Generative Artificial Intelligence (Gen AI) mengorbankan terlalu banyak hanya untuk menghasilkan kemandekan budaya yang akhirnya memperburuk ketidakadilan sistemik dalam status quo.
Sekelompok kelinci berbulu cokelat melompat-lompat di trampolin. Perilaku menggemaskan itu terjadi di malam hari dan tertangkap sebuah kamera pengawas. Lucunya! Jemariku ingin tekan tombol like, namun seperti biasa, aku buka kolom komentar lebih dulu.
“Ini AI,” kata komentar teratas. Astaga. Aku tak bisa lagi bedakan mana buatan AI dan mana bukan! Seketika aku merasa sangat tua. Seperti boomer yang tiap saat percaya berita palsu.
“Selama kamu tertawa, apa masalahnya?” — kata beberapa orang lagi di kolom komentar. Bukankah hidup sudah cukup berat dengan segunung masalah yang lebih besar dan lebih nyata, sehingga mengapa harus jadi perusak kesenangan. Meski hasil AI, ia gambar-gambar menghibur. Toh video-video itu hanya memuat hewan-hewan bodoh dan bukannya provokasi politis.
Mungkin mereka benar. Di tengah tantangan hidup kita butuh hiburan, seremeh apapun.
Tapi kenapa ya, perasaanku tetap kecewa begitu tahu video-video itu tak nyata? Mungkin aku sedikit sedih karena suatu hal lucu dan menggemaskan ini ternyata sama sekali tak ada. Ada ekspektasi tertentu di saat kita berada di media sosial.
Aku membuka media sosial berharap melihat “realita” dunia kita, meski dalam bentuk fragmen. Jika aku ingin ditipu untuk hiburan, aku akan menonton film atau membaca buku fiksi. Di sana aku sengaja menangguhkan keyakinan akan hal-hal nyata (suspension of disbelief), dan menyerahkan diri untuk hanyut di tengah dunia, objek, dan karakter buatan.
Melihat video palsu yang menyamar sebagai realita di media sosial, bagiku, adalah sebuah kekacauan. Seperti mengenakan topi di kaki dan sepatu di kepala. Tidak pada tempatnya. Tidak seharusnya.
Tanpa banyak orang sadari, kekacauan yang ditimbulkan serbuan gambar hasil AI sebenarnya punya dampak jauh lebih disruptif terhadap dunia material kita daripada sekadar perasaan ganjil, sudah dimulai jauh sebelum kita dapat melihat kelinci-kelinci tak-nyata itu melompat-lompat di layar, dan akan dipertahankan dengan segala muslihat oleh segelintir pihak berkepentingan demi keuntungan pribadi mereka semata.
Begitu kira-kira argumen utama Hito Steyerl — seorang pembuat film, seniman media bergerak, penulis, dan dokumenter asal Jerman — lewat buku terbarunya yang berjudul Medium Hot: Images in the Age of Heat. Buku ini menyajikan 11 esai Hito seputar gambar, seni, dan teknologi digital, khususnya terkait media sosial dan AI.
Menurut Hito, kekacauan sudah dimulai dari bagaimana teknologi AI penghasil gambar itu sendiri dibuat.
Energi yang dibutuhkan untuk menjalankan pusat-pusat data AI sudah mengacaukan target penurunan emisi perusahaan-perusahaan teknologi. Google, misalnya, mengakui bahwa pembangunan pusat-pusat data AI sudah menyumbang kenaikan gas emisi perusahaan sebesar 48% dari 2019 dan 2024. Keinginan untuk jadi juara di balapan AI juga menyebabkan kenaikan gas emisi raksasa teknologi lain seperti Amazon, Apple, Meta, dan Microsoft.
Ledakan pembangunan pusat-pusat data untuk mendukung pengembangan AI telah mengerek biaya listrik di Amerika Serikat, yang ditanggung oleh rakyat biasa. OpenAI memperkirakan bahwa pada 2033, mereka bakal membutuhkan 250 gigawat listrik baru (setara setengah pemakaian listrik Eropa) untuk menjalankan pusat data miliknya saja — listrik sebanyak itu untuk satu perusahaan saja.
Kekacauan kedua adalah fakta bahwa sebagian data yang digunakan untuk melatih model-model AI berasal dari daerah konflik, daerah yang dikacaukan perang, seperti Ukraina dan Palestina. Data ini berupa gambar-gambar yang diambil oleh drone pengawas.
AI itu kemudian dipakai untuk menentukan target penyerangan, yang ikut membunuh ribuan warga sipil di daerah-daerah yang sudah kacau perang tersebut. Selain menyediakan data dan lahan percobaan, daerah konflik juga menyuplai kebutuhan pekerja murah yang putus asa, yang bisa direkrut oleh perusahaan teknologi menjadi tukang label data.
Menurut Hito, demikianlah bagaimana disorder — kekacauan — berperan penting dalam infrastruktur pembuatan AI itu sendiri.
Dalam esai-esai Hito, konsep kekacauan dan andilnya dalam membentuk wajah teknologi AI kita hari ini dibicarakan baik secara harfiah maupun metaforis.
Selain dari kekacauan iklim dan perang, secara teknis, Hito mengatakan bahwa gambar-gambar AI sejatinya lahir dari sebuah proses ‘kekacauan’ bernama diffusion: miliaran data dicampur-aduk dalam sebuah mangkuk kemudian ‘ditata’ ulang menurut perintah prompt.
Kemudian, setelah ada di dunia, gambar-gambar hasil AI itu pun menciptakan kekacauan sosial dan ekonomi: bias terhadap kelompok marjinal, semakin canggihnya surveillance terhadap komunitas rentan, dan tergerusnya pekerjaan di berbagai bidang.
Ironisnya, Hito melihat bahwa setelah segala kekacauan tersebut, sebagian besar alat-alat AI yang bisa diakses masyarakat umum saat ini hanya baik digunakan untuk optimasi produksi gambar-gambar di linimasa media sosial yang terlihat hampir sama.
Gambar-gambar hampir-sama yang menyerbu lini masa media sosial kita beberapa tahun belakangan ini menyebabkan apa yang disebut Hito sebagai cultural inertia — sebuah budaya yang jalan di tempat. Tidak berkembang.
Maka, bisa dibilang ke-mandek-an budaya ini lahir dari upaya begitu besar dalam ekstraksi data, pelanggaran privasi, eksploitasi tenaga kerja, eksploitasi daerah konflik, dan penghamburan energi. Dengan kata lain: “For stagnant cultures to remain the same, everything else around them must change,” tulis Hito di bab enam: The Digital Rift: From Poor Images to Power Images.
Kekuatan esai-esai Hito di buku ini memang terletak pada kemampuannya menyingkap kontradiksi, paradoks, dan ironi seperti itu. Kadang ia meminjam ide orang lain untuk memperkaya argumennya, dan menggambarkannya ulang dengan gaya khas bahasanya yang penuh permainan kata untuk menegaskan sebuah poin.
Di bab tiga berjudul Medium Hot: The Political Economy of Entropy, misalnya, Hito mencatut buku If We Burn karya Vincent Bevins tentang paradoks protes-protes massa di seluruh dunia yang dibangkitkan lewat media sosial.
Di satu sisi, media sosial dapat membantu protes massa membesar, seperti di Hong Kong, Mesir, Suriah, dan Tunisia (tentu termasuk Indonesia). Di sisi lain, gambar-gambar protes yang disirkulasikan di linimasa membantu menenggelamkan hasrat peserta protes untuk merebut representasi formal di politik, karena fokus mereka telah beralih ke representasi simbolik dalam sirkulasi gambar media. Tak ada rencana menata dan mengatur setelah mendisrupsi.
Dalam dunia kita hari ini dimana kekacauan sudah menjadi status quo (seperti yang ditunjukan Hito dalam argumennya tentang cultural inertia), tak heran jika sebagian besar protes macam itu gagal membawa perubahan substansial. Pemerintahan otoritarian yang berusaha dilawan oleh protes-protes itu malah semakin terkonsolidasi.
Maka, Hito kemudian menaruh harapan pada protes-protes baru: yakni protes yang menyerang akar dari kekacauan di masyarakat itu sendiri, protes yang bukan hanya bertujuan untuk mendisrupsi kegiatan sehari-hari, namun yang lebih penting adalah untuk mengembalikan keteraturan dimana orang-orang tak lagi “…dilempar ke sana kemari oleh tsunami finansial, ekologis, dan sosial.”
Segala upaya untuk merebut kembali manfaat dari pengembangan teknologi ke tangan publik, termasuk dari perangkat AI, dapat dilakukan lewat aksi-aksi “disrupt the disruption” ini.
Beberapa contoh yang disajikan Hito: aksi mogok seniman yang karyanya dicuri perusahaan AI, gugatan hukum terhadap perusahaan yang memperlakukan pekerja semena-mena, pembentukan serikat, upaya untuk membuat entitas perusahaan teknologi membayar pajak yang setimpal, dan dorongan untuk membuat regulasi yang berpihak pada publik.
Protes yang membawa kembali pada pengorganisiran, karena “…reverse entropy, or negentropy, would include workers organising and rebuilding their energy and social compositions,” kata Hito.
Dalam esai-esainya, Hito juga kerap menyediakan analogi dan perbandingan yang menarik.
Teknik itu ia lengkapi dengan menyertakan eksperimen-eksperimennya sendiri dengan perangkat AI seperti Stable Diffusion dan ChatGPT. Hasilnya adalah gambar-gambar ganjil, terkadang menyeramkan. Gambar-gambar itu menguntit perjalanan kita menyusuri labirin pikiran Hito.
Meski demikian, dalam upaya Hito menghubungkan berbagai macam hal dan menghadirkan berbagai macam pola dalam esai-esainya, seringkali ia melompat terlalu cepat dari satu hal ke hal lain, dan menjadi sedikit membingungkan. Misalnya, halaman 25 ketika Hito mengatakan, “Emisi berkorelasi dengan meningkatnya gelombang ekstremisme sayap kanan…”. Aku ingin sekali tahu tentang bagaimana korelasi tersebut dapat terjadi, namun tak mendapat penjelasan lebih rinci.
Tak jarang ia memakai konsep-konsep yang tak banyak diketahui orang awam sambil lalu, kemudian berbelok ke metafora, analogi, atau istilah-istilah komputasi, media, sosial, sejarah, keuangan, dan lain-lain bahkan dalam satu kalimat atau paragraf.
Karena gaya itu pula kadang ia berisiko terlalu menyederhanakan sebab dan akibat, motif dan aspirasi aktor-aktor dan berbagai variabel lain dari fenomena yang sedang dibahasnya.
Kalimat-kalimat seperti: “Mungkin bias bukanlah kesalahan tetapi fitur penting dari sistem produksi…” (halaman 83) membuatku sedikit khawatir tentang oversimplifikasi hubungan-hubungan antara dampak negatif dan faktor penyebabnya.
Meski begitu, pada akhirnya aku setuju dengan sebagian besar diagnosa Hito akan dampak produksi gambar oleh teknologi digital hari ini pada masyarakat kita. Kumpulan esai ini tetap penting untuk dimiliki.
Satu cara untuk membaca buku ini adalah dengan sangat perlahan, dan jangan segan untuk berhenti dan mencari teori atau istilah yang tidak kau kenal, bahkan di antara paragraf.
Cara lain untuk membaca buku ini adalah dengan membacanya dua kali: sekali bersama segala keriangan ketidaktahuan-mu (dan tertawakan saja ketidaktahuan-mu itu), kemudian baca lagi untuk kedua kalinya setelah kembali dari medan perang membaca lebih lanjut konsep-konsep yang disebutkan dalam buku ini dari sumber-sumber lain.
Namun yang paling penting adalah apa yang kau lakukan setelah itu: sesuai saran Hito, mulailah mengatur diri: beroganisir dan berserikat. Mendisrupsi disrupsi itu sendiri, karena menata jauh lebih sulit daripada menghamburkan.***




