silam, saya menyaksikan film dokumenter tentang Sylvia Saartje yang diproduksi dari dana hibah dari program Fasilitasi Bidang Kebudayaan, yang merupakan embrio bagi program Dana Indonesiana. “Program kami adalah pendokumentasian karya maestro,” ujar Subiyanto, sang sutradara.

Dari situ saya langsung kepikiran ingin membuat buku. Ada beberapa nama dari dunia musik dan kuliner –dua bidang yang saya tekuni– yang bisa disebut maestro dan patut didokumentasikan secara layak. Ini keluhan klasik, bahwa Indonesia punya banyak sekali maestro kebudayaan, dan sayangnya yang terdokumentasikan dengan baik mungkin tak sampai 0,5 persen.

Setelah saya timbang dan timang, pilihan saya adalah mendokumentasikan kisah hidup dan karya Sri Owen. Bagi yang belum pernah mendengar nama perempuan kelahiran 1935 ini, beliau adalah seorang juru masak dan penulis, yang diakui oleh banyak pihak sebagai orang Indonesia pertama yang menulis buku resep masakan Indonesia dalam Bahasa Inggris.

Buku pertamanya, The Home Book Of Indonesia Cookery terbit pada 1976. Namun buku keduanya lah,Indonesian Food and Cookery (1980), yang membuat namanya dikenal luas sebagai pakar masakan dan budaya kuliner Indonesia. Kemudian The Rice Book (1993) dirayakan sebagai salah satu buku terpenting dalam khazanah kuliner dunia. Pada 2010, buku ini ditempatkan di nomor 19 dalam senarai The Best 50 Cookbooks Ever yang dibuat oleh The Guardian dengan panel berisi para pakar kuliner serta penulis, seperti Raymond Blanc, Bill Buford, Rachel Cooke, Monty Don, hingga Fuchsia Dunlop.

Sayangnya, nama Sri Owen lebih dikenal di luar negeri. Bukan hanya karena beliau tinggal di Inggris sejak tahun 1964, tapi juga karena karya-karyanya ditulis dalam Bahasa Inggris dan tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Ibunya. Thus, karyanya lebih susah diakses dan namanya tak banyak dikenal di Indonesia.

Terpikir untuk menulis tentang beliau, tetapi karena kesibukan omong kosong dalam hidup, saya beberapa kali alpa mengajukan proposal penulisan buku ini. Baru pada 2024 saya mengajukannya, dan gagal lolos seleksi. Tim kurator waktu itu bilang bahwa perjalanan ke Inggris agak susah masuk ke dalam RAB dan pertanggungjawaban pendanaan.

Waktu itu saya berpikir akan mengajukan proposal lagi pada 2025. Momentum ini akan terasa pas, mengingat tahun 2025 akan menjadi perayaan ulang tahun Sri yang ke 90. Namun tentu saja saya agak khawatir, mengingat usianya, beliau bisa pergi kapan saja. 

Dan benar saja. Pada 4 Oktober 2025, lelayu itu datang. Ibu Sri Owen, our beloved queen of Indonesian cooking, meninggal di rumahnya, dikonfirmasi oleh anaknya, Irwan Owen. Beliau menyusul sang suami, Roger, yang meninggal pada 2021 silam. Dari catatan yang sudah saya kumpulkan untuk penulisan proposal itu, saya menghadirkan tulisan tentang Sri Owen ini.

Perempuan Petualang

Jika membaca kisah hidupnya dari berbagai biografi, termasuk Sri Owen’s Indonesian Food (2008), kita bisa melihat Sri sebagai seorang perempuan petualang yang berani mendobrak berbagai tembok pembatas.

Sri Koesmi lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 31 Maret 1935 sebagai anak kedua dari pasangan guru. Anak pertama adalah seorang lelaki yang meninggal ketika usianya hanya beberapa bulan. Selama nyaris dua dekade kemudian, sang ibu mengalami beberapa kehamilan (juga keguguran), yang Sri sebut sebagai upaya orang tuanya untuk punya anak lelaki. Keinginan itu tak pernah tercapai. Sri menjadi anak pertama dari enam bersaudara yang semuanya perempuan.

Jika ditilik ke belakang, kita bisa melihat bagaimana Sri bisa menjelma sebagai perempuan bahadur yang memang berakar dari pola matrilineal di kultur Minang. Sang Nenek dari pihak ayah, adalah seorang perempuan tangguh yang mengelola sawah dan perkebunan di desanya. Dia mengasingkan sang suami ke tempat yang jauh karena menikah lagi tanpa seizinnya. Sri menyebut sang kakek yang diasingkan sebelum dia lahir itu, “…disgraced himself.”

Sedangkan sang ayah, dikirim untuk bersekolah ke Bandung di usia 16 tahun. Setelah lulus tiga tahun kemudian, dia menikah dengan sang ibu, perempuan dari keluarga menak Sunda. Sang kakek dari pihak ibu adalah insinyur sipil yang punya pangkat cukup tinggi di pemerintahan.

“Ketika ibu datang ke Padang Panjang, aku merasa ibuku agak kesulitan beradaptasi di awal. Untungnya ibuku akrab dengan nenekku, yang senantiasa menjadi rekan yang berharga,” kenang Sri di buku Sri Owen’s Indonesian Food.

Orangtua Sri dihormati di kampungnya, selain karena berasal dari keluarga yang terpandang, juga karena mereka mendirikan sekolah dasar bernama Mahameru Instituut. Ketika itu, pemerintah Hindia Belanda menganggap murid sekolah ini jaminan mutu, sehingga lulusannya akan langsung keterima di sekolah Belanda.

“Sekarang aku melihatnya sebagai sesuatu yang sedikit ironik. Karena kedua orang tuaku adalah para nasionalis tulen dan melihat pendidikan sebagai cara untuk mempercepat kemerdekaan republik yang mereka mimpikan,” tutur Sri.

Sang Nenek memegang peran penting dalam kehidupan Sri, terutama dalam hal menumbuhkan kecintaannya terhadap dapur, memasak, dan kultur boga. Ia menyebut dapur keluarga besarnya terpisah dari rumah induk, sebuah praktik umum untuk menghindari risiko kebakaran. Sang Nenek juga rutin mengajak Sri untuk keliling sawah dan kebun, memetik daun dan rempah, pergi ke pasar untuk belanja, serta bercakap serta memberi petatah-petitih alias nasihat hidup.

“Nasihat paling berharga dari Nenekku yang selalu kupegang erat adalah,” ujarnya, “Tidak ada orang yang bisa merawatmu lebih baik ketimbang dirimu sendiri.”

Keluarga besar Sri, karena pengaruh sang ayah, cukup terbuka terhadap kebiasaan bersantap ala Belanda. Sri menulis bahwa masakan yang dibuat di kuali dan dimasak di atas bara kayu ini akan disantap di ruangan makan khusus bergaya Eropa.

“Di sana orangtuaku makan di meja, dengan piring China, memakai peralatan makan Eropa, dan bercakap dalam bahasa Belanda,” ujar Sri.

Di ruangan sebelah, keluarga besar Sri yang jumlahnya bisa mencapai puluhan orang, akan makan dengan santai, kasual, lesehan di tikar, dengan alas dari daun pisang. Setelah makan, mereka akan bercakap tentang kejadian dan cerita di hari itu. Sri mengaku senang duduk bareng orangtuanya dan belajar tentang etiket makan ala Eropa. Namun dia lebih senang duduk bersama keluarga besar beramai-ramai, santai, sembari bercakap hangat.

Pada 1942, keluarga Sri harus mengungsi dari Padang Panjang ketika Jepang menduduki Nusantara. Sang Nenek memberi pesan terakhir untuk Sri.

“Cucuku tersayang, ketika kamu besar nanti, jangan nikah dengan orang asing, ya,” ujar Sri menirukan pesan sang Nenek. 

Sri menjelaskan, pesan itu berarti: jangan menikah dari orang beda pulau. Kelak, tidak hanya menikah dengan orang berbeda pulau, Sri menikah dengan orang dari negara lain. 

Keluarga Sri berpindah-pindah, dari tinggal di rumah sang nenek dari pihak ibu di Bandung, hingga akhirnya menetap di Magelang, Jawa Tengah, sejak 1949. Ini masa-masa yang berat bagi keluarga Sri, meski dia selalu bilang: ada lebih banyak yang mengalami kesengsaraan lebih hebat. 

Menjalani masa remaja di Magelang, Sri melanjutkan sekolah dan lantas kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, kota yang berjarak sekitar 40 kilometer dari rumahnya. Di Yogyakarta, petualangan Sri berlanjut, termasuk bagaimana dia belajar tentang kultur boga dari Jawa Tengah dan juga para juru masak Tionghoa. 

Pertemuan yang Mengubah Hidup

Sri masuk di jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada pada 1955, dan lulus pada 1958 dan melanjutkan studi pasca sarjana di kampus yang sama. Tesisnya tentang karya-karya Jane Austen. Sayangnya, dia tidak sempat menyelesaikan studi S2nya.

Di sela studinya, Sri melakukan beberapa pekerjaan. Mulai dari sekretaris, penerjemah, kepala perpustakaan di jurusan Sastra Inggris, hingga dosen muda paruh waktu. Sri juga membantu orangtuanya untuk menyekolahkan para adik. Kesukaannya terhadap Jane Austen juga membawanya bermimpi untuk bersekolah di Britania Raya. Dua beasiswa dari Australia dan Amerika Serikat sempat mampir ke meja Sri, tapi Sri menolak keduanya. Hanya Britania Raya impiannya.

Pada 1961, hidup Sri akan berubah. Kampusnya kedatangan tim dari British Council yang akan bekerja sama. Salah satunya adalah seorang pria muda yang baru enam bulan lulus dari Universitas Oxford dan akan mengajar di jurusan Sejarah. Namanya Roger Owen.

Mereka dekat, dan setelah setahun Roger berani mengajak Sri untuk kencan. Sri mengenang ini dengan jenaka. Bahwa kencan pertamanya sama sekali tidak romantis. Mereka menonton film dokumenter soal London Blitz. Tapi toh mereka cocok, dan tiga bulan setelah kencan pertama itu mereka memutuskan bertunangan.

Di tengah masa tunangan itu, Sri mengaku pada Roger: dia tidak bisa memasak. Dalam ingatan Sri yang mengabur, dia berkata ini agar Roger tidak serta merta berharap istrinya akan melakukan tugas domestik seperti banyak istri di zaman itu.

Di saat bersamaan, datanglah tawaran beasiswa dari British Council yang lama dinanti itu. Jurusannya Linguistik di Universitas Edinburgh. Sri bimbang. Sebab Roger dan Sri memutuskan akan menikah dalam waktu dekat. Roger kemudian mendorongnya untuk menerima beasiswa itu.

“Ambil aja. Toh kamu kuliah hanya setahun. Kita bisa menikah setelah kamu lulus,” dorong Roger, pria yang digambarkan sebagai seorang, pemalu, ceria, dan bertutur kata lembut.

Sri setuju. Namun dua hari kemudian Roger menghampiri Sri.

“Setelah mikir panjang, kayaknya aku lebih suka kalo kamu menolak tawaran beasiswa itu, deh. Soalnya kamu bisa aja berubah pikiran dan menikah sama orang Skotlandia,” kata Roger.

Saya membayangkan Sri tertawa –gabungan antara rasa cinta, tersipu, dan perasaan hangat mengingat ada lelaki yang amat takut kehilangannya. Ia kemudian meminta Roger melakukan dua tugas: menghubungi British Council untuk membatalkan keberangkatannya ke Edinburg, serta menghubungi sang ayah di Magelang untuk meminta izin menikahi sang putri sulungnya.

Pada 1962 pasangan ini menikah di Magelang dan dihelat dengan meriah. Sri Koesmi kemudian menjadi Sri Koesmi Owen, dan dia kelak dikenal secara luas sebagai Sri Owen. Pestanya berlangsung selama tiga hari, lengkap dengan pertunjukan gamelan, ratusan tamu dari berbagai negara, dan jumlah makanan berlimpah. Pulang dari Magelang, pasangan muda ini menggelar pesta kecil-kecilan di Toko Oen cabang Yogyakarta untuk para tolan.

Setelah menikah, Sri mulai belajar memasak. Alasannya sederhana: sang juru masak yang bekerja untuk suaminya, adalah seorang perempuan berusia lanjut yang kurang bisa memasak. Perlahan Sri belajar memasak. Repertoar awalnya adalah beberapa jenis masakan klasik Cina –karena mereka berdua penggemar hidangan Cina. Kemudian jenis masakannya bertambah: hidangan Barat, kemudian masakan Minang dan Jawa. 

Dari masa-masa awal Sri memasak ini, koleksi buatannya merentang dari sop ayam, soto ayam, pangsit goreng, sup pangsit, ayam bacem, hingga gado-gado.

Selain jadi bisa memasak, hidup Sri berubah karena dia akhirnya menjadi warga negara Inggris. Setelah kontrak Roger di UGM selesai, mereka bersiap kembali ke Inggris. Ketika itu pilihan transportasi utama lintas benua adalah kapal laut. Sri dan Roger naik kapal Lloyd Triestino dari Tanjung Priok, menuju ke Napoli, Italia. Dari sana, mereka pindah naik kereta api ke London. Kemudian mereka lanjut ke Surrey, yang menjadi tempat tinggal mereka sejenak sebelum pindah ke Wimbledon.

Sri mengenang perpisahan dengan keluarganya sebagai sesuatu yang berat. 

“Aku memeluk ibuku dengan perasaan yang sama ketika aku berpisah dengan nenekku lebih dari dua puluh tahun silam. Kami berjanji akan kembali segera. Tapi di dalam hati, aku tahu perlu waktu lama sebelum aku bisa pulang ke Jawa, dan di saat itu mungkin aku datang untuk menabur bunga dan berdoa di makamnya,” kenang Sri.

Masakan Indonesia yang Mengubah Takdir

Setelah tinggal di Inggris, Sri sadar salah satu misi besarnya sebagai orang Indonesia di Inggris adalah menjadi misionaris.

“Misiku adalah menunjukkan kelezatan masakan Indonesia,” katanya.

Pada pertengahan dekade 1960, tak banyak orang Indonesia yang tinggal di Inggris. Di tengah musim yang bersilih dengan cepat, Sri menjadi semacam duta besar makanan Indonesia. Memasak makanan Indonesia memang menjadi obat pelipur lara ampuh bagi Sri yang merindukan keluarga dan masakan kampung halamannya. Ia juga kerap membuat perhelatan makan, mulai dari rumahnya hingga rumah para kerabat. Ia dengan senang hati memasak untuk para kolega demi misinya.

Pada 24 Juni 1973, misalkan, Sri dan Roger mengadakan makan siang bersama di Oxshott, Surrey. Di sana, Sri membacakan puisi W.S Rendra, “Pesan Penjtopet Kepada Patjarnja” bersama dengan Sori Siregar, penulis Indonesia yang pada 1972-1974 bekerja di BBC London. Untuk para tamu, Sri memasak gudeg.

Di sini terlihat bagaimana Sri adalah seorang yang moderat dan berpikiran terbuka sekaligus strategis. Sebagai juru masak tumbuh dengan berbagai pengaruh masakan, sekaligus yang mengembankan tugas pada dirinya sendiri untuk mengenalkan masakan Indonesia, Sri jauh dari sikap puritan. Dia sadar bahwa pada masa itu, masakan Indonesia nyaris tak dikenal. Cita rasa masakan Indonesia yang penuh rempah dan berisi bahan-bahan yang terdengar asing bagi wangsa Kaukasian, amat mungkin membuat mereka kaget jika tak ada penyesuaian.

“Ketika aku tiba di London, masakan Indonesia sama sekali tidak dikenal,” kata Sri dalam salah satu wawancara bersama The New York Times. “Aku mulai memasak masakan Indonesia karena aku ingin memasak makanan rumahan. Rasa makanan Indonesia amat sukar dilupakan.”

Untuk gudeg yang dia masak, misalkan, dia dengan riang berkata: di resep ini, cukup pakai gula sedikit saja, tapi tentu saja, kamu bisa menambahkan kalau mau.

Soal kebiasaan mengumpulkan kolega dan tolan untuk makan bersama-sama itu, ada banyak yang bisa memberi kesaksian. Salah satu kenalannya, Melanie Jappy, mengenang Sri dengan amat manis di memorial melepas Sri. Menurutnya, Sri justru girang kalau “direpotkan”, dan dia amat menyukai jika ada banyak orang berada di sekitarnya untuk ngobrol dan makan.

“Kayaknya gak ada orang di ruangan ini yang belum pernah mendapat kebahagiaan berupa pesta makanan Indonesia di rumahnya di Wimbledon,” tutur Melanie.

Salah satu dari ratusan, atau bahkan ribuan, orang yang pernah dijamu di rumah Sri dan Roger itu kebetulan bekerja di penerbitan beken, Faber & Faber. Ia yang mendorong Sri menulis buku tentang masakan Indonesia. Maka terbitlah buku pertama Sri, yang kemudian dianggap menjadi tetenger bersejarah bagi dunia boga Indonesia di tingkat global. Sri menjadi orang Indonesia pertama yang menulis resep (dan juga kisahnya) masakan Indonesia dalam bahasa Inggris. 

Buku itu jadi semacam “pintu gerbang” bagi mereka yang penasaran dengan kultur boga Indonesia. Selain soal resep, Sri juga mengisahkan bagaimana masakan Indonesia adalah hasil dari apa yang disebut sejarawan Denys Lombard sebagai silang budaya. Hasil percampuran kultur boga warga lokal Nusantara, Cina, India, Arab, Belanda, Portugis, juga Spanyol.

“Walaupun tidak laris-laris amat, tapi buku itu cukup menarik perhatian beberapa orang. Salah satunya akan mengubah jalan hidupku,” tutur Sri.

Orang yang dimaksud Sri adalah Alan Davidson. Ketika itu dia baru saja pensiun sebagai Duta Besar Britania Raya untuk Laos. Sebagai penyuka makanan, di sela-sela tugas, Alan melakukan riset tentang makanan Asia Tenggara yang berbahan dasar ikan. 

Awalnya Sri ingin melakukan wawancara dengan Alan. Sejak pertama tinggal di Inggris pada 1964, Sri memang langsung bekerja untuk BBC London Seksi Indonesia dan baru pensiun pada 1983. Tapi karena salah jadwal dan wawancara itu gagal, akhirnya Sri mengundang Alan dan Jane, istrinya, untuk bersantap di rumah Sri.

Alan pula yang mengajak Sri untuk menghadiri diskusi mingguan di St Antony’s College, Oxford, tempat Alan menjadi visiting fellow. Di sana, Sri berkenalan untuk pertama kalinya dengan banyak penulis, sejarawan, akademisi, juga periset kultur boga. Mulai dari Elizabeth David, Jane Grigson, Jill Norman, Claudia Roden, Paul Levy, Yan Kit So, Anne Willan, Doreen Fernandez, dan banyak yang lain. Diskusi mingguan itu kemudian dikenal sebagai embrio The Oxford Symposium on Food and Cookery yang prestisius itu.

“Dan yang juga penting untukku adalah, pertemuan Alan menjadi titik balik hidupku, mengembangkan renjanaku soal riset, memasak, dan mengajari orang-orang tentang makanan dari kampung halamanku,” tutur Sri.

Setelah Faber & Faber tidak memperpanjang kontrak buku, Sri kemudian menawarkan naskah itu ke Alan yang baru saja membuat penerbitan bernama Prospect Books. Alan menyambutnya dengan senang hati. Sri menambahkan banyak materi dan resep baru. Maka lahirlah buku kedua Sri, Indonesian Food and Cookery .

Buku itu yang akhirnya membawa nama Sri terdengar lebih jauh. Sepanjang kariernya, Sri menulis kurang lebih 15 buku masak, termasuk The Rice Book yang merupakan buku memoar yang diselipi aneka resep makanan. Pada 1993, buku ini diganjar penghargaan bergengsi Andre Simon Award sebuah ajang tahunan untuk buku makanan dan minuman terbaik sepanjang tahun.

Pengaruhnya begitu besar dalam dunia kuliner global. Bisa dibilang dia adalah Duta Besar untuk makanan Indonesia, bahkan hingga sekarang. Ia memengaruhi banyak juru masak, penulis, dan periset kebudayaan boga. Salah satunya Bee Wilson, jurnalis dan food writer, yang mengatakan The Rice Book adalah salah satu buku yang mengubah pandangan (serta cara memasak) tentang nasi. Dengan pengaruh luas itu, tak heran kalau ajang Guild of Food Writers Awards di London pada 2017 silam menganugerahi Sri dengan Lifetime Achievement Award.

Terima kasih sudah menjadi perempuan bahadur yang dengan setia mengemban misi sebagai duta masakan Indonesia selama berpuluh tahun, Bu Sri. Selamanya banyak orang berutang padamu. Selamat jalan dan selamat beristirahat dengan tenang, Bu.***

About The Author

Filed under : Non-fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *