Terlalu Banyak Manusia di Langit

[…] Dan di tumpuannya kata-kata ini muncul:
“Akulah Ozymandias, raja di atas raja
Tataplah karyaku, wahai Yang Kuasa, dan gentarlah!”
Tak ada apa pun yang tersisa selain itu.
Di sekeliling reruntuhan besar itu,
hamparan pasir yang luas dan kosong
membentang jauh ke segala arah.

—Ozymandias oleh Percy Bysshe Shelley, Shelley’s Poetry and Prose (1977)

01 Pengantar replikasi bencana skala planet ke dalam kapal induk

Dari sekian ribu penghuni Mandala Horizon, hanya Lain yang menaiki tangga dengan meloncati dua anak sekaligus.

Dia berhenti di depan tangga, dan kakinya melangkahi dua anak tangga pertama, sebelum menaikinya secara normal. Dia melakukannya dengan konsistensi mengagumkan, bahkan saat sedang membawa barang pecah belah. Seperti saat itu, pukul 07:32 CAT (Common Ark Time1), saat dia membawa nampan berisi dua gelas protein untuk Kos Koswara, ayahnya.

Tiba di lantai dua, Lain berbelok menuju lorong dan sebelum berbelok dia berhenti di depan jendela, mengamati Callisto, salah satu satelit Jupiter mengapung santai di kehampaan. Hari ini adalah peringatan 20 tahun Kapal Induk Mandala Horizon mengarungi tata surya. Kapal ini adalah Equatorial Ark2, satu dari empat bahtera antariksa yang meluncur dari Bumi, dengan asal populasi dominan Asia Tenggara, Afrika Sub-Sahara, dan Amerika Latin. Sejak meninggalkan Bumi, jumlah penumpang Mandala Horizon hampir menyentuh dua puluh ribu jiwa. Sensus terakhir mencatat angka 18.978. Mereka menunggu waktu hingga para ilmuwan dan rekayasawan berhasil merestorasi Bumi sehingga menjadi layak huni kembali. Sebagai perayaan, kapal menghadiahi pemandangan Jupiter yang anggun dari jarak yang cukup aman. Setiap satu jam sekali, pengeras suara melantunkan simfoni instrumental lagu nasional masing-masing negara setelah simfoni berakhir suara pemandu akan menceritakan hal-hal menakjubkan tentang Jupiter, tentang kekuatan ilmu pengetahuan dan determinasi manusia, tentang harapan, tentang rumah.

Lain tertawa kecil. Dari jarak sedekat ini, Callisto mengingatkannya pada masa kecil. Dulu, ibunya sering berdiri diam di tengah rumah, bertolak pinggang, menatap satu titik entah di mana, sambil berkomat-kamit menyebutkan angka-angka. Waktu itu Lain mengira itu mantra atau permainan rahasia orang dewasa. Setiap kali ritual bengong itu dimulai, Lain akan berlari kecil mengitari ibunya. Baru setelah ia besar, ia diberi tahu ayahnya bahwa kebiasaan itu tidak aneh sama sekali karena ibunya sedang mengingat daftar utang dan tagihan.

Ingatan sepintas lalu itu segera buyar saat otot tangannya refleks mengencang, menyelamatkan gelas yang hampir tergelincir, sementara otaknya masih sibuk mengulang kenangan yang sudah tidak relevan saat ini. Ia meninggalkan jendela dan bergegas menyusuri jalan Koridor Lingkar 331, menuju nomor 23A tempat kediaman ayahnya sambil menyenandungkan sebuah lagu dengan suara sumbang.

Lain memencet interkom, berdeham sedikit.

“Saudara Kos Kosasih. Saya membawa protein shake,” ujarnya dengan suara diberat-beratkan, meniru suara Dondon, karakter utama dalam serial novel ayahnya. “Enak, lho, ini. Rasa coklatnya palsu sekali.”

Tidak ada jawaban.

Lain mengecek jam, “Pasti dia masih tidur, deh.”

Kemudian, dia mengeluarkan kartu akses keluarga dari saku. Pemindaian berhasil. Terdengar bunyi bip kecil dan namanya muncul di layar.

Musik instrumental dari soundtrack anime yang cukup populer empat dekade lalu mengisi ruangan. Ayahnya memang tumbuh dalam produk budaya populer Jepang yang sangat tenar di masa remaja dan dewasanya, dan kelihatannya tidak bisa menyintas dari situ bahkan saat usianya hampir menyentuh kepala enam.

Kepala ayahnya tertunduk di meja kerja. Ia menenggelamkan seluruh kepalanya dalam tangan yang terlipat. Laptop terbuka. Beberapa komik tergeletak di lantai, bersama catatan-catatan struktur cerita yang sepertinya baru dicorat-coret semalam.

“Ayah, serius deh, kamarnya kayak kamar ABG,” ujar Lain dengan sengit. Ia membungkuk mengambili barang-barang di lantai. “Aku tahu Ayah lagi semangat nulis novel, tapi, ya, minimal mandiii.”

Melalui celah di antara kakinya, Lain melihat sesuatu di bawah kursi ayahnya. Sebuah suntikan. Lain panik dan lekas-lekas menegakkan badan sehingga pinggulnya menyenggol meja cukup keras. Lalu, terdengar suara gedebug cukup keras. Seseorang baru saja mendaratkan tubuhnya di lantai. Orang itu adalah ayahnya.

Lain terpaku. Untuk sesaat, ia tidak menjerit, tidak menangis. Otaknya justru mengulang hal-hal sepele seperti nada suara ayahnya saat mengeluh soal pekerjaannya sebagai periset di situs tambang, bagaimana ibunya berusaha menghibur dengan kopi dan pisang goreng, dan bagaimana ayahnya ketakutan membaca berita tentang cuaca ekstrem dan gagal panen, dan bagaimana ibunya menangis ketika menggendong dirinya menaiki kapal ini, dan bagaimana ayahnya berusaha menghibur Lain dengan mengajaknya makan malam di hari pertama mereka tinggal di kapal ini. Semua ingatan itu beradu di dalam kepalanya, dan gravitasi selalu menang. Gelas di nampannya jatuh.

“Oh, shit.”

Ayahnya tergeletak miring di lantai, satu kaki masih menyangkut di kursi kerja. Kacamata melorot ke ujung hidung, sementara tangannya refleks masih menutup wajah, seolah malu ketahuan meninggal.

Laptop di meja berbunyi blip—notifikasi baterai lemah.

Lain berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh pergelangan tangan ayahnya. Dingin. Sudah terlalu lama dingin. Dia secara cepat menarik tangannya, menatap jemarinya sendiri seperti benda asing. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara. Hanya napas pendek-pendek yang terdengar cukup keras di ruangan kecil ini.

Lain meraih ponsel. Jemarinya salah tekan tiga kali sebelum berhasil membuka aplikasi darurat. Suaranya terdengar datar saat berbicara pada operator, seolah milik orang lain.

“Bapak saya… Koridor Lingkar 331, nomor 23A. Saya rasa dia sudah—” 

Sesuatu menginterupsinya, dan kata-kata terakhirnya tersangkut di tenggorokan. 

Pita polisi di pintu masih rapi, dipasang dengan presisi oleh petugas pertama yang tiba. 

Omar berdiri di ambang, mengamati ruangan dengan cara orang yang sudah terlampau sering melakukan ini. Tangannya mengetuk-ngetuk paha dalam ritme tidak beraturan—kebiasaan lama yang muncul saat dia sedang menghitung sesuatu di kepala.

Naki, juniornya, masih berada di lorong, mengecek sensor koridor pada tablet. Sesekali dia menggerakkan jarinya di layar, lalu mengangguk sendiri. Omar mendekati Naki sembari menunggu tim forensik selesai memindahkan Kos Koswara ke stretcher.

“Sensor?” tanya Omar.

“Aktif penuh sepanjang malam. Terakhir tercatat aktivitas pukul 23:47, itu korban sendiri masuk kamar.” Naki mengangkat kepalanya. “Pagi ini baru ada satu aktivasi. Pukul 07:34. Pelapor. Anaknya sendiri.”

Omar mengangguk, melangkah masuk lagi, berhenti di tengah ruangan, lalu memutar tubuhnya. Di sudut ruangan, pecahan gelas masih dibiarkan di tempatnya. Ada bekas cairan kental yang mulai mengering di lantai. Minuman pagi. Dua gelas. Anaknya membawakan minuman. Ventilasi berdengung agak keras saat dia memikirkan hal itu.

Laptop masih menyala. Layar menampilkan dokumen teks, kursor berkedip di tengah kalimat yang belum selesai tentang laut. Omar membaca beberapa baris. Cerita tentang pelayaran, di baris akhirnya seseorang baru menginjak tahi temannya di geladak.

“Orang yang sedang menulis biasanya tidak berencana berhenti,” gumam Omar.

Naki masuk, berhenti di samping Omar. “Jadi, maksud bapak dia—?”

Omar hanya menggaruk tengkuknya.

Dia beralih ke laci meja, matanya mengamati botol-botol kecil. Resep opioid. Nama Kos Koswara tercetak jelas. Tanggal terakhir: tiga hari lalu.

“Dia pengguna kronis,” kata Naki.

“Aku bisa baca,” sahut Omar, terdengar agak jengkel. Dia mengambil satu botol, memutarnya. Label farmasi Mandala Horizon. Legal. “Tapi, coba lihat isinya. Masih setengah. Kalau dia mau bunuh diri, kenapa tidak sekalian habiskan semua?”

Naki diam sejenak. “Mungkin yang satu botol sudah cukup?”

“Mungkin.” Omar meletakkan botol itu kembali. Matanya beralih ke jarum suntik di lantai, sudah disimpan dalam kantong bukti plastik transparan. Lalu ke posisi tubuh korban tadi—jatuh dari kursi, satu kaki masih tersangkut. “Ada update dari petugas forensik?” tanya Omar, kakinya menendang ringan salah satu komik yang tergeletak sambil menggerutu kecil.

Seorang teknisi forensik mendekat, memperlihatkan tablet di tangan. “Perkiraan waktu kematian enam sampai delapan jam lalu. Rigor mortis stadium awal. Lividity konsisten dengan posisi tubuh.”

“Penyebab?”

“Menunggu toksikologi lengkap, tapi dari gejala klinis—pupil pinpoint, sianosis bibir, posisi tubuh, kemungkinan besar overdosis opioid. Mungkin fentanyl, methylmorphine atau sejenisnya.”

Omar mengangguk pelan, tapi matanya masih mengamati ruangan.

Naki berjalan ke jendela, mengetuk plasteel dengan buku jari. “Jendela reinforced. Alarm akan aktif kalau dibuka.”

“Berapa lama respons jika alarm aktif?” tanya Omar.

“Maksimal dua menit. Sekuriti akan langsung ke lokasi.”

Omar berjalan ke pintu, memeriksa panel akses. Layar kecil di atas gagang masih menampilkan log terakhir. Omar menatap angka detik itu lebih lama dari yang perlu. Ia membayangkan seorang anak berdiri di depan pintu, menghitung napasnya sendiri sebelum masuk.

Override bisa diaktifkan dari dalam?” tanya Omar.

“Bisa, Pak. Tapi kalau override aktif, semua kartu akses otomatis terblokir. Dan akan tercatat di sistem.” Naki mengecek tabletnya lagi. “Tidak ada log override semalam.”

Omar menatap panel itu lebih lama dari yang perlu. Jemarinya mengetuk-ngetuk paha lagi. Satu, dua, tiga, empat.

“Pak?” Naki melangkah mendekat. “Ada yang aneh?”

Omar menggeleng. “Mungkin tidak ada apa-apa.”

Dia berbalik, menatap ventilasi di langit-langit. Lubang kecil, mesh logam.

“Sepertinya terlalu kecil,” gumam Naki, tepat di sisi Omar sehingga suaranya terdengar agak keras, “Bahkan untuk anak kecil pun kekecilan.”

“Aku tahu,” jawab Omar, “Aku tahu. Tapi seluruh ruangan ini terasa aneh.”

“Rasanya seperti—” Omar berhenti, memilih kata yang tepat, “kelewat rapi.”

“Tidak juga, Pak. Menurut kesaksian anaknya, saat masuk kamarnya agak berantakan.”

“Maksudku, kalau ini bunuh diri atau kecelakaan, seharusnya ada tanda semacam keraguan. Kekacauan. Atau, apalah.” Omar menyapu ruangan dengan tangannya. “Ini seperti panggung yang sudah ditata. Semua ada di tempatnya.”

“Tapi semua bukti menunjuk ke overdosis, Pak.” Naki mengerutkan kening. “Overdosis, kan, nggak mesti bunuh diri. Bisa saja kecelakaan.”

“Aku tahu,” jawab Omar dan menghela napas panjang dan mengulang frasa itu lagi dengan lebih pelan. Selagi Omar berpikir, ventilasi tetap berdengung. Suara dengung yang terlalu stabil untuk ruangan tempat seseorang baru saja kehilangan ayahnya.

“Periksa waste chute,” kata Omar tiba-tiba.

Waste chute?” Naki berkedip. “Untuk apa?”

“Ya, sudah diperiksa belum?”

Itu bukan jenis pertanyaan yang perlu jawaban. Naki tahu. Ia berjalan ke area kecil yang menghubungkan kamar dengan toilet dan laundry komunal. Pintu waste chute ada di sana, bundar kecil, diameter mungkin tiga puluh sentimeter. Dia menarik gagangnya.

Tidak bergerak.

Dia menarik lagi, lebih keras. Pintu itu membuka dengan bunyi logam yang protes, seolah engsel lama tidak dilumasi.

“Macet, Pak,” teriak Naki.

Omar mendekat. Mereka berdua menatap lubang gelap di dalam dinding. Naki menyorotkan senter ponselnya. Hanya terlihat pipa vertikal, bersih.

“Kenapa macet, ya?” tanya Omar.

“Mungkin jarang dipakai. Engselnya kaku.”

Omar memasukkan kepalanya sedikit ke dalam lubang, memperhatikan diameter pipa. Sempit. Sangat sempit. “Sempit sekali, kalau dipaksakan sih bisa saja,” komentarnya.

“Iya, Pak. Saya juga berpikir begitu,” timpal Naki, “Waste chute ini terhubung ke central disposal di lantai dasar. Semua sampah dikumpulkan di sana sebelum diolah. Tapi akses dari tengah pipa, sepertinya mustahil, Pak. Tidak ada pegangan, licin dan dalam.”

Omar menarik kepalanya keluar, menghela napas. “Baik. Catat saja. Kita periksa nanti kalau perlu.”

Mereka kembali ke ruangan utama. Omar berdiri di tengah lagi, menggosok-gosok dagunya dengan amat serius sehingga ia tidak sadar di sisinya sudah berdiri seorang perempuan.

“Rumit. Rumit sekali,” ujar perempuan itu, seakan dia adalah narator dalam film dokumenter kriminal atau satwa. “Omar diam, membayangkan malam terakhir korban. Musik mengalun. Kursi. Jarum suntik. Hm, malam yang cukup dramatis. ‘Tidak,’ katanya pelan. ‘Bia—”

“Siapa kamu?!” bentak Omar.

Matanya memindai perempuan yang tiba-tiba saja ada di sisinya. Sepatu kets agak robek di bagian samping, celana parasut yang sudah pudar warnanya, kaos kebesaran dengan logo band lama, dan gelang elektronik di pergelangan tangan kanan—identitas tahanan program rehabilitasi sosial.

“Maaf mengganggu,” kata perempuan itu. “Saya perlu tanda tangan untuk ReformPath. Ibu Lusi dari bagian rehabilitasi sudah mengecek latar belakang saya, katanya saya perlu tanda tangan bapak untuk surat verifikasi bahwa saya tidak ada riwayat kriminal berat.”

Jawaban itu rupanya membuat Omar sedikit senang. Ia membetulkan posisi ikat penggangnya, lalu mulai membaca data-data yang tampil di ReformPath. Perempuan itu menyerahkan ponselnya. Di layar terpampang formulir digital dengan data pelanggaran berupa pencurian berulang.

Omar membaca daftar dan menyebutkan satu per satu. “Maling semangka, lingerie, kacang polong, kaos, celana pendek, parfum… ” ujar Omar, lalu memalingkan wajahnya ke perempuan itu, “Pantas kau lihai menyelinap ke sini.”

Perempuan itu tersipu, lalu berkata, “Sepertinya pembunuhan, ya.”

“Bandit coro macam kamu, tahu apa soal pembunuhan,” seloroh Omar, “Ruangan terkunci dari dalam. Ruangan tertutup rapat dari dalam. Tidak ada jalan masuk atau keluar lain.”

Naki mengangguk, lalu menambahkan, “Dan dia pengguna opioid kronis.”

Omar dan Naki lanjut asyik berbincang dan berspekulasi, lagi. Perempuan itu mundur dua langkah. Ia membentuk tangan seolah sedang menggenggam mikrofon, lalu mulai menarasikan mereka dengan suara pelan dan datar seolah ada penonton yang mendengarkannya. “Omar berdiri memegangi dagunya dan asistennya berjongkok sambil mencatat sesuatu. Kini mereka berada di fase penguncian kesimpulan.”

“Kalau dilihat dari keadaan ruangan, jelas bukan perampokan,” kata Naki, menyerahkan catatannya kepada Omar.

“Omar ikut berjongkok, mengetuk lantai dengan ujung pulpen, lantas mengecek catatan Naki,” komentar perempuan itu, dengan gaya observasional, “Omar mengerutkan dahi, dan, oh—sepertinya dia menemukan sesuatu!”

“Kalau dari situasi korban, ini bukan bunuh diri. Jelas ini kecelakaan. Pecandu sering tidak sadar dosis.”

“Pada titik ini,” lanjut perempuan itu, dengan nada agak diberat-beratkan, “semua yang mereka lakukan bukan lagi pencarian kebenaran. Hanya ritual untuk menandai bahwa target buruan sudah terkunci.”

Omar berdiri, menyilangkan tangan. “Kita sudah cukup lihat.”

Perempuan itu tersenyum tipis. “Seperti banyak spesies yang yakin diri, mereka berhenti mencari jejak dan mulai menunggu alam mengonfirmasi apa yang sejak awal ingin mereka perc—.”

“Kamu ngapain, sih!” seru Omar.

Perempuan itu hanya terkekeh, meminta maaf sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Ruangan ini kecil sekali, ya,” ujarnya.

“Standar kompartemen kelas dua. Kamar pengutil seperti kamu pasti lebih kecil lagi.”

“Benar.” Perempuan itu tersenyum tipis. “Tapi bahkan pengutil seperti saya bisa lihat ada suntikan lain terselip di rak buku itu.”

Naki langsung bergerak. Dia berjongkok, menyingkirkan buku-buku dengan gerakan investigator yang menurut dia terlihat keren. Tangannya berhenti. Dia menarik sesuatu keluar.

Sebuah jarum suntik. Lebih besar dari yang ditemukan di lantai. Dan di sisi tabungnya, ada logo kecil yang tercetak.

“Kau bilang sudah diperiksa semua?” tanya Omar dengan geram.

Naki tidak menjawab. Dengan gugup dia mengangkat suntikan itu, dan memutarnya perlahan ke arah Omar. “Pak… ini logo Veyl.”

Perempuan itu menyipitkan mata. “Oh. Kukira logo klub futsal.”

Omar tidak langsung menoleh. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. “Mereka lagi,” gumamnya, “Kenapa mereka malah ingin kiamat terjadi di sini, sih?”

Perempuan itu mendengar dan memahami situasi yang genting itu. Namun, ia tidak merespons apa-apa. Bukan karena perempuan itu tidak peduli. Perempuan itu hanya paham satu hal, pengalaman mengajarkannya bahwa bercakap-cakap terlalu lama dengan polisi selalu berakhir buruk bagi orang yang tidak cukup penting. Nama Veyl sudah amat sering beredar di lorong-lorong sempit, di antrean laundry, di gosip bawah tanah yang berpindah dari mulut ke mulut, dan ia tidak mau ambil pusing. “Baik, bapak-bapak,” potong perempuan itu. “Obrolan konspirasi yang menarik, tapi izinkan saya undur diri dulu. Masih ada yang perlu saya kerjakan.”

Tangan Omar melakukan gerakan seperti sedang mengusir anak ayam, “Hus, hus.”

“Ponsel saya, Pak,” kata perempuan itu.

Omar menyerahkannya dengan bersungut-sungut.

“Kalau memang kasus ini pembunuhan, semoga pembunuhnya cepat tertangkap,” ujar perempuan itu, lantas meninggalkan Omar dan Naki.

“Oi, tunggu,” seru Omar, seolah menyadari sesuatu, “Siapa namamu tadi?”

Perempuan itu menoleh dan berkata, “Namaku, Aika.”

***

  1. Sistem waktu antar-kapal induk yang diberlakukan sejak tahun pertama pelayaran. Sistem ini diciptakan untuk memudahkan kehidupan di dalam kapal, yang tak lagi mengenal pergantian pagi dan malam. Demi konsistensi operasional, pencatatan hukum, dan sinkronisasi sistem, CAT sepenuhnya menggantikan standar waktu terestrial. ↩︎
  2. Dikutip dari Sejarah Awal Ark, edisi revisi AE-17, Equatorial Ark mencakup Asia Tenggara, Afrika Sub-Sahara, dan Amerika Latin, dirancang untuk biosfer panas-lembap dengan kepadatan tinggi; Continental Ark meliputi Eropa, Asia Timur, dan Amerika Utara, berfokus pada stabilitas struktural dan industrialisasi lintang sedang–tinggi; Monsoon Ark mengakomodasi Asia Selatan, Asia Barat, dan Afrika Utara, dengan adaptasi terhadap siklus ekstrem; sementara Frontier Ark bersifat eksperimental, berpopulasi paling beragam, lintas-region, dan berorientasi eksplorasi ilmiah serta sosial. ↩︎

About The Author

Filed under : Fiction

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *